
Pernyataan tantangan Haikal kepada Edward menggema ke seluruh arena, sekali lagi mengejutkan semua yang hadir di sana, tak terkecuali Heru maupun Veindal yang berada di dekat pemuda tersebut.
Memang sebelumnya terdapat pernyataan tantangan di turnamen ini sebelumnya, yaitu Jack menantang Haikal bertarung di babak final nanti saat pertandingan babak penyisihan, tetapi gejolak dua tantangan ini terasa begitu berbeda.
Jika Jack menantang Haikal karena ingin bertarung dalam rangka persahabatan dan tidak terlihat ada dendam di antara keduanya, maka tantangan Haikal yang ditujukan kepada Edward ini membuat semangat para penonton terbakar begitu hebat.
Pertandingan persahabatan yang hanya diisi persaingan semata itu sudah biasa, namun kelihatannya Turnamen Penyambutan kali ini tidak akan seperti itu.
Terlihat jelas dalam tantangan yang ditujukan Haikal benar-benar mengandung dendam dan semangat ingin bertarung habis-habisan, sesuatu yang sulit dilihat pada turnamen manapun.
Tantangan tersebut disambut seringgaian tipis nan sinis oleh Edward, "Kau ingin membalaskan dendamnya?"
Balasan Edward memancing kehebohan penonton karena nampak begitu menganggap remeh sebuah pembalasan dendam, tetapi Haikal tetap terlihat tenang tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pemuda berambut putih itu, "Tidak, aku akan menghancurkan harga dirimu di tempat ini." Jari Haikal menurun, namun tidak dengan kemarahannya.
Edward mendengus pelan tidak menganggap Haikal adalah lawan tandingnya, kemudian tersenyum lebar, "Belatung jelata sepertimu bisa apa? Belatung ya merayaplah di tanah, jadilah makanan bagi kami para burung-burung."
Telinga Haikal memang memanas mendengar balasan Edward yang terdengar tidak tahu malu padahal saat ini dirinya dimusuhi oleh hampir semua penonton, namun Haikal tetap berusaha menenangkan dirinya agar tak termakan provokasinya.
"Kepala sekolah, apakah boleh pertandingan selanjutnya adalah pertarungan kami?" Tanpa memalingkan pandangannya dari Edward, Haikal menanyakan itu pada Veindal yang masih berlutut berdiam diri di lantai area pertarungan, "Jika bisa tolong berikan obat-obatan pada Edward agar energi jiwa dan tenaganya pulih."
Pernyataan Haikal itu sekali lagi mengundang keterkejutan banyak orang, para wakil Guild di ruangannya pun tidak percaya terhadap apa yang dikatakan Haikal barusan, terlebih lagi Edward sendiri.
"Aku tahu dia berusaha membalaskan dendam Salvia, tapi bukankah ini kelewatan?"
"Dia ingin mati, ya?"
"Meskipun aku tidak menyukai sikap Edward, pemuda bernama Haikal ini kelihatannya terlalu percaya diri karena lawan-lawannya selama ini dapat dikalahkan dengan mudah."
Para penonton berdiskusi membicarakan kebodohan atau keberanian Haikal. Padahal Edward bisa memojokkan Salvia yang merupakan salah satu jenius di generasinya sampai sebegitu parahnya, bagaimana calon Blazer yang bahkan belum mampu membangkitkan Soul Arc dapat mengimbanginya?
Butuh beberapa saat bagi Veindal memperoleh kesadarannya kembali menanggapi pernyataan Haikal, "Kau tak masalah dengan itu?" Ia terlihat begitu heran dengan permintaan Haikal.
"Ya, aku takkan bisa mengalahkannya jika dia tidak dalam kondisi prima." Tangan Haikal mengepal erat menahan perasaan ingin menghajar pemuda di depannya ini.
Heru yang mendengarnya ingin menghentikan tindakan sahabatnya itu karena tahu seberapa besar kekuatan Edward yang dirasa mustahil untuk dikalahkan Haikal, namun bibirnya hanya terbuka sedikit dan lidahnya kaku. Semua kata-katanya berhenti di tenggorokan.
Sebagai sahabatnya Heru mengetahui berbagai macam hal yang pernah dialami Haikal, ia tahu sekarang ini Haikal takkan bisa dihentikan oleh siapapun, bahkan dirinya sekalipun mustahil meski Heru ingin menghentikannya.
"Baiklah, sebagai kepala sekolah pertandingan kali ini adalah pengecualian." Veindal mengatur nafasnya sebelum berdiri dan melantangkan hal tersebut, membuat banyak pihak mempertanyakan keputusan Veindal yang terkesan tidak adil.
Awalnya Edward tidak terima atas permintaan Haikal yang mencoreng harga dirinya, tapi tekanan dari Veindal membuatnya tidak bisa membantah.
Pada akhirnya Edward mengonsumsi beberapa pil pemberian akademi yang dapat mengembalikan energi jiwa dan staminanya dalam waktu singkat, sementara Haikal duduk bersila di atas lantai area pertarungan mengatur nafas meningkatkan efesiensi penggunaan energi jiwanya selagi menunggu Edward siap.
Karena metode pernafasan ini sepertinya tidak diketahui oleh siapapun selain Haikal, para penonton dan wakil Guild hanya bisa terheran-heran tak mengerti apa yang sebenarnya Haikal lakukan.
