Absolute Soul

Absolute Soul
101. Situasi Benteng Muara



Setelah kondisi Haikal membaik, Jack memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Adele distrik timur dengan Shear yang tak sadarkan diri terbelenggu oleh rantai sihir.


Mereka kedatangan beberapa Verg sebagai lawan namun beruntungnya Verg-Verg ini tidak lebih kuat dari Normal-class dan jumlahnya paling tinggi hanya mencapai lima ekor setiap kali bertemu sehingga masih dapat diatasi tanpa banyak kesulitan.


"Apa aku akan terus berdiam diri di tengah seperti ini? Bukankah aku harusnya berada di barisan terdepan?" Haikal menggerutu tidak senang atas posisinya saat ini.


"Kau sadar atas perkataanmu itu, Haikal?" Verna menoleh pada Haikal menatap pemuda tersebut dengan pandangan tajam.


Haikal membuang muka tidak berani menjawab, pandangan tajam nan dingin Verna sudah lebih dari cukup untuk menciutkan nyali Haikal. Biarpun terlihat anggun layaknya gadis bangsawan pada umumnya, Verna adalah gadis yang penuh emosi. Salah sedikit saja bisa menyebabkan ceramah yang tak ada habisnya.


Keadaan Haikal memang sudah membaik berkat kemampuan penyembuh Jade Phoenix Cecil, tetapi bukan berarti dia dapat langsung bertarung setelah pulih. Tubuhnya masih jauh dari kata prima, terutama sesudah menggunakan Black Karma.


Berbeda dari sebelumnya yang mana Haikal menggunakan Black Karma dalam skala kecil untuk menghabisi Verg serta anggota Blackout di sekitar akademi demi membukakan jalan bagi Salvia dan Heru, kali ini Haikal menggunakan teknik tersebut dalam skala besar.


Jika perlu diperumpamakan sebelumnya Haikal hanya menggunakan tidak lebih dari 10% kekuatan Black Karma dan energi jiwanya, namun ketika menghadapi Shear dia memaksa tubuhnya menerima kekuatan Black Karma hingga kurang lebih 50% dari seluruh kekuatannya.


Biarpun 50% belum seberapa dan masih jauh dari 100%, dalam kasus Haikal jika lebih besar dari itu maka tubuhnya tak dapat menahan besarnya peningkatan kekuatan Black Karma dan berakhir mengalami cedera yang bukan sekedar sakit semata, bahkan kematian bukanlah hal mustahil.


Maka dari itu demi mencegah Haikal bertarung agar pemulihannya berjalan lebih cepat, dia ditempatkan pada titik tengah formasi kelompok bersama Verna dan Salvia di sampingnya, sementara Heru berada di baris depan seorang diri.


Haikal menghela nafas menyadari dirinya tidak dapat berbuat banyak.


Haikal memang tidak terima dengan posisi dan gerakannya yang dibatasi, tetapi mau tak mau dia harus menuruti perkataan Verna. Bukan hanya karena dia tidak dalam kondisi prima, tapi juga tatapan tajam dari Verna yang segera menyiutkan nyalinya.


Dalam perjalanan Haikal dan lainnya melihat banyak sekali bekas pertarungan, mulai dari bangunan yang hancur, bercak darah yang tak terhitung jumlahnya, serta tubuh manusia ataupun Verg yang tak lagi bernyawa.


Verna dan Cecil yang terlihat terganggu dengan jasad-jasad di sana nampak pucat, mereka menahan mual dan berusaha memalingkan pandangan sepanjang jalan, sementara Haikal, Jack, Heru, dan Salvia seolah tak melihat apa-apa.


Awalnya Verna ingin bertanya penyebab sikap mereka yang tidak bermasalah melihat pemandangan mengerikan itu, tapi dia segera teringat mengenai kejadian dua tahun lalu yang membuat Haikal dan Heru menyaksikan peristiwa serupa atau mungkin lebih mengerikan.


Untuk Jack sendiri Verna bisa sedikit banyak memahami masa lalu pemuda tersebut, lalu dalam kasus Salvia dia kehilangan ibunya di usia yang cukup muda. Mungkin itulah yang membuat Salvia tidak terlalu terganggu terhadap kondisi lingkungan sekitar yang biasanya mustahil ditemukan di balik dinding kota.


Sekilas Cecil memang tidak begitu nyaman melihat mayat manusia ataupun Verg yang bertebaran di sana-sini, terutama saat membagi indranya dengan Jade Phoenix, namun bukan berarti kewaspadaannya menurun.


"Dinding pertahanan bagian muara sudah terlihat dan nampaknya mereka tidak mengalami kerusakan berarti," ujar Cecil memandang dari jauh melalui mata Jade Phoenix, "Mereka juga sedang bertempur melawan Verg dari darat dan laut!"


Jack mengangguk pelan mendengar perkataan Cecil sebelum menarik selembar kartu dari tumpukan Forbidden Magic Card-nya. Kartu tersebut segera melebur menjadi butiran partikel dan terserap ke dalam tubuh Jack.


"Salvia, Verna, siapkan serangan jarak jauh dengan jangkauan terluas kalian. Kita harus mengurangi sejumlah Verg dari darat," ujar Jack yang kini menciptakan puluhan hingga ratusan tombak sihir melayang di atas langit menarik perhatian Verg serta Blazer lain di kejauhan.


Salvia dan Verna tidak membantah, mereka segera mengerahkan kekuatan penuhnya masing-masing. Salvia dengan Awakening disertai pemusatan energi jiwa, Verna menggunakan wujud Elemental Dress yang belum pernah diperlihatkan.


"Awakening : Snow Valkyrie!"


