Absolute Soul

Absolute Soul
47. Kebenaran di Balik Layar



"Blackout?" Dahi Haikal dan Heru mengerut begitu mendengar nama organisasi Blazer hitam yang tak asing di telinga mereka.


Sebagai calon Blazer yang sudah sering menyelidiki berbagai macam hal yang berkaitan dengan dunia per-Blazeran, nama Blackout sudah tidak asing lagi bagi keduanya.


Blackout yang disinggung di sini adalah sebuah organisasi Blazer hitam yang cukup sering simpang siur di berbagai belahan dunia per-Blazeran, organisasi yang bisa dikatakan ******* bagi seluruh negara.


Tidak ada yang tahu di mana pusat mereka berada, tetapi Blackout mencatat banyak peristiwa tak menyenangkan di berbagai sejarah negara, salah satu korbannya adalah Wulodhasia.


Pernah ada suatu tragedi besar yang menimbulkan begitu banyak korban dan kerugian di Wulodhasia beberapa tahun silam. Bencana ini bukan sekedar bencana biasa, namun diketahui merupakan rencana Blackout.


"Kelihatannya kalian tidak asing dengan organisasi ini." Dahi Veindal mengerut merasa heran bagaimana Haikal dan Heru bisa begitu tenang ketika dirinya menyinggung salah satu organisasi Blazer hitam seperti Blackout, padahal seharusnya remaja seusia mereka setidaknya terkejut atau sedikit panik ketika mendengarnya.


"Yah, bagaimana pun itu, lihatlah ini." Veindal mengutak-atik ponselnya untuk sesaat kemudian memperlihatkan sebuah cuplikan video yang menarik perhatian kedua pemuda itu.


Dalam video tersebut terlihat sepasang pemuda-pemudi berseragam akademi Skymaze sedang berjalan di jalan yang cukup sepi pada malam hari. Tidak ada yang aneh dari keduanya, sebelum terlihat sesosok bayangan yang menikam sang pemuda dari belakang.


Haikal dan Heru membelalakkan matanya saat menyaksikan adegan penyerangan tersebut merasa terkejut, "Kepala sekolah, apa yang terjadi padanya? Apa dia selamat?"


"Ya, saat ini dia dirawat di rumah sakit yang sama denganmu. Nyawanya tidak terancam kok," jelas Veindal mendapati reaksi Haikal yang nampak begitu khawatir, "Ini terjadi semalam, jadi mungkin kau sedang tidur ketika dia dibawa ke ruang darurat."


Haikal menelan ludahnya mengingat kembali semalam dia mendengar keramaian dari kamarnya, tetapi dia tidur kembali karena menganggap itu hanyalah kecelakaan biasa. Tidak pernah dia duga bahwa keramaian tersebut berasal dari siswa satu sekolahnya.


"Kepala sekolah, mengapa anda memperlihatkan video ini kepada kami?" Mengabaikan sahabatnya yang nampak terganggu, Heru bertanya merasa heran kenapa Veindal mempertontonkan video ini kepada mereka, padahal keduanya tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.


Veindal tidak menjawab melainkan hanya memutar kembali video pada ponselnya, memperlambat kecepatan video lalu menjeda tepat pada satu adegan. Dia lalu menunjuk lengan si penikam, "Kau tahu apa ini?"


Mata Heru sedikit terbelalak sementara lidahnya terkunci, dia tahu jelas apa yang ada di lengan si penikam tersebut, "Lambang Blackout...." Secara spontan mulut Heru bergerak tanpa disadarinya.


Veindal mengangguk pelan mengonfirmasi analisa Heru, dia kemudian memperlihatkan beberapa video serupa kepada dua pemuda di depannya. Tempat dan korbannya memang berbeda, namun waktu dan kejadiannya tetap sama. Semua korban adalah siswa akademi Skymaze dan pelakunya adalah anggota Blackout.


"Korban-korban mereka tidaklah acak, tetapi hampir semua siswa kelas satu yang mengikuti Turnamen Penyambutan," jelas Veindal mengejutkan Haikal dan Heru yang sejak tadi mengenali beberapa korbannya, namun mereka sungguh tak menyangka dugaan mereka sungguh nyata.


Veindal juga menuturkan Jack mendapat beberapa kali serangan serupa, tetapi dia bisa mengatasinya meski tidak berhasil melumpuhkan si pelaku.


