Absolute Soul

Absolute Soul
93. Rencana Haikal



"Kau mengerti apa yang kau katakan, Haikal?" Jack memicingkan matanya memandang Haikal setelah mengetahui apa tindakan Haikal berikutnya.


Haikal menghela nafas sesaat sebelum kembali mengangkat suara, "Aku tahu ini permintaan egois, tapi kurasa dengan menjauhnya kami maka ancaman pengungsi akan berkurang, setidaknya dari pihak Blackout."


Jack memijat dahinya yang sedikit berdenyut mendengar rencana Haikal, "Bukankah jika begitu Blackout akan lebih mudah mendapatkan kalian?"


"Aku tahu dan aku sudah menyelidiki tentang Blackout beberapa waktu lalu." Haikal kemudian menjelaskan semua yang dia ketahui mengenai organisasi kriminal ini serinci mungkin kepada Jack, Salvia, serta seluruh orang yang masih berada di dalam ruangan.


Penjelasan Haikal tersebut banyak membuat mereka yang mendengarnya mengerutkan dahi merasa khawatir mereka tidak dapat melalui semua ini dengan baik, sementara Jack sendiri mengelus dagu sedikit terkejut melihat Haikal mengetahui beberapa hal mengenai Blackout serinci ini.


Nama Blackout sendiri cukup terkenal sebagai organisasi kriminal yang sering membuat kekacauan di berbagai negara, Wulodhasia tidak terkecuali. Dalam beberapa tahun terakhir Wulodhasia juga pernah menjadi sasaran Blackout namun skala serangan serta kerusakannya tidak sebesar sekarang.


Biarpun nama Blackout cukup dikenal oleh sebagian besar calon Blazer Akademi Skymaze, kebanyakan dari mereka hanya mengetahui sebatas nama dan ulah Blackout saja, tidak secara rinci, sedangkan informasi yang Haikal jabarkan bisa dibilang sedikit lebih baik daripada berita-berita di televisi.


"Kekuatan tempur mereka sebagian besar terdiri dari Blazer setingkat Intermidate dan Advance, lalu memiliki Blazer setingkat Expert atau lebih yang biasanya memimpin setiap kegiatan mereka," ujar Haikal mengakhiri penjelasannya.


Banyak dari mereka yang mendengarkan penjelasan Haikal merasa khawatir tetapi tidak sedikit pula yang bersikap skeptis terhadap Haikal mengingat sebagai seorang calon Blazer, apalagi masih kelas satu Haikal mengetahui informasi sedalam ini.


Haikal tersenyum tipis melihat keraguan beberapa kawannya, "Tenang saja, aku mendapatkan informasi ini dari kepala sekolah kurang lebih sebulan lalu, bukan dengan cara yang aneh-aneh."


Meskipun Haikal berkata jujur, mereka tidak langsung mempercayai perkataan pemuda tersebut. Hal itu kemudian membuat Sakuya turun tangan menengahinya, "Apa yang disampaikan Haikal memang kenyataan."


"Aku, Sakuya Hirogami yang merupakan salah satu Harbinger Skymaze dapat menjamin kebenaran informasi Haikal," ujar Sakuya berusaha meyakinkan Haikal bukan seperti yang mereka pikirkan.


Perkatan Sakuya berhasil menggoyahkan pikiran skeptis mereka terhadap Haikal, mereka lalu teringat akan ketidakmampuan Haikal membangkitkan Soul Arc sampai saat ini. Sulit berpendapat bahwa Haikal mempunyai hubungan dengan Blackout mengingat kelemahan fatal ini.


Sakuya juga menambahkan beberapa detail kecil yang tidak Haikal singgung sebelumnya, "Lalu, menurut informasi terbaru dari Kepala Sekolah salah satu anggota terpenting Blackout, Spaceless Blazer ikut serta dalam kekacauan ini."


Sebagian besar murid yang mendengarnya memiringkan kepala tidak mengerti apa atau siapa itu Spaceless Blazer, namun bagi yang mengetahui tentangnya ekspresi mereka berubah menjadi buruk, termasuk juga kelompok Haikal.


Haikal dan kawan-kawan sebenarnya sudah menduga bahwa Spaceless Blazer ada kaitannya dengan kejadian ini, terutama mengenai kemunculan Verg dalam jumlah besar yang begitu mendadak, tetapi mereka berharap dugaan itu salah.


"Bagi yang tidak mengetahuinya, Spaceless Blazer adalah Blazer buronan yang amat berbahaya karena kemampuan Soul Arc-nya." Sakuya juga menjelaskan mengenai kekuatan Spaceless Blazer yang dapat memanipulasi ruang dan waktu.


"Memanipulasi ruang dan waktu?"


Tidak sedikit dari mereka terkejut mengetahui ada Soul Arc berkemampuan seperti itu, beberapa bahkan merasa lutut mereka kehilangan tenaga dan ambruk ke lantai. Itu tidak mengherankan mengingat kekuatan berdasarkan ruang dan waktu bisa dikatakan hampir tak terkalahkan.


