
Beberapa waktu berlalu semenjak Salvia mulai mempercepat pemulihan energi jiwanya, Haikal membuka matanya perlahan menyudahi sesi istirahatnya. Dia menoleh ke sana kemari memperhatikan lingkungan sekitar namun tak mengenali tempatnya berada, "Ini di mana?"
Haikal segera menyadari keberadaan Salvia yang tengah bermeditasi, dia bisa merasakan energi jiwa di sekitar Salvia sedang berputar mengelilingi badan gadis berambut perak tersebut, mengumpulkan serta menyerap energi alam di sekitarnya secara bertahap.
"Ah, Salvia sedang memulihkan energi jiwanya, ya," gumam Haikal dalam hati memandang Salvia yang terlihat begitu berkonsentrasi hingga tidak menyadari dirinya telah bangun, tapi Haikal hanya tersenyum dan tidak mengganggu Salvia.
"Bagaimanapun juga dia sudah berjuang sendirian selama aku beristirahat." Haikal kemudian bangkit berdiri dan melakukan peregangan ringan, "Aku juga harus melakukan sesuatu."
Setelah bergumam demikian, Haikal merasakan hembusan angin sejuk namun dingin melintasi dirinya. Tubuhnya langsung bergemetar menggigil kedinginan. Spontan saja Haikal memeluk tubuhnya sendiri.
"Benar juga, saking tegangnya situasi aku sampai lupa bahwa saat ini hanya tersisa celana yang terpotong pendek yang menempel padaku," ujar Haikal kedinginan baru teringat hal penting yang tak dia sadari.
Pandangan Haikal lalu teralih pada jendela di ruangan tersebut, lebih tepatnya dia sedang melihat selembar kain gorden yang tergolek di bawah jendela. Dia segera mengambil kain gorden dan menyelimuti tubuhnya menggunakan gorden tersebut.
"Memang tak terlalu bagus dan nyaman dipakai, tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali," keluh Haikal merasa serat kain gorden yang dikenakannya sedikit menusuk kulit, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
Ketika dia berkomentar tentang kain gordennya, Haikal kemudian teringat tentang Soul Saber, Soul Divice pinjaman Salvia pada awal turnamen. Dia segera merogoh bagian pinggangnya memeriksa alat tersebut, beruntung tongkat besi Soul Saber masih tergantung di bagian ikat pinggangnya.
Haikal menghela nafas lega tidak kehilangan benda tersebut. Soul Device sangatlah mahal, bahkan Soul Device tingkat paling rendah sekalipun seharga 100.000 Bold. Jika Haikal kehilangan alat semahal itu, dia tidak akan bisa menggantinya dalam waktu dekat.
Setelah memastikan Soul Saber masih berada di pinggangnya, Haikal kemudian memejamkan mata dan mengukur jumlah energi jiwanya yang telah pulih.
"Memang belum pulih sepenuhnya, namun setidaknya cukup untuk mencapai ruang perawatan dan pergi ke gedung kelas satu." Haikal mengepalkan tangannya merasa lebih bertenaga dari sebelumnya.
Kapasitas energi jiwa Haikal bisa dibilang sangat besar untuk ukuran calon Blazer kelas satu sepertinya berkat latihan tak manusiawi yang rutin dilakukannya, tapi dia juga sedikit terpana ketika mengetahui hanya dengan beristirahat beberapa menit energi jiwanya sudah pulih sekitar 20%-nya.
Dua puluh persen memang terdengar tidak banyak, tetapi dalam kasus Haikal mungkin jumlah energi jiwanya sekarang kurang lebih setara dengan setengah jumlah energi jiwa calon Blazer setingkatnya pada umumnya.
Jika hanya menghadapi beberapa lawan setingkat Advance ke bawah, mungkin Haikal bisa mengatasinya dengan jumlah energi jiwa yang dimilikinya sekarang, tapi jika lebih dari itu maka akan sulit bahkan mengancam nyawanya.
Haikal kemudian memandang Salvia yang masih bermeditasi, lalu tersenyum kecil ikut duduk bermeditasi sejenak untuk memulihkan lebih banyak energi jiwa. Tidak ada salahnya memulihkan energi jiwa lebih banyak mengingat situasinya cukup genting.
***
Sekitar lima belas menit lainnya telah berlalu, Haikal membuka matanya ketika merasakan sejumlah besar energi jiwanya pulih kembali. Kini dia bisa merasakan lebih dari setengah energi jiwanya terisi kembali.
"Mungkin karena berlatih keras selama sebulan terakhir, kapasitas energi jiwaku meningkat lagi." Haikal tersenyum puas mendapati hasil jerih payahnya selagi menunggu babak final Turnamen Penyambutan tidak buruk, "Kalau begini aku bisa menggunakan 'itu' jika diperlukan."
"Apa yang kau maksud dengan 'itu'?" tanya Salvia tiba-tiba.
"Salvia, ya? Kau membuatku kaget." Haikal hampir terlompat dari lantai saking terkejutnya dia mendapati wajah Salvia yang hanya berjarak sekitar setengah meter, "Sudah selesai mengumpulkan energi jiwanya?"
"Begitulah, sedikit lebih dulu dibandingmu, tapi setidaknya cukup untuk menghadapi beberapa lawan," ujar Salvia merasa yakin, "Omong-omong, apa maksudmu dengan 'itu' barusan?"
Salvia ingin protes mengapa Haikal terus merahasiakan kemampuannya, tetapi ketika dia hendak melayangkan protes tersebut, dari pintu ruangan masuklah sekelompok Verg yang terdiri dari beberapa ekor makhluk berwujud mirip anjing.
