Absolute Soul

Absolute Soul
38. Haikal vs Edward II



Pukulan demi pukulan yang dilayangkan Haikal pada Edward begitu menggema di penglihatan maupun benak para penonton. Bagaimana tidak? Kekuatan es Edward setara dengan Blazer resmi tingkat Expert, bukankah itu artinya Haikal memiliki tenaga fisik yang melampaui Blazer Expert?


Bagi kebanyakan Blazer yang seringnya bergantung pada Soul Arc masing-masing, memanipulasi dan mengendalikan energi jiwa dengan baik itu sulit dilakukan sehingga begitu menyaksikan kekuatan Haikal yang di luar dugaan sungguh mengejutkan mereka.


Rumor bahwa Haikal merupakan calon Blazer dengan Soul Arc berwujud pedang memang bukanlah rahasia, tetapi mencari tenaga yang sebanding dengan Haikal di generasi dan tingkatannya sepertinya hampir mustahil jika bukan para jenius.


"Apa dia ini jenius tersembunyi? Bahkan Salvia tidak berhasil sekali pun mendaratkan serangan telak pada Edward!"


"Tidak mungkin dia bukan jenius jika mampu menghancurkan dan menghempaskan calon Blazer setingkat Expert di usia ini."


"Tapi, bukankah dia belum membangkitkan Soul Arc-nya? Rasanya sulit menyebutnya jenius jika belum bisa memanggil Soul Arc-nya sendiri."


Kekuatan Haikal yang luar biasa di usia dan tingkatannya mengundang diskusi para penonton dan wakil Guild, namun selain para wakil Guild tak ada yang berani berdiskusi dengan suara keras mengingat lawannya adalah Edward Ghaetas, keturunan keluarga bangsawan Ghaetas di kerajaan Wileshia sana.


Sementara para penonton berdiskusi kecil-kecilan, di area pertarungan Haikal sedikit terkejut dengan kekuatannya sendiri namun tidak diperlihatkan. Bagaimanapun juga Haikal hanya melatih fisik menggunakan energi jiwa yang menurutnya takkan memberi perubahan yang begitu berarti, tetapi kenyataan berkata lain.


Ketika berlatih selama sebulan sebelum turnamen dimulai, Haikal memang banyak menahan kekuatannya agar Salvia dan Heru tidak menanyakan itu, tapi untuk menguji kekuatannya yang sesungguhnya itu permasalahan yang berbeda.


"Sepertinya selain menambah stamina dan energi jiwa, tubuhku menjadi lebih kuat dalam menampung lebih banyak energi jiwa sehingga kekuatannya melebihi dugaanku," gumam Haikal berusaha memahami tubuhnya sendiri.


Sejak awal energi jiwa memiliki tenaga dan kualitas yang jauh berbeda ketimbang tenaga dan stamina fisik, jadi ketika energi jiwa mengisi kekurangan tenaga pada tenaga fisik kekuatannya sangatlah kuat, setidaknya dua sampai lima kali lipat lebih kuat dibanding kekuatan fisik murni.


Pada dasarnya tubuh manusia memiliki batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh otak agar menjaga organ-organ dalamnya, namun dengan melapisi organ dalam tersebut dengan energi jiwa untuk memperkuatnya maka otak dapat melepas pembatas tersebut dan memberikan kekuatan yang melebihi nalar.


Tetapi dalam pertarungan sesungguhnya sulit untuk menjaga konsentrasi perlindungan pada organ-organ dalam tubuh dengan energi jiwa, sehingga kebanyakan Blazer memutuskan melatih tubuh sampai ke tahap tertentu untuk menekan pengeluaran energi jiwa tersebut.


Selain dapat memperkecil pengeluaran energi jiwa melatih tubuh juga dapat menambah kapasitas energi jiwa yang dialirkan ke dalamnya, sehingga semakin banyak energi jiwa maka semakin kuat pula kekuatan yang bisa didapatkannya. Itulah sebabnya hampir semua Blazer tipe Warrior dan Rogue memiliki tubuh besar dan atletis.


Kondisi tubuh Haikal sendiri sedikit berbeda dari Blazer tipe Warrior dan Rogue biasanya, tapi jika harus dijelaskan maka 'evolusi' merupakan kata yang paling tepat untuk menggambarkannya.


Selagi Haikal terkagum-kagum atas kekuatan barunya, Edward telah pulih dari keterkejutannya dan menyerang Haikal sekali lagi menggunakan ratusan kepingan esnya. Namun lagi-lagi Haikal dapat mengatasinya dengan memanipulasi angin di sekitarnya menggunakan kekuatan semata, membuat Edward begitu murka.


"Kau sudah keterlaluan, belatung jelata." Meski sekilas Edward nampak marah, ternyata Edward masih mampu mempertahankan akal sehatnya dan akan menyerang Haikal tanpa peduli apapun, "Kuberi kau hadiah sebagai jelata pertama yang berhasil memukulku!"


Seusai mengatakan itu tubuh Edward mengeluarkan semacam aura biru tua kehitaman yang kasat mata disertai suhu di sekitar menurun drastis, lalu aura tersebut perlahan-lahan membeku dan membentuk sesosok manusia es raksasa setinggi dua setengah meter tanpa tubuh bagian bawah.


Pada saat itu juga rambut Edward berubah menjadi biru gelap sementara iris matanya yang semula berwarna biru cerah berubah menjadi merah padam. Edward telah memasuki perubahan Awakening-nya.


"Hmm, lebih cepat dari yang kuduga." Haikal sedikit terkejut melihat perubahan Awakening Edward yang ternyata jauh lebih cepat dari perkiraannya, padahal Haikal mengira dirinya akan kewalahan dan kehabisan nafas lebih dulu sebelum Edward mengaktifkan Awakening-nya.


