Absolute Soul

Absolute Soul
40. Haikal vs Edward IV



Pertarungan sengit antara Haikal dan Edward masih berlanjut. Haikal dengan Soul Saber pinjaman Salvia, sementara Edward dengan tombak es kehitamannya. Keduanya kembali saling melayangkan serangan demi serangan dalam jarak dekat.


Sayangnya dikarenakan jarak jangkauan Soul Saber Haikal dan tombak es Edward berbeda, Haikal hanya terus bertahan tanpa bisa menyerang.


Haikal memang menguasai teknik Void Palm dan Air Smash yang memiliki keunggulan dalam jarak, namun kedua teknik tersebut tidak bisa digunakan dalam situasi penuh tekanan seperti ini. Setidaknya ia harus menciptakan celah minimal satu atau dua detik untuk Void Palm maupun Air Smash.


Void Palm masih mungkin digunakan di bawah tekanan seperti ini karena teknik tersebut terbuat dari energi jiwa murni yang dihempaskan, sementara Air Smash memerlukan ancang-ancang untuk mengumpulkan tenaga dan membuat tekanan udara menjadi media serangan.


Dua teknik ini sebenarnya sudah cukup mengejutkan banyak orang karena sulit direalisasikan jika tidak berlatih dengan tekun, terutama Void Palm. Tetapi sebenarnya Haikal masih menyembunyikan teknik lain, namun Haikal tidak berniat mengeluarkannya mengingat teknik ini dapat menimbulkan kehebohan seperti Void Palm, atau bahkan lebih.


"Tapi, tidak ada cara lain untuk meningkatkan daya serangku selain 'itu'." Haikal menggeretakkan giginya sebelum mementalkan tombak es Edward, lalu menginjak dan menghancurkan lantai sekuat tenaga menciptakan celah.


Braakk!


Dengan celah tersebut Haikal menendang lantai dan mengambil satu langkah jauh ke belakang, berkonsentrasi memustakan energi jiwa pada tangan kirinya, "Harus cepat, Edward tidak mungkin menungguku selesai."


Perlahan-lahan energi jiwa Haikal yang berwarna merah kehitaman berkumpul secara kasat mata di telapak tangan kirinya, lalu membentuk sebilah pedang mirip bilah Soul Saber-nya, hanya saja berwarna merah kehitaman.


"Haikal Alendra!" Sesudah membebaskan diri dari kepulan debu bekas kehancuran lantai yang disebabkan Haikal, Edward segera melesat menuju pemuda tersebut dengan tombak es yang siap menghujam dan kemarahan.


Traaang!


Tombak es Edward berhasil ditangkis oleh Haikal dalam sapuan besar menggunakan Soul Saber, namun hal ini juga menciptakan celah serangan untuk Haikal. Karena itulah sebelum Edward melayangkan serangan lain dengan ujung tombak lainnya, Haikal mengayunkan pedang merah kehitaman di tangan kirinya menebas perut Edward yang tertutup zirah es.


"Arggh!" Tebasan Haikal begitu kuat hingga serangannya berhasil menembus zirah es Edward, membuat pemuda berambut biru tua tersebut terhempas beberapa langkah ke belakang bersama darah segar keluar dari mulutnya.


Di saat yang sama Veindal dan hampir seluruh Blazer yang hadir di arena berdiri seketika memperhatikan pedang berwarna merah kehitaman yang sebelumnya tidak digenggam oleh Haikal, "Dia... bagaimana bisa?"


"Kepala sekolah... ini...." Salah satu pengajar yang berdiri di samping Veindal tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, perhatiannya tersita sepenuhnya pada pedang yang digenggam Haikal.


Veindal sendiri berkeringat dingin menyaksikan hal yang terjadi pada Haikal. Bulu kuduknya seketika merinding dan kerongkongannya secara spontan menelan ludah, "Anak ini bukan jenius lagi...."


Perkataan Veindal tidak berani disela oleh si pengajar karena ia sendiri dapat merasakan kebenaran ucapan pria paruh baya ini melalui mata kepalanya sendiri, pengajar yang lain pun juga tak menyanggah pernyataan tersebut.


"Itu perubahan wujud energi jiwa... salah satu syarat kenaikan tingkat Blazer menjadi tingkat Master. Haikal bisa melakukannya?" Veindal menggosok matanya beberapa kali tak dapat mempercayai penglihatannya, namun dirinya merasa tidak ditipu oleh retinanya.


