
Kedatangan Salvia langsung mengubah suasana arena yang tadinya masih dilanda hening berkat situasi serius Cecil dan Heru, kini dipenuhi sorak-sorai para penonton, terutamanya pendukung Kelompok Salvia dan penggemar gadis tersebut.
Sebagian merasa senang atas kehadiran Salvia yang nampaknya telah pulih seperti sedia kala dan mungkin siap bertarung, namun sisi pendukung pihak lawan lebih banyak menggerutu. Hal itu tidak bisa dipungkiri mengingat Salvia adalah salah satu calon Blazer terkuat di angkatan mereka.
Tanpa kehadiran Salvia, maka Kelompok Verna bisa menang lebih mudah—meski harus berhadapan dengan sang Arcless Blazer, Haikal Alendra.
Di sisi lain, Verna tersenyum kecil melihat kondisi Salvia yang kini terlihat sehat dan bugar. Dia sedikit terkejut melihat lawan tanding yang dikiranya masih terbaring di kasur rumah sakit, ternyata sudah keluar bahkan nampak begitu sehat.
"Kondisimu tidak ada masalah, Salvia?" Haikal tanpa basa-basi menanyakan keadaan Salvia, "Yakin dapat bertarung dengan normal?"
Salvia mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan beruntun Haikal yang dirasa terlalu khawatir terhadapnya, "Haikal, kau yang menyarankan metode rehabilitasi itu, kenapa kau sendiri yang sekhawatir itu padaku?"
"Yah, aku belum pernah mencobanya, jadi aku khawatir terdapat efek samping tersembunyi yang tak kuketahui," ujar Haikal sembari mengangkat bahunya.
Salvia terkikik sejenak mendengar balasan Haikal, "Jika ayahku tahu kau tidak yakin seratus persen atas metode ini, entah apa yang dia lakukan nanti."
Seketika itu juga terlintas di benak Haikal tentang sesosok Veindal yang tengah berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat serta hawa mencengkam. Bulu kuduknya merinding sesaat setelahnya.
Haikal mendekati Salvia dan berbisik pelan, "Jangan sampai kepala sekolah mengetahuinya."
"Tenang saja, metodemu terbukti tidak memiliki efek samping berarti. Ayahku tidak akan menghukummu atau sejenisnya hanya karena ini," jelas Salvia menenangkan Haikal yang kini tengah panik.
Haikal menghela nafas lega mengetahui Veindal adalah orang yang lebih pengertian dari yang dirinya pikirkan.
Metode rehabilitasi yang Haikal sarankan sendiri cukup sederhana, yaitu melapisi organ atau daerah yang mengalami luka dengan sejumlah energi jiwa sebagai gips.
Mengingat energi jiwa memiliki kemampuan penyembuhan alami meski tidak terlalu efesien, Haikal berpikir jika terus menyelimuti daerah cedera menggunakan energi jiwa secara berkala maka proses rehabilitasi seseorang dapat dipercepat hingga beberapa kali lipat tergantung dari jumlah energi jiwa yang diberikan.
Dalam kasus Salvia, dirinya mempunyai sesosok Blazer tingkat Cardinal di belakangnya yang mendukung metode ini berjalan lancar, Veindal Volksky.
Sebagai salah satu Blazer tingkat Cardinal yang begitu langka, Veindal tentu memiliki jumlah energi jiwa yang sulit dicari bandingannya di seluruh Wulodhasia. Haikal kemudian memanfaatkan kelebihan Veindal untuk mencoba metode rehabilitasi ini pada Salvia.
Tentu sebagai Kepala Sekolah dan Blazer tingkat Cardinal, Veindal tak dapat sering mengunjungi Salvia karena pekerjaannya sehingga pria paruh baya tersebut meminjamkan sebuah Soul Device yang mampu menyimpan sejumlah besar energi jiwa kepada Haikal.
Veindal telah mengisi Soul Device itu dengan sejumlah besar energi jiwanya dan mempersilahkan Haikal untuk menggunakan energi jiwa tersebut sebagai bahan metode rehabilitasi baru yang disarankan.
Haikal memang memiliki kuantitas energi jiwa yang sulit dicari bandingannya di tingkatannya sekarang, namun sebanyak apapun energi jiwa yang Haikal miliki, dirinya tidak akan mampu mengaplikasikan metode rehabilitasi ini sendirian.
