
"Hahaha, makan tuh penggaris. Sudah diperingati malah makin jadi," ejek Heru melihat Haikal sedikit kesulitan berjalan.
"Diamlah." Pemuda yang sedang diejek itu tidak bisa membalas ucapan sahabatnya tersebut.
Saat ini keduanya tengah berjalan di lorong sekolah menuju kelas mereka seusai hukuman mereka tuntas. Berbeda dari Heru yang terlihat santai, Haikal menerima 21 pukulan penggaris dari guru pengawas karena mengobrol dengan siswa lain tepat di bokongnya sehingga sulit baginya untuk berjalan normal dalam beberapa waktu.
Walaupun hukuman 21 pukulan penggaris itu terdengar ringan dan seharusnya tidak sakit untuknya, guru pengawas itu menggunakan energi jiwa untuk memperkuat pukulan dan penggarisnya sehingga hukuman yang terlihat ringan tersebut bagaikan hukum pecut bagi seorang siswa sepertinya.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu kekuatan Verna, Heru?" Tanya Haikal membunuh kesunyian.
"Tidak, dia sama sekali tak memberitahukanku apapun mengenai statistik ataupun Soul Arc-nya. Kenapa?" Alis Heru terangkat sedikit mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Mulai sekarang jangan pernah kau membuatnya marah atau kau bisa jadi bubur tomat," cetus Haikal sambil tersenyum masam kemudian membagikan informasi yang ia dapat dari Jack saat di lapangan.
Wajah Heru berubah menjadi pucat pasi ketika mendengar kekuatan Verna, lalu memegang kedua pundak sahabatnya dan menatap matanya dalam-dalam, "Tolong jangan katakan apapun padanya tentang percakapan kita di hari pertama masuk kelas." Ekspresinya benar-benar terlihat seperti orang mati.
"Yah, kalau dia yang tahu sendiri aku tak bertanggung jawab, ya," balas Haikal sedikit bergemetar sambil menunjuk ke belakang Heru.
Saat itu juga Heru merasakan hawa yang tak enak, kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Haikal. Di belakang ia mendapati seorang gadis cantik berseragam sama sepertinya, berambut ungu gelap berkuncir dua, serta manik mata ungu cerah.
"Ha-hai, ve-Verna," sapa Heru terbata-bata tidak bisa berbicara normal melihat gadis tersebut.
"Hai juga, sayang. Aku penasaran, apa yang kau bicarakan dengan Haikal pada hari pertama masuk kelas, ya? Bisakah aku mendengarnya secara empat mata?" Ujar gadis itu sembari tersenyum penuh arti.
Ya, dialah sang Ratu Penyihir yang dimaksud Jack sebelumnya, sekaligus teman masa kecil dari Heru dan Haikal, Verna Galvoria.
"Y-ya, te-tentu." Heru hanya bisa melepas pundak Haikal dan berjalan mendekati Verna yang berada di dekat dinding lorong dengan keadaan pasrah.
Sementara Heru melangkah mendekati nasib selanjutnya, Haikal menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil bergumam, "Semoga rohmu diterima di sisi-Nya."
"Aku mendengarnya!" Seru Heru tak terima ejekan Haikal.
***
Setelah ceramah dan hukuman Heru selesai, ketiganya berpisah menuju kelasnya masing-masing mengingat Verna hanya pergi ke toilet di tengah jam pelajaran yang sedang berlangsung.
Sesampainya di kelas, guru yang sedang mengajar memaklumi Heru dan Haikal karena seisi kelas dapat melihat keduanya dijemur di lapangan dari kelas ini. Itu membuat keduanya sedikit malu ditertawakan seisi kelas.
Sambil menahan rasa malu, mereka duduk di bangku masing-masing dan memperhatikan penjelasan guru di depan, mengingat mereka sudah tertinggal setidaknya satu jam pelajaran.
Menit demi menit berlalu, akhirnya jam istirahat yang ditunggu-tunggu para siswa tiba. Guru tersebut mengakhiri penjelasannya dan pergi meninggalkan kelas, lalu disusul murid-murid yang berniat pergi ke kantin.
Heru pun bangkit berdiri berniat berjalan menuju kantin mengikuti lainnya, "Haikal, kau tak ke kantin?"
"Ah, aku ingin mencari Soul Arc-ku. Aku tak bisa ikut," jawab Haikal tersenyum kecut.
"Baiklah. Apa kau ingin kubelikan sesuatu?" Tanya Heru sebelum melanjutkan langkahnya.
Melihat Heru yang melangkah melalui pintu kelas, Haikal kemudian memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi ke dalam pikirannya, kemudian menyelam ke alam bawah sadarnya mencari Soul Arc-nya.
Perasaan tenggelam terus menerpa Haikal, namun entah mengapa perasaan kali ini begitu berbeda dari sebelumnya. Dirinya tidak merasa tenggelam di dalam air, tetapi kulitnya menangkap sensasi di sekitarnya adalah udara—tidak, lebih tepatnya ruang kosong atau hampa.
