
Awakening, sebuah istilah yang merujuk pada 'kebangkitan' seorang Blazer bersama Soul Arc. Kebangkitan di sini bukan berarti bangkit dan mengalahkan kematian, melainkan bangkitnya kekuatan dan potensi yang terpenam dari seorang Blazer.
Awakening merupakan suatu kejadian yang mana ketika seseorang berhasil mencapai tahap ini, maka kekuatan jiwanya akan meningkat jauh dari sebelumnya serta terkadang diikuti kemampuan Soul Arc bermutasi menjadi sesuatu yang berbeda dari yang selama ini diketahuinya.
Tahapan ini biasanya juga diikuti oleh perubahan pada penampilan fisik Blazer, contoh paling umumnya adalah rambut dan mata mereka berubah warna, seperti yang terjadi pada Salvia saat ini.
Keberadaan Awakening bukanlah rahasia, namun tak banyak yang mengetahui karena tahapan ini bukanlah sesuatu yang sering dijumpai dalam dunia per-Blazeran.
Awakening hanya bisa dicapai oleh Blazer yang bertekad mencurahkan segalanya untuk suatu alasan tertentu yang berharga baginya, sebuah kekuatan terpendam yang tertidur di dalam diri setiap orang.
Benar, Awakening sebenarnya dapat dicapai oleh semua Blazer, tetapi tidak banyak manusia yang memiliki ketetapan hati sekeras baja bahkan di dunia per-Blazeran sekalipun. Salvia merupakan salah satu dari orang-orang ini.
"Awakening : Snow Valkyrie." Rambut dan iris mata Salvia telah berwarna merah muda sepenuhnya, hal itu dapat disaksikan dengan jelas oleh semua orang baik yang hadir di arena maupun menonton di rumah.
Ketika Edward masih terpana dengan perubahannya, Salvia tanpa basa-basi langsung mengerahkan sejumlah besar salju merah mudanya menyerang pemuda berkemampuan es tersebut.
Kesadaran Edward kembali ketika Salvia melancarkan serangan. Ia segera membentuk dinding es seperti sebelumnya untuk menahan salju Salvia, namun berkat peningkatan kekuatan dari Awakening dinding es buatan Edward tak bisa menahan terjangan salju tersebut, menghancurkan manusia es raksasa pelindung Edward dan melempar pemuda itu beberapa meter ke belakang.
"Salju bisa mengalahkan es?!"
"Ini... peningkatan yang tidak biasa...."
"Peningkatan kekuatan Salvia pasti ada hubungannya dengan perubahan pada warna rambut dan iris matanya."
Sebagian besar penonton dan murid yang hadir di sini tidak tahu keberadaan Awakening, berbeda reaksinya dari perwakilan Guild-Guild kecil maupun besar. Mereka berdiri dengan mata terbelalak lebar tak bisa mempercayai perubahan Salvia, sementara Haikal maupun Heru bereaksi tak jauh berbeda dari para perwakilan Guild.
"Hei, bukankah itu Awakening? Apa kita sedang bermimpi? Haikal, jawab aku...." Heru menarik-narik lengan pakaian Haikal meminta penjelasan merasa dirinya sedang bermimpi.
Haikal tak bisa menjawab ataupun melihat reaksi Heru, ia sendiri sibuk terpana oleh kekuatan luar biasa yang belum pernah Salvia tunjukkan sampai saat ini. Ia memahami Salvia memiliki kekuatan yang luar biasa kuat karena bukan hanya sebagai seorang jenius sejak lahir, Salvia juga tidak bermalas-malasan dalam latihan.
Baik Heru dan Haikal mengetahui keberadaan Awakening yang sebenarnya tak banyak diketahui orang-orang. Mereka sudah berlatih dan bertujuan menjadi Blazer sejak lama sehingga cukup aktif mencari tahu informasi mengenai dunia per-Blazeran, karena itulah Awakening bukanlah sesuatu yang baru bagi mereka.
Namun untuk menyaksikan secara langsung dengan mata kepala sendiri, apalagi orang yang mencapai Awakening ini adalah gadis yang telah menghabiskan waktu sebulan penuh berlatih bersama, keduanya tak bisa mempercayai hal ini begitu saja.
