
Zraat!!
Tubuh Heru terhempas cukup jauh begitu menerima Knives Sword milik Shear, membuat Haikal yang masih menahan Knives Reaper di belakang sontak menjerit, "Heru!"
Jeritan Haikal menggema begitu keras melihat Heru terkena kumpulan belati berbentuk pedang raksasa dari dekat itu, dia ingin segera melesat menangkap Heru tetapi Knives Reaper dapat langsung menghabisinya saat dia lengah.
Ketika luapan darah mendidih mulai naik memenuhi kepala Haikal, badan Heru tiba-tiba berputar di udara beberapa kali sebelum menapakkan kakinya di tanah dengan aman.
"Hampir saja aku mati!" seru Heru sambil meraba tubuhnya yang masih utuh tak terluka selain goresan akibat Knives Raid beberapa waktu lalu.
Haikal melotot melihat Heru yang bukan hanya tidak terluka parah, dia bahkan masih terlihat bugar dan dapat bergerak bebas setelah terkena serangan sebesar Knives Sword milik Shear, sementara orang yang memberi serangan barusan mengerutkan dahi menyadari bagaimana Heru lolos dari serangan fatal tersebut.
Heru memiliki Soul Arc berupa sepasang sarung tangan besi bernama Twin Kong. Biarpun termasuk Soul Arc biasa yang bisa ditemukan di manapun, Soul Arc sejenis ini memiliki ketahanan luar biasa yang bahkan Blazer tingkat Master sekalipun sulit menghancurkan pertahanan Soul Arc ini.
Twin Kong memang terdengar sangat kuat untuk ukuran Soul Arc biasa, tetapi jangkauannya dalam menyerang dan bertahan terbatas hanya pada lengan pengguna. Heru tidak ragu memukul dinding pisau Shear karena ketahanan Twin Kong, tetapi jika tubuhnya yang diincar itu lain cerita.
Shear mengetahui kelemahan semua Blazer tipe Warrior seperti Heru sehingga mengincar bagian badan yang tak terlindungi oleh Twin Kong, namun dia tidak menyangka Heru akan menarik dan menyatukan kedua tangannya di depan perut menahan serangan Knives Sword secara telak pada posisi seadanya.
Shear tidak akan heran jika itu Blazer yang berpengalaman dalam pertarungan hidup dan mati, namun melihat reaksi Heru yang hanyalah calon Blazer kelas satu membuat tolak ukur kekuatan Blazer di kepalanya goyah.
Haikal yang melihat sahabatnya itu berhasil melalui serangan fatal Shear menjadi lebih tenang, dia lalu melayangkan sebuah tendangan kuat pada bagian perut Knives Reaper yang berhasil menghempaskan boneka tersebut jauh ke belakang.
Haikal segera menghampiri Heru memeriksa keadaannya, dia tersenyum kecut melihat Heru baik-baik saja, "Kau baji-ngan tengik, jangan membuatku mati karena jantungan."
"Yah, aku sendiri sedikit terkejut dengan serangan besar barusan, tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tidak akan mati semudah itu." Heru menepuk dada membanggakan insting bertahan hidupnya yang selalu aktif di detik-detik terakhir.
Haikal ingin mengatakan sesuatu pada sahabatnya itu, namun dia mengurungkan niat tersebut setelah menyadari insting bertahan hidup Heru memang harus dia akui lebih hebat dari dugaannya.
"Hahahaha! Bagus! Bagus sekali!"
Saat Haikal dan Heru masih ingin beristirahat sebentar, gelak tawa terdengar begitu keras dari sisi Shear. Mereka bisa melihat sosok pria tersebut tertawa seperti orang gila, namun baik Haikal maupun Heru sadar Shear tidaklah gila.
Shear menyudahi tawanya kemudian menunjuk Haikal dan Heru, "Kalian hebat! Terlalu hebat untuk ukuran calon Blazer!"
"Aku tak pernah menyangka ada calon Blazer yang mampu menahan Knives Sword-ku dari jarak sedekat itu! Lalu, belum pernah ada Blazer yang mampu mengimbangi sekaligus menghempaskan Knives Reaper tanpa menggunakan Soul Arc! Kalian yang pertama, Heru Hartanto, Haikal Alendra!"