"Aku juga mendapat peringatan dari Verna yang juga telah mendapat serangan, tapi tak kusangka sasarannya adalah para peserta." Heru mulai bergemetar merasa tidak mengerti apa alasan Blackout melakukan ini semua. Tidak, sebenarnya dia mempunyai dugaan, tetapi dia tak berani mengutarakannya.


Benar, Verna juga mendapat serangan, tetapi dia merahasiakannya dari banyak orang untuk menghindari perkara. Mungkin hanya Heru, Jack, dan Cecil yang mengetahuinya sebagai bentuk peringatan.


"Kalian mungkin bisa menebaknya, tapi akan kuperjelas. Tujuan mereka bisa dipastikan adalah para calon Blazer yang dinilai berbakat dan memiliki potensi, yang mana itu berarti kalian juga termasuk sasaran mereka." Veindal memberi pandangan tajam memberikan peringatan besar kepada keduanya agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak.


Haikal dan Heru sendiri tahu organisasi sebesar Blackout bukanlah suatu hal yang bisa ditangani sendirian, bahkan jika keduanya menggabungkan kekuatan sekalipun kecil kemungkinan untuk mereka memenangi pertarungan melawan para anggota Blackout yang rata-ratanya adalah Blazer tingkat Intermidate sampai Advance.


Biarpun Haikal merupakan calon Blazer yang mampu mengalahkan Edward yang notabenenya setingkat Expert dan berhasil mendapatkan Awakening di usia muda, bukan berarti dia bisa menghadapi para Blazer resmi yang memiliki pengalaman bertarung sesungguhnya.


Sesudah menjelaskan apa yang ingin dia jelaskan, Veindal mengalihkan pandangannya kepada Haikal sebelum mengeluarkan dan memberikan kartu namanya pada pemuda di depannya, "Haikal, kalau kau mengalami kejadian serupa segera hubungi aku." Veindal juga memberikan kartu namanya kepada Heru.


"Baik, terima kasih atas perhatiannya." Haikal mengambil kartu nama tersebut dan membacanya sekilas sebelum disimpan ke dalam saku pakaian, "Ngomong-ngomong kepala sekolah, saya ingin bertanya sesuatu."


"Hmm? Apa yang ingin kau tanyakan?" Alis Veindal sedikit terangkat mendapati rasa penasaran Haikal.


Pemuda itu terdiam untuk sesaat merasa ragu ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal benaknya, "Sebagai Blazer tingkat Cardinal dan salah satu orang yang mengenalnya, apakah anda tahu bagaimana ayah saya, Raditya Alendra, menghilang?"


Pertanyaan tersebut mengejutkan Veindal sekaligus Heru yang berada di sampingnya, menciptakan hening selama beberapa saat membuat suasana di sekitar mereka canggung, namun keheningan itu dipecahkan oleh Veindal yang segera mengangkat suaranya, "Kau yakin ingin mendengarnya?"


Haikal mengangguk cepat tanpa perlu berpikir dua kali. Dia sudah penasaran sejak lama mengenai bagaimana ayahnya menghilang pada saat menjalankan misi dari Lost Crescent, kesempatan langka semacam ini tentu tidak ingin disia-siakan olehnya.


Veindal mengambil dan menghembuskan serangkaian nafas untuk sesaat sebelum mulai menjelaskan apa yang ia ketahui secara perlahan kepada Haikal, butuh beberapa waktu bagi Veindal untuk menjelaskan dan Haikal mencerna semuanya.


Begitu mendengar semua yang Veindal sampaikan, Haikal secara spontan memukul meja di depannya sampai mengalami keretakan, "Aku sudah menduganya... tapi aku berharap dugaanku salah." Haikal mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai mengeluarkan darah masa begitu marah dan sedih.


"Haikal...." Heru merasakan sakit di dadanya melihat reaksi sahabat satu-satunya itu, merasa dirinya tidak bisa berbuat banyak bagi Haikal.


Kebenaran yang dibeberkan oleh Veindal sebenarnya bukanlah hal yang bisa diberitahukan begitu saja secara bebas, bahkan pada seorang calon Blazer seperti Haikal dan Heru sekalipun, namun setidaknya Veindal merasa ini bisa dikatakan salah satu caranya mengutarakan rasa terima kasihnya selain dengan kata-kata semata.


---


Author


Jangan meminta update, jangan pernah meminta update, sudah cukup saya update di sini.


Terima kasih atas dukungan kalian semua selama ini, cukup menyenangkan melihat komentar kalian yg menunggu cerita ini update.


Terima kasih, dan sampai jumpa di lapak lain di cerita yg sama!