
Serangan berkekuatan penuh dari Giant Arm milik Haikal sukses menghancurkan lantai batu arena pertarungan membuat hampir seluruh penonton terbelalak, terutama Veindal dan para Blazer.
"Anak ini memang tidak bisa dikatakan jenius lagi...." Veindal tersenyum kering tak menyangka Haikal memendam kekuatan yang begitu besar, padahal dirinya mengira-ngira Haikal hanya menyembunyikan kekuatan fisik tubuhnya yang luar biasa itu, "Sepertinya aku masih terlalu meremehkan putra Raditya."
Biarpun Veindal sudah sering mendengar beberapa kabar tentang ketidakmampuan Haikal dalam berbagai bidang bersangkutan dengan Blazer dan Soul Arc dari beberapa pengajar serta muridnya, dirinya tidak pernah terhasut oleh perkataan-perkataan tersebut.
Selepas kenyataan bahwa dirinya merupakan salah satu dari sedikit Blazer tingkat Cardinal di Wulodhasia yang bisa dihitung dengan jari tangan, Veindal tak pernah sekalipun meremehkan ataupun merendahkan Blazer selemah apapun.
Di masa lalu ia pernah kalah dari seseorang yang bukan jenius dan berkat kekalahan tersebut, Veindal berpikir kekuatan manusia tidak bisa dinilai dari bakat atau kejeniusannya semata. Oleh karena itu di matanya Haikal bukanlah siswa tertinggal maupun gagal, melainkan siswa yang belum berkembang.
Ketika menyaksikan kekuatan yang Haikal sembunyikan selama ini, Veindal teringat akan Raditya Alendra, ayah Haikal, "Radit, anakmu sungguh mirip denganmu." Senyum kecil berisi kesedihan tercipta di bibir Veindal sesaat.
Sementara Veindal dan para Blazer lain menyadari apa yang sebenarnya terjadi, para penonton kembali berdiskusi mengenai kemunculan tangan raksasa berwarna merah kehitaman yang terlihat keluar dan terhubung dengan tangan Haikal.
"Apa Soul Arc-nya mempunyai kemampuan berubah bentuk?"
"Berubah bentuk? Tapi, dia dikabarkan punya Soul Arc bentuk pedang, Blazer tipe Warrior. Bukankah berubah bentuk itu termasuk tipe Wizard?"
"Apa mungkin Haikal memiliki lebih dari satu Soul Arc?"
Orang-orang awam yang tidak mengerti apa yang sebenarnya Haikal lakukan hanya mengira pedang di tangan kiri pemuda tersebut adalah Soul Arc-nya, namun begitu pedangnya berubah menjadi tangan raksasa dugaan tersebut terpatahkan, membuat mereka semua kebingungan.
Di area pertarungan Haikal nampak kelelahan dan kehilangan nafas, tetapi dirinya tidak menghilangkan Giant Arm-nya yang terus menekan lantai sekaligus Edward. Dia sadar Edward belumlah kalah ataupun menyerah, Haikal dapat merasakan tekanan energi jiwa sekaligus kekuatan tekad Edward yang begitu besar untuk menang.
"Dia memang bangsawan gila, tapi kekuatannya tidak bisa dipungkiri lagi termasuk Blazer kelas atas," gumam Haikal dalam hatinya memuji tekad pantang menyerah dari Edward. Di saat yang sama Haikal juga merasakan energi jiwanya terkuras dengan cepat, nafasnya mulai tak karuan dan rasa lelah menyerang dirinya.
Tanpa disadari Haikal melonggarkan tenaga pada Giant Arm-nya, menyebabkan Edward yang menyadarinya tak melewatkan kesempatan tersebut.
"Kesempatan!" Edward mengeluarkan lebih banyak energi jiwa dan menciptakan es, tetapi bukan es biasa. Kali ini ia langsung menciptakan es-es tersebut di punggungnya, lalu membentuk sesosok es humanoid berukuran sedang yang segera membebaskan Edward dari tekanan Giant Arm, membuat Haikal sedikit terkejut.
Dahi Haikal sedikit merengut menyaksikan Edward yang begitu cekatan dalam mengamati situasi, sayangnya situasi ini bukanlah situasi yang menguntungkan dirinya. Namun dapat dilihat zirah dan tombak berkapak esnya telah hancur berkat serangan Giant Arm.