Shear tertawa gembira melihat kekuatan Haikal dan Heru yang ternyata jauh melebihi bayangannya. Dia selama ini menyangka bahwa ketua yang menyuruhnya merekrut atau setidaknya menangkap Haikal dan Heru hanya melebih-lebihkan keduanya, tapi sekarang dia mengetahui benar potensi kedua pemuda ini.
Dia merasa Haikal dan Heru pantas direkrut langsung oleh ketuanya.
Butuh beberapa waktu bagi Shear untuk menghentikan tawanya, dia lalu mengulurkan tangannya pada Haikal dan Heru, "Bergabunglah ke dalam Blackout, kalian berdua. Aku bisa menjamin kekuatan, kekayaan, bahkan kekuasaan akan jatuh ke tangan kalian jika kalian bergabung!"
Haikal dan Heru sama-sama mengerutkan dahi mereka merasa ada yang salah dengan Shear, tetapi Haikal bereaksi lebih dulu, "Kau pikir setelah menyerang kami dengan niat membunuh, membuka pintu masuk bagi Verg, membantai orang-orang tak bersalah, kami akan mengatakan 'ya' terhadap tawaranmu? Kau bodoh atau apa?"
Shear tertawa kecil menanggapi seruan Haikal, "Yah, jangan dingin begitu, semua yang kami lakukan demi tujuan kami, Blackout. Beberapa kerusakan dan pengorbanan kecil dari makhluk-makhluk lemah dibutuhkan untuk itu."
Haikal mengepalkan tangannya mendengar jawaban Shear seolah-olah nyawa manusia adalah sesuatu yang murah bagi Blackout. Dia ingin maju dan melayangkan pukulan, tetapi sebelum itu sejumlah kekuatannya tiba-tiba menghilang diikuti oleh beberapa kilat cahaya melesat menuju Shear.
Shear bisa melihat kilat-kilat cahaya tersebut dan mengarahkan puluhan belati terbangnya membentuk perisai, menahan semua serangan itu tanpa kesulitan. Dia menyeringgai kecil memandang ke suatu arah.
Haikal dan Heru ikut menoleh ke arah yang dilihat oleh Shear, di sana terlihat Jack tengah berdiri di atas suatu bangunan bersama puluhan tombak sihir berwarna hijau keemasan dengan tampang dingin.
"Kau—kalian Blackout anggap apa sebenarnya nyawa manusia itu?!" Bersama seruan itu Jack menghempaskan seluruh tombak sihirnya menuju Shear.
Dahi Shear seketika mengerut melihat jumlah tombak sihir yang dilempar Jack, dia berdecak pelan sebelum menahan hujaman tombak-tombak tersebut sekali lagi menggunakan dinding pisaunya. Sayangnya dinding pisau saja belum cukup.
"Cih, boneka itu memang merepotkan." Jack berdecak pelan sebelum melompat turun dari atap bangunan mendekati dan menepuk pundak Heru, "Mundurlah dulu, biar aku dan Haikal yang menangani orang ini."
Mendengar itu Heru langsung melayangkan protes tidak terima, "Aku tahu aku tidak sekuat kalian, tapi aku masih bisa bertarung!"
"Bisa bertarung? Dengan kondisi seperti itu?" Jack mengangkat sebelah alisnya melirik luka-luka goresan akibat serangan Knives Raid Shear.
Luka Heru sekilas tidak terlalu mematikan karena tidak begitu dalam, tetapi darah yang mengucur dari goresan-goresan itu bukan hal sepele.
Heru sudah kehilangan cukup banyak darah berkat pertarungannya melawan beberapa anggota Blackout sekaligus di ruang perawatan, biarpun dapat disembuhkan oleh kekuatan Verna darah yang hilang tidak bisa dikembalikan.
Heru menyadari kondisinya meskipun tidak ditegur oleh Jack, namun di saat yang sama dia frustasi merasa terlalu lemah. Selalu dirinya yang paling pertama tumbang atau terluka dibanding Haikal, Jack, ataupun Salvia.
