
Terpentalnya Edward membuat penonton sekali lagi terbelalak, bagaimana bisa seseorang yang belum membangkitkan Soul Arc mampu menghempaskan jenius yang bahkan telah mencapai Awakening sebelum menjadi Blazer resmi?
Memang benar Haikal disebut-sebut sebagai 'kuda hitam' terbaik di Turnamen Penyambutan tahun ini, namun tak ada yang menduga pemuda tersebut memiliki kekuatan yang begitu besar hingga mampu memojokkan Edward si jenius.
"Berengsek...." Edward mengusap darah yang mengalir di bibirnya, tak menyangka Haikal tidak hanya bisa menahan serangannya tetapi juga mampu melayangkan serangan balik yang tak lemah, "Dia bukan jelata biasa...."
Tidak ingin menunggu serangan lagi, Edward segera bangkit dari posisi terlentangnya di lantai dan mengambil posisi siap bertahan, sementara Haikal memecahkan lantai es buatan Edward dalam sekali pukul membebaskan kakinya.
Haikal menghela nafasnya merasa kakinya tidak mati rasa karena membeku beberapa waktu. Jika dirinya tidak bisa merasakan rasa sakit pada kakinya, maka Haikal bisa ragu menyerang atau bertahan karena ragu terhadap kondisi kakinya.
"Baik, kurasa tidak masalah." Selesai memeriksa kondisi kakinya yang tidak mengalami cedera berarti, Haikal mengalihkan pandangannya pada Edward yang saat ini tengah bersiap menghadapi serangan.
Edward nampak lebih tenang daripada sebelumnya yang menyerang dengan penuh kemarahan, padahal Haikal sendiri sulit untuk menenangkan diri hanya dalam beberapa detik.
"Kelihatannya dia memang menggunakan metode pertama untuk memurnikan energi jiwa," batin Haikal merasakan keanehan pada emosi Edward.
Pemurnian energi jiwa diketahui terbagi menjadi tiga metode, salah satunya adalah metode mengambil energi jiwa makhluk orang lain yang dapat memberi efek samping berupa ketidakstabilan pada emosi ataupun keganasannya.
Metode ini memang lebih cepat dibanding kedua metode lainnya, tetapi jika tidak dikendalikan dengan benar atau terlalu berlebihan menyerap energi jiwa makhluk lain maka efek sampingnya dapat terlihat. Itulah yang diduga Haikal melihat keanehan pada Edward.
"Jika memang benar begitu maka tidak ada gunanya aku menahan diri!" Sambil memantapkan hatinya, Haikal mengalirkan lebih banyak energi jiwa ke seluruh tubuhnya memberikan lebih banyak tekanan pada Edward.
Berkat jumlah energi jiwa tersebut tiba-tiba dikerahkan udara di sekitar Haikal mengamuk, secara tak sengaja memberitahukan pada seluruh penonton seberapa kuat sebenarnya dirinya meski tanpa Soul Arc.
"Tekanan energi jiwa sepekat ini... seharusnya bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan oleh calon Blazer yang bahkan belum membangkitkan Soul Arc sekalipun." Merasakan kekuatan yang terpancar dari Haikal, Veindal secara spontan berdiri di ruangannya.
Beberapa pengajar dan Blazer yang dapat merasakan energi jiwa Haikal bereaksi kurang lebih sama seperti Veindal, tak ada dari mereka yang menduga ada seorang calon Blazer yang memiliki kekuatan seperti ini di angkatan ini, bahkan sekarang belum ada satu semester berlalu semenjak tahun ajaran baru dibuka di akademi Skymaze.
Saat ini Edward memang terlihat tenang dan dapat mengendalikan energi jiwanya, namun siapa yang bisa menduga dia akan mengamuk membabibuta seperti sebelumnya? Untuk itulah Haikal tak ingin menahan diri lebih jauh lagi.
"Huh, kuakui kau jelata pertama yang berhasil menyudutkanku." Nampak jelas kemarahan di ekspresi Edward, tetapi kali ini ia tidak hilang kendali seperti sebelumnya. Ia mengakui kalau lawannya ini bukanlah rakyat jelata biasa yang bisa dia remehkan, "Tapi, sebagai bangsawan aku takkan kalah dari rakyat sepertimu!"
