
Setelah bertarung melawan beberapa anggota Blackout sekaligus, Salvia memutuskan untuk beristirahat sejenak mengingat dirinya sudah kehabisan energi jiwa sesudah pertarungan terakhir. Jika Salvia memaksa maju dan bertemu musuh lebih banyak, mungkin dia sudah tumbang sejak tadi.
"Beruntungnya diriku tidak ada musuh yang menyadari kami bersembunyi di sini," ujar Salvia menghela nafas panjang merasa lega tak bertemu lawan lain selagi bersembunyi dan memulihkan diri.
Sudah sekitar lima belas menit semenjak Salvia memutuskan untuk bersembunyi dan beristirahat di ruangan kosong ini. Energi jiwa Salvia memang sudah pulih sebagian, namun melihat kekuatan anggota Blackout yang mungkin berkeliaran jumlah energi jiwanya saat ini belum mencukupi.
Selain itu, meski dirinya mampu mengalahkan beberapa anggota Blackout dalam sekejap menggunakan jurus dan teknik tingkat tinggi seperti Snow Tidal atau Blizzard Bullet Dominion yang mencangkup ruang lingkup luas, dengan jumlah energi jiwanya sekarang Salvia hanya bisa menggunakan keduanya maksimal hingga dua kali.
Memang benar Salvia bisa memasuki mode Awakening untuk memperkuat serangan jurus-jurus lain, tetapi energi jiwa yang diperlukan juga tidak sedikit. Menggunakan teknik pemusatan energi jiwa juga mustahil dilakukan dalam pertarungan karena sangat boros stamina.
"Lain ceritanya jika aku mempunyai kapasitas energi jiwa sebanyak orang ini," gumam Salvia mengalihkan pandangannya pada wajah Haikal yang masih tertidur pulas. Ekspresinya menjadi datar ketika melihat Haikal yang tidak bangun-bangun meski di tengah keributan besar seperti sekarang.
Dia memandang wajah tidur Haikal dengan seksama sembari mengukur dan membandingkan kapasitas energi jiwa dirinya dengan Haikal, "Ini seluruh kapasitas energi jiwa yang bisa ditampung Haikal?"
Dahi Salvia sontak mengerut hebat mendapati kapasitas energi jiwa yang dapat ditampung tubuh Haikal, padahal terakhir kali dirinya mengukur kapasitas energi jiwa Haikal hanya sedikit lebih banyak dibandingnya, tapi sekarang mungkin sudah setengah kali lipatnya.
Salvia berkali-kali memandang Haikal dengan tatapan tak percaya, namun mau tak mau dia harus mengakui bahwa Haikal memang pantas mendapatkan semua yang telah dia dapatkan mengingat perjuangan kerasnya.
Salvia memang tidak tahu secara rincinya, tetapi melihat Haikal yang terus berlatih dengan latihan tak manusiawi yang pernah diberitahukannya itu, dia tidak mungkin menolak kenyataan tersebut.
Meski setengah percaya setengah tidak terhadap porsi latihan Haikal yang tak masuk akal, Salvia hanya bisa mengakui bahwa Haikal merupakan salah satu dari jenius kerja keras yang pernah dikatakan ayahnya.
"Kau sungguh tidak ada bandingannya, Haikal Alendra." Sambil menggumamkan itu Salvia tanpa sadar mengangkat tangannya dan meraih pipi Haikal, mengusapnya secara perlahan dengan senyuman hangat.
Beberapa detik kemudian, seusai meluapkan isi hati atas kekagumannya terhadap Haikal, barulah Salvia menyadari tindakan memalukannya. Dalam sekejap wajahnya berubah menjadi merah terang seperti tomat matang. Dia spontan menarik tangannya dari pipi Haikal.
Salvia langsung menutup wajah 'tomat matang'nya yang terasa begitu panas dengan kedua tangannya tak bisa menahan rasa malu yang bergejolak di dadanya.
"Apa yang sebenarnya kulakukan pada Haikal?!" Salvia menjerit sekuat tenaga dalam hati begitu sadar akan tindakannya tersebut, dia melotot lebar memandangi kedua telapak tangannya tak percaya bukan hanya dirinya berkata hal yang cukup memalukan, tetapi juga menyentuh pipi Haikal tanpa izin.