Dapat terlihat baik Haikal maupun Edward telah kehilangan energi jiwa cukup banyak. Nafas keduanya sama-sama tidak teratur dan peluh memenuhi seluruh tubuh mereka, beberapa bagian tubuh mereka juga nampak bergemetar sedikit, terutama bagian pinggang ke bawah.
Haikal sudah menghilangkan Giant Arm-nya mengingat teknik tersebut membutuhkan energi jiwa yang tidak sedikit, sementara Edward yang juga tidak bisa menahan es humanoid yang menempel di punggungnya sehingga melepas akan kendali dan bentuk esnya.
"Heh, kau... sudah kehabisan energi jiwa? Berati kita sama-sama habis, ya?" Haikal melengkungkan sebuah senyuman menyadari tidak ada yang unggul dalam situasi ini dan berniat memanas-manasi Edward, sayangnya Edward terlalu sibuk mengatur nafas untuk membalas Haikal.
Sambil menyeka keringat di dahi dan pipinya, Edward tidak sekali pun melepas pandangan tajam penuh permusuhannya dari Haikal, "Dia... bukan jelata biasa.... Bagaimana dia bisa mengimbangiku sampai sini?"
Butuh beberapa waktu bagi keduanya memulihkan sedikit nafas dan staminanya, tetapi tidak begitu lama sampai penonton melayangkan protes.
"Kau akan kuhabisi di sini... belatung jelata!" Seusai dirinya merasa sedikit lebih baik, Edward tidak bisa menahan emosinya dan mengeluarkan begitu banyak energi jiwa yang menciptakan bebatuan es di sekitarnya.
Tekanan energi jiwa Edward jauh melebihi rata-rata tingkatan pelajar SMA lainnya, hal itu bisa dilihat dari seberapa luas jangkauan dan beratnya energi jiwa yang ia keluarkan. Selain itu terdapat aura biru keputihan tipis berpendar di sekitar tubuh Edward yang hanya bisa dilihat oleh beberapa orang, termasuk Haikal.
Sementara para penonton bergidik akan tekanan energi jiwa dan suhu dingin yang dikeluarkan Edward, senyum Haikal semakin melebar dan semangatnya makin terbakar, "Begitulah seharusnya, Edward Ghaetas! Akan kuhancurkan seluruh kekuatan sekaligus kebanggaanmu dengan tangan ini!"
Tak ingin kalah dari Edward, Haikal mengerahkan seluruh energi jiwa yang tersisa dalam dirinya dan melawan balik tekanan yang Edward berikan. Tekanan energi jiwa Haikal tak jauh berbeda dari Edward sehingga mampu mengimbangi tekanan tersebut.
Berkat benturan kedua tekanan energi jiwa yang begitu kuat, sebagian penonton kehilangan kesadaran karena tidak kuat diterpa tekanan energi jiwa sekuat itu, sementara sebagian yang masih bisa bertahan tetap menyimak pertandingan ini.
Sejak awal menonton pertarungan antar Blazer dari dekat sebenarnya tidak diperbolehkan bagi orang awam karena energi jiwa dari petarung bisa berdampak hingga seperti ini, namun karena turnamen ini adalah pertandingan antar siswa setingkat SMA—terlebih lagi kelas satu—tentu tak ada yang mengira tekanan energi jiwa sehebat ini bisa dihasilkan oleh dua siswa tersebut.
Benturan tekanan energi jiwa Haikal dan Edward yang begitu kuat sampai menyebabkan lantai arena mengalami keretakan di beberapa tempat, tetapi keduanya terlihat tidak peduli. Mereka hanya saling memandang dan meningkatkan kekuatan masing-masing sebisa mungkin.
Aura biru keputihan tipis Edward semakin terlihat seiring banyaknya energi jiwa yang dikeluarkannya, sementara aura merah kehitaman di tubuh Haikal juga semakin pekat dan kental di saat yang bersamaan.
