
Pukulan terakhir Haikal mengenai tepat pada wajah Edward, mendorong pemuda berambut putih tersebut menghantam sekaligus hampir menghancurkan dinding pembatas antara arena dan stadium penonton, membuatnya kehilangan kesadaran di tempat.
Sesudah memberikan pukulan sekuat tenaga yang menerbangkan kesadaran Edward, Haikal terjatuh di atas lantai terkapar lemas dengan cedera yang tidak ringan, "Mendarat dengan satu kaki dari ketinggian seperti itu mentah-mentah memang berbahaya," gumam Haikal tertawa masam menahan rasa sakit.
Haikal menghabiskan seluruh energi jiwanya pada pukulan yang menghancurkan Glacial Atlas milik Edward, sehingga tanpa ada pilihan lain Haikal mendarat di lantai dengan mengorbankan kaki kirinya.
"Pe-pemenangnya sang kuda hitam, Haikal Alendra!" Pengacara berseru keras mengumumkan kemenangan Haikal yang disambut oleh kehebohan dari para penonton yang masih sadar, sementara para wakil Guild hanya bisa diam memikirkan cara mereka merekrut Haikal di masa depan.
Begitu pemenang pertandingan diumumkan, para petugas medis segera menghampiri Edward maupun Haikal yang masing-masing terkapar di dinding dan lantai, lalu mengerahkan pertolongan pertama sambil memeriksa cedera keduanya.
Karena kali ini tidak ada gangguan tekanan mengerikan dari Veindal, para petugas medis dapat mengidentifikasi cedera yang dialami Haikal dan Edward dengan cepat.
Edward mengalami patah pada hidung dan beberapa tulang lainnya, serta beberapa luka dalam tetapi tidak membahayakan nyawanya. Biarpun Edward adalah Blazer tipe Wizard yang notabenenya lemah secara fisik, tetap saja tubuh Blazer lebih kuat dibanding manusia biasa walau hanya sedikit.
Berbeda dari Edward yang tidak mengalami cedera serius, kondisi Haikal bisa dikatakan memprihatinkan.
Selama ini Haikal memang melatih tubuhnya dengan keras melebihi batas kewajaran hingga mendapatkan tubuh sekeras batu yang sulit dihancurkan, tetapi latihan tersebut tidaklah membuatnya kebal.
Lengan kanan Haikal mengalami luka parah karena memusatkan terlalu banyak energi jiwa di luar batasannya, akibatnya lengan Haikal seperti diledakkan dari dalam. Patah tulang, putus otot-otot, serta pecahnya pembuluh darah bisa dibilang lebih ringan dibanding kondisi lengan Haikal sekarang.
Tulang pada lengan kanan Haikal bukan lagi patah, melainkan hancur menjadi belasan—tidak, ratusan serpihan tulang kecil tajam yang tertanam pada bagian dalam lengannya.
Selain luka pada lengan kanannya, salah satu kaki Haikal juga mengalami cedera yang tak kalah serius.
Berkat terjun dari ketinggian yang tak wajar tanpa perlindungan energi jiwa, kaki Haikal juga mengalami patah yang cukup parah, namun tidak separah lengan kanannya.
Tanpa dua luka tersebut, bisa dikatakan Haikal hanya mengalami cedera ringan seperti tergores atau tertancap es Edward. Paling berat mungkin hanya lengan kiri yang sebagian besar ototnya putus karena terlalu memaksakan diri untuk memukul Edward.
Kondisi Haikal memang terdengar parah, namun tidak gawat sampai membahayakan nyawanya dan masih bisa disembuhkan dengan teknologi medis masa kini yang banyak mengandalkan Soul Device.
"Dasar bodoh, kau terlalu berlebihan. Beruntung yang terluka parah hanya tangan dan kaki, bagaimana kalau lehermu? Kau pikir masih bisa disembuhkan?" Bibir Heru tersenyum masam menatap tubuh sahabatnya yang terbaring tak berdaya di atas tandu, "Kau selalu nekat sejak dulu."
Haikal tersenyum mendengar reaksi Heru yang terdengar tak terlalu khawatir padanya, "Bagaimanapun juga, mustahil untuk mengalahkan Edward hanya dengan modal tubuh dan latihan semata."
Selesai mengatakan itu Haikal kemudian mengulurkan tinju kirinya pada Heru sembari tersenyum penuh kepercayaan, "Sisanya kuserahkan padamu, kawan sialan."
"Ya, serahkan saja padaku, baji-ngan keras kepala," balas Heru menyentuhkan tinjunya pada tinju Haikal dengan senyum sebelum petugas medis membawa Haikal pergi menuju rumah sakit untuk dirawat.
Sesudah Haikal pergi, Heru kemudian melakukan pemanasan ringan terhadap tubuhnya mengingat hanya dirinya satu-satunya yang tersisa dari kelompok Salvia. Pertandingan selanjutnya sudah jelas dirinya akan maju.
