Absolute Soul

Absolute Soul
5. Para Calon Blazer Kelas 1-A



Setelah terjadinya kehebohan besar berkat kedatangan sang jenius Salvia Volksky di dunia per-Blazer-an, para murid tak bereaksi lebih jauh terhadap murid-murid yang bisa dikatakan cukup bagus di usia mereka saat ini. Sayangnya mereka tak begitu nampak karena prestasi Salvia Volksky.


"Edward Ghaetas," panggil Andre.


Edward segera berdiri dari bangkunya dengan dagu terangkat tinggi disertai sebuah senyuman angkuh besar menghiasi wajahnya yang tampan. Terlihat beberapa murid menunggu saat-saat ini dengan antusias.


Itu tak mengherankan, Edward memanglah calon Blazer yang berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal atas keturunan kekuatan esnya. Ia merupakan orang yang diduga akan menjadi calon Blazer terkuat di angkatan sebelum kekuatan Salvia terkuak.


Kristal pendeteksi kekuatan jiwa perlahan-lahan mengeluarkan sinar biru keputihan terang, namun tidak seterang Salvia sebelumnya. Di atas kristal tersebut terlihat sebuah layar proyeksi yang memperlihatkan statistiknya.


"Woaah, Edward hebat!"


"Meski tak sekuat Salvia, keluarga Ghaetas menghasilkan keturunan menakjubkan lainnya!"


Sebagian besar murid bersorak ketika melihat statistik Edward yang tinggi untuk usianya. Kecerdasan dan spesialisasi bernilai lima poin, kekuatan fisik dan kelincahan mendapat nilai empat poin, sementara daya tahan dan ketangkasannya bernilai dua poin.



Meskipun secara total statistik Edward masih terpaut cukup jauh dari Salvia, setidaknya di kelas ini ia menduduki posisi terkuat kedua di bawah Salvia. Namun, ia nampak tak puas mengetahui statistiknya yang lebih lemah dari Salvia.


Ia mendecakkan lidah sebelum melakukan hal yang sama di dekat kristal pendeteksi wujud jiwa. Selang beberapa detik, kristal tersebut memancarkan cahaya biru keputihan yang cukup terang, lalu terlihat wujud Soul Arc-nya mengapung di dalam kristal.


"Sama seperti Salvia, ya? Job Wizard dengan kemampuan manipulasi es," ucap Andre berkomentar melihat wujud Soul Arc Edward.


"Pak Andre, jangan samakan aku dengan Salvia. Salvia mampu memanipulasi salju, sedangkan aku memanipulasi es. Sudah jelas siapa yang lebih unggul, bukan?" Edward mengangkat dagunya sekali lagi, kali ini dipenuhi rasa bangga nan tinggi mengetahui Soul Arc-nya sesuai harapan.


Benar, terdapat perbedaan mencolok antara kemampuan keduanya. Terlihat jelas Soul Arc Salvia adalah kepingan salju, tapi bukan berarti kemampuan mereka sama. Sekilas nampak sama, namun sebenarnya Soul Arc keduanya sangatlah berbeda.


"Kalau dipikir-pikir benar juga. Es adalah elemen padat, sementara salju tidak begitu bisa digunakan untuk menyerang meskipun keduanya sama-sama bersifat dingin dan membekukan."


"Jadi bisa dikatakan kalau calon Blazer terkuat di kelas ini adalah Edward?"


"Walau statistiknya lebih tinggi, tapi kalau kemampuannya lemah tetaplah lemah, bukan?"


Para murid mulai berdiskusi membandingkan siapa calon Blazer terkuat di kelas mereka. Siapa yang lebih unggul dalam pertarungan? Apakah Edward atau Salvia?


Ketika diskusi mulai memanas, Andre menenangkan para muridnya, "Tenanglah kalian, sekarang masih waktunya pemeriksaan, kalian bisa berdiskusi setelah selesai. Masih ada beberapa yang belum memeriksa statistik dan Soul Arc."


Mendengar Andre, para siswa kembali tenang. Andre pun mempersilahkan Edward kembali ke bangkunya sebelum memanggil nama siswa lagi, "Anna Kindheart."


Anna bangkit dari bangku dan segera melangkah ke depan kelas dengan penuh semangat. Ia melakukan apa yang murid-murid sebelumnya lakukan pada kristal pendeteksi kekuatan jiwa. Selang beberapa detik kristal tersebut mengeluarkan sinar merah cerah yang menyilaukan sebelum layar proyektor berisi statistiknya muncul dari kristal



"Statistik ini bukankah terlalu seimbang?"


"Apa Anna bisa dipastikan satu-satunya lawan yang mampu menyaingi statistik Salvia?"


"Melihat statistiknya yang seimbang dan lebih condong ke arah kecerdasan, bukan tidak mungkin baginya mengungguli Salvia!"


Para murid kembali berkomentar melihat statistik Anna yang mampu menandingi Salvia yang digadang-gadang sebagai calon Blazer terbaik di angkatan mereka. Andre terkejut ketika melihat statistik Anna yang jauh melebihi perkiraannya, namun setelah menelaah latar belakangnya lebih jauh Andre merasa hal ini adalah wajar.


"Keluarga Kindheart, ya? Lagi-lagi mereka melahirkan jenius lainnya," ucap Andre dalam hati sambil tertawa masam.


Seusai memastikan jumlah statistiknya, Anna melanjutkan pemeriksaannya terhadap Soul Arc-nya. Kristal pendeteksi wujud jiwa mengeluarkan sinar merah terang seperti sebelumnya, kemudian memperlihatkan wujud Soul Arc milik Anna.


