Absolute Soul

Absolute Soul
87. Amarah Haikal



Salvia terbelalak hebat tak bisa menahan keterkejutannya melihat aksi Haikal barusan. Belum sempat dirinya mencerna situasi, tapi Haikal sudah mengalahkan semua Ear-Dog yang menjadi ancaman mereka.


Memang benar dengan energi jiwa serta staminanya yang sudah pulih sebagian Salvia juga mampu mengalahkan beberapa Ear-Dog tersebut dalam beberapa saat saja, namun tak pernah terlintas di benaknya bahwa Haikal bahkan mampu melakukan hal serupa, terlebih lagi jangkauan serang Haikal jauh lebih kecil dibanding dirinya.


"Haikal, kau sungguh manusia?" Salvia tidak bisa menahan keterkejutannya lagi sampai spontan bertanya demikian.


"Jahat sekali kau berkata begitu," gerutu Haikal tak terima perkataan Salvia yang seakan-akan menghinanya, "Aku ini seratus persen manusia biasa."


"Tidak, mustahil manusia biasa bisa bergerak secepat dirimu." Salvia tersenyum kering tidak tahu harus berkata apa pada Haikal.


"Ah, benar juga. Yah, setidaknya aku ini masih calon Blazer sepertimu," balas Haikal masih sedikit menggerutu.


Salvia menggaruk kepalanya sejenak masih tidak percaya Haikal mampu mengalahkan beberapa Verg kelas Normal seorang diri dalam sekejap hanya dengan sebilah pedang, itupun bukan Soul Arc-nya.


Dia ingin melihat lebih jauh bagaimana Haikal bisa sekuat ini dalam waktu singkat, tapi ketika Salvia mulai tenggelam dalam lamunannya sendiri, Haikal menepuk pundaknya menyadarkan Salvia.


"Apa yang kau lamunkan? Ayo pergi ke ruang perawatan, Jack dan Verna pasti sudah menunggu cukup lama di gedung kelas satu," ujar Haikal mengingatkan. Dia lalu melangkah menuju pintu keluar dan memeriksa musuh di lorong sekitar.


Salvia sendiri termenung sejenak menyadari pundaknya disentuh oleh Haikal, dia kemudian memegang pundak yang ditepuk Haikal dengan wajah sedikit memerah.


"Salvia, jika ingin pergi sekaranglah saatnya," seru Haikal sekali lagi menyadarkan Salvia dari lamunannya bersiap pergi menuju ruang perawatan tempat di mana Heru dirawat.


"I-iya." Salvia segera menyahut seruan Haikal sebelum mengikutinya dari belakang.


Dalam perjalanan menuju ruang perawatan kali ini, musuh yang berkeliaran selain Verg cukup berkurang. Keduanya bertemu tidak lebih dari lima Blazer kriminal yang mungkin merupakan anggota Blackout, namun mereka dapat mengatasinya cukup mudah dengan kerja sama.


Kebanyakan Verg yang mereka temui sendiri tidak begitu banyak, sebagian besarnya adalah Verg kelas Insect dan Normal. Beruntung bagi Haikal dan Salvia, mereka tidak menemui Verg dalam jumlah besar seperti Ear-Dog lalu. Mungkin paling banyak hanya dua atau tiga ekor.


Tidak butuh waktu terlalu lama bagi keduanya hingga mencapai ruang perawatan setelah beristirahat sejenak. Memang kondisi Haikal maupun Salvia tidaklah prima, tapi setidaknya mereka sama sekali tak menahan diri ketika bertemu musuh.


"Heru, kau di sana?" Haikal masuk lebih dulu ke dalam ruangan memeriksa situasi terlebih dahulu. Terdapat beberapa bekas pertarungan di luar ruang perawatan, jadi dia tidak bisa asal masuk begitu saja.


Saat Haikal masuk ke dalam, isi ruang perawatan terlihat begitu berantakan akibat bekas pertarungan. Selain bekas pertarungan, terdapat pula beberapa sosok manusia tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri.


"Itu kau, Haikal?" Dari ujung ruangan Heru menjawab Haikal, dia dalam posisi siap bertarung dengan kondisi babak belur disertai Soul Arc berbentuk sarung tangan logam di kedua tangannya. Darah merah segar mengalir membasahi badan serta pakaiannya.


Haikal terbelalak melihat keadaan Heru, dia segera menghampiri sahabatnya itu dengan sedikit panik diikuti Salvia dari belakang, "Apa yang terjadi? Kau diserang anggota Blackout?"


"Begitulah," jawab Heru lemah. Dia langsung terjatuh kehilangan tenaga merasa lega begitu melihat Haikal dan Salvia-lah menemuinya. Haikal menangkap tubuh sahabatnya itu secara spontan.


Haikal kemudian meminta Salvia menyelimuti cedera Heru dengan saljunya. Biarpun tidak mempunyai teknik penyembuhan, setidaknya salju Salvia mampu menghentikan pendarahan dan meringankan gejala lebam yang dialami pemuda tersebut.


Selagi Salvia membalut cedera Heru, Haikal mengalirkan sejumlah energi jiwanya menuju luka-luka Heru berniat menyembuhkannya, namun sayang dengan kualitas serta jumlah energi jiwanya saat ini dia tidak dapat berbuat banyak.


Haikal sekarang hanya bisa menghentikan pendarahan Heru untuk sementara. Jika ingin menyembuhkan cedera Heru lebih jauh, mungkin satu-satunya jalan saat ini adalah mengonsumsi Red Liquid yang dapat mempercepat penyembuhan. Sayangnya baik Haikal maupun Salvia tidak mempunyai obat tersebut.


"Kalau begitu pilihan kita hanya satu." Haikal memandang Salvia ketika berkata demikian yang dibalas anggukan pelan oleh gadis berambut perak itu.


