Absolute Soul

Absolute Soul
12. Latih Tanding



Berkat pemberitahuan tentang Turnamen Penyambutan oleh Andre, Haikal dan Heru menjadi lebih bersemangat dalam latihan. Saat ini keduanya sedang berlatih tanding di halaman belakang kediaman Alendra.


Sudah lebih dari seratus serangan yang dilayangkan keduanya, namun tak satupun tanda-tanda kelelahan terlihat dari mereka. Meski memakai energi jiwa dapat menggantikan posisi stamina fisik, baik Haikal maupun Heru tak menggunakan kelebihan mereka sebagai Blazer dalam latih tanding ini.


Pada serangan akhir, Haikal dan Heru saling menghantamkan tinjunya menyebabkan gesekan angin di antara mereka. Keduanya pun melangkah mundur dan saling memberikan hormat menandakan latih tanding kali ini telah selesai.


"Haikal, apa akhir-akhir ini kau lebih keras menempa fisikmu?" Tanya Heru seusai menegak botol minuman yang ia bawa sendiri dari rumah.


"Tidak juga, aku hanya berlatih seperti biasanya. Kenapa?"


"Kekuatanmu makin meningkat, kupikir kau memakai energi jiwa," ujar Heru menghela nafasnya mengingat setiap serangan yang diterimanya.


Haikal sendiri tertawa kecil menyembunyikan trik latihan yang ia jalani belakangan ini.


Memang benar ia tak berlatih lebih keras, hanya saja itu bagi mental dan energinya. Hal ini disebabkan oleh porsi latihannya yang menjadi lebih banyak dari biasanya berkat penggunaan energi jiwa sebagai pengganti stamina fisik.


Bagi manusia biasa porsi latihan Haikal tentu bukanlah sesuatu yang bisa dipandang setiap hari dan bisa dikatakan sangat keras, tetapi bagi dirinya sendiri ia tak merasa begitu berat dengan porsi latihan ini. Sebagai ganti energi jiwa yang melipat gandakan stamina serta porsi latihan fisiknya, tubuh Haikal mengalami perkembangan signifikan dalam berbagai hal.


Pertama, jelas otot-otot tubuhnya mulai bertambah berkat porsi latihan yang tak manusiawinya. Kekuatan, kecepatan, kelincahan, serta ketangkasan secara fisik, semuanya berkembang dalam durasi mengerikan.


Kedua, staminanya juga meningkat secara signifikan karena berlari setidaknya sejauh 15 Kilometer setiap hari. Meski energi jiwanya yang terpakai, stamina pun ikut meningkat menyesuaikan perkembangan tubuh fisiknya.


Ketiga, kekuatan serta energi jiwanya pun ikut berkembang. Walau tak terlalu besar seperti tubuh dan stamina fisiknya, setidaknya metode berlatih menggunakan energi jiwa ini bisa mengembangkan kebutuhan fisik dan jiwanya sebagai Blazer.


Sebenarnya Haikal ingin memberitahukan hal ini kepada Heru, tetapi ia belum mengetahui seberapa pesat dan apa risiko dari perkembangan secepat ini. Sebagai calon Blazer, Haikal mengetahui satu atau dua hal mengenai kecepatan perkembangan seorang Blazer. Dalam hal perkembangan, ia cukup cepat dibanding rata-rata Blazer Wulodhasia.


Meski begitu, Haikal tak ingin merayakan hal ini dan mengabaikan risiko yang mungkin ia terima, hancurnya tubuh fisik misalnya. Hal itu tak bisa dilewatkan mengingat perkembangannya yang terlalu cepat dan mungkin melampaui batasannya untuk sekarang.


Lagipula, ia tidak ingin bertambah kuat terlalu cepat. Jika dirinya tidak bisa mengontrol kekuatan besar yang ada di dalam dirinya, bukankah itu berarti kehancuran akan tinggal menunggu waktu baginya? Setidaknya ia membutuhkan waktu untuk membiasakan diri atas kekuatan barunya.


"Haikal, apa kau tahu alasan Salvia ingin memasuki tim kita?" Heru melihat ke atas langit, memikirkan kejadian yang menggemparkan kelas mereka kemarin.


Sesaat setelah pengumuman Turnamen Penyambutan oleh Andre kemarin, para murid mulai melirik satu sama lain menilai siapa yang dapat mereka ajak menjadi teman satu tim. Tentu sebagai murid jenius, Salvia mendapat banyak tawaran dari para siswa kelas 1-A, tetapi semuanya ditolak.


Pada saat yang hampir bersamaan, Salvia menyatakan bahwa ia akan ikut tim siapapun yang dimasuki oleh Haikal. Hal itu sontak membuat para siswa terkejut dan terheran-heran, mengapa seorang calon Blazer yang belum membangkitkan Soul Arc malah dipilih oleh si Putri Salju sebagai rekan satu tim?


"Hmm, mungkin karena permintaanku?" Ucap Haikal sambil merebahkan tubuhnya ke rumput.


Heru membelalakkan matanya mendengar balasan Haikal, "Hah?! Si Putri Salju itu masuk tim kita hanya karena permintaanmu?!"


"Aku hanya minta diajari tentang hal-hal yang dibutuhkan menjadi seorang Blazer olehnya, tapi sepertinya ia malah salah sangka." Ekspresi Haikal menjadi sangat masam membayangkan reaksi teman-teman kelasnya ketika hari Senin nanti.