Sekilas makhluk-makhluk berbentuk anjing ini terlihat normal dan tak tampak seperti Verg, namun jika dilihat lebih teliti mereka semua tidak mempunyai mata serta telinga mereka lebih panjang dari anjing normal. Mungkin sepanjang telinga kelinci normal.
"Verg Normal-class, model Predator bertipe Invader, Ear-Dog." Salvia bergumam sejenak mendapati kedatangan sekelompok Ear-Dog tersebut.
Selain dibagi menjadi tujuh kelas sesuai ukuran serta tingkat keberbahayaannya, Verg juga dipisahkan lagi sesuai model dan tipe tubuhnya menurut ciri fisik serta karakteristik unik mereka masing-masing.
Verg memiliki beberapa model badan yang dipisahkan menurut bentuk badan mereka, yaitu Predator, Floater, Aquatic, lalu Hybrid. Tipe Verg dapat diketahui dari ciri fisik dan anggota gerak mereka. Pengelompokan model Verg ini tidak dipengaruhi oleh kelas yang disematkan pada mereka.
Predator merupakan model Verg yang umumnya bergerak di darat, Floater memiliki ciri fisik berbobot ringan dan dapat terbang, lalu Aquatic yang berbentuk dinamis dan menggunakan sirip sebagai anggota gerak di dalam air, sedangkan Hybrid adalah perpaduan antara dua atau lebih ketiga model sebelumnya.
Selain model, Verg juga memiliki berbagai tipe terbagi menjadi lima tipe yang didasarkan oleh karakteristik unik tubuh mereka, yaitu Invader, Flicker, Bunker, Intruder, serta Loader. Sama seperti model, tipe Verg juga tidak dipengaruhi oleh kelas mereka.
Invader bertugas untuk menyerang langsung, Flicker adalah Verg dengan fokus kecepatan dan pergerakan, Bunker yang mengkhususkan diri pada kekuatan pertahanan, Intruder tipe unik yang mempunyai kemampuan yang biasanya dapat memperkuat kawan dan memperlemah lawan, lalu Loader tipe Verg yang bisa menampung Verg-Verg lain seperti kendaraan.
Seperti yang dikatakan Salvia, para Ear-Dog di hadapan mereka berdua ini adalah Verg tipe Invader dengan model Predator. Invader sendiri adalah tipe Verg yang fokus pada serangan langsung, sementara Predator merupakan model Verg yang biasanya bergerak pada permukaan tanah.
Sebagai perbandingan, Sea Monkey yang pernah dikalahkan Haikal adalah Verg model Hybrid yang dapat bergerak di permukaan tanah maupun di air, gabungan dari model Predator dan Aquatic. Untuk tipenya sendiri Sea Monkey adalah Verg bertipe Invader, tipe Verg yang fokus menyerang secara langsung.
Ear-Dog adalah Verg kelas Normal tiap satu ekornya, namun dilihat dari jumlahnya yang terdiri dari beberapa ekor, mungkin mereka bisa dikategorikan sebagai Beast-class.
"Salvia, aku akan maju." Haikal meraih Soul Saber yang tergantung di pinggangnya, kemudian mengalirkan sejumlah energi jiwa dan mengaktifkannya membentuk sebilah pedang tipis berwarna hijau cerah sebelum melangkah maju, "Lindungi aku dari belakang!"
Salvia ingin menolak dan ikut maju agar mereka bertarung bersama, tetapi Haikal sudah maju lebih dulu membuatnya menelan kembali kata-kata yang tersangkut di lidahnya, "Ya sudahlah, lagipula Wizard sepertiku tipe petarung jarak jauh."
Tanpa mempedulikan reaksi Salvia, Haikal maju menuju sekelompok Ear-Dog tersebut tanpa ragu diikuti sejumlah salju Salvia dari belakang. Di saat yang sama pula beberapa Ear-Dog langsung menerjang Haikal.
Pengalaman Haikal bertarung melawan Edward dan Jack, lalu menghadapi Veindal ketika pertama kali mendatangi kediaman Volksky untuk berlatih tidaklah sia-sia. Dia bisa membaca seluruh pergerakan Ear-Dog tersebut dan menghindari semuanya.
Tentunya Haikal tidak hanya menghindar, dia juga menyiapkan serangan balasan berupa beberapa tebasan Soul Saber yang mampu membelah beberapa ekor Ear-Dog dalam sekali serang.
"Hmm, pada dasarnya Ear-Dog hanyalah Verg kelas Normal jika tidak bergerombol. Kurasa ini termasuk wajar," batin Haikal memandang tongkat logam Soul Saber yang dia genggam dengan kagum tak percaya dirinya dapat menghabisi beberapa Ear-Dog dalam sekejap.
Sesudah memotong beberapa Ear-Dog sekaligus, Haikal lantas tidak melupakan keberadaan Ear-Dog lain yang masih bersiaga. Dia segera berbalik dan melesat cepat sambil mengayunkan pedang energinya menebas Ear-Dog yang tersisa.
Ear-Dog yang tak bisa berkutik akibat terlalu tercengang oleh kematian rekan-rekannya hanya bisa pasrah menerima tebasan pedang Haikal yang begitu cepat.
Di sisi lain Haikal yang baru saja menebas mereka semua tanpa sisa mengangkat sebelah alisnya merasa heran, "Apa Verg kelas Normal memang selemah ini?"