Heru sedikit heran melihat gaya komunikasi keduanya yang tidak dia mengerti, tetapi sebelum Heru sempat bertanya Salvia sudah menyelimuti dan mengangkat tubuhnya beberapa sentimeter ke atas lantai menggunakan salju.


Tanpa berniat membuang lebih banyak waktu, Haikal dan Salvia meninggalkan ruangan tersebut dan berlari secepat mungkin menuju gedung kelas satu.


"Mau ke mana kita?" Heru bertanya masih tidak mengerti tujuan Haikal dan Salvia.


"Kau bisa disembuhkan oleh Jack atau Cecil ketika kita sampai di sana." Haikal menggigit bibirnya berusaha menahan rasa kesal mengetahui kondisi Heru yang cukup parah disebabkan oleh anggota Blackout.


Heru ingin mengatakan sesuatu melihat ekspresi Haikal menahan amarah demi dirinya, tapi tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Jika dirinya berada di posisi Haikal dia juga tidak akan bersikap jauh berbeda.


Meskipun Haikal dan Heru sering adu mulut karena hal sepele, hubungan persahabatan keduanya tidaklah sesepele alasan pertengkaran mereka.


"Haikal, ada tiga anggota Blackout di depan," kata Salvia menepuk pundak Haikal sambil menunjuk ke depan. Terlihat tiga orang Blazer dengan Soul Arc yang telah berada di genggaman mereka masing-masing, kecuali satu orang.


Haikal mengerutkan dahi menatap ketiga orang tersebut dengan cepat menganalisis kemampuan lawan, "Dua Blazer tipe Warrior dan satu tipe Wizard."


"Benar, kita harus beke—"


Belum sempat Salvia menyelesaikan perkataannya, Haikal sudah maju lebih dulu dengan Soul Saber yang telah aktif di tangannya membuat Salvia maupun Heru terkejut.


"Bukankah itu Haikal? Finalis yang baru saja bertanding beberapa waktu lalu?"


"Dia maju sendirian? Bukankah dia terlalu percaya diri?"


"Kalian berdua terlalu banyak berbicara, jangan remehkan dia!"


Anggota Blackout bertipe Wizard berseru keras terhadap dua rekannya. Meskipun secara sekilas Haikal hanyalah calon Blazer biasa, pertandingannya melawan Edward serta Jack diakui oleh banyak Blazer sebagai pertarungan hebat. Menganggap remeh lawan seperti itu akan berakibat buruk bagi mereka.


"Kami tidak meremehkannya," ujar salah satu anggota Blackout yang menggunakan Soul Arc berbentuk kapak.


"Tapi, sekuat apapun calon Blazer kelas satu mustahil bisa menembus kerja sama tiga Blazer tingkat Intermidate yang hampir mencapai Advance," tambah anggota Blackout tipe Warrior lainnya. Dia menggunakan Soul Arc berwujud pedang pendek.


Haikal nyatanya tidak mempedulikan percakapan mereka bertiga, dia hanya fokus mengalirkan sejumlah energi jiwa pada kakinya. Haikal segera menendang lantai melesat ke depan begitu cepat hingga menghilang dari pandangan ketiga anggota Blackout tersebut.


Haikal kemudian muncul tepat di depan lawan pengguna kapak dengan posisi tubuh sedikit merunduk, "Aku tidak tahu apa yang kalian inginkan dari kami, tapi jika kalian menghalangiku maka aku tak akan segan."


Anggota Blackout pengguna kapak terbelalak mendapati Haikal yang mendadak muncul di depannya, dia ingin mengayunkan kapaknya membelah Haikal, namun sayangnya pemuda itu justru bereaksi lebih cepat.


Haikal tanpa ragu melayangkan sebuah tebasan pedang cahayanya pada lengan lawan, hasilnya musuhnya itu tidak bisa lagi memegang Soul Arc ataupun memberi perlawanan berarti, mengejutkan semua yang ada di sana tak terkecuali Salvia dan Heru, "Pertama satu orang."


"Jangan besar kepala dulu, bocah!" Anggota Blackout pengguna Soul Arc pedang tidak terima rekannya dikalahkan dalam sekejap, dia lalu menerjang ke arah Haikal sekuat tenaga.


"Hentikan! Jangan menyerang secara gegabah!" Anggota Blackout tipe Wizard berseru keras memperingatkan rekannya, namun semua sudah terlambat.


Zraat!!


Bukan sang anggota Blackout yang berhasil menyarangkan serangan, justru sebaliknya, kedua lengan yang memegang pedangnya melayang ke udara selama beberapa saat sebelum jatuh ke lantai.


"Wuaaa! Tanganku!" jerit anggota Blackout pengguna pedang. Dia meraung keras merasakan kesakitan yang tak wajar.


Haikal sedikit terganggu pada suara jeritan itu, jadi dia memberikan sebuah tendangan yang cukup kuat hingga menghempaskan anggota Blackout tersebut menuju tembok sekaligus membuatnya pingsan.


"Dua orang," gumam Haikal sesudah memastikan anggota Blackout barusan tak mengeluarkan suara keras lagi. Dia lalu mengalihkan pandangannya menuju anggota Blackout yang tersisa, memberikan sebuah sorot mata tajam nan dingin.


Anggota Blackout tipe Wizard itu mengucurkan keringat dingin dan melangkah mundur tanpa sadar, tetapi belum sempat dia mengatakan ataupun berbuat sesuatu, Haikal mendadak muncul di depannya dan melayangkan tendangan keras tepat di ulu hatinya.


Dalam sekejap ketiga Blazer Intermidate anggota Blackout yang hampir mencapai tingkat Advance itu terkapar tak sadarkan diri oleh Haikal.