Haikal bisa mengerti perasaan Heru, sebagai sahabat yang pernah merasakan hal serupa dia ingin menghibur dan mendorong Heru, namun di saat yang sama Haikal tak ingin kondisi Heru jatuh lebih buruk dari ini.
"Heru, tolong kau mundur ke tempat Verna," ucap Haikal menepuk bahu Heru, membuat pemuda berambut kemerahan tersebut terkejut sekaligus kesal karena merasa diremehkan.
"Haikal, aku ma—"
"Heru!"
Suara Haikal yang meninggi langsung membungkam Heru, bahkan Jack yang sejak tadi diam mengawasi Shear di kejauhan melirik Haikal dari samping.
Haikal memandang Heru dengan mata berkaca-kaca, "Kumohon pergilah ke tempat Verna. Aku tak ingin kehilangan orang yang kusayangi lebih dari ini."
Baik Heru maupun Jack bisa melihat sorot mata Haikal mengandung kesedihan mendalam seakan bisa menangis kapan saja, mereka berdua tahu alasan di balik pandangan penuh kesedihan Haikal.
Heru mengigit bibirnya sejenak sebelum menghela nafas lalu berbalik, "Baiklah, aku akan pergi ke tempat Verna."
Haikal tersenyum kecil merasa lega Heru menuruti keinginan egoisnya, tetapi sebelum melangkah Heru berseru kepada Haikal.
"Tapi, dengan syarat kau juga harus kembali nanti! Tanpa luka!" Heru menunjuk Haikal tak terima jika hanya dirinya yang terus dibatasi.
Haikal ingin mengatakan itu adalah hal mustahil tidak terluka melawan Blazer buronan seharga 10 juta Bold bahkan bagi seorang jenius seperti Jack, tapi Haikal menelan kembali kalimat tersebut dan mengangkat jempol sambil tersenyum, "Tentu saja!"
Heru tersenyum sejenak dan meninggalkan Jack dan Haikal, dia berlari kecil menuju tempat Salvia, Verna, dan Cecil berada sesuai petunjuk Jack.
Haikal memasang sebuah senyuman memandang punggung Heru yang pelahan menghilang, dia lalu membalikkan badannya menghadap Shear di kejauhan yang kini tersenyum sinis.
"Sudah selesai mengucapkan selamat jalan kepada temanmu?" Shear mengangkat dagunya berusaha memancing emosi Haikal, "Toh, kalian akan bertemu lagi di markas kami. Kau akan kukalahkan dan kuseret ke markas, begitu juga dengan si pirang di sana." Shear melirik Jack.
Jack tersenyum tipis membalas kata-kata Shear sebelum menciptakan belasan hingga puluhan tombak sihir, "Coba saja jika kau bisa."
"Haikal, kau masih kuat?" Jack melirik kepada Haikal di sampingnya, dia merasa energi jiwa Haikal seharusnya sudah menurun banyak karena selain menggunakan Berserk Plate terus-menerus dia juga mengerahkan suatu teknik asing yang disebut 'Black Karma'.
Jack memang tidak tahu pasti teknik bernama 'Black Karma' yang digunakan Haikal, tetapi dia bisa menduga bahwa teknik ini membutuhkan energi jiwa dalam jumlah yang tak sedikit.
Haikal tidak menjawab Jack melainkan meningkatkan tekanan energi jiwanya lebih jauh lagi, diikuti oleh bercak hitam kemerahan 'Black Karma' yang kini menjalar hingga mencapai leher serta kakinya sebagai ganti Berserk Plate yang telah menghilang.
Aura merah kehitaman khas Haikal memancar hebat dari tubuhnya, memberikan hawa intimidasi kuat bagi siapapun di sekitarnya.
Keringat dingin mengalir di punggung Jack merasakan tekanan energi jiwa Haikal yang belum pernah dia rasakan, sementara Haikal sendiri memfokuskan perhatiannya kepada Shear yang kini menjadi lebih waspada.
"Ya, akan kuselesaikan dalam lima menit." Sorot mata Haikal mendingin memandang Shear dari kejauhan, "Akan kuperlihatkan kekuatan Black Karma yang sesungguhnya."