Dia memang sadar rasa kagumnya terhadap Haikal yang mencapai titik ini meski belum mampu membangkitkan Soul Arc-nya, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya bahwa perasaan kagum tersebut perlahan-lahan menumbuhkan perasaan lain yang sama sekali asing baginya.
Selang beberapa saat setelah merasa sedikit lebih tenang, barulah Salvia membuka tangan yang menutupi wajahnya secara perlahan. Dia lalu melirik ke arah Haikal memastikan pemuda tersebut sudah bangun atau belum, sayangnya Haikal masih tertidur pulas.
Jantung Salvia kembali terpacu lebih cepat begitu memandang wajah tidur Haikal yang belum pernah dia lihat sebelum ini, namun hal itu segera sirna saat ekspresi Haikal tiba-tiba memburuk dan bulir-bulir keringat dingin mulai menetes dari dahinya.
"Tidak.... Aria.... Jangan ke sana...." Sambil mengigau demikian, Haikal menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi panik dan ketakutan.
Salvia mengangkat sebelah alisnya menduga saat ini Haikal sedang bermimpi, tapi kelihatannya bukan mimpi indah. Itu bisa terlihat dari ekspresi Haikal yang nampak begitu menderita, Salvia belum pernah melihat wajah Haikal tertekuk hingga sedemikian rupa.
"Tidak.... Aria! Aria!" Igauan yang keluar dari mulut Haikal semakin lama semakin mengeras seiring ekspresinya yang juga semakin memburuk, hal itu lantas membuat Salvia terkejut dan sedikit panik tidak tahu apa yang harus dia lakukan di saat-saat seperti ini.
Salvia berpikir sejenak berusaha mencari cara agar bisa menenangkan Haikal, tapi suara Haikal makin keras seiring berjalannya waktu. Karena ditekan oleh situasi saat ini yang mengharuskan dirinya bersembunyi, Salvia tidak punya pilihan selain memeluk Haikal sambil menahan rasa malunya.
Salvia sebenarnya tidak ingin melakukan hal seperti ini karena jantungnya berdegup terlalu kencang saat memandang Haikal, tetapi ketika dirinya melihat ekspresi penuh penderitaan Haikal, dia tidak tega lalu memeluk Haikal seperti sekarang.
"Tidak apa-apa, Haikal," bisik Salvia pelan pada dekat telinga Haikal berusaha menenangkan lelaki tersebut, "Tidak apa-apa, aku ada di sini."
Butuh beberapa waktu hingga Haikal benar-benar tenang, namun usaha Salvia tidak sia-sia. Ekspresi Haikal sudah kembali seperti sedia kala, terlihat polos dan tenang seakan tak terjadi apapun sebelumnya.
Di sisi lain, Salvia masih berdebar-debar seusai memeluk Haikal. Meski didasari oleh rasa simpati agar menenangkan Haikal, tetap saja wajah Salvia masih berwarna merah padam. Butuh waktu bagi Salvia hingga berhasil menenangkan diri sepenuhnya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Salvia kemudian menghela nafas panjang dan kembali memandang Haikal. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia terlihat iba sekaligus penasaran dengan masa lalu Haikal.
Meski sudah kurang lebih dua bulan mengenal dan berada dalam satu kelompok bersama Haikal, Salvia baru tersadar bahwa dirinya tidak tahu banyak mengenai Haikal selain kondisi keluarga serta kurangnya bakat Haikal sebagai Blazer.
Dia kemudian teringat suatu hal mengenai alasan di balik Jack bersikap begitu kejam pada pertandingannya melawan Haikal dari Verna sebelumnya. Walau sempat berseteru melawan Verna demi mendengar alasan tersebut, pada akhirnya rasa penasaran Salvia belum terpuaskan.
Selain mencari kebenaran atas kematian ayahnya yang diduga terbunuh dalam misi, Salvia belum mengetahui alasan Haikal lainnya berjuang hingga mencapai titik ini. Dia menduga bahwa alasan sikap Jack yang kejam terhadap Haikal sebelumnya ada sangkut pautnya dengan Haikal.
Beberapa saat kemudian Salvia memilih untuk mengabaikan hal itu sejenak, dia lalu duduk bersila dan bermeditasi memusatkan konsentrasi pada pemulihan energi jiwanya agar prosesnya berjalan lebih cepat.