Absolute Soul

Absolute Soul
7. Usaha yang Tak Berarti



"Aku kehabisan energi?" Tanya Haikal terheran-heran ketika mendengar dirinya pingsan saat sesi percobaan memanggil Soul Arc.


"Kau terlalu tenggelam dalam konsentrasimu, bukan?" Andre memastikan kondisi Haikal sebelum pemuda itu mengonfirmasi pertanyaannya dengan anggukan.


Memang benar kondisi Haikal nampak sangat lemah dan tak bertenaga, tapi mengapa hal ini bisa terjadi?


"Memakai otak dalam berbagai macam hal akan lebih melelahkan dibanding beraktivitas secara fisik, hal ini juga berlaku pada kekuatan jiwa. Semakin lama dan dalamnya kamu berkonsentasi, semakin banyak pula energi jiwamu yang terserap." Andre kemudian menjelaskan bahayanya penggunaan kekuatan jiwa yang berlebih.


"Kekuatan jiwa sebenarnya adalah kekuatan pikiran, mental kita sebagai manusia yang bisa dimanipulasi dengan perasaan dan sugesti. Setiap manusia memiliki kapasitas dan kuantitas energi jiwa yang berbeda-beda."


Andre melirik Salvia, Edward, dan Anna yang menurutnya memiliki kuantitas energi jiwa tertinggi di kelas sebelum melanjutkan penjelasan, "Dengan menggunakan energi jiwa, kita bisa melewati batas manusia normal dan memanggil Soul Arc, tetapi semua itu ada bayarannya."


Andre bangkit berdiri mengarahkan pandangannya pada seluruh murid didiknya.


"Kekuatan jiwa dan Soul Arc adalah pedang bermata dua bagi kita manusia. Ketika kita terus menggunakan energi jiwa kita sampai ke batas dan habis tak bersisa, maka energi kehidupan kita yang akan menjadi gantinya. Contohnya seperti yang terjadi pada Haikal." Andre menutup sesi penjelasannya.


Sementara para murid terpusat kepada Haikal, pemuda yang menjadi perhatian itu menundukkan kepalanya sambil merenungkan sesuatu dalam hatinya, "Memangnya sensasi memanggil Soul Arc seperti itu, ya?"


"Pak, saya ingin bertanya." Karena tidak mau dikuasai rasa penasarannya, Haikal pun mengangkat tangannya menatap Andre.


Pria muda berusia sekitar 20-an dengan rambut cokelat kehitaman itu sedikit terkejut dengan reaksi Haikal yang jauh dari perkiraannya. Ia memprediksi kalau pemuda tersebut akan menjadi ketakutan atau bahkan mengalami trauma setelah mendengar penjelasannya, namun hal itu sama sekali tak terjadi.


Andre pun mengizinkan Haikal bertanya.


"Saat Bapak memanggil Soul Arc untuk pertama kalinya, sensasi seperti apa yang Bapak rasakan?"


Pertanyaan Haikal mengundang rasa penasaran sekaligus terkejut dari murid lain mengingat belum ada satupun dari mereka yang berhasil membangkitkan Soul Arc sejauh ini, bahkan sesudah berkonsentrasi menanamkan alasan pribadi pada hati masing-masing. Andre pun tidak kalah terkejutnya dengan pertanyaan tersebut.


Andre melipat tangannya di depan dada sambil memegang dagunya berusaha mengingat sensasi yang dimaksud, "Kalau tak salah Bapak merasa tenggelam ke dalam genangan air untuk beberapa saat, setelah itu Bapak dapat melihat wujud Agnov dan langsung meraihnya. Saat meraih Agnov, tahu-tahu Bapak sudah tersadar kembali."


Mendapat jawaban atas rasa penasarannya, Haikal mengangguk pelan. Sensasi yang ia rasakan juga kurang lebih sama seperti pengalaman Andre, tetapi ia belum melihat wujud Soul Arc-nya layaknya penggambaran Andre.


Sebelum rasa penasarannya berkembang, Andre menambahkan penjelasannya, "Semakin dalam dan lama kalian tenggelam dan menemukan Soul Arc kalian, biasanya Soul Arc kalian juga akan semakin kuat. Namun, untuk mengambil Soul Arc itu dibutuhkan energi jiwa yang tak sedikit. Semuanya berbanding lurus."


Haikal mengeratkan giginya ketika mendengar penjelasan Andre selanjutnya. Sebenarnya ia merasa tenggelam cukup lama, tapi untuk sampai menemukan Soul Arc di lautan tak berdasar itu butuh berapa banyak energi jiwa?


