Absolute Soul

Absolute Soul
82. Tangan Kosong Salvia



"Ughh!" Salvia merintih kesakitan bisa merasakan luka goresan pada bagian perutnya yang diakibatkan oleh salah satu anggota Blackout yang dia hadapi.


Salvia memang sedang lengah karena perhatiannya teralih sejenak kepada Haikal, dia dapat mengatasi satu serangan lain menggunakan saljunya, namun karena kedua anggota Blackout tersebut menyerang dari dua arah yang berbeda, Salvia hanya tidak bisa menahan serangan lainnya dan berakhir mendapat luka meski tidak fatal.


"Heh, serangan kita mempan! Ayo serang terus!" Anggota Blackout yang berhasil menyarangkan serangan pada Salvia berseru girang melihat reaksi kesakitan Salvia, membuat rekannya menjadi lebih percaya diri.


Mereka berdua kemudian sekali lagi mendekati Salvia, kali ini dari arah yang berbeda. Mereka bisa melihat Salvia kekurangan energi jiwa untuk menahan ataupun melancarkan serangan berjangkauan luas seperti sebelumnya sehingga hal ini dimanfaatkan oleh keduanya.


Dua anggota Blackout ini memiliki Soul Arc berbentuk senjata tajam jarak pendek, satunya berwujud pedang sementara satu lagi memiliki Soul Arc sejenis arit. Setiap orang yang melihatnya dapat mengetahui bahwa kedua orang ini adalah Blazer tipe Warrior dan Rogue, Blazer yang bertarung dalam jarak dekat.


Seharusnya menurut perbedaan Soul Arc, Salvia dapat mengungguli mereka mengingat Soul Arc-nya adalah kepingan salju, sebuah kemampuan sejenis sihir yang mampu menciptakan dan mengendalikan salju. Jangkauan serangannya dapat disesuaikan sesuai keinginannya.


Sayangnya saat ini, Salvia tidak memiliki banyak energi jiwa setelah mengerahkan Blizzard Bullet Dominion beberapa waktu lalu. Jurus tersebut bukan hanya memerlukan energi jiwa dalam jumlah banyak, tetapi juga menguras kekuatan mentalnya karena harus berkonsentrasi pada banyak tempat sekaligus.


Selain karena Blizzard Bullet Dominion yang menguras banyak energi jiwanya, sejak awal Salvia memang tidak dalam kondisi prima semenjak pertarungan melawan Verna di pertandingan lalu. Apalagi baru-baru ini dia juga bertarung sebentar dengan Verna karena mempermasalahkan perlakukan Jack pada Haikal.


Hal ini lantas membuatnya tidak mampu melakukan banyak perlawanan, Salvia dipukul mundur dan dipaksa bertahan oleh kedua anggota Blackout yang masih tersisa itu.


"Hmm, gadis yang keras kepala."


"Nona, lebih baik menyerah saja sebelum semua menjadi lebih buruk. Kami tahu kau sudah kehabisan energi jiwa."


Perkataan kedua anggota Blackout tersebut seakan menampar Salvia dari jauh, tapi tanpa diberitahu sekalipun Salvia sudah mengerti batasannya.


Sejauh ini dia cukup beruntung bisa mengalahkan beberapa Blazer setingkat Intermidate sekaligus dalam sekali serang, itu karena mereka meremehkan Salvia. Sekarang? Kedua anggota Blackout yang tersisa ini bukan hanya tidak meremehkannya, mereka bahkan melangkah dengan hati-hati saat menyerang.


Salvia mendecakkan lidahnya merasa dirinya begitu tidak diuntungkan, "Selain menang jumlah, mereka juga lebih berpengalaman dalam pertarungan dibanding diriku."


Perkataan Salvia tidaklah salah. Blackout merupakan organisasi Blazer kriminal yang menjadi buronan di seluruh negara, tentunya karena seringkali berbuat onar setiap anggota Blackout lebih berpengalaman dalam pertarungan sungguhan daripada Salvia yang sejauh ini hanya bertarung dalam latihan dan pertandingan.


Salvia kemudian mengalihkan pandangannya sejenak kepada Haikal yang masih tertidur di atas tumpukan salju Snow Cloud-nya, dia lalu tersenyum kecut merasa kagum terhadap Haikal dalam artian lain, "Hebat sekali kau bisa tidur senyenyak itu dalam situasi berbahaya seperti ini."


Dia menarik beberapa rangkaian nafas berusaha menenangkan diri, Salvia merasa dirinya kehilangan konsentrasi karena terlalu mengandalkan Soul Arc dan energi jiwanya setelah melihat Haikal.


Salvia mengingat jelas sampai sekarang Haikal belum mampu membangkitkan Soul Arc-nya sehingga hanya bertarung menggunakan tubuh serta pengendalian energi jiwa murni.


Memang Salvia tidak terlalu bagus dalam mengendalikan energi jiwa murni, tapi di saat energi jiwa menipis hanya inilah satu-satunya jalan dirinya ambil.