Di sisi lain Edward yang merupakan lawan Salvia terlihat kesal. Sejak turnamen ini dimulai dirinya belum terkena serangan karena kekuatan dan kemampuannya yang handal, tentu sebagai seseorang yang memiliki harga diri tinggi sepertinya tak bisa menerima penghinaan ini.
Meski merasa begitu kesal Edward paham bahwa ini adalah pertarungan, bukan latihan dengan boneka jerami, "Bagus juga, Snow Princess." Edward kemudian menghentakkan kaki menciptakan bongkahan es tajam besar satu persatu menuju Salvia berniat membalasnya.
Salvia menghembuskan uap nafasnya di dalam manusia saljunya dan mengerahkan kaki salju raksasanya menghancurkan seluruh es Edward tanpa terkecuali, membuat pemuda itu dan para penonton terbelalak hebat.
Sebelumnya Salvia tak terlihat memiliki kesempatan menghadapi es Edward, namun sekarang posisinya terbalik? Bagaimana bisa ada perubahan alur pertandingan secepat ini? Setidaknya itulah yang dipikirkan banyak orang.
Edward dan Salvia masih terlihat saling menyerang menggunakan kemampuan mereka masing-masing, namun dapat dilihat serangan Edward tidak begitu berguna melawan salju Salvia yang telah mengalami Awakening, bahkan Edward sampai dipaksa terus bertahan saking kuatnya serangan-serangan Salvia.
"Heh, lumayan juga untuk seseorang yang mampu mencapai Awakening sebelum menjadi Blazer resmi," ujar Edward mengatur nafasnya yang mulai liar berkat pertukaran serangan cepat yang intens sebelumnya.
Salvia sendiri masih terlihat baik-baik saja, berbeda dari sebelum dirinya memasuki Awakening yang nampak kesulitan dan susah payah menahan serangan Edward, "Aku takkan membiarkanmu mengambil nafas." Ia kemudian kembali menyerang dengan saljunya bertubi-tubi tanpa mempedulikan kata-kata Edward.
Salvia sadar bahwa Edward berusaha mengulur waktu untuk mengatur nafas, maka dari itu ia terus menyerang membuat Edward terus menghindar atau menahan serangannya menggunakan es, menguras tenaga Edward lebih banyak lagi.
Sudah sekitar dua puluh menit semenjak pertarungan keduanya dimulai, tetapi tak ada satupun dari Edward maupun Salvia yang berniat mengalah. Sisa waktu tinggal sepuluh menit, jika dalam waktu itu tak ada yang menang ataupun kalah maka pertarungan dinilai seri dan akan diadakan babak tambahan untuk menentukan pemenang dari pertandingan ini.
Kalau saja tidak ada dari Edward atau Salvia yang menang dan kalah, maka akan sulit keduanya untuk melanjutkan pertandingan selanjutnya karena kondisi mereka tidaklah prima.
Setelah beberapa waktu terus menghindar dan menghemat energi jiwa, Edward bisa melihat usahanya membuahkan hasil.
Nafas Salvia mulai berantakan, energi jiwanya sudah di ambang batas, kecepatan dan kekuatan saljunya tidak lebih baik dari sebelumnya, bahkan beberapa kali menghentikan serangannya. Hal ini membuat mata Edward berbinar.
"Kau sudah di ambang batas, bukan?" Saat serangan Salvia sepenuhnya terhenti senyum lebar nan angkuh Edward kembali melengkung di bibirnya, sadar energi jiwa Salvia sudah hampir habis, "Menyerah sajalah, dengan begitu aku takkan melukaimu lebih jauh."
Salvia tidak membalas perkataan Edward melainkan fokus mengatur nafas dan mengembalikan energi jiwa, namun Edward tidak sebaik itu menunggu Salvia memulihkan diri. Edward mengangkat tangannya dan melayangkan beberapa tombak es, "Frost Javelin."