Untuk mengatasi hal ini Haikal mengalirkan lebih banyak energi jiwa ke seluruh tubuhnya demi meningkatkan kekuatan dan kecepatan sampai ke batas aman yang dapat diterima tubuhnya, lalu memasang kuda-kuda bertarung tangan kosong.


"Kalau begitu kekuatan fisikku lebih unggul." Haikal kemudian melesat menerjang angin menuju Edward hendak memukulnya seperti sebelumnya, namun tanpa diduga-duga manusia es besar di belakang Edward bergerak menahan serangan Haikal.


Biarpun Haikal sudah meningkatkan kekuatannya lebih dari sebelumnya, nyatanya kekuatan tersebut belum cukup untuk menghancurkan es hitam hasil Awakening Edward.


Haikal segera melompat mundur menyadari serangannya tidak bekerja, namun Edward tidak sependapat. Edward dengan cepat memerintahkan manusia esnya menangkap Haikal yang kakinya berhasil tertangkap, lalu tanpa membuang waktu Edward melemparkan Haikal sekuat tenaga menghantam dinding arena, mengguncangkan seisi stadium.


"Huh, Ice Guardian sudah cukup untuk mengalahkan belatung jelata sepertimu." Edward tersenyum penuh kemenangan dan melepaskan perubahan Awakening-nya sekaligus menghancurkan manusia esnya seusai melempar Haikal, beranggapan pemuda tersebut telah kalah di saat itu juga.


Ketika Edward sudah merasa menang dan mulai berbalik melangkah meninggalkan area pertarungan, suara Haikal terdengar lantang ke seluruh penjuru arena, "Apa hanya segini kekuatan Edward Ghaetas yang agung itu?"


Berkat seruan tersebut langkah Edward terhenti dan seketika itu juga Edward kembali memasuki perubahan Awakening-nya, lalu berlari penuh kemarahan menuju sumber suara tersebut, "Belatung sialan!"


"Bukankah kau terlalu lengah?" Karena tertutupi oleh kemarahannya yang membludak, Edward tak menyadari bahwa Haikal sudah berada tepat di bawah bayangannya. Tanpa membuang waktu Haikal mendorong tinju kanannya sukses menghantam dagu Edward dengan telak.


Berkat pukulan tersebut tubuh Edward terangkat beberapa senti ke udara, namun Haikal tak memberinya jeda. Pemuda berambut hitam itu segera memutar tubuhnya dan menyarangkan tendangan tumit berputar pada perut Edward, membuat lawannya terpelanting dan terseret di atas lantai beberapa meter ke belakang.


"Ughhh.... Belatung sialan...." Edward meringis di atas lantai sambil memegangi perutnya yang kesakitan hendak berdiri, tetapi Haikal lagi-lagi maju dan memberikan tendangan telak pada dagunya, membuat tubuh Edward terhempas ke belakang beberapa langkah.


Haikal tidak menggunakan energi jiwa dalam tendangan barusan, hanya tenaga fisik semata. Dia tidak mau Edward kehilangan kesadaran terlalu cepat hanya karena tubuhnya terlalu lemah terhadap kekuatan fisik.


Blazer tipe Wizard seperti Edward seringnya tidak melatih tubuh mereka karena mengandalkan serangan sihir dari Soul Arc-nya sehingga tubuh mereka lemah terhadap serangan fisik. Bagi Edward musuh terburuknya adalah tipe petarung jarak dekat yang dapat dengan cepat menutup jarak, seperti yang dilakukan Haikal barusan.


Erangan Edward terdengar begitu kesakitan walau hanya ditendang dengan kekuatan fisik semata—dengan kekuatan fisik Haikal yang sudah sangat terlatih tentunya.


"Berengsek.... Beraninya kau menghajarku seperti ini!" Edward berteriak keras penuh kemarahan, lalu menyentuh lantai membekukannya dengan cepat, "Frozen Ice Field!"


Persebaran es biru kehitaman tersebut begitu cepat sampai-sampai Haikal tidak bisa bereaksi, memerangkap kaki Haikal dengan es dalam sekejap. Jika kaki Haikal membeku maka sulit baginya untuk menghindar atau melakukan serangan balasan, mengingat kaki merupakan salah satu bagian terpenting dalam ilmu bela diri.


Edward terkikik pelan sembari bangkit dari posisi tersungkurnya di lantai menyadari kali ini Haikal akan menerima semua serangannya tanpa bisa menghindar. Ia kemudian menciptakan tombak es berkapaknya, "Setelah membuatku seperti ini, kau harus kubunuh dengan tanganku sendiri, belatung jelata sialan!"


Dengan nafsu membunuh yang besar Edward mendorong tombaknya menghujam tubuh Haikal, namun Haikal juga tidak bodoh menyerah hanya karena kakinya terperangkap es. Ia dengan cepat menangkap mata tombak Edward menggunakan tangan kirinya yang telah dilapisi energi jiwa.


"K-kau...." Dahi Edward mengerut hebat mengetahui Haikal menangkap bilah tombak yang tajam hanya dengan tangan kosong, tak terkecuali para penonton yang menyaksikannya. Edward tidak pernah menduga Haikal menangkap bilah es tajam tersebut.


Tanpa berpikir lebih panjang Haikal menarik tangan kanannya dan memukul udara sekuat tenaga disertai sejumlah energi jiwa mengarah pada Edward, menghempaskan pemuda tersebut terguling di lantai beberapa meter ke belakang.


"Air Smash... kau tidak lupa dengan teknikku yang ini, bukan?" Haikal mengangkat alisnya keheranan, mengapa Edward yang terkenal jenius itu bisa melupakan hal sesepele ini?