
Selang beberapa hari semenjak mendapat informasi mengenai pergerakan Verg di luar perbatasan yang makin mencurigakan, Heru mulai runtin menjalankan latihan tak manusiawi ala Haikal, tentu saja didampingi Haikal yang sudah berpengalaman dengan cara berlatih tersebut.
Saat inipun keduanya telah mengelilingi kota Adele beberapa putaran. Berbeda dari Haikal yang nampak baik-baik saja, Heru yang tidak terbiasa akan latihan ini terlihat lelah dan kehabisan nafas.
"Haikal... kau sungguh melakukan ini... setiap hari?" Tidak kuat terus-terusan berlari, akhirnya Heru meminta Haikal beristirahat sebentar. Heru terkapar di sebuah bangku taman yang tak jauh dari sana, sementara Haikal masih berlari kecil di tempat.
"Awalnya memang berat, tapi lama kelamaan tubuhmu akan terbiasa." Haikal menggulung lengan pakaiannya menunjukkan otot bisep miliknya pada Heru, "Ototmu mungkin akan menjadi sebesar ini jika kau terus berlatih seperti ini selama sebulan lebih."
Heru tertawa kering melihat perkembangan otot bisep Haikal yang tak wajar di antara calon Blazer setingkatannya, bahkan Heru sendiri yang seorang calon Blazer tipe Warrior dengan tubuh sebagai senjata utama saja sulit mencapai ketebalan dan kepadatan seperti Haikal dalam kurang lebih sebulan.
Sesaat sesudahnya Haikal menghentikan lari di tempatnya, kemudian duduk bersila di atas trotoar sebelum mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi pada pernafasannya, "Heru, jika tubuhmu sudah mencapai batasnya maka kau harus cepat mengatur nafas sekaligus mengalirkan energi jiwamu ke seluruh tubuh, itu akan mempercepat pemulihan."
Heru ingin mengomentari Haikal yang seenaknya mengatakan itu dengan mudahnya tanpa melihat kondisinya yang masih begitu kelelahan, namun Heru menyimpan semua itu dan menuruti perkataan Haikal. Dalam beberapa saat Heru bisa merasakan rasa lelahnya berkurang jauh lebih cepat.
Setelah merasa tubuhnya kembali segar, Heru menghembuskan nafas panjang sebelum berdiri dan melakukan beberapa peregangan, "Oh, ini sungguh bekerja. Bukan hanya rasa lelah, bahkan pegal di seluruh badan sejak kemarin juga lumayan berkurang." Heru sedikit membelalakkan matanya mengetahui perubahan drastis pada tubuhnya.
Heru mengalihkan pandangannya pada Haikal sesudah merasa puas terhadap kecepatan pemulihannya yang tidak wajar, dahinya sedikit mengerut, "Dia tidak terlihat lelah, kenapa berkonsentrasi sebegitu lamanya?" Batin Heru bingung terhadap sahabatnya yang tak kunjung membuka mata padahal Haikal lebih dulu duduk bersila darinya.
"Mungkinkah dia sedang mencari Soul Arc-nya?" Heru baru teringat sampai saat ini Haikal belum mampu membangkitkan Soul Arc-nya, padahal dilihat dari kuantitas energi jiwa seharusnya Haikal sudah berhasil membangkitkannya sejak lama, setidaknya menemukan wujud Soul Arc-nya.
"Seberapa kuat Soul Arc yang berhasil dia bangkitkan nanti?" Heru tidak bisa menahan senyumnya membayangkan Soul Arc yang Haikal dapatkan di masa depan, yang jelas ekspetasinya cukup tinggi.
Tak lama setelah Heru bergumam sendiri, Haikal membuka matanya dengan nafas terengah-engah disertai beberapa bulir keringat mulai keluar dari dahinya. Dia juga sempat terbatuk beberapa kali sebelum meneguk air mineral pemberian Heru.
"Terima kasih, Heru," kata Haikal mengembalikan botol minum milik Heru, nafasnya masih terengah-engah.
Heru tersenyum kecil menanggapi sikap sahabatnya itu, dia tak merasa heran mengingat sampai sekarang bukan hanya belum berhasil membangkitkan Soul Arc, tetapi Haikal juga belum melihat wujud senjata jiwanya itu sekalipun, menurut kesaksian Haikal sendiri.
Sembari menunggu Haikal pulih, Heru melangkah mendekati pagar yang membatasi dirinya dengan sungai kota yang terhubung langsung dengan laut. Dia menghela nafas sesaat sebelum menyandarkan dagunya pada pagar, "Haikal, apa kau pernah berpikir tentang Verg di atas Titan-class?"
Haikal yang sejak tadi fokus mengatur nafasnya kini mengangkat alisnya, "Verg di atas Titan-class?"
"Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku hanya berandai-andai saja." Heru kembali menghela nafas sebelum berbalik dan memandang Haikal, "Apa jadinya jika Verg di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari pasukan di balik pilar cahaya itu?"
Sejauh ini manusia memang sering melawan Verg sekelas Normal atau paling tinggi kelas Goliath di beberapa medan pertempuran, namun sebenarnya Verg sekelas itu cenderung mudah ditemukan di banyak tempat, terutama kelas Insect sampai Beast.