Salvia berdecak kesal menyadari tak bisa memulihkan tenaga maupun energi jiwanya, ia kemudian mengangkat saljunya menangkap tombak-tombak es tersebut meredam daya dorong dan menghancurkannya menjadi keping-keping seperti memecahkan gelas kaca.
Senyum Edward semakin mengembang merasa dirinya sudah menang, sementara ekspresi kesal dapat terlihat menghiasi paras Salvia. Beberapa penonton juga kesal terhadap sikap Edward yang tak mencerminkan sikap lelaki, namun tak ada yang berani melayangkan protes.
Edward adalah bagian dari keluarga Ghaetas, salah satu bangsawan dari kerajaan Wileshia. Salah berbicara sedikit saja maka taruhannya bukanlah satu nyawa saja, tetapi keluarga mereka bisa terkena imbasnya.
Selain itu berbicara yang tidak-tidak dapat menimbulkan perselisihan dengan keluarga Ghaetas, lalu dapat memicu pertikaian antar negara yang bisa berujung dengan perang. Tentu tak ada yang menginginkan hal itu terjadi.
"Baiklah, aku akan memberimu hadiah karena telah berhasil menyudutkanku sampai di sini." Edward memejamkan matanya berkonsentrasi pada energi jiwanya menciptakan kesempatan besar bagi Salvia.
Meskipun harga dirinya sebagai Blazer keluarga Volksky menolak mengambil kesempatan ini, keinginan Salvia untuk menang lebih besar dari harga dirinya. Salvia pun mengubah manusia salju raksasanya menjadi sejumlah besar salju berwarna merah muda dan mengangkatnya ke atas, lalu membentuk puluhan—tidak, ratusan tombak salju dengan energi jiwa yang tidak sedikit.
"Hei hei, kau bercanda, bukan?"
"Bukankah gadis ini terlewat jenius?"
"Membuat ratusan tombak seperti ini bisa dibilang menyamai kemampuan Blazer tingkat Expert...."
Seluruh orang yang menyaksikan kemampuan Salvia tidak bisa berhenti berdecak kagum. Bagaimana tidak? Di usia belasan tahun saja sudah memiliki kemampuan setingkat Blazer Expert, bagaimana perkembangannya dalam sepuluh tahun ke depan?
Memang membuat ratusan tombak salju ini membutuhkan waktu dan energi jiwa yang tidak sedikit, namun Salvia yakin usahanya akan terbayarkan. Bersama keyakinan tersebut Salvia kemudian melemparkan seluruh tombak saljunya kepada Edward yang masih memejamkan matanya, "Snow Edge Rain!"
Ratusan tombak salju tersebut segera melesat cepat menuju Edward yang tak menunjukkan tanda-tanda hendak melawan seperti sedang menyerah, namun tepat sebelum tombak-tombak salju Salvia menyentuhnya sebuah ledakan tekanan energi jiwa besar menghempaskan semua tombak itu, membuat seluruh orang yang menyaksikan pertandingan terbelalak hebat.
Salvia sendiri jauh lebih terkejut dari semua penonton. Dirinya yakin ratusan tombak itu berisi kekuatan penuhnya, namun ledakan energi jiwa dari Edward mampu menghancurkan serangannya dalam sekejap? Itu suatu hal yang mustahil bagi Salvia percayai.
"Ada apa, Snow Princess? Perlawananmu sudah selesai?" Suara Edward terdengar pelan dan tenang, namun mampu membuat tubuh Salvia merinding.
Di sana terlihat Edward tengah berdiri tegap melipat tangannya di depan dada seolah tak terjadi apapun sebelumnya, tetapi ada yang berubah pada dirinya. Rambutnya yang semula berwarna putih bersih sekarang berubah menjadi biru gelap, sementara iris matanya berwarna merah padam.
Tubuh Salvia bergetar hebat melihat perubahan penampilan Edward, terutama aura biru gelap tipis yang membawa kesan mencengkam di sekitar tubuh Edward baginya.
Menyaksikan tanggapan Salvia yang nampak dipenuhi ketakutan, Edward melengkungkan senyum tipis pada bibirnya, "Apa kau pikir hanya dirimu yang mampu mencapai Awakening?"