Ia sadar bahwa dirinya tidak mempunyai kuantitas energi jiwa karena kekuatan jiwanya tidak begitu besar, lalu bagaimana cara dirinya mendapatkan Soul Arc-nya dengan kondisinya yang seperti ini?


Ia menghela nafas terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Haikal sudah tahu kalau kekuatan jiwa tidak begitu berpengaruh terhadap latihan fisik, tapi apakah energi jiwa bisa dikembangkan lebih jauh?


"Ah, iya, aku baik-baik saja. Kelihatannya energiku memang habis." Haikal mencoba menggenggam tangannya sekuat tenaga, namun dirinya tak bisa mengeluarkan tenaga lebih.


"Lebih baik kau istirahat dulu saja di sini sambil memperhatikan yang lain, mungkin saja kau bisa dapat pembelajaran," bujuk Heru agar sahabatnya itu beristirahat sejenak.


Pemuda berambut hitam pekat itu hanya mengangguk menurut disertai senyuman masam. Ia kemudian mengambil posisi yang nyaman untuk beristirahat di dekat dinding aula. Dari situ Haikal memperhatikan teman-teman sekelasnya berlatih, namun tak ada perkembangan yang begitu berarti dari mereka.


Haikal menghela nafasnya, lalu mengambil kartu siswanya dari saku celananya memperhatikan statistik kekuatan jiwa serta kategori Job yang bisa ia ambil nantinya, "Soul Arc berwujud pedang, ya? Job pasaran."


Benar, Soul Arc milik Haikal adalah pedang, sebuah Soul Arc yang terbanyak di antara kategori Job Warrior lainnya. Meskipun dirinya sudah menduga bahwa ini akan terjadi, Haikal tetap merasa sedikit kecewa mengetahui kebenarannya.


"Dengan jiwa tanpa keistimewaan ini, apakah aku masih bisa menjadi Blazer?" Haikal mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruangan sembari tersenyum.


Meskipun Haikal terlihat seperti orang gila karena tersenyum tanpa alasan, tak banyak yang mengetahui bahwa senyum itu mengandung rasa sedih.


Ketika dirinya melamunkan kemungkinan masa depannya yang buruk, sebuah keributan terjadi di antara para murid kelas 1-A.


"Hebat sekali, Salvia, Anna!"


"Membangkitkan Soul Arc pada hari pertama, hanya jenius yang bisa melakukannya!"


Salvia dan Anna kembali membuat kehebohan di kelas mereka.


Terlihat sebuah kepingan salju biru cerah nan indah yang seharusnya hanya dapat dilihat di bawah mikroskop, sedang melayang di atas tangan Salvia. Hal ini membuat murid-murid terpesona akan keindahan wujud Soul Arc tersebut.


Berkebalikan dari Salvia, Soul Arc Anna yang berbentuk sarung tangan panjang sesiku bermotif kobaran api merah sepanjang lengan bawahnya mengeluarkan kesan bahaya dan intimidatif. Murid-murid lain menelan ludah mengira-ngira di masa depan Anna akan menjadi salah satu Blazer yang disegani di dunia.


Tak lama setelah Salvia dan Anna membangkitkan Soul Arc mereka, Edward dan Heru menyusul di waktu yang hampir bersamaan. Nampak 'percikkan listrik tak kasat mata' ketika keduanya beradu pandang membuat murid lain tidak berani berkomentar dan menjauhi mereka.


Haikal memandang Heru yang sudah membangkitkan Soul Arc-nya dengan tatapan iri disertai rasa kecewa yang mendalam, "Ketika bakat dan usaha keras disatukan akan jadi seperti itu, ya?"


Dada Haikal semakin sesak dan sakit melihat perkembangan sahabatnya yang semakin jauh meninggalkannya. Di saat yang sama rasa khawatir dan gelisah menerjang dirinya memikirkan nasibnya.


"Heru sudah semakin jauh dariku, apa pada akhirnya aku akan ditinggal sendirian di lubang keputusasaan ini?" Haikal bergumam pelan menatap tangan kanannya sambil memasang senyum sedihnya.


Statistik kekuatan jiwanya yang hanya rata-rata, energi jiwa yang tak mampu memanggil Soul Arc, sekarang ada kemungkinan sahabat sejak kecilnya meninggalkan dirinya. Apa lagi yang membuatnya lebih terpuruk daripada ini?


Di saat para murid terus membuat kehebohan, Haikal meringkuk seorang diri di dekat dinding aula, "Usaha yang tak berarti."