Haikal menjadi sedikit panik merasakan sesuatu yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia membuka matanya dan memeriksa keadaan sekitar, namun yang apa yang ia lihat saat ini hanyalah kegelapan belaka.
"Ini...."
Ia memandang tangan serta tubuhnya yang dapat terlihat dengan jelas, tetapi selain tubuhnya tak lagi yang bisa ia lihat. Keadaan aneh ini belum pernah ia rasakan selama ini. Tidak pernah ia dengar ada teman sekelas atau sesekolahnya yang merasakan hal seperti ini.
Haikal sudah bertanya secara detail terhadap Salvia mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan pencarian Soul Arc di alam bawah sadar, tetapi sejauh yang Salvia tahu sensasi tenggelam adalah hal yang paling umum dirasakan setiap calon Blazer. Ini membuat Haikal menjadi bingung.
Di tengah kebingungan itu Haikal memutuskan untuk memejamkan matanya dan mengambil posisi duduk bersila di antara ruang kosong ini, lalu mengatur nafasnya berkonsentrasi pada wujud Soul Arc-nya yang seharusnya berbentuk pedang di alam bawah sadarnya.
Sebenarnya ia tidak begitu yakin bahwa tempat ini adalah alam bawah sadarnya, tetapi jika memang inilah alam bawah sadar yang diciptakan oleh otaknya tanpa sadar, maka seharusnya Soul Arc-nya bisa didapatkan jika dirinya berkonsentrasi.
Selang beberapa menit kemudian semenjak Haikal memutuskan untuk berkonsentrasi penuh, entah mengapa tiba-tiba matanya diserang oleh cahaya yang sangat menyilaukan. Meski matanya masih terpejam, cahaya ini sangatlah terang hingga menembus kelopak mata dan menyilaukan bagi Haikal.
"Apa-apaan...." Haikal bergumam secara spontan membuka matanya.
Sebuah kubus bercahaya putih keunguan yang menyilaukan muncul di depannya. Bukan sesuatu berbentuk pedang atau senjata jarak dekat lainnya, tapi sebuah kubus? Inikah Soul Arc milik Haikal?
Haikal sendiri termenung menyaksikan kubus aneh ini. Ia tidak mengerti, mengapa Soul Arc-nya berbentuk kubus dan bukannya pedang atau semacamnya? Seharusnya Job yang ia miliki berkategori Warrior, namun bagaimana caranya bertarung menggunakan kubus ini?
Ketika mulai berpikir macam-macam, Haikal menggelengkan kepalanya, "Mungkin kristal pendeteksi wujud jiwalah yang salah memperkirakan wujud Soul Arc-ku." Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini meski terdapat kesalahan pada kristal pendeteksi wujud jiwa sebelumnya.
Haikal juga berpikir, mungkin hanya inilah satu-satunya kesempatan di mana ia bisa mendapatkan Soul Arc-nya. Jika bukan sekarang, kapan lagi kesempatan seperti ini datang?
Pada akhirnya ia mengulurkan kedua tangannya mencoba meraih kubus tersebut disertai perasaan ragu. Namun belum sempat tangannya menyentuh kubus itu, tiba-tiba kesadaran Haikal tersedot dan kembali ke dunia nyata.
"Apa yang terjadi?" Mata Haikal membulat ketika membuka matanya, mendapati dirinya telah kembali ke dunia nyata.
Haikal menoleh ke sana-sini memeriksa keadaan kelas, tetapi semuanya nampak tidak berubah. Seolah-olah waktu terhenti ketika dirinya menyelam ke dalam kesadarannya sendiri. Haikal hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dalam situasi kebingungan ini.
Sementara dirinya bingung tidak tahu apapun mengenai kubus di alam bawah sadarnya, matanya mendapati seorang gadis cantik berambut perak dan bermata ungu berdiri di depan mejanya memandangi dirinya. Itu adalah Salvia.
"Ha-hai, s-Salvia." Haikal tersenyum canggung sambil mengangkat tangan kanan berusaha menyapanya, tapi Salvia tak menunjukkan reaksi apapun selain memandang dirinya. Keringat dingin mulai mengalir menuruni dahi dan pipi.
Keduanya menjadi perhatian seisi kelas. Salvia yang merupakan salah satu calon Blazer terkuat di kelas mereka, sementara Haikal yang sampai saat ini masih belum bisa membangkitkan Soul Arc saling bertatapan? Mereka mengira bahwa ada masalah yang serius di antara keduanya.
Selang beberapa saat setelah Haikal menyapanya, Salvia meraih tangan Haikal dan menariknya tanpa mengatakan apapun. Genggaman dan tenaganya sangat kuat, Haikal sendiri sedikit terkejut menyadari betapa dinginnya Salvia kepada dirinya hari ini.
Ia hanya bisa memasang senyum masam dan berharap dirinya masih bisa kembali ke kelas dalam keadaan utuh.