"Knuckle Mage?! Job yang berada di tengah kategori Warrior dan Wizard?! Mustahil!"


"Seorang jenius akan melahirkan jenius lainnya, kata-kata itu cocok untuk keluarga Kindheart."


Soul Arc Anna berbentuk sepasang sarung tangan berlapis api, menandakan dirinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan Job campuran yang langka. Pyro Monk, Knuckle Mage, Brawler Magician, serta beberapa Job kategori Warrior maupun Wizard bisa ia ambil dengan kemampuan Soul Arc-nya.


Mengingat tingginya statistik kecerdasan dan kekuatan fisiknya yang tinggi, bukan tidak mungkin ia dapat menjadi Warrior dan Wizard pada waktu yang sama. Dengan statistik setinggi ini Anna bisa bertarung dalam jarak dekat, menengah, maupun jauh.


Andre kemudian mempersilahkan Anna kembali ke bangkunya setelah berhasil menenangkan anak didiknya yang kembali heboh berkat munculnya salah satu Soul Arc langka di antara kelas mereka.


Pemeriksaan kekuatan jiwa dan Soul Arc para murid kelas 1-A selanjutnya berjalan dengan lancar, tidak ada yang membuat kehebohan berarti karena tak ada murid yang selevel ketiga murid terkuat di kelas mereka sampai sekarang.


"Heru Hartanto," panggil Andre menatap murid berambut hitam kemerahan itu sambil bergumam dalam hati, "Bukankah dia yang membuat keributan di kantin tadi?"


Andre nampak heran melihat sosok Heru yang terlihat biasa-biasa saja, namun memiliki ketangkasan fisik yang lumayan. Dari mana ia mengetahuinya? Tentu dari aksi Heru di kantin sebelumnya, memangnya dari mana lagi?


Heru segera bangkit dari bangkunya, "Doakan statistik dan Soul Arc-ku bagus," bisik Heru kepada Haikal sebelum melangkah maju ke depan kelas.


Haikal sendiri hanya memberikan sebuah senyuman disertai acungan jempol besar. Ia sebenarnya tidak perlu khawatir karena sahabatnya itu cukup berbakat dari segi fisik maupun kekuatan jiwanya.


Heru kemudian memeriksa statistiknya terlebih dahulu menggunakan kristal pendeteksi kekuatan jiwa. Tidak ada reaksi yang berlebih dari para murid pada awalnya, tapi diskusi kembali meledak namun tak seheboh sebelumnya.


"Ketangkasan senilai enam poin dan kekuatan fisik bernilai lima poin. Meskipun statistik lainnya rata-rata, kau cukup berbakat dalam bidang fisik, Heru. Mungkin kategori Job-mu dapat dipastikan Warrior." Andre menepuk pundak Heru berharap muridnya ini tak berkecil hati, namun apa yang di bayangan Andre tidak terjadi.


Manik mata Heru nampak berkaca-kaca ingin sekali mengucurkan air mata. Hal ini membuat Andre kebingungan, apakah Heru merasa kecewa atau bahagia.



Dalam hatinya, Heru ingin sekali berteriak dan menangis lega melihat usaha kerasnya sejauh ini berbuah manis, tetapi ia tahan karena tidak mau mempermalukan dirinya sendiri di depan kelas.


Sebenarnya di masa sekolah tingkat menengah lalu, Heru tidak memiliki statistik jiwa seperti ini. Hal ini dikarenakan perjuangan kerasnya bersama Haikal selama beberapa tahun terakhir. Ia benar-benar bersyukur mendapat statistik jiwa sebesar ini.


Tak ingin menunda lebih lama, ia pun melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu pemeriksaan wujud Soul Arc.


"Woah, Soul Arc dengan kecocokan Job petarung tangan kosong!"


"Meski tidak termasuk langka, Job ini sangat mudah dikuasai dan efektif dalam pertarungan jarak dekat satu lawan satu."


Bisa terdengar komentar beberapa murid yang memuji Heru, namun tak sedikit juga yang menjelekkan kemungkinan Job yang didapatnya di masa depan.


Pasalnya Job dengan kemampuan tangan kosong sangat sering terluka dan dinilai barbar dalam pertarungan. Karena itulah jarang ada yang melihat Job seperti Heru dengan pandangan positif.


Di sisi lain, Heru sendiri tak mendengar berbagai komentar yang dilontarkan teman-teman sekelasnya. Ia hanya berjalan pelan sambil melompat-lompat kecil menuju bangkunya disertai wajar berseri-seri.


"Hehehe, aku hebat, kan?" Tanya Heru membusungkan dadanya penuh rasa bangga dan kemenangan kepada Haikal.


"Iyain saja dah," ucap Haikal tersenyum masam melihat kemajuan sahabatnya itu dibanding pada waktu terakhir kali diperiksa.


Selanjutnya beberapa murid dipanggil Andre untuk maju ke depan sebelum akhirnya tiba giliran Haikal, "Haikal Alendra."


Siswa berambut dan bermata hitam legam itu segera bangkit dan maju dengan langkah bersemangat tak sabar ingin mengetahui sejauh mana hasil usaha kerasnya.


Haikal mendekatkan kedua tangannya di atas kristal pendeteksi kekuatan jiwa. Selang beberapa saat kemudian terlihatlah statistik kekuatan jiwanya yang selama ini ia nantikan.