Pada akhirnya Haikal menggunakan energi jiwa Veindal dan memanfaatkan pengendaliannya atas energi jiwa yang di atas rata-rata untuk membentuk gips di seluruh cedera Salvia.
"Tapi, aku tidak menyangka metode rehabilitasi itu berjalan lancar," ujar Haikal merasa tak percaya hipotesanya benar-benar bekerja.
"Jika kau mematenkannya, mungkin kau bisa kaya mendadak," goda Salvia tak mau melewatkan kesempatan emas untuk menggoda Haikal.
Haikal menggeleng pelan menolak gagasan Salvia, "Aku mengusulkan metode ini bukan karena uang."
Meskipun keluarga Alendra termasuk rakyat biasa yang tidak memiliki perekonomian kuat—bahkan bisa dibilang sedikit di bawah standar—Haikal tak berniat memanfaatkan hasil temuannya yang bisa membantu orang banyak demi kepentingan pribadinya semata.
Salvia tersenyum sejenak menanggapi balasan Haikal yang sudah dia duga, "Begitu, ya."
Hening berkuasa di antara keduanya selama beberapa saat sebelum suara deham merebut perhatian. Suara berdeham tersebut ternyata berasal dari Heru, "Sudah selesai bicaranya? Jika sudah biarkan aku dibawa ke ruang kesehatan agar aku bisa dirawat penuh."
Alis Haikal terangkat seketika baru teringat saat ini Heru sedang berada di atas tandu para petugas medis. Bukannya membiarkan Heru lewat, Haikal justru tersenyum sinis menanggapi kata-kata sahabatnya itu.
"Dirawat penuh? Cederamu itu cukup diludahi sekali dua kali dan akan sembuh sendiri nantinya," kata Haikal menyindir Heru merasa cedera pemuda tersebut sebenarnya tidak terlalu parah hingga harus dirawat penuh.
Seutas urat ungu tipis segera terlihat di pelipis Heru. Dia sedikit termakan oleh sindiran Haikal, "Maaf saja, ya, tubuhku masih normal bukan manusia super sepertimu."
Petugas medis tersenyum masam mendengar percakapan keduanya, mereka lalu pamit agar bisa mengantar Heru ke ruang kesehatan. Sekuat apapun badan manusia, jika suatu cedera tidak langsung ditangani maka bisa menimbulkan masalah besar nantinya.
Setelah kepergian Heru dan Cecil yang dibawa petugas medis, Haikal dan Salvia melangkah menuju tempat tunggu di pinggir arena, namun langkah mereka dihentikan oleh suara Verna yang tiba-tiba menggema ke seluruh penjuru arena.
"Salvia, aku menantangmu dalam duel pertandingan sebagai sesama calon Blazer tipe Wizard!" Verna berseru keras sambil menunjuk Salvia, "Kita tentukan siapa calon Blazer tipe Wizard terkuat seangkatan dalam pertandingan ini!"
Pernyataan Verna sontak membuat seisi arena heboh. Sebagian mempertanyakan akal sehat Verna yang mungkin melupakan sistem undian dalam menentukan pertandingan, sebagian lagi merasa tertarik terhadap pertarungan yang menentukan calon Blazer tipe Wizard terkuat di angkatan mereka.
"Verna, bukan begitu caranya sistem undian berlangsung," potong pembawa acara sedikit tidak terima atas pernyataan Verna yang terdengar jelas menolak sistem undian nama kali ini, meski dia cukup tertarik terhadap pertarungan itu sendiri.
Perkataan sang pembawa acara nyatanya tidak menurunkan niat Verna bertarung melawan Salvia. Gadis itu seakan tak peduli terhadap komentar pembawa acara dan tidak melepaskan pandangannya dari Salvia.
Salvia sendiri sedikit terkejut pada pernyataan Verna. Dia termenung sejenak sebelum mengangkat suaranya sambil tersenyum kering, "Verna, bukannya aku menolak, tapi aku sudah kalah dari Edward sebagai sesama tipe Wizard. Aku tidak mempunyai kapasitas untuk memperbutkan posisi itu denganmu."