"Setidaknya dengan ini aku masih bisa memberi perlawanan," ujar Salvia dalam hati sambil mengalirkan sejumlah energi jiwa ke seluruh tubuh memperkuat setiap bagiannya, lalu mengambil kuda-kuda bertarung tangan kosong.


Kedua anggota Blackout yang tersisa mengerutkan dahi sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak melihat tindakan Salvia.


"Mungkin karena masih calon Blazer, dia tidak mengerti perbedaan antara tipe-tipe Blazer," seorang anggota Blackout lainnya menambahkan perkataan rekannya, tidak bisa berhenti tertawa.


Salvia tersenyum dingin mendengar perkataan kedua orang tersebut, tetapi dia tidak mempedulikannya dan memanfaatkan kelengahan mereka akibat tertawa. Dia memfokuskan sejumlah energi jiwa pada sebelah kakinya dan memijak lantai, melesat dengan cepat menuju salah satu dari mereka sambil melayangkan serangan telapak.


Kedua anggota Blackout itu terkejut melihat Salvia yang melesat dalam kecepatan yang mengagumkan bagi calon Blazer tipe Wizard, namun mereka masih bisa bereaksi terhadap kecepatan Salvia.


Anggota Blackout yang dituju Salvia mengangkat Soul Arc berbentuk pedangnya dan menahan serangan telapak Salvia, "Heh, bukannya berhasil menyarangkan serangan justru tanganmu yang terluka, bukan?"


Orang tersebut menyeringai sinis menanggapi pukulan Salvia yang begitu ceroboh, tetapi sepersekian detik berselang dia baru menyadari bahwa telapak tangan Salvia tidak mengeluarkan darah meski terkena sisi tajam Soul Arc pedang lawannya.


"Aku bukan orang sebodoh itu menerjang lawan yang menggunakan senjata tajam dengan tangan kosong," kata Salvia menanggapi reaksi lawannya. Memang tidak begitu jelas ataupun banyak, namun nampak semacam lapisan salju tipis melindungi tapak Salvia dari bilah tajam pedang musuh.


Anggota Blackout tersebut ingin bereaksi dan melancarkan serangan balik, tapi Salvia sudah mengambil tindakan lebih dulu, "Lambat! Snow Blast!"


Salvia menghempaskan lawannya menggunakan sejumlah salju pada telapak tangannya. Memang tidak terlalu ampuh, tetapi setidaknya dia berhasil memukul mundur lawan dan menciptakan peluang.


"Belum selesai!" Salvia mengonsentrasikan energi jiwa serta saljunya pada lengannya, membentuk semacam lengan salju raksasa yang kemudian tanpa ragu didorong sekuat tenaga menghantam lawan, "Snow Arm!"


Bruaak!


Dalam satu serangan itu Salvia berhasil mengalahkan salah satu anggota Blackout, tetapi biarpun demikian masih ada satu anggota Blackout lain yang masih tersisa.


Anggota Blackout yang tersisa itu tidak menyia-nyiakan kekalahan rekan seperjuangannya, dia melesat mendekati Salvia dengan cepat bersama Soul Arc berbentuk aritnya yang siap dihujamkan, "Gadis kecil!"


Tentu saja sebagai Blazer tipe Rogue kecepatan anggota Blackout tersebut jauh melebihi kecepatan langkah Salvia yang merupakan calon Blazer tipe Wizard, namun karena sedikit panik dia tanpa pikir panjang menerjang Salvia.


"Panik, ya?" Salvia menyunggingkan senyuman kecil menanggapi tindakan anggota Blackout tipe Rogue tersebut, membuat lawannya tersadar bahwa Salvia telah menyiapkan sesuatu untuk dirinya.


Sayangnya meskipun tersadar, dia sudah terperangkap oleh jebakan yang dipersiapkan Salvia. Kedua kakinya berhasil digenggam oleh sejumlah salju yang berceceran di lantai, hal itu membuatnya terkejut.


Salju di lantai itu berasal dari Blizzard Bullet Dominion yang digunakan Salvia pada serangan pertama yang mengalahkan beberapa anggota Blackout sebelumnya sekaligus. Dia tidak pernah mengira Salvia memanfaatkan salju yang sudah dipakainya untuk membuat perangkap.


"Tak kusangka Blazer tipe Rogue sepertiku justru terperangkap oleh jebakan lawan," ujar anggota Blackout tertawa kecut tidak bisa bergerak. Dia lalu memandang Salvia yang kini telah melesat mendekatinya dengan tangan yang terkepal kuat, "Calon Blazer tahun ini sungguh mengerikan."


Tanpa menghiraukan perkataan lawannya, Salvia menghujamkan tinjunya sekuat tenaga tepat pada ulu hati anggota Blackout tersebut, berhasil membuatnya terjatuh di lantai tanpa kesadaran.


"Maaf saja, tapi aku bukanlah Blazer tipe Wizard murni yang hanya bergantung pada sihir dan Soul Arc-ku," gumam Salvia menggenggam erat tangannya, merasakan perasaan kemenangan pertamanya semenjak dikalahkan oleh Edward.