
Kekalahan Salvia mengejutkan banyak orang, terutama para penggemar Salvia yang berdiri di sisi terdepan arena area penonton. Salvia merupakan salah satu jenius yang dijagokan menang dalam turnamen ini, namun siapa yang menyangka sosok tersebut justru malah gugur di babak perempat final?
Gugur di sini bukan bermakna 'gugur' selamanya, tetapi gugur dalam pertandingan. Salvia tidak bisa bertanding lagi di babak ini.
Meski banyak yang telah menduga Edward memiliki kekuatan yang begitu besar, ternyata kekuatan Edward berhasil melampaui semua ekspetasi mereka. Walau cara bertarungnya tidak menunjukkan sikap layaknya seorang lelaki, tetap saja tidak ada yang berani menyangkal kekuatannya, terutama para wakil Guild yang hadir.
Sebagian besar Blazer tahu mengenai keberadaan dan sulitnya mencapai Awakening, namun apa yang mereka lihat hari ini bukan hanya satu melainkan dua orang telah mencapai tingkatan tersebut, bahkan keduanya belum resmi menyandang nama Blazer.
Bakat? Kerja keras? Tidak, Salvia dan Edward ini telah melampaui banyak Blazer dalam hal tekad meski bukan Blazer resmi.
Awakening merupakan sesuatu yang bisa didapatkan semua orang selama orang tersebut memiliki tekad baja dan keyakinan tanpa kenal menyerah, tetapi tentunya tidak semua orang memiliki hal itu.
Tekad adalah sesuatu yang didapat dari komitmen tinggi, disiplin keras, usaha yang sulit dibayangkan oleh orang awam.
Dua orang calon Blazer mampu mendapatkan Awakening walau belum menjadi Blazer resmi? Jika berita ini sampai ke dunia per-Blazeran internasional maka banyak Blazer yang akan kehilangan kepercayaan dirinya.
Seusai nama Edward diumumkan sebagai pemenang petugas medis segera mendatangi Salvia yang terlempar menabrak dinding arena, sementara Edward membalikkan badannya berniat melangkah pergi meninggalkan arena selepas menyudahi perubahan Awakening-nya.
"Hei... dia...."
"Gadis ini bercanda?"
"Dia masih bisa bangkit setelah menerima serangan telak sekuat itu?"
Belum sempat petugas medis mencapai tempatnya, terlihat sosok Salvia yang berusaha keras berdiri menegakkan tubuhnya. Sosok Salvia yang nampak belum menyerah setelah dihajar sampai babak belur begitu membuat semua penonton terkejut, tak terkecuali Haikal yang saat ini melebarkan matanya tak percaya.
"Salvia...." Haikal menutup mulutnya secara spontan entah mengapa. Tubuhnya bergemetar tak percaya menyaksikan sosok Salvia yang terlihat sangat tidak ingin kalah. Meski Haikal tidak tahu, ia mengetahui ada alasan penting bagi Salvia hingga berdiri dengan kondisi tubuh seperti itu.
Semuanya tertegun tak mempercayai keinginan Salvia ingin memenangkan pertarungan begitu kuat hingga mengabaikan cederanya, padahal cedera yang dialaminya bukanlah cedera ringan. Namun kejutan itu tidak berlaku bagi Edward.
"Masih ingin bertarung? Hebat juga." Edward mendengus pelan menyadari Salvia belum kalah sepenuhnya, ia pun menghentikan langkah dan membalikkan badan menghadap Salvia, "Yah, sebagai sesama orang yang mencapai Awakening aku memahami perasaan tak ingin kalahmu."
Edward kemudian menghentakkan kakinya ke lantai dan menciptakan sebuah gundukan es besar menghantam Salvia dari bawah, "Tapi, kau juga harus tahu tentang perbedaan kekuatan dan kapan harus menyerah!"
Tindakan Edward yang tiba-tiba menyerang Salvia yang seharusnya sudah kalah mengejutkan semua penonton, melebihi segala sesuatu yang telah mengejutkan mereka sebelumnya.
"Apa-apaan dengan anak itu? Dia minta didiskualifikasi?"
"Menghajar lawan yang sudah dinyatakan kalah? Apa ini diperbolehkan?"
"Hei pengacara, hentikan ini!"