"Memang benar kau kalah dari Edward, namun nyatanya Edward tidak berhasil mencapai babak final," balas Verna tanpa mengendurkan senyumnya tetap bersikeras menantang Salvia, "Terlepas kekalahanmu dari Edward, kaulah yang berdiri di arena hari ini, Salvia, bukan dia."
Senyum Salvia membeku mendengar perkataan Verna. Memang benar jika berdasarkan pernyataan Verna, dirinya lebih kuat dari Edward, namun Salvia merasa hal itu bukanlah berasal dari dirinya sendiri.
Salvia menarik nafas dalam-dalam dan memantapkan sorot matanya memandang Verna seolah mendorong gadis tersebut mundur, "Aku bisa berdiri di sini hari ini berkat kekuatan Haikal dan Heru. Jika saja mereka kalah saat melawan Kelompok Edward, maka aku tidak akan berada di sini."
"Bukankah kekuatan mereka adalah kekuatanmu juga?" Verna mengangkat sebelah alisnya membalas Salvia, membuat lawan bicaranya itu kebingungan.
"Kau yang memilih mereka, berarti penilaian dan keputusanmu untuk berkelompok dengan mereka adalah hal yang tepat," ujar Verna tertawa geli menyaksikan reaksi Salvia. Saat tawanya berhenti, Verna memandang Salvia penuh keseriusan, "Apakah bagimu kekuatan adalah satu-satunya tolak ukur kuat atau tidaknya seseorang?"
Kini giliran Salvia yang mengangkat alisnya. Selama ini dia memang menganggap bahwa kekuatan adalah satu-satunya nilai dalam menentukan kekuatan seorang Blazer, tetapi setelah menyaksikan kemauan dan latihan keras yang dijalani Haikal dan Heru selama beberapa minggu terakhir, dirinya tersadar.
Salvia juga teringat bahwa Awakening yang berhasil dirinya capai bukanlah sekedar kekuatan yang bisa didapatkan dengan latihan semata.
"Benar, kekuatan sejati bukan sekedar kekuatan fisik semata," batin Salvia menertawakan kebodohannya sendiri, padahal seharusnya para Awaken—mereka yang mencapai Awakening—seperti dirinya yang paling memahami kekuatan sejati tidaklah sesederhana itu.
Salvia menarik serangkaian nafas menyudahi tawanya, kemudian menatap mata Verna dalam-dalam, "Baiklah, akan kuterima tantanganmu."
Author
Yo, Galih Gates di sini, lama tak berjumpa di cerita yg ini.
Saya nggak mau basa-basi, jadi langsung aja ke intinya. Adakah dari kalian pembaca yg gak begitu paham dengan konsep atau penjelasan di Absolute Soul sejauh ini?
Kalau ada yg gak paham boleh bertanya, kalau pertanyaannya cukup berbobot karena memang bingung atau tidak mengerti dengan penjelasan World Building cerita ini maka akan saya jawab.
Kalau pertanyaannya remeh cuma sesuatu yg sudah saya tuliskan sedemikian rupa dan bisa dipahami dengan mudah seperti "tipe/kategori Blazer" atau "tingkat Blazer" dalam kisah ini maka saya akan mengabaikannya.
Terkadang saya kesulitan merangkai kata untuk World Building cerita ini, jadi mohon maaf untuk itu. Jika memang membingungkan silahkan saja bertanya di komentar atau memberi kritik dan saran, saya akan sebisa mungkin menanggapinya, selama itu komentar, kritik, dan saran yg membangun, serta bukan menggeneralisasi satu cerita dengan cerita lainnya.
Bisa kan bedain mana yg "kritik" dan mana yg "menghina"?
Oh ya, sejumput funfact ; tahukah kalian bahwa referensi dan kerangka utama yg membentuk cerita Absolute Soul ini bukanlah Absolute Duo ataupun Tale of Failed Knight?
Penasaran? Ada dua referensi utama yg saya pakai di cerita ini.
Kalau ada yg bisa jawab salah satunya Minggu depan saya langsung rilis 3 bab, kalau ada yg bisa jawab lengkap langsung rilis 5 bab (update seminggu sekali sampai bulan depan).
Hint-nya adalah anime yg diangkat dari game dan novel lokal bertema dan latar serupa namun dengan konsep yg berbeda.
Selamat menebak~