Edward menyilangkan kedua tangan di depan perutnya sambil berkonsentrasi penuh mengerahkan begitu banyak energi jiwa, lalu dalam sekejap ledakan energi jiwa tercipta menghempaskan udara di sekitarnya.
Sesaat setelah ledakan energi jiwa itu beberapa bagian tubuh Edward membeku secara perlahan mulai dari dada, tangan, kaki, serta dahinya. Namun pembekuan itu tidaklah berefek negatif terhadapnya, melainkan memperlihatkan kekuatan yang belum pernah ia perlihatkan di depan umum sebelumnya.
Sekarang tubuh Edward telah dilapisi lapisan es biru tua kehitaman yang berbentuk seperti zirah yang memancarkan kesan intimidasi kuat, "Winter Lion : Empty Code – Knight Shape!"
"Zirah es?" Haikal sedikit mengangkat alisnya menyaksikan zirah es yang melindungi seluruh tubuh Edward tanpa terkecuali, seperti seorang kesatria tanpa senjata.
Menyelesaikan perubahan zirah esnya, Edward kemudian mengumpulkan energi jiwa di tangan kanan dan menciptakan sebuah tombak dengan bilah kapak yang digunakannya untuk menyerang Salvia sebelumnya, "Winter Lion : Fourth Code – Halberd Shape!"
Haikal mengerutkan dahinya melihat Edward mampu mengerahkan dua kemampuan Awakening-nya sekaligus, padahal ketika melawan Salvia, Edward hanya memperlihatkan satu kemampuan saja setiap kali menyerang, "Terlebih lagi zirah es... akan sulit menembusnya."
Haikal menggigit bibirnya merasa perbedaan antara seorang jenius dan yang bukan semakin terlihat, tetapi dia tidak semerta-merta menyerah. Haikal kemudian meraih sebuah tongkat besi dari pinggangnya dan mengalirkan sejumlah energi jiwa ke dalam tongkat besi tersebut.
Tongkat besi itu mengeluarkan sinar berwarna hijau cerah yang terpusat pada satu garis lurus dan membentuk sebilah pedang tipis sepanjang 60 Sentimeter.
"Soul Saber? Jelata sepertimu mempunyai Soul Device?" Kali ini gantian Edward yang mengerutkan dahinya, tak percaya kalau pemuda yang menjadi lawannya ini sungguh seorang rakyat jelata biasa.
Reaksi Edward tidak berlebihan, beberapa penonton maupun perwakilan Guild juga bereaksi sama melihat Soul Device di tangan Haikal. Harga alat di tangan Haikal ini memang terlampau tinggi bagi rakyat biasa, hanya bangsawan atau rakyat kalangan atas yang mampu memperoleh Soul Device saking mahalnya.
"Ini bukan milikku, ini barang pinjaman dari Salvia." Haikal menyunggingkan senyuman tipis, namun tidak ada rasa senang dalam senyum tersebut, "Aku akan menggunakannya spesial untuk mengalahkanmu."
Edward mengayunkan tombak berkapaknya secara vertikal mengincar kepala Haikal sekuat tenaga, namun bagi Haikal yang sudah terbiasa berhadapan dengan kecepatan dan kegesitan Heru yang lebih tinggi dibanding Edward, hal ini bukanlah apa-apa.
Haikal memutar tubuh pada poros kakinya menghindari serangan Edward dalam jarak tipis, kemudian melayangkan pukulan Void Palm pada zirah Edward membuat pemuda tersebut termundur beberapa langkah.
"Kau pikir kau bisa melukaiku dengan serangan selemah itu?" Edward berseru keras merasa daya tahan zirahnya jauh melampaui serangan Haikal, tetapi belum sempat dirinya puas menyombongkan diri Haikal sudah berada di depannya dalam sekejap.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Haikal tanpa ragu mengayunkan Soul Saber-nya memberikan tiga tebasan cepat yang membuat Edward sekali lagi termundur, "Pertama jaga jarak, lalu serang secepatnya."
"Sialan!" Edward mengumpat merasa sejak tadi dirinya tak menyarangkan serangan telak, sementara lawannya terus saja melayangkan serangan tanpa sempat dia tangkis, "Akan kuperlihatkan teknik North Ice Spear-ku!"
Tidak ingin merasa dipermalukan lebih jauh, Edward mengambil langkah lebih dulu dan mengayunkan tombaknya serangan demi serangan mengarah pada Haikal.