Para penonton mulai melontarkan protes atas perbuatan Edward yang terlihat sungguh tidak manusiawi, namun hal itu tidak menghentikan pemuda berambut putih keperakan tersebut untuk menyerang Salvia.
Tanpa mempedulikan cacian dan protes para penonton, Edward terus melayangkan serangan demi serangan dengan esnya menghatam tubuh Salvia yang telah penuh luka. Hal itu membuat seluruh penonton yang menyaksikannya semakin mengutuk perbuatan Edward.
Sang pengacara sudah berkali-kali meminta Edward menghentikan tindakannya dan menyuruh Blazer keamanan bergerak menghentikan Edward, namun hal tersebut ditolak dengan alasan sederhana.
Sejak Turnamen Penyambutan dimulai tidak pernah disebutkan sekalipun bahwa keluar dari lantai area pertarungan merupakan syarat kekalahan. Menang atau kalahnya seseorang hanya ditentukan dengan hilangnya salah satu kesadaran peserta atau pernyataan menyerah dari salah seorang peserta, tidak ada yang lain.
Pengacara turnamen tidak bisa membalas dan berhenti menyuruh Edward menghentikan tindakannya setelah diberitahukan hal tersebut, namun para penonton tidak bisa diam saja meski peraturan berkata demikian.
Perbuatan Edward memang tidak melanggar peraturan pertandingan apapun, tetapi penonton merasa Edward telah melanggar semangat turnamen yang seharusnya merupakan pertandingan persahabatan, bukan pertandingan saling membunuh.
Veindal yang menyaksikan semua itu hanya bisa terduduk diam di ruangannya, meremas kuat pangkuan tangan pada kursinya hingga remuk terus berusaha menahan diri agar tidak ikut campur pada pertandingan tersebut.
Biarpun Veindal tahu putrinya sedang disiksa habis-habisan oleh pemuda bernama Edward Ghaetas itu, Veindal paham bahwa pertandingan masih berlanjut jika salah satu peserta belum menyerah ataupu kehilangan kesadarannya.
Jika Viendal nekat turun ke arena dan menghentikan tindakan Edward, maka jabatannya sebagai kepala sekolah bisa dipertanyakan berbagai pihak karena pilih kasih, mengingat Salvia merupakan anak semata wayangnya.
"Kepala sekolah...." Salah satu guru yang ada di satu ruangan bersama Veindal merasa iba melihat reaksi Veindal yang begitu menahan diri. Jika menyaksikan anaknya disiksa sedemikian rupa di depan wajahnya sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa, ia mungkin akan bereaksi sama.
Biarpun mendapat cemohan dan hinaan sebanyak apapun, Edward tetap tidak menghentikan serangannya terhadap Salvia. Tidak hingga gadis itu jatuh lemas dan kehilangan kesadarannya atau menyerah.
"Gadis ini keras kepala juga," gumam Edward dalam hati melihat Salvia yang tidak berniat menyerah, namun hal itu tidak membuatnya berbelas kasihan. Justru Edward menjadi semakin bengis menyerangnya.
Dalam gempuran serangan es tersebut tidak sekalipun Salvia mengeluarkan erangan atau menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Bukan karena kehabisan tenaga, melainkan dirinya memang tidak ingin menyerah.
Edward terus menyerang Salvia selama beberapa menit ke depan membuat sebagian penonton memalingkan pandangannya tak kuat melihat pemandangan tersebut, sementara beberapa penonton kehilangan kesadarannya karena beberapa alasan. Beberapa tidak kuat menyaksikan pemandangan menyedihkan ini, beberapa lagi kekurangan oksigen berkat seruan para penonton lainnya.
Semakin lama menyerang energi jiwa Edward semakin berkurang, namun hal tersebut tidak membebaninya. Yang lebih membebani Edward saat ini adalah keteguhan hati Salvia yang begitu kukuh tak ingin menyerah, membuat Edward merasa begitu kesal.
"Sudahlah menyerah saja, gadis sialan!" Bersamaan dengan seruan tersebut Edward mengerahkan satu es besar menghantam Salvia dengan kuatnya hingga kembali menghempaskan tubuh gadis itu menabrak dinding arena.
Selepas mengerahkan satu serangan besar itu nafas Edward menjadi sedikit tidak beraturan, namun ia masih baik-baik saja. Edward menarik nafas panjang mengatur nafasnya dalam sekejap, lalu berbalik melangkahkan kakinya hendak meninggalkan arena.