"Winter Lion Minus Form : First Code – Glacial Atlas!" Edward mengerahkan lebih banyak energi jiwa membentuk sesosok raksasa es humanoid seperti sebelum-sebelumnya, hanya saja raksasa es ini memiliki tinggi yang mencapai 10 meter di atas lantai serta mempunyai organ manusia yang lebih detail seperti mata, telinga, rambut, dan beberapa lainnya.
Menyaksikan tinggi raksasa es tersebut, semua yang hadir di arena membelalakkan matanya selebar mungkin. Menciptakan raksasa es setinggi dan sebesar ini bukanlah level SMA lagi, melainkan level Blazer tingkat tinggi.
"Ini... keterlaluan...."
"Level Edward sudah mustahil disebut pelajar SMA lagi."
Hanya sedikit penonton yang berani berkomentar merasa kagum sekaligus takut terhadap Edward, sementara sisanya terlalu ketakutan sampai tidak bisa berbicara.
"Ini bukan lagi setingkat turnamen!" Salah satu pengajar segera berdiri melihat raksasa es ciptaan Edward, lalu menatap Veindal dengan wajah penuh kekhawatiran, "Kepala sekolah, bukankah ini harus dihentikan?!"
Perkataan pengajar tersebut terlihat tidak dihiraukan oleh Veindal yang terlalu fokus pada pertandingan, tapi Veindal masih bisa mendengar dan menjawabnya, "Jangan hentikan. Apapun yang terjadi jangan hentikan pertarungan ini."
Para pengajar di satu ruangan yang sama dengan Veindal terkejut setengah mati mendengar pernyataan pria paruh baya berambut putih tersebut, kemudian merasa geram mendengar Veindal yang terdengar tidak adil, "Kepala sekolah, apa kau hanya akan menyelamatkan nyawa putrimu?! Tidak dengan siswamu?!"
Veindal memejamkan matanya selama beberapa detik mendengar balasan dari seorang pengajar, lalu menunjuk Haikal tanpa mengalihkan perhatiannya, "Anak itu masih belum mau menyerah, tidak ada rasa keputusasaan pada matanya. Kau ingin aku menghentikan ini sekarang? Jangan bercanda."
Para pengajar tersebut yang awalnya panik kali ini nampak lebih terkejut lagi ketika melihat ekspresi yang Haikal tunjukkan di area pertarungan sana. Ia nampak senang dan puas, sangat berbeda dari siswa SMA normal pada umumnya.
Haikal bukannya merasa senang dan puas karena pertarungan ini, dia bukan maniak pertarungan seperti Carlos Ogwine. Ia hanya senang karena Edward mengeluarkan kekuatan penuhnya, "Dengan ini aku bisa menghancurkanmu sepenuhnya, Edward Ghaetas!"
"Coba saja, Haikal Alendra! Akan kuhabisi kau seperti Snow Princess!" Tak terima dengan seruan penuh semangat dan tekad Haikal, Edward yang berada di dalam dada Glacial Atlas mendorong tinju raksasa esnya mengincar Haikal yang berada di bawah, "Glacial Atlas : Atlas Fist!"
Blaaarr!!
Dalam satu pukulan Glacial Atlas berhasil menghancurkan tiga perempat lantai arena, menggetarkan seluruh tanah dalam radius yang cukup jauh, membuat panik banyak orang mengira getaran tersebut adalah gempa atau serangan Verg dari luar kota.
"Apa-apaan dengan kekuatan itu?!"
"Dia ingin membunuh kita semua?!"
"Jika bukan karena para Blazer keamanan yang mengerahkan medan energi, maka bisa habis riwayat kita para manusia biasa."
Tidak sedikit penonton yang melayangkan protes karena kekuatan serang Edward terlalu besar hingga hampir melukai ataupun membunuh penonton tanpa sengaja. Jika saja Blazer keamanan terlambat mengaktifkan medan pelindung energi yang ada di sekitar area pertarungan, mungkin seluruh arena ini bisa runtuh.
Debu-debu bekas hancurnya tiga perempat lantai area pertarungan menghalau pemandangan, namun ada satu kesimpulan yang bisa diambil oleh semua orang yang menyaksikannya. Tidak peduli sekuat apapun Haikal, jika terkena serangan ini maka Haikal takkan bisa selamat.
