
Merasa tak ingin kalah, Haikal juga meningkatkan tekanan energi jiwanya hingga mendekati milik Jack. Aura merah kehitaman khas Haikal yang terpancar keluar dari tubuhnya dapat terlihat secara samar, bahkan oleh orang awam sekalipun.
Aura serta tekanan energi jiwa keduanya saling berbenturan hebat tanpa memperhatikan jarak, mengakibatkan sebagian besar penonton kehilangan kesadaran. Hanya Blazer, calon Blazer, dan orang awam terlatih yang bisa menahan benturan kedua gelombang ini.
Para guru dan wakil Guild di ruangannya masing-masing sampai merinding sesaat ketika aura Jack dan Haikal bertabrakan, Veindal melotot hebat memandangi dua pemuda di arena tersebut tak mempercayai kekuatan yang dilepaskan keduanya.
Di pinggir arena sendiri, Salvia bisa merasakan langsung terpaan aura dan tekanan energi jiwa Haikal dan Jack dari dekat seperti angin puyuh kecil. Bulir-bulir keringat mulai mengalir menuruni wajahnya tidak bisa melepaskan pandangannya dari arena.
"Ini... kekuatan Haikal?" Salvia tidak bisa menutupi keterkejutannya, dia memegang kedua lengannya secara spontan merasa syok.
Memang belum sebanding dengan dirinya ketika mengerahkan Awakening dipadukan dengan pemusatan energi jiwa, tapi Salvia tak dapat mempercayai kekuatan Haikal dapat berkembang hingga tahap ini hanya dalam berlatih beberapa bulan saja.
Biarpun tekanan energi jiwa Haikal mengejutkan dirinya, Salvia juga tidak melupakan keberadaan Jack yang juga tidak kalah mengerikannya dari Haikal maupun Edward dalam hal aura dan tekanan energi jiwa.
Jack tidak menunggu lebih lama dan melancarkan serangan jarak jauh berupa tombak sihir yang dilesatkan, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Haikal masih bisa melihat jalur serangan Jack dan menghindarinya, namun dia tak bisa menghindar sepenuhnya.
Tombak sihir Jack berhasil menggores pakaiannya pada bagian perut sebelah kiri, Haikal berdecak pelan mendapati serangan tersebut.
Jack tak terlalu mempedulikan reaksi Haikal, dia kemudian melancarkan serangan tombak lain dengan jumlah lebih banyak hingga mencapai belasan, tetapi kecepatannya menjadi sedikit lebih lambat.
Haikal mengetahui dengan jumlah ini tidak mungkin dia bisa menghindari semua serangan Jack, jadi dia mengumpulkan sejumlah energi jiwa pada kedua lengannya dan membentuk sepasang sarung tangan merah sedikit tembus pandang menggunakan perubahan wujud energi jiwa.
"Haah!" Haikal mendorong kedua tangannya sekaligus ke depan mengerahkan dua Air Smash sekaligus menciptakan amukan udara hebat yang menyebabkan sebagian tombak sihir Jack meleset, tetapi beberapa masih terarah pada dirinya.
Haikal berdecak pelan sebelum memainkan tangannya menangkis semua tombak tersebut. Memang tidak sempurna, namun Haikal bisa merubah arah tombak-tombak itu menjadi menancap di lantai.
Jack mengerutkan dahinya melihat aksi Haikal yang bukan hanya bereaksi, tetapi juga menghindari dan menangkis seluruh serangannya, "Kau memang hebat, Haikal."
"Tapi, bagaimana dengan ini?" Jack mengangkat lengan kanannya ke atas sekali lagi menciptakan banyak tombak sihir sekaligus, namun kali ini jumlahnya mencapai puluhan bahkan mungkin mendekati seratus.
Haikal terbelalak melihat jumlah tak manusiawi itu, tetapi sebelum Haikal selesai terkagum-kagum Jack sudah melepaskan puluhan tombak tersebut menuju Haikal, berhasil membuat pemuda tersebut terkejut.
Haikal bergerak ke sana kemari secepat mungkin menghindari hujan tombak, sayangnya dia tidak bisa memperkirakan semua arah tombak-tombak itu saking banyaknya jumlahnya. Beberapa tombak berhasil menorehkan luka pada tubuh Haikal.
"Kalau begini terus aku yang habis duluan," batin Haikal yang nafasnya mulai tak beraturan, padahal pertandingan baru berjalan beberapa saat saja. Dia menghindari seluruh tombak tersebut sambil menangkisnya sebanyak mungkin.
Butuh beberapa waktu sampai hujan tombak tersebut benar-benar selesai, Jack mengusap dagunya memandang Haikal dengan penuh kekaguman bisa lolos dari serangannya yang satu ini tanpa mengalami luka serius.
"Kau memang hebat, Haikal." Jack tersenyum kecil melihat hanya luka goresan pada tubuh Haikal, "Belum pernah ada orang yang berhasil menghindari Magic Javelin Rainfall-ku selain kau."
"Benarkah? Aku merasa terhormat menjadi yang pertama," balas Haikal menyeka keringat di dahinya sambil tersenyum selebar mungkin, berusaha menutupi irama nafasnya yang sedikit kacau setelah menghindari semua tombak Jack. Sarung tangan merah sedikit tembus pandang sesikunya memudar dan akhirnya menghilang karena kelelahan.
Memang benar Haikal telah melalui latihan keras yang tak terbayangkan oleh siapapun hingga seluruh tubuhnya diperkuat dalam berbagai arti, tentu termasuk staminanya juga meningkat jauh. Sayangnya serangan Jack bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Selain jumlahnya yang nyaris mustahil ditemukan pada tingkatan sama, kecepatan serang Jack juga jauh lebih tinggi dibanding semua lawan Haikal sejauh ini. Tidak mungkin Haikal mampu menghindari semua hanya dengan kemampuan fisiknya semata, dia menggunakan cukup banyak energi jiwa dalam waktu sesingkat itu.