Heru hanya bisa terdiam tak berbicara, ia tidak mengerti apa masalah sahabatnya dengan Salvia, jadi ia tak ingin ikut campur terlalu dalam.


Tangan dan kaki keduanya sudah tak lagi tertangkap mata masyarakat awam saking cepatnya bergerak. Meskipun bergerak dalam kecepatan tinggi, keduanya dapat melihat gerakan satu sama lain dengan jelas, itu berkat peningkatan refleks dan otot mata oleh energi jiwa.


Ketika manusia berhasil membangkitkan dan menggunakan energi jiwa, maka hampir seluruh kemampuan tubuh fisiknya akan meningkat drastis atau setidaknya dapat ditingkatkan melebihi manusia normal pada umumnya. Sekuat itulah seorang calon Blazer meski berstatistik rendah.


"Haikal, kekuatanmu jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Apa kau melatih energi jiwamu dengan cara khusus?" Heru terkejut dengan kecepatan dan kekuatan Haikal yang mampu menyamai dirinya mengingat statistik kekuatan jiwa sahabatnya itu tak begitu tinggi.


"Entah, ya. Bisa jadi," cetus Haikal tersenyum penuh makna tanpa melonggarkan setiap serangannya.


Heru hanya tersenyum masam mendapat jawaban tak pasti dari Haikal. Pasalnya, ia yakin dengan statistik serta kapasitas energi jiwanya melebihi sahabatnya, tetapi dirinya tidak bisa memberi tekanan hebat kepada Haikal. Itu tak masuk akal.


"Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku," batin Heru melemparkan senyum dengan sebuah arti.


Tubuhnya mulai memanas, energi jiwa yang ia keluarkan pun semakin besar dan setiap serangannya menjadi lebih kuat dan cepat membuat Haikal sedikit kewalahan. Tentu Haikal tak tinggal diam, ia pun ikut mengeluarkan energi jiwa yang tak kalah besar menyamai Heru. Pertandingan pun menjadi lebih sengit menghancurkan beberapa keindahan halaman.


Petandingan berjalan sekitar sepuluh menit dengan kekalahan Haikal yang energi jiwanya terkuras habis, kondisi Heru pun tak jauh berbeda dari Haikal. Mereka berdua berbaring terlentang menghadap langit dengan tubuh kelelahan.


"Haikal, kau yakin statistikmu belum berubah? Dengan kemampuanmu ini, setidaknya statistikmu tak jauh di bawahku." Heru yang masih terengah-engah itu tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Aku sudah memeriksanya, tapi memang tak ada yang berubah," balas Haikal berusaha mengatur nafas liarnya.


Alasan Haikal dapat menandingi Heru yang sudah cukup serius itu adalah pengaturan nafas serta penggunaan energi jiwanya yang lebih efisien. Ia sudah memahami dan mempraktikkan langsung beberapa hal yang ia baca dari buku pinjamannya, tentu terdapat perbedaan penggunaan energi jiwa antara dirinya dan Heru.


Seperti Blazer baru pada umumnya, Heru hanya bisa mengandalkan energi jiwanya secara sederhana, yaitu memperkuat seluruh tubuhnya pada satu waktu sehingga jumlah energi jiwa yang dibutuhkan juga cukup banyak dengan peningkatan tubuh secara keseluruhan nan stabil.


Berbeda dari Heru, Haikal sudah memvariasikan penggunaan energi jiwa dengan teknik pernafasannya, lalu mengontrol pengeluaran serta penggunaan energi jiwa secara tepat dalam beberapa saat. Ia pun juga tidak memperkuat seluruh tubuhnya dalam satu waktu, melainkan hanya memperkuat tangan, kaki, serta beberapa otot dada dan perut agar dapat mengimbangi gerakannya.


Jika saja mereka bertanding mengenai efesiensi penggunaan energi jiwa, sudah jelas Haikal akan keluar sebagai pemenang.


"Kakak," panggil Seran dari rumah melihat kakaknya dan Heru terbaring lemas di rumput, lalu memicingkan mata ke beberapa titik halaman sebelum memperingati Haikal, "Kak, lebih baik kakak dan kak Heru dapat memberikan alasan yang baik kepada Ibu nanti."


Haikal dan Heru merinding seketika begitu mendapat peringatan dari Seran, "Kami akan bereskan sekarang, tolong jangan beritahu ibu!" Keduanya langsung bangkit berdiri dan membereskan halaman belakang yang terlihat agak kacau ini.


Seran menghela nafas melihat kelakuan kedua orang ini, "Sudahlah, itu nanti saja. Kak Haikal, ada tamu yang mencarimu."


"Mencariku? Siapa?" Haikal memiringkan kepalanya terlihat kebingungan.


"Entahlah, pokoknya dia seorang gadis berambut perak dan parasnya sangat menawan. Auranya juga sungguh terasa tak biasa," jelas Seran kemudian masuk kembali ke rumah, "Lebih baik jangan membuat seorang gadis menunggu, kak."


Haikal terdiam begitu mendengar sosok yang mencarinya, Heru pun bereaksi sama. Mereka pun menoleh satu sama lain dan mengangkat suara, "Jangan-jangan...."