"Ya-yang mana...?" Sang pengacara dapat melihat bayangan besar Glacial Altas milik Edward, tetapi karena debu menutupi pandangannya ia tak bisa memeriksa kekalahan Haikal. Semua orang percaya dengan serangan itu Haikal sudah jelas kalah, bahkan termasuk sang pengacara.
Namun sebagai pengacara dan komentator, dirinya tidak boleh memberikan pengumuman pemenang yang salah seperti sebelumnya. Kali ini ia harus memastikan lebih dulu kekalahan Haikal sebelum mengumumkan Edward sebagai pemenang.
"Heh.... mau bagaimanapun juga... mustahil kau bertahan dari Atlas Fist...." Edward terhuyung lemah di dalam dada Glacial Atlas, tetapi masih bisa mempertahankan bentuk raksasa es setinggi 10 meter ini sekaligus mencaci Haikal yang dirasa hanya bisa bicara besar.
Di saat Edward mulai merasa tenang dan menang tiba-tiba sesosok bayangan melesat dari bawah dengan cepat di antara debu-debu menuju langit menembus kepulan debu tertinggi maupun kepala Glacial Atlas, memperlihatkan sosoknya.
"Itu Haikal! Haikal Alendra masih bertahan dan dia berada di atas langit!" Sang pengacara berseru keras membawa ketidakpercayaan hebat bagi semua orang yang menyaksikannya, tak terkecuali Edward yang paling terkejut di antara semuanya.
"Mu-mustahil! Seharusnya dia sudah jadi bubur tomat dengan Atlas Fist!" Edward tidak percaya Haikal mampu lolos dari serangan besar tersebut, tetapi dirinya tak ada pilihan lain selain mempercayai kedua matanya sendiri.
Di sana terlihat sosok Haikal yang nampak berdiri di udara sejauh 20 meter di atas lantai area permukaan. Tubuhnya dipenuhi darah dan luka disertai pakaian atasnya yang hampir robek sepenuhnya, tetapi Haikal tak mempedulikan hal tersebut.
Tak banyak cakap, begitu gravitasi menariknya Haikal mengambil posisi siap menyerang Glacial Atlas sekaligus Edward yang ada di dadanya, membuat Edward terkejut sekaligus takut.
"Sialan kau, belatung jelata!!" Edward yang kehilangan ketenangan karena takut segera mengerahkan dua tangan Glacial Atlas berniat menangkap dan meremas Haikal hingga hancur, tetapi niat hanya sekedar niat belaka.
Haikal mengalirkan sejumlah besar energi jiwanya pada Soul Saber di tangan kiri, lalu membelah kedua tangan es tersebut sekaligus leher Glacial Altas dengan bilah Soul Saber yang memanjang sejauh lima meter berkat energi jiwanya, mengejutkan semua yang menyaksikannya, tak terkecuali Edward.
Tanpa kedua tangan es raksasanya Edward tidak memiliki cara untuk menyerang lagi kecuali melepas Glacial Atlas dan memanipulasi sisa-sisa esnya dengan bebas, tetapi hal itu tidak bisa lakukan karena energi jiwanya tidak mencukupi untuk melakukan hal tersebut.
Lagipula sudah terlambat bagi Edward untuk melepas wujud Glacial Atlas-nya, saat ini Haikal telah mencapai tepat di bagian dada Glacial Atlas tempat di mana Edward berada, lalu memusatkan seluruh energi jiwanya yang tersisa ke dalam tangan kanan dan melepaskan satu pukulan hebat.
Braaakk!!
Dalam sekejap baik dada, perut, pundak, maupun tangan Glacial Atlas berubah menjadi debu es tak kasat mata, hanya menyisakan tubuh lemah Edward Ghateas yang nampak melayang di udara.
Tak ingin membuang kesempatan ini, Haikal kemudian melepas Soul Saber pinjaman Salvia dan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa, baik itu energi jiwa maupun otot semata.
"Ini... yang terakhir!" Sambil berseru keras Haikal mendorong tinju kirinya sekuat tenaga menyarangkan sebuah pukulan berkekuatan penuh pada wajah Edward, mementalkan pemuda tersebut menabrak dinding pembatas stadium sekaligus menciptakan retakan terbesar yang pernah dilihat sejauh Turnamen Penyambutan ini dimulai.