Absolute Soul

Absolute Soul
56. Tamparan Terkeras



"Tidak ada masalah berarti pada lengan kananmu," jelas dokter yang memeriksa lengan Haikal di rumah sakit. Dia menjelaskan lengan kanan Haikal hanya mengalami putus di beberapa otot yang tidak parah, tak butuh waktu terlalu lama untuk disembuhkan.


"Baiklah, terima kasih." Haikal segera mengenakan pakaiannya kembali begitu dokter selesai menjabarkan kondisinya.


Dokter tersebut memberikan beberapa pil penahan rasa sakit kepada Haikal dan menyarankan agar tidak terlalu banyak bergerak menggunakan lengan kanannya untuk beberapa waktu agar penyembuhannya menjadi lebih cepat.


"Jadi, bagaimana hasilnya?" Tanya Heru begitu melihat Haikal keluar dari ruang pemeriksaan.


"Tidak parah, beberapa ototku hanya putus. Masalah yang tak terlalu besar," ujar Haikal tidak lagi merasa begitu kesakitan seperti sebelumnya.


Haikal sudah meminum Red Liquid yang diberikan Veindal beberapa waktu sebelumnya, baik rasa sakit maupun cedera yang dialaminya sudah tidak begitu berat sehingga tak menghalangi aktivitasnya.


Red Liquid sendiri merupakan semacam ramuan penyembuh khusus yang diproduksi menggunakan bahan-bahan tertentu yang telah dibudidayakan menggunakan energi jiwa sehingga menghasilkan efek penyembuhan dahsyat, sebuah ramuan penyembuh yang dikhususkan untuk Blazer.


Veindal memang hanya memberikan Low-Red Liquid kepada Haikal, tetapi karena cedera Haikal sendiri tidak terlalu parah, ramuan tersebut menyembuhkan hampir seluruh cedera yang baru saja didapatkan.


Setelah percakapan singkat tersebut, Haikal dan Heru pergi menuju ruangan tempat Salvia di rawat. Mereka sudah diberitahukan lokasi ruangannya oleh Veindal sehingga dapat pergi ke sana tanpa dipandu sekalipun.


"Oh, omong-omong Haikal, kau tahu maksud percakapan kepala sekolah dengan si pengguna Knives Drive itu?" Heru tiba-tiba berceletuk masih merasa penasaran terhadap pertukaran ucapan Viendal dan Shear sebelumnya.


Dahi Haikal sedikit mengerut ketika mendengar pertanyaan Heru, dia mengusap dagunya sejenak memikirkan alasan di balik ucapan Veindal, "Apa ini ada hubungannya dengan pergerakan Verg di luar perbatasan?"


Meskipun sebenarnya Veindal berkata akan menjelaskannya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ini, nyatanya Veindal tidak mengatakan apapun yang bersangkutan dengan hal tersebut. Dia selalu mengelak dari pertanyaan itu walau Haikal dan Heru bersikeras bertanya.


Pada akhirnya Haikal dan Heru hanya bisa menyerah menanyakan hal tersebut dan memilih untuk mencari tahu sendiri.


Tanpa terasa keduanya telah sampai di depan pintu ruangan Salvia ketika sibuk memikirkan hal itu, mereka baru sadar saat Veindal tiba-tiba membuka pintu ruangan dengan ekspresi sedikit tak biasa.


"Oh, tepat waktu. Kalian berdua temanilah Salvia selama beberapa waktu dulu. Aku harus menangani situasi darurat," jelas Veindal singkat sembari menepuk pundak Haikal dan Heru sebelum menghilang dari tempatnya berdiri mengejutkan dua pemuda tersebut.


Haikal dan Heru saling memandangi satu sama lain sambil bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang baru saja terjadi?" Mereka menatap ke arah mana Veindal hendak pergi namun yang mereka dapatkan hanyalah lorong rumah sakit biasa.