"Levelnya memang berbeda dari yang sudah-sudah," batin Jack merasa kesulitan, namun bibirnya mulai mengembangkan senyuman kecil lainnya, "Sahabat kecil Verna memang beda."
Haikal yang melihat senyuman tersebut seluruh tubuhnya tiba-tiba merinding sesaat, entah tanpa sadar merasa takut terhadap Jack atau tekanan energi jiwa Jack yang sekali lagi meningkat jauh.
"Kau kuat, Haikal," kata Jack sebelum tubuhnya mulai melayang di atas permukaan tanah yang secara perlahan naik semakin tinggi disertai terpaan angin liar seakan mengamuk di sekitar arena, "Karena itu aku ingin mencari tahu apakah kau bisa menahan salah satu sihir terkuatku atau tidak."
Mata Haikal terbelalak melihat Jack mampu melayang tanpa bantuan sihir angin seperti Verna, tetapi tindakan Jack selanjutnya sukses membuatnya begitu tercengang.
Jack mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil menunjuk ke langit, lalu pada ujung jari telunjuk tersebut terlihat pusaran energi jiwa hijau keemasan berbentuk bulat berkumpul di sana, perlahan-lahan membesar hingga mampu menyelimuti seluruh lapangan arena dengan bayangannya.
"Ini...." Veindal tak bisa berkata-kata melihat ukuran pusaran energi jiwa raksasa tersebut. Memang benar sebagai Blazer tingkat Cardinal dia bahkan bisa membuat bola energi jiwa serupa dengan ukuran lebih besar, namun melihat penggunanya adalah calon Blazer kelas satu dia tidak bisa menahan keterkejutannya.
Bukan hanya Veindal, para pengajar akademi, bahkan para wakil Guild ikut terbelalak melihat sihir yang dikerahkan Jack.
"Kepala sekolah! Bukankah ini harus segera dihentikan?!" Salah satu guru berseru keras kepada Veindal menyarankan pertandingan harus dihentikan, dia berpendapat bahwa teknik setinggi ini bukan lagi selevel calon Blazer.
Para pengajar lain kemudian tersadar berkat seruan guru tersebut, lalu meminta hal yang sama kepada Veindal. Pria paruh baya itu kini dilanda dilema, di satu sisi dia berkewajiban menghentikan pertandingan jika terdapat serangan yang membahayakan nyawa sebagai Kepala Sekolah Akademi Skymaze, namun di satu sisi lain Veindal ingin melihat bagaimana Haikal menangani krisis ini.
Haikal sendiri tidak bisa bergerak memandangi ukuran pusaran energi jiwa raksasa di langit itu, tanpa sadar dirinya mengambil satu langkah ke belakang merasa terintimidasi oleh ukuran raksasanya.
Saat Haikal mulai merasa ragu dan bingung harus berbuat apa, pandangannya teralih oleh sesosok gadis cantik berambut perak di tepi arena yang tengah mengepalkan tangannya sekuat tenaga memandang dirinya. Sorot mata Salvia penuh dengan kekhawatiran.
Pemandangan tangisan Salvia sebelumnya terlintas bagaikan film pendek di benak Haikal, mengingatkannya kembali terhadap alasannya berlatih mati-matian hingga mampu berdiri di babak final salah satu turnamen bergengsi ini.
Haikal memejamkan matanya mengonsentrasikan sejumlah besar energi jiwanya pada tinju kanan, "Kalau dengan begini saja aku takut, bagaimana aku bisa menghadapi Verg di luar sana?"
Saat itu juga aura merah kehitaman Haikal menjadi lebih pekat dan menyakitkan, tekanan energi jiwanya juga meningkat drastis. Memang tidak sampai menyamai tingkat Jack saat ini, tetapi melebihi ketika melawan Edward.
"Baik, aku siap." Haikal membuka matanya. Sekilas pandangannya terlihat kosong dan tak fokus, namun yang terjadi justru sebaliknya, tingkat konsentrasi Haikal mencapai titik tertinggi sekarang.
Jack yang melihat itu menelan ludahnya secara spontan, "Konsentrasi yang mengerikan."
"Kalau begitu terima ini!" Tidak ingin menunda lebih lama lagi, Jack melemparkan pusaran energi jiwa hijau keemasannya itu pada Haikal, "Gaia's Maelstrom!"
Pusaran tersebut melesat cepat menuju Haikal. Tidak secepat Magic Javelin Rainfall sebelumnya, tapi masih tergolong cepat.
Haikal tetap diam di tempatnya menunggu pusaran tersebut mendatanginya, menyebabkan ketegangan para penonton yang masih sadar meningkat begitu pesat, bahkan sebagian sampai berteriak histeris memperingati Haikal.
Meski telah diperingati oleh para penonton, Haikal tidak mengidahkan teriakan mereka dan tetap fokus menunggu waktu yang tepat, hingga pada akhirnya Haikal mendorong tinjunya sekuat tenaga mengarah pada Gaia's Maelstrom milik Jack pada waktu yang tepat sambil berseru keras, "Void Breaker!"
Saat tinju Haikal menghantam pusaran Gaila's Maelstrom, bentrokan antar dua teknik tersebut tak terhindarkan dan menciptakan sebuah ledakan terbesar sepanjang Turnamen Penyambutan berjalan yang sukses mengguncang seluruh wilayah Akademi Skymaze dari ujung hingga ujung lain.