"Mau... kemana... kau....?"
Suara lirih tersebut menghentikan langkah Edward, membuat pemuda tersebut menoleh ke belakang dengan mata terbelalak lebar.
Di sana terlihat jelas sosok Salvia yang bersusah payah berdiri bersama tubuh bermandikan peluh serta luka-luka lecet, tak sedikit pula bercak merah darah mewarnai pakaiannya, "Pertandingan... belum usai...."
Meski tubuhnya terluka begitu parah, pandangan mata Salvia tidak senada. Dapat terlihat semacam kobaran api pada matanya, mengandung kesan mendalam bagi semua yang melihatnya.
Merasa terhina oleh pandangan mata tersebut, Edward kemudian kembali mengaktifkan Awakening-nya dan menciptakan sebuah es biru tua kehitaman raksasa nan padat yang dilemparkannya menuju Salvia, "Jangan sok kuat, gadis sialan!"
Salvia sudah kehabisan energi jiwa dan stamina untuk menahan ataupun menghindari serangan ini. Mau sekeras apapun dirinya berusaha bertahan, tanpa kekuatan dirinya tetaplah kalah. Salvia menyadari hal tersebut.
"Sampai di sini, ya?" Salvia memejamkan matanya bersiap menghadapi benturan terakhir sebelum kehilangan kesadaran dan kalah. Terlihat setetes air mata menuruni pipinya, "Maaf, ibu...."
Beberapa saat berikutnya ketika Salvia sudah siap menerima kekalahannya, serangan tersebut tidak kunjung datang menghantam tubuhnya. Bukan serangan maupun hantaman es yang datang kepadanya, tetapi sebuah suara seperti pecahan sesuatu yang besar dan sambaran petir terdengar di telinganya.
Ketika Salvia membuka matanya penasaran apa yang terjadi sampai serangan Edward tidak kunjung menghantamnya, ia melihat sesosok bayangan memunggungi dirinya tepat berjarak selangkah darinya membuat Salvia terbelalak hebat, "Hai... kal...?"
---
Author
Terima kasih atas dukungan dan bantuan yg pembaca telah berikan di chapter sebelumnya, pertama-tama itu dulu.
Saya di sini ingin mengingatkan saja bahwa cerita apapun yg saya tulis tidak memiliki jadwal up tetap. Saya menulis dan update sesuai mood saja, jadi sebisa mungkin tolong jangan dimintai update, ya.
Saya tahu meminta update itu salah satu bentuk dukungan dari pembaca sekalian bagi kebanyakan author, tapi bagi saya hal itu malah menjadi beban.
Saya senang pembaca menyukai cerita saya dan antusias menunggu update selanjutnya, namun sekali lagi tolong jangan meminta update karena itu hanya akan menambah beban cerita saya.
Saya menulis untuk kesenangan saya sendiri, bukan untuk pembaca, tetapi jika pembaca ingin membaca dan ikut menikmati ya silahkan, jika tidak ya silahkan melangkah dan mencari cerita lain, saya tidak keberatan kok.
Saya lebih suka sedikit pembaca yg mengerti saya daripada banyak pembaca yg minta update tapi tidak memberi dukungan.
Dukungan yg saya maksud bukan semacam 'semangat Thor, up terus' dan lain-lain, tetapi dukungan yg saya suka + meningkatkan semangat saya itu seperti mendeskripsikan bagaimana atau seberapa sukanya anda terhadap cerita saya.
Saya lebih senang + menghargai komentar yg benar-benar 'mengomentari' cerita, misalkan semacam "Haikal kok lemah bener, kapan kuatnya?", "gimana kalau Salvia mati, Thor?" atau pertanyaan-pertanyaan yg mengundang diskusi karena terlihat benar-benar memperhatikan isinya, bukan hanya membaca semata.
Hmm, sepertinya saya sudah terlalu banyak curhat di sini. Baik, saya cukupkan saja sampai sini dulu curhatannya.
Ingat ini bukan ancaman atau sejenisnya, hanya mengingatkan dan memberitahu pembaca tentang saya itu bagaimana kok.
Jadi yah, intinya selama anda tidak menganggu cara saya menulis, maka tidak ada masalah antara saya dengan anda.
Ha'i, sayonara!~
TTD Galih Gates