Haikal menggaruk kepalanya merasa ada yang aneh melihat ekspresi Veindal yang nampak panik dan mengangkat suara, "Yah, apapun itu jika Blazer tingkat Cardinal saja tidak bisa mengatasinya maka kita yang bukan Blazer resmi jelas mustahil membantu."


Heru mengangguk menyetujui perkataan Haikal dan menepuk pundak sahabatnya itu, "Kalau begitu kita turuti saja permintaan kepala sekolah, lagipula tujuan kita kemari untuk menjenguk Salvia."


Haikal memang sedikit khawatir mengenai situasi darurat yang sempat disinggung Veindal beberapa saat lalu, tetapi dia memilih untuk mengabaikan hal tersebut dan mengutamakan kondisi Salvia terlebih dahulu.


Pada akhirnya Haikal mengetuk pintu ruangan beberapa kali, "Salvia, ini aku dan Heru. Kami masuk," ujar Haikal sesaat sebelum membuka pintu dan memasuki ruangan.


"Haikal?! Tu-tunggu sebentar! Jangan masuk dulu!" Terdengar suara Salvia membalas perkataan Haikal, namun nada suaranya sedikit tinggi dan melengking dari biasanya.


Haikal dan Heru sendiri sudah terlanjur memasuki ruangan sehingga mereka terlambat menanggapi suara Salvia yang kini tak mengenakan atasan apapun bersama seorang perawat tengah membasuh punggung seputih porselen milik Salvia.


Haikal segera membatu begitu melihat pemandangan yang tak biasa di depan matanya, sementara Heru yang berada di belakang Haikal sedikit kebingungan mengapa Haikal tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Heru yang berada di belakang Haikal tidak mengetahui bahwa saat ini terdapat gadis cantik berambut putih keperakan dengan tubuh proporsional yang dipuji sebagai salah satu gadis paling cantik seangkatannya di Skymaze tengah bertelanjang dada dan Haikal memandang keindahan tersebut tanpa berkedip.


Beberapa detik berlangsung dalam keheningan sebelum warna wajah Salvia berubah menjadi merah padam dan mengibaskan lengannya sambil berteriak begitu lantang, "Snow Blast!"


Dalam sekejap segumpalan salju tercipta di lingkungan sekitar Salvia dan membentuk sebuah bola salju berukuran cukup besar yang kemudian segera melesat menuju Haikal dengan kecepatan tinggi hingga pemuda itu tidak sanggup menghindar ataupun bertahan.


***


Beberapa saat setelah kejadian yang menghebohkan seisi rumah sakit tersebut, Haikal dan Heru yang telah sadar kini berlutut di lantai sambil mendengarkan ceramah dari perawat yang sebelumnya sedang membantu Salvia membasuh diri.


Perawat tersebut menceramahi keduanya hingga memakan waktu setengah jam—tentu setelah selesai membantu Salvia membersihkan diri, "Jangan pernah masuk ke dalam ruangan seorang gadis sebelum mendapat izin! Kalian mengerti?!"


"Kami mengerti!" Seru keduanya bersamaan tanpa ragu.


"Bagus." Perawat tersebut melangkah pergi setelah mendengar konfirmasi Haikal dan Heru. Sebelum dia pergi, perawat memandang Salvia sejenak dan mengangkat suaranya untuk terakhir kalinya pada hari ini, "Kalau mereka berdua berbuat macam-macam padamu tekan tombol panggilan perawat yang ada di kasur dan aku akan segera datang."


Salvia mengangguk pelan tanpa mengangkat dagu dan memperlihatkan wajahnya yang kini nampak seperti tomat matang.


Perawat tersebut menatap Haikal dan Heru dengan nafsu membunuh sejenak sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, membuat kedua pemuda itu mengucurkan keringat dingin dari seluruh tubuh mereka.


Suasana canggung menyelimuti seluruh ruangan begitu sang perawat pergi, baik Haikal maupun Salvia sama-sama merasa begitu malu dan bersalah.