Sakuya tersenyum tipis melihat reaksi sebagian besar orang di ruangan begitu mendengar penjelasannya, tetapi senyumnya memudar digantikan sebelah alisnya yang terangkat saat pandangannya jatuh pada Haikal yang terlihat tetap tenang.


"Haikal, apa mungkin kau sudah mengetahui tentang Spaceless Blazer beserta kemampuannya?" Sakuya tidak bisa menahan rasa penasarannya melihat reaksi Haikal.


"Ya, sekitar itu." Sakuya mengedipkan matanya beberapa kali tak percaya Haikal bahkan mengetahui informasi ini, padahal pemuda ini masih duduk di bangku kelas satu sebagai calon Blazer.


Berbeda dari dirinya yang mempunyai identitas khusus berupa Harbinger Skymaze, Haikal hanya seorang calon Blazer kelas satu biasa. Mengetahui keberadaan Spaceless Blazer adalah satu hal, tapi sampai kemampuan dan nilai buronannya itu tidak normal bagi siswa setingkatnya.


Saat Sakuya masih terkejut dan keheranan, Jack menepuk pundaknya dan berkata, "Sudahlah, lebih baik jangan terlalu dipusingkan. Pengetahuannya mengenai dunia gelap per-Blazeran juga tidak sedikit."


Jack kemudian memandang Haikal yang kini menjelaskan lebih jauh mengenai Spaceless Blazer serta Blackout sejauh pengetahuannya diikuti oleh Sakuya yang masih sedikit heran, "Dia mempunyai masa lalu yang cukup kelam dan semuanya berhubungan dengan dunia Blazer dan Verg."


"Aku mendengar rumor bahwa alasan Haikal ingin menjadi Blazer serupa denganmu, Jack." Sakuya lalu mengalihkan perhatiannya menatap Jack, "Apa itu benar?"


Jack terdiam selama beberapa saat sebelum mengangguk pelan, "Ya, bisa dikatakan demikian."


"Maka dari itu aku paham walaupun sikapnya kali ini egois dan membahayakan nyawanya, aku tidak akan bisa menghentikan dirinya," tambah Jack sembari menghela nafas berat kemudian berdiri. Sekilas terlihat sebuah sorot mata kesedihan pada pupil Jack, namun hanya beberapa saat saja.


Sakuya membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu kepada Jack tetapi tak ada yang bisa tersampaikan, semua tersangkut di tenggorokan dan akhirnya tertelan kembali. Dia sedikit banyak memahami perasaan Jack meski tidak banyak bertukar kata.


"Baik, kurasa itu sudah lebih dari cukup." Jack menepuk tangannya merebut perhatian sekaligus menghentikan Haikal yang terlihat larut dalam membeberkan informasi Blackout yang dia ketahui, "Kita akan segera berangkat mengawal pengungsi menuju tempat evakuasi bagian selatan. Persiapkan apa yang harus disiapkan."


Sebagian besar siswa yang berada di ruangan sana kompak mengangguk dan menyiapkan diri masing-masing seusai arahan Jack, sementara pemuda berambut pirang mencolok tersebut berjalan mendekati Haikal dan menepuk pundaknya.


"Aku akan ikut dengan kalian."


Perkataan Jack sukses membuat Haikal dan lainnya membelalakkan mata. Haikal lebih dulu bereaksi daripada lainnya, "Jack, kau serius? Bukankah kekuatanmu lebih dibutuhkan untuk menjaga pengungsi menuju tempat evakuasi?"


"Memang benar, tapi aku sudah menyerahkan pada ahlinya." Jack menunjuk Sakuya.


"Serahkan saja padaku! Selama tidak ada Verg di atas kelas Chimera maka dapat kupastikan semuanya akan aman tentram!" Sakuya membusungkan dadanya dengan bangga merasa senang Jack mengakui dirinya sebagai ahli.


Jack tertawa kecil melihat perubahan ekspresi Sakuya yang cukup drastis dari beberapa saat lalu, dia memang mengetahui gadis bergaris keturunan Kekaisaran Sengoku ini memang mudah dihibur.


Haikal sendiri tersenyum tipis sejenak sebelum menoleh pada Heru, Salvia, Verna, serta Cecil yang berada di belakangnya, "Kalau begitu apalagi yang kita tunggu?"


"Ayo segera pergi ke distrik timur! Tujuan kita mengurangi sebanyak mungkin Verg yang berdatangan untuk mengulur waktu!"


Setelah berseru demikian Haikal ingin melangkah menuju pintu hendak keluar diikuti oleh Salvia dan lainnya, namun belum genap dua langkah jubah yang membalut tubuhnya diinjak oleh Jack menyebabkan Haikal tercekik dan jatuh ke lantai.


Haikal ingin melayangkan umpatan tetapi sebelum itu Jack sudah mengangkat suaranya terlebih dulu, "Pertama-tama kau butuh pakaian layak."