Dunia awam cukup sering memperlihatkan pertarungan antar Blazer melawan Verg kelas Chimera atau Goliath, tetapi tidak banyak orang yang mengetahui ancaman utama dari Verg bukanlah dua kelas tersebut, melainkan kelas Behemoth dan Titan. Dua kelas yang saat ini diketahui oleh umat manusia merupakan ancaman terbesar yang bisa meluluhlantahkan sebuah negara jika saja kehadiran Verg kelas Titan lebih dari satu.
Verg sekelas Behemoth mungkin masih mampu ditangani oleh Blazer tingkat Cardinal namun tentu dengan susah payah, masalahnya Blazer tingkat Cardinal bukanlah hal yang bisa didapatkan semudah mencari jeruk.
Lain halnya dari kelas Behemoth, Verg sekelas Titan mungkin merupakan ancaman terbesar yang bisa dirasakan oleh sebuah negara. Verg sekelas ini hanya bisa ditangani oleh Blazer tingkat Divinity, yang mana Blazer setingkat ini bahkan lebih sulit ditemukan dari Blazer Cardinal.
"Jika ada Verg yang melebihi kelas Titan, maka umat manusia mungkin akan musnah tanpa sisa," ucap Haikal dengan nada bergetar, dia tak bisa membayangkan jika ada Verg yang lebih kuat dari kelas Titan.
Heru mengangguk setuju tidak bisa membantah perkataan Haikal. Wulodhasia tidak mempunyai Blazer tingkat Divinity sehingga jika satu saja Verg kelas Titan muncul dan Asosiasi Persatuan Blazer dunia atau negara lain tak memberikan bantuan, maka Wulodhasia bisa dikatakan tamat.
Keduanya menghela nafas sekaligus merinding di saat yang bersamaan menyadari betapa mengerikannya Verg kelas Behemoth dan Titan kemudian mengira-ngira ada Verg yang lebih kuat dari itu.
"Ngomong-ngomong soal itu, Verg kelas Insect tipe air itu hampir tidak ada bedanya dengan ikan biasa dari segi wujud, bukan?" Heru kembali melontarkan pertanyaan secara tiba-tiba.
Haikal merenung sebentar menanggapi pertanyaan Heru, "Seingatku memang benar, tapi terkadang ada yang berwujud kepiting kecil atau kelomang. Kenapa?" Haikal balik bertanya merasa heran terhadap sahabatnya yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
Heru menunjuk ke suatu tempat tak jauh dari tempat mereka beristirahat, "Apa itu termasuk Verg Insect-class tipe air?"
Arah yang ditunjuk Heru berlokasi sekitar pagar tepi sungai beberapa meter dari mereka. Di sana terlihat sesosok makhluk berbentuk seperti monyet tetapi tak terlihat memiliki bulu seperti monyet pada umumnya, lebih memperlihatkan kulit abu-abu yang basah karena air.
Mata Haikal terbelalak hebat begitu melihat sosok yang ditunjuk Heru, "Bukankah itu Verg kelas Normal, Sea Monkey?! Kenapa bisa ada di sini?!" Haikal kemudian menoleh kembali ke arah Heru, "Bisa-bisanya kau santai melihat ada Verg sungguhan di depanmu! Cepat hubungi kepala sekolah!"
Selepas berkata demikian Haikal meraih Soul Device pinjaman Salvia yang dia gantung di pinggangnya setiap saat, lalu menuang sejumlah energi jiwa ke dalamnya mengaktifkan bilah laser hijau membentuk pedang tipis. Dia kemudian mengalirkan energi jiwa ke kaki dan menendang beton trotoar melesat menuju arah Sea Monkey tersebut.
Kecepatan Haikal memang tidak begitu cepat jika dibandingkan Blazer resmi tipe Warrior, namun Sea Monkey itu menunjukkan kelengahannya sehingga tidak bisa bereaksi terhadap kedatangan Haikal yang melesat dan memenggal kepalanya dalam sekejap.
Haikal segera mengalihkan perhatiannya menuju tepian sungai lainnya dan mendapati belasan Sea Monkey tengah memanjat tebing tersebut, "Verg bisa masuk kemari tanpa terdeteksi ataupun terhalang pelindung?"
Wajah Haikal segera berubah menjadi penuh ketakutan menyaksikan belasan Sea Monkey tersebut. Sebagai calon Blazer dirinya harus mampu menghadapi Verg, namun di saat seperti ini kemampuan bertarung jarak dekatnya tidaklah berguna.
"Hei, pergi dari sana!"
Di saat Haikal tengah memikirkan cara mencegah Verg-Verg tersebut mencapai daratan, suara feminim berseru keras dari belakang yang disusul beberapa tembakan dari langit menghancurkan para Sea Monkey itu.
Satu per satu Sea Monkey yang tengah mencoba memanjat tebing pemisah sungai dan daratan jatuh kembali ke sungai dengan kondisi mengenaskan, terseret arus menuju hilir sungai.
Pemandangan tersebut menyita perhatian Haikal sebelum memandang sesosok gadis yang memegang sepasang benda yang nampaknya adalah Soul Device berbentuk pistol. Dia berdiri di atas Skyboard, sebuah alat transportasi berbentuk papan luncur tanpa roda dan mampu melayang beberapa meter di udara.
"Hm? Seragam Akademi Skymaze?" Alis Haikal terangkat tinggi menyaksikan gadis di atas Skyboard tersebut, "Bisa menghabisi belasan Verg kelas Normal dalam sekejap.... Siapa gadis ini?"