Heru yang menyaksikan semua itu kemudian menepukkan tangannya menarik perhatian Haikal dan Salvia, "Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara kalian, tapi...." Heru mengeluarkan setangkai bunga plastik dari tas punggungnya dan memberikan bunga tersebut kepada Salvia seakan dirinya adalah kekasih Salvia, "Selamat atas kesembuhanmu, Salvia."


"A-ah, terima kasih, Heru." Salvia menerima bunga tersebut sambil tersenyum masam dengan sebuah kalimat tergiang di benaknya, "Tapi, aku masih belum sembuh total."


Di sisi lain Haikal mengerutkan dahinya merasa tidak senang terhadap tingkah Heru yang terlihat tengah mengakrabkan diri dengan Salvia. Seketika itu pula sebuah ide jahat terbesit di benak Haikal.


Dia mengambil ponsel miliknya dari saku dan tanpa ragu memotret pemandangan di depannya tersebut membuat baik Heru dan Salvia terbelalak hebat, terutama Heru yang melotot penuh keheranan ke arah Haikal.


"Oh, bagus juga hasil potret ini," ujar Haikal memeriksa foto yang dia ambil barusan sebelum melirik Heru dengan sebuah senyuman penuh makna, "Bagaimana jika Verna melihat foto ini, ya, Heru?"


Wajah Heru segera berubah menjadi begitu pucat seperti kehilangan seluruh darahnya setelah mendengar perkataan Haikal, bahkan bernafas pun dirinya berhati-hati. Dia segera bersujud di depan Haikal, "Maafkan aku! Tolong jangan perlihatkan foto itu kepada Verna atau aku akan dibunuh!"


"Bagus, sekarang turuti semua perkataanku mulai sekarang," ucap Haikal berkacak pinggang merasa puas. Dia lalu berjanji selama Heru menuruti perkataannya, dirinya tidak akan memperlihatkan foto tersebut kepada Verna.


Heru ingin menghela nafas lega ketika Haikal berjanji demikian, namun belum sempat dirinya melakukan itu Haikal kembali mengangkat suaranya, "Aku tidak mau tahu jika dia sendiri yang mengetahuinya."


Sesaat setelah Haikal menyelesaikan perkataannya wajah Heru berubah menjadi lebih pucat sebelum menoleh ke arah pintu masuk dan menatap sepasang manik mata ungu cerah nan indah yang nampak dipenuhi 'kobaran api' tak kasat mata.


Di sana terlihat sesosok gadis cantik jelita berambut ungu yang dikuncir dua tengah membunyikan jari-jemari kedua tangannya menatap Heru begitu tajam.


Benar, gadis tersebut adalah Verna Galvoria, sosok gadis yang merupakan kekasih Heru.


Verna sedikit menengadahkan dagunya tanpa melepaskan pandangan tajamnya dari mata Heru, "Ikut." Dia pun berbalik dan melangkah pergi setelah berkata demikian.


Biarpun suaranya terdengar pelan dan lemah, Heru tidak bisa menentang ucapan Verna sehingga dia hanya bisa mengekori Verna dari belakang dengan ekspresi penuh penyesalan seolah satu patah kata tersebut merupakan tamparan terkeras seumur hidupnya.


"Sudah berkali-kali kuperingati kau masih saja bersikap begitu," ujar Haikal pelan menggelengkan kepalanya merasa Heru memang pantas dihukum oleh Verna, "Kau terlalu meremehkan perasaan Verna, Heru."


Pemandangan kemudian berganti dari punggung Heru yang telah menghilang kini menjadi sosok sepasang pemuda-pemudi berseragam sama seperti Haikal.


Sang pemuda berparas tampan lengkap dengan mata biru serta rambut kuning pirang mencoloknya, sementara sosok gadis berambut hijau malu-malu kucing di belakangnya mengikuti.


Mata Haikal melebar sesaat sebelum berganti menjadi waspada, "Mengapa kau kemari, Jack?"