Pertandingan berikutnya akan dilanjutkan setelah arena selesai diperbaiki.
Dampak pertarungan Haikal dan Edward terlampau jauh dari ekspetasi para pengajar, mereka terlalu meremehkan salah satu jenius dan sang kuda hitam terbaik di tahun ini. Butuh waktu bagi para Blazer tipe Wizard khusus untuk merekontruksi arena ini.
Selagi arena diperbaiki, dua orang anggota kelompok Edward lain terus memperhatikan Heru sambil berdiskusi bagaimana cara mengalahkan pemuda tersebut.
Biarpun Heru bukanlah peserta yang diunggulkan menang secara individu, Heru bukanlah calon Blazer biasa yang dapat diremehkan oleh mereka. Setidaknya Heru sekuat Blazer tingkat Newbie atau Intermidate jika dikira-kira dari pertarungannya sejauh turnamen berjalan.
Pada akhirnya keduanya memutuskan untuk melemahkan Heru terlebih dahulu oleh siapapun yang menjadi lawannya di pertandingan ketiga nanti, lalu orang terakhir yang tersisalah yang akan menghabisi Heru.
"Baiklah, perbaikan arena telah selesai! Maaf menunggu!" Pengacara segera berseru keras mengumumkan selesainya perbaikan arena, lalu dilanjut oleh pengambilan undian nama perserta, "Pertandingan ketiga adalah Heru Hartanto mela—"
Sebelum sang pengacara menyelesaikan kalimatnya, Heru mengangkat tangannya menunjuk sisi seberang arena pertarungan, dua anggota kelompok Edward lainnya, menarik seluruh perhatian termasuk si pengacara, "Kalian berdua majulah bersamaan, akan kubereskan sekaligus."
Pernyataan Heru mengundang kehebohan seisi arena, bahkan beberapa wakil Guild juga ikut heboh berkatnya. Memang tidak seheboh ketika Haikal menantang Edward mengingat sebagian penonton masih tak sadarkan diri, namun jelas-jelas ini adalah pernyataan paling mengejutkan sepanjang Turnamen Penyambutan tahun ini berjalan.
"Heru, bukan begitu jalannya turnamen. Kau harus bertanding satu lawan satu, tidak bisa sekaligus!" Sebelum kehebohan menjadi lebih besar, sang pengacara segera berniat menghentikan tindakan Heru, namun hal itu dihentikan oleh sebuah suara keras dari ruangan para pengajar akademi Skymaze.
"Jika pihak yang ditantang setuju, maka sebagai kepala sekolah pertarungan ini kuizinkan!" Suara Veindal terdengar nyaring ke seluruh penjuru arena, menarik perhatian sekaligus membuat seluruh makhluk yang hadir di sana bertanya-tanya.
Mungkinkah Veindal mengizinkan hal ini karena Heru sekelompok dengan Salvia putrinya? Pertanyaan itulah yang bergema di benak seluruh hadirin, tak terkecuali para wakil Guild besar maupun kecil.
Walaupun terdapat pengecualian dari Veindal, di situasi ini Heru-lah yang tidak diuntungkan. Dua lawan satu? Itu sangat sulit, terutama bagi calon Blazer tanpa pengalaman bertarung seperti Heru.
Merasa seolah diremehkan oleh lawan, dua anggota kelompok Edward itu naik darah dan menginjak lantai area pertarungan, menerima tantangan Heru yang terdengar sangat menghina keduanya.
"Ba-baiklah, karena terdapat pengecualian dari kepala sekolah dan persetujuan dari kedua belah pihak, pertandingan akan dimulai!" Sang pengacara kemudian mengumumkan mulainya pertandingan, meski tak pernah menyangka ada pertandingan seperti ini sepanjang sejarah Turnamen Penyambutan akademi Skymaze.
"Kau akan kami habisi, Heru Hartanto!" Salah seorang lawan Heru berseru keras sembari mengeluarkan Soul Arc-nya bersiap menyerang, begitu juga satu peserta lainnya. Keduanya lalu melangkah maju mendekati Heru berniat menyerangnya secara langsung.
Menanggapi hal itu Heru kemudian mengangkat kedua tangannya sejajar dada membentuk kuda-kuda bertarung, lalu mengeluarkan Soul Arc-nya yang berbentuk sarung tangan kulit berwarna cokelat kemerahan sambil berbisik, "Ayo maju, Twin Kong!"
Heru pun menendang lantai melesat menuju dua lawannya dengan kecepatan yang sulit dibayangkan, lalu mendaratkan sebuah pukulan telak pada wajah masing-masing lawannya, membanting kepala keduanya ke lantai dengan keras.
"Pertandingan... selesai." Tidak ada senyum ataupun ekspresi ramah yang biasanya ada pada wajah Heru, hanya tatapan penuh kemarahan dan semangat yang bergejolak di matanya.