Hanya butuh beberapa menit saja bagi Edward memulihkan seluruh energi jiwa dan staminanya dengan bantuan pil-pil tertentu, saat itu juga Haikal memutuskan untuk menyudahi meditasi pengaturan nafasnya dan berdiri.
"Anda yakin, kepala sekolah? Membiarkan hal seperti ini?" Saat Veindal kembali ke ruangannya salah satu pengajar segera mempertanyakan hal itu, mengingat dengan keputusan ini posisi Veindal sebagai kepala sekolah bisa goyah.
Pengajar tersebut tidak paham dengan kata-kata Veindal jadi ia memutuskan untuk mengamati Haikal lebih cermat. Hanya butuh beberapa detik bagi pengajar itu menyadari apa yang dimaksud Veindal, "Ini...."
Pria paruh baya berambut putih itu hanya mengangguk pelan mengonfirmasi keraguan pengajar itu sembari menghela nafas, "Bahkan aku yang merupakan orang paling dekat dengan putriku pun tidak bisa bereaksi seperti itu."
Meski masih tidak percaya sepenuhnya, pengajar itu akhirnya memutuskan untuk diam dan menyimak pertandingan yang akan dimulai sesaat lagi.
Di lantai area pertarungan saat ini berhadapanlah Edward dan Haikal, dua pemuda yang terus mengejutkan penonton sejak penampilan perdana mereka di babak penyisihan lalu.
Salah seorang jenius di antara jenius pada generasinya, sementara satu orang lagi merupakan 'kuda hitam' terbaik yang berhasil mencapai semi final tanpa Soul Arc. Pertandingan yang sangat dinantikan oleh banyak orang.
"Kau akan kuhabisi tanpa ampun seperti gadis sialan itu." Edward mendengus kesal, benar-benar marah karena merasa direndahkan setelah dipaksa mengonsumsi obat-obatan yang dapat memulihkan energi jiwa dan staminanya padahal lawannya hanyalah seseorang tanpa Soul Arc.
"Kau tak perlu melakukan itu, biar aku yang melakukannya padamu." Merasa tak ingin kalah Haikal juga membalas, membuat darah Edward semakin memenuhi kepalanya.
Beberapa saat setelah keduanya saling cekcok ringan, tanda dimulainya pertandingan diumumkan oleh sang pengacara yang segera disambut hangat oleh Edward maupun Haikal.
Tanpa basa-basi Edward menciptakan ratusan keping es seukuran bola bisbol yang segera dilemparkan menuju Haikal berniat menjatuhkan mental lawannya dengan memperlihatkan seberapa besar perbedaan kekuatan di antara mereka, namun hal itu tidak berpengaruh bagi Haikal.
"Kau pikir jurus selemah ini bisa menjangkauku?!" Sambil berseru Haikal mengibaskan tangan kanannya sekuat tenaga menghempaskan udara di sekitarnya sekaligus seluruh kepingan es Edward yang melesat menujunya, mengejutkan semua orang.
Beberapa wakil Guild di ruangan mereka pun sampai berdiri menyaksikannya. Serangan es Edward yang levelnya setara dengan Blazer tingkat Expert itu dihalau begitu mudahnya hanya dengan kibasan tangan? Itu harusnya sulit dilakukan di tingkat SMA seperti ini.
Dahi Edward mengerut hebat mendengar keluhan Haikal, "Kau yang meminta, belatung hina!" Ia kemudian menghentakkan kakinya pada lantai menciptakan belasan bebatuan es dari bawah menuju Haikal.
Menanggapi serangan Edward yang begitu terlihat meremehkannya, Haikal menarik nafas dalam-dalam dan mendorong tinju kanannya sekuat tenaga memukul udara, menghancurkan semua bebatuan es tersebut dalam seketika, "Air Smash!"
Edward sedikit tertegun tak percaya melihat esnya begitu mudah dihancurkan oleh Haikal, tetapi tentu saja sebagai bangsawan yang memiliki harga diri tinggi Edward tidak membiarkan hal itu terjadi terus-terusan.
Edward memejamkan matanya sesaat berkonsentrasi pada energi jiwanya menciptakan sesosok es humanoid setinggi tiga meter tanpa kaki bersenjatakan sabit es raksasa di belakangnya, lalu memerintahkan sosok es itu mengayunkan sabit esnya membelah Haikal.
Namun belum sempat Edward memerintahkannya, Haikal tiba-tiba muncul di hadapannya dengan kepalan tinju yang hanya berjarak beberapa milimeter dari pipinya.
Braakk!!
Pukulan Haikal mendarat dengan telak di pipi Edward, menghempaskan pemuda berambut putih tersebut menembus sosok es humanoid di belakangnya sampai menghantam dinding arena, membuat sisi dinding tersebut mengalami keretakan hebat.
"Khh...." Edward mengerang kesakitan di dinding tersebut merasakan kekuatan pukulan Haikal, namun ia masih tetap menyangkal kekuatan orang yang dipanggilnya 'belatung jelata' tadi.
Di sisi lain Haikal yang belum menerima satupun serangan Edward mengeluarkan tekanan yang luar biasa kuat, bahkan dapat terlihat oleh orang awam aura merah kehitaman menyelubungi tubuh Haikal, "Lawan aku sekuat tenaga dan akan kuhancurkan seluruh kekuatan serta kebanggaanmu itu, bangsawan baji-ngan!"
---
Author
Fast updatenya sampai sini aja dulu, authornya tepar ngegas 3 chapter dari tadi malam