"Elemental Dress : Purple Wolf!"


Rambut putih Salvia perlahan berubah warna menjadi merah muda diikuti oleh iris matanya yang kini berwarna serupa, sedangkan Verna terlihat mengenakan jubah ungu cerah panjang hingga mencapai tumit disertai kuku jemarinya yang sedikit memanjang hingga membentuk cakar kecil. Pupilnya juga sedikit memanjang membentuk mata hewan buas berwarna ungu.


Salvia menciptakan sejumlah besar salju berwarna merah muda yang kemudian dikerahkan menuju gerombolan Verg di depan benteng dalam bentuk pusaran angin salju, sementara Verna memusatkan energi jiwa pada kedua tangannya sebelum dilempar ke langit dan terbelah menjadi ribuan jarum kecil.


"Niflheim Magenta Blizzard!"


"Purple Pack Rain!"


Bersama pusaran angin salju Salvia yang mengarah pada puluhan Verg di depan sembari mengoyak semua yang menghalangi jalannya, ribuan jarum ungu Verna menghujam Verg-Verg tersebut dari atas dan memberikan sengatan listrik kejut pada setiap makhluk hidup yang terkena.


Para Blazer yang tengah bertempur di benteng terkejut melihat serangan berskala luas yang tak terduga dari dalam kota, mereka ingin segera mewaspadai sumber serangan tersebut tetapi belum sempat mereka bereaksi terdapat serangan lain menghujam Verg dari arah yang sama.


"Magic Javelin Rainfall!" seru Jack sesudah menjentikkan jari, melesatkan tombak-tombak sihirnya.


Puluhan hingga ratusan tombak hijau keemasan meluncur dari langit layaknya hujan deras menyerang setiap Verg di sana, terutama Verg yang berada di luar jangkauan serangan Salvia dan Verna.


Jeritan demi jeritan terdengar keras dari setiap mulut Verg yang terluka, namun seakan tak membiarkan para Verg melakukan serangan balasan, Jade Phoenix milik Cecil di udara mengibaskan sayapnya melepaskan gelombang api hijau panas terhadap Verg yang masih bertahan.


Serangan gabungan keempatnya berhasil menghabisi sebagian besar Verg Normal-class ke bawah, tetapi Verg di atas kelas Normal masih dapat berdiri walau mengalami cedera di beberapa tempat.


"Blazer tipe Wizard memang paling cocok untuk melawan sejumlah besar Verg seperti ini," komentar Haikal sembari mengusap dagu menyaksikan daya hancur jurus gabungan Jack, Verna, Salvia, dan Cecil, "Bukankah begitu, Heru?"


Heru mengangkat alisnya mendengar komentar Haikal, "Kau yakin ini saat yang tepat untuk berkomentar?" Dia lalu menunjuk sejumlah Verg yang terluka mulai berlari mendekati mereka.


"Tidak ada salahnya mengomentari betapa dahsyatnya jurus mereka, kan?" Haikal tersenyum kecut sembari mengangkat bahu sebelum mengaktifkan Soul Saber dan mengambil kuda-kuda bertarung.


Heru menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap sahabatnya itu, namun di saat yang sama dirinya juga ingin mengomentari serangan dahsyat yang seharusnya mustahil ditemukan di tingkat calon Blazer meski berupa serangan gabungan.


"Kalian bisa menangani mereka semua?" Jack bertanya dengan nafas terengah-engah kehabisan energi jiwa, para gadis juga tak kalah lelahnya setelah melepaskan serangan sekuat dan seluas barusan.


Jack mengetahui meskipun para Verg ini terluka, bukan berarti Haikal dan Heru dapat mengatasi semuanya hanya dengan berdua saja, apalagi jumlahnya tidak sekedar sejumlah jemari tangan.


Haikal menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Jack, "Mustahil mengatasi puluhan kelas Normal hanya dengan kami berdua saja, jadi sebaiknya kalian mulai mengonsumsi pil pemberian Kak Sakuya untuk memulihkan energi jiwa kalian secepatnya."


"Aku tak ingin membuat kalian terburu-buru, tapi bantu kami dari belakang sebisa mungkin," tambah Heru seusai mengeluarkan dan mengenakan Twin Kong.


Jack mengangguk pelan sebelum mengeluarkan sebuah kantung berisi pil, dia mengambil satu dan menyerahkan kantung tersebut kepada Verna, "Cepat ambil dan makan, kita tidak punya banyak waktu untuk memulihkan diri."


Verna segera mengikuti arahan Jack dan mengambil sebuah pil lalu menelannya dalam sekali teguk sebelum memberikan kantung itu pada Salvia dan mulai duduk berkonsentrasi memulihkan energi jiwa.


Hal itu terus berulang hingga kantung jatuh ke tangan Cecil.


Haikal menarik dan menghembuskan serangkaian nafas sejenak demi meningkatkan konsentrasi dan tekanan energi jiwa, sorot matanya menjadi begitu tajam seiring bercak hitam Black Karma menyebar hingga ke sebagian tubuhnya, "Kau siap, kawan?"


"Kau bertanya padaku atau pada dirimu sendiri?" Heru tertawa mengejek, kemudian ikut meningkatkan tekanan energi jiwa dan mengambil posisi bertarung. Aura cokelat kehijauan meluap menyelimuti tubuhnya.


Haikal mengalirkan sejumlah energi jiwa pada Soul Saber dan bersiap mengayunkan pedangnya, sementara Heru mengonsentrasikan energi jiwanya pada satu tinjuan, lalu menendang tanah melesat ke depan dan melepaskan serangan bersamaan menghempaskan sejumlah Verg sekaligus.