Pernyataan Veindal memang benar, Haikal dapat melakukan 'perubahan wujud energi jiwa' yang padahal teknik ini merupakan teknik tingkat tinggi yang melebihi Void Palm. Pedang yang digenggam Haikal bukanlah Soul Arc-nya, melainkan pembentukan murni dari energi jiwanya.


Teknik ini merupakan teknik yang memampukan seseorang memanipulasi dan membentuk energi jiwa murni menjadi bentuk lain, sebuah teknik yang menjadi syarat kenaikan Blazer dari tingkat Expert menjadi Master.


Teknik ini mampu dikuasai oleh Haikal seorang diri ketika dirinya berpikir setidaknya ia harus memiliki senjata yang sesuai dengan Soul Arc-nya di turnamen ini, namun pedang biasa tidak mungkin digunakan karena mudah hancur melawan Soul Arc, sementara Soul Device terlalu mahal baginya mengingat keluarga Alendra bukanlah masyarakat kalangan atas.


Meskipun Haikal menjalani latihan yang begitu sulit demi menguasai teknik ini, Haikal merasa puas mengingat kendali energi jiwanya juga terlatih lebih baik dibanding sebelumnya.


Biarpin memiliki kemampuan serta teknik-teknik tingkat atas yang sulit dilakukan oleh Blazer resmi sekalipun, Haikal tidak menjadi besar kepala. Ia paham jelas resiko dari teknik-teknik ini.


"Aku harus cepat menghabisinya sebelum energi jiwaku habis!" Sambil menyemangati diri sendiri dalam hati, Haikal kemudian melancarkan serangan menggunakan dua pedang di tangannya pada Edard. Kali ini serangannya terlihat lebih buas dari sebelumnya.


Penonton awam yang bukan Blazer tidak terlihat heran atau terkejut melihat kemunculan pedang merah kehitaman di tangan Haikal mengingat Soul Arc milik Haikal kabarnya berbentuk pedang, mereka mengira pedang tersebut adalah Soul Arc yang berhasil Haikal bangkitkan setelah sekian lama.


Sementara para penonton berdiskusi mengenai alur pertandingan, para wakil Guild besar maupun kecil berpikir langkah-langkah yang harus mereka ambil untuk merekrut Haikal.


Walau Haikal belum bisa membangkitkan Soul Arc, bakat Haikal dalam hal lain sungguh melampaui pengetahuan normal mereka. Soul Arc bisa didapatkan kapan saja, tetapi bakat tinggi seperti Haikal sulit ditemukan di manapun.


Kalau saja Haikal tahu pikiran para perwakilan Guild ini mengincar bakatnya saja, mungkin dia akan marah besar. Mengingat semua ini ia dapatkan melalui latihan dan kerja keras yang hampir mustahil dibayangkan, dirinya tidak sudi dikatakan berbakat oleh orang lain yang tak tahu kebenarannya.


Di arena Haikal terus maju mengayunkan dua pedang di tangannya membuat Edward beberapa kali terlihat tertekan dan mengambil langkah mundur, nampak juga ekspresi kesal dan terkejut di wajahnya melihat kekuatan Haikal yang jauh di luar dugaannya.


"Frost Wall!" Tak tahan dengan serangan Haikal yang begitu cepat dan intensif, Edward menjejakkan kakinya menciptakan sebuah dinding es biru kehitaman, berniat mengulur waktu agar dirinya dapat mengambil jarak. Namun Haikal tak membiarkannya semudah itu.


Dalam satu ayunan pedang energinya, Haikal membelah dinding es ciptaan Edward tanpa kesulitan, mengejutkan semua yang menyaksikannya.


Seorang rakyat jelata yang namanya tak terdengar positif di masyarakat sebelumnya berhasil menghancurkan es pertahanan bangsawan jenius yang bahkan mencapai Awakening di usia muda? Siapa yang bisa menebak hal ini?


"Terima ini!" Haikal kemudian melepaskan genggamannya pada pedang energinya, lalu mengubah bentuk pedang tersebut menjadi tangan raksasa berwarna merah kehitaman dengan lebar lima meter.


Tanpa basa-basi Haikal segera menjatuhkan tangan raksasa yang terhubung dengan lengan kirinya tersebut menimpa Edward di bawahnya, "Giant Arm!"


Blaaarr!!


---


Author


Hai, kali ini saya ingin mengumumkan sekaligus menanyakan sesuatu, jawab di komentar ya.


Saya ingin mencari ilustrasi (tentu saja ilustrasi anime) beberapa karakter di cerita ini sebagai pembantu pembaca untuk berimajinasi.


Karakter mana saja yg ingin kalian lihat ilustrasinya? Jawab di komentar ya.