Sebagai seseorang yang sedikit berpengalaman dalam pertarungan jarak dekat, Haikal dapat menghindari dan menangkis sebagian besar serangan Edward menggunakan Soul Saber-nya, namun dirinya belum cukup lihai untuk menghindari semuanya.
Terlihat jelas terdapat beberapa luka goresan pada tubuh Haikal selepas Edward mengakhiri serangan beruntunnya membuat Haikal sedikit meringis, tetapi dirinya sadar meringis sekeras apapun takkan mengubah alur pertarungan.
Haikal kembali menyerang dengan Soul Saber-nya, sementara Edward juga melayangkan rentetan hujaman tombak esnya. Serangan keduanya beradu sengit di area pertarungan hingga menimbulkan beberapa goresan dan retakan di lantai, membuat semua yang menyaksikan mereka tercengang.
"Mereka sungguh calon Blazer? Bukan Blazer resmi?"
"Abaikan Edward yang sejak awal jenius, bagaimana Haikal bisa menangkis semua serangan Edward?"
"Pertarungan ini tidak boleh dilewatkan."
Beberapa penonton memberikan banyak pujian sekaligus berdiskusi mengenai alur pertandingan ini, sedangkan beberapa lainnya hanya bisa diam terkesima menyaksikan benturan serangan kedua peserta tersebut. Beberapa Blazer yang hadirpun juga ikut terkesima tak percaya terhadap kemampuan keduanya yang sulit didapatkan di tingkat SMA.
Selang beberapa menit saling melayangkan serangan dan bertahan, Haikal dan Edward kemudian mengakhiri pertukaran serangan tersebut mengambil satu langkah ke belakang, bersamaan mengatur nafas mereka yang hilang.
"Kau.... Bagaimana kau yang belatung jelata bisa menyaingiku?!" Edward berseru keras tak terima hampir seluruh serangannya dapat ditangkis oleh Haikal, "Aku yang seorang bangsawan ini mustahil kalah dari jelata sepertimu!"
Perkataan Edward mungkin terdengar menghina di telinga orang lain, namun Haikal menangkap kata-kata tersebut berbeda.
Edward merupakan seorang bangsawan sekaligus Blazer jenius yang seharusnya muncul beberapa tahun sekali, seharusnya ia telah disiapkan menjadi Blazer jauh lebih dini dan keras dibanding Haikal yang seorang rakyat biasa. Mengapa dirinya bisa seimbang dengan rakyat jelata?
Haikal sendiri tidak melakukan apapun selain mengatur nafasnya mengembalikan tenaga dan energi jiwa yang hilang, dirinya juga tak berniat menjawab pertanyaan Edward. Seakurat apapun jawabannya, Edward takkan menerimanya dan malah memancing emosinya lebih lagi.
Jika saja Edward masih menyimpan kekuatan tersembunyi dan Haikal secara tak sengaja menginjak ranjau, maka akan sulit baginya untuk mengimbangi Edward ke depannya.
Karena selalu meningkatkan tubuhnya menggunakan energi jiwa untuk mengimbangi kecepatan serang Edward, Haikal sudah kehilangan cukup banyak energi jiwa. Biarpun kuantitas energi jiwanya terbilang banyak bagi calon Blazer setingkatannya, nyatanya untuk melawan Edward jumlah tersebut tidaklah cukup.
"Terlebih lagi Soul Device ini melahap banyak energi jiwaku," batin Haikal memandang Soul Saber di tangannya sambil tersenyum masam, tak menyangka benda ini menghisap lebih banyak energi jiwa dari yang ia perkirakan.
Selang beberapa saat seusai nafasnya kembali stabil, Haikal menarik dan menghembuskan satu nafas besar sebelum menggenggam Soul Saber-nya lebih erat dan memusatkan pikirannya pada pertarungan ini, "Mungkin sudah saatnya aku menggunakan 'itu'."
---
Hayo yg sudah baca sampai sini tapi belum kasih like, pencet dulu dong tombol like-nya. Masa baca sampai sini belum kasih like? Kalau masih baca sampai sini harusnya udah kasih like dong, untuk menunjukkan kalau kalian suka dengan cerita ini.
Like gak perlu poin/koin kok, cukup satu detik atau paling lama lima detik untuk memencet tombol like-nya. Oke? Oke dong.