
"Hei Haikal, apa sungguh latihanmu seperti ini?" tanya Heru terengah-engah berusaha mengatur nafasnya.
"Tentu saja, memangnya untuk apa aku membohongimu?" Sambil menanggapi keluhan Heru, Haikal mengusap keringat di dahinya menggunakan handuk yang telah disiapkan sebelumnya.
Setelah mendengar latihan rahasia Haikal, Heru dan Salvia sebenarnya tidak langsung percaya, tetapi mereka mencobanya terlebih dahulu untuk membuktikan apakah itu benar atau tidak. Tentu saja mereka berusaha mati-matian memenuhi target minimal latihan tersebut karena tidak menggunakan energi jiwa, sementara Haikal terlihat baik-baik saja.
Saat ini ketiganya berada di halaman belakang kediaman keluarga Alendra, menyelesaikan jenis pelatihan terbaru mereka. Dapat dilihat Heru tengah berbaring di tanah tanpa tenaga dan Salvia duduk di tangga berusaha mengatur nafas, keduanya nampak begitu kelelahan.
Salvia sebenarnya sangat lelah dan ingin berbaring di tanah seperti Heru, namun harga dirinya sebagai wanita tidak memperbolehkannya, terutama di depan Haikal.
Sementara keduanya terkulai lemas, Haikal duduk bersila di depan kolam ikan dan mulai menenggelamkan kesadarannya sendiri berniat mencari Soul Arc.
"Hei Heru, apa Haikal sungguh belum mendapatkan Soul Arc?" Salvia tidak bertanya tanpa alasan. Sejauh ini Haikal memang sudah berlatih sangat keras hingga memiliki kuantitas dan kapasitas energi jiwa yang jauh dibanding rata-rata calon Blazer seusia mereka, namun dengan energi jiwa sebesar itu sampai sekarang Haikal belum pernah berhasil membangkitkan Soul Arc-nya.
Mendengar pertanyaan itu Heru bangkit dari posisi terlentangnya, lalu menatap Haikal penasaran. Dirinya sudah berteman dengan Haikal bertahun-tahun lamanya sehingga ia bisa mengetahui bagaimana reaksi Haikal jika ia berhasil mendapatkan Soul Arc.
Mengingat latihan yang selama ini dilakukan Haikal bukan hal mudah, Heru tahu benar rasa kekecewaan Haikal ketika mengetahui hanya dia satu-satunya yang belum berhasil membangkitkan Soul Arc. Heru bahkan mengetahui Haikal yang sangat menggilai latihan sempat berputus asa seharian dari Seran.
"Melihat sikapnya... aku tidak yakin, mungkin saja ia sudah berhasil mendapatkannya tetapi disembunyikan." Heru menghela nafas lalu memalingkan pandangannya kepada Salvia, "Tapi mengingat sifatnya, kurasa dia takkan menyembunyikan hal sebesar itu dari kita."
Salvia sendiri mengetahui sifat Haikal, mustahil pemuda itu menyembunyikan hal seperti itu, "Jadi menurutmu bagaimana dia bisa sekuat ini? Apa dia menyembunyikan latihan rahasia lainnya?"
Heru menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Salvia, meskipun dia akui latihan Haikal ini jauh terlampaui standar orang normal, jika Haikal mampu melakukannya setiap hari tanpa berhenti seharipun bukan tidak mungkin kekuatan Haikal tercipta karena penempaan fisik luar biasa ini.
"Tapi, aku masih tidak mengerti mengapa Haikal belum bisa membangkitkan Soul Arc." Heru memijat keningnya yang sedikit berdenyut. Dirinya tak dapat memperkirakan betapa kuatnya Soul Arc Haikal jika dengan jumlah energi jiwa yang dimiliki Haikal tidak bisa membangkitkan Soul Arc-nya.
Setelah latihan hari itu tubuh Heru dan Salvia terasa sakit seluruhnya dan sulit digerakkan, mengingat Haikal tak memberitahu penggunaan energi jiwa pada latihan tersebut. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat selama satu hari.
Berbeda dari mereka, tubuh Haikal sendiri sudah dihancurkan dan dibentuk berulangkali melalui latihan berat itu, tanpa energi jiwa sedikitpun Haikal dapat melalui porsi latihannya tanpa kesulitan berarti.
"Hmm... porsi latihanku yang ini sudah terlalu biasa, mungkin akan kutingkatkan lagi sampai batas," gumam Haikal sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Saat ini keluarga Alendra, Haikal, Seran, dan ibunya tengah berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan malam bersama. Mereka biasa melakukan ini ketika seluruh keluarga inti sedang di rumah, tapi sudah bertahun-tahun lamanya sang 'tulang punggung' keluarga tak pernah terlihat.
"Ibu, tak apa-apa? Wajah ibu pucat." Seran memecah keheningan di tengah suara dentingan alat makan, menatap wajah ibu mereka. Berkat itu Haikal juga tersadar ekspresi ibunya yang lebih lesu dari biasanya.
Meski terlihat pucat dan lesu, kecantikan ibu keduanya masih bisa terpancar jelas. Rambut hitam mengkilap dengan iris mata hitam kelam serta kulit putih yang jarang ditemui di Wulodhasia, Leila Alendra tetap nampak cantik dan awet muda walau sudah berusia kepalan empat.
"Ah, ibu tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing soal pekerjaan," ujar Leila memasang senyum hangatnya, tak ingin membuat kedua putranya khawatir.
Biarpun berkata seperti itu Haikal tak mempercayainya, ia menggenggam tangan Leila dan mengalirkan energi jiwanya membuat Leila sedikit terkejut, "Tenang saja bu, aku hanya memberikan sedikit energi jiwaku."
Leila ingin melayangkan protes tak merasa memerlukannya, namun ketika sadar energi jiwa pemberian Haikal membuatnya merasa lebih baik Leila mengurungkan niatnya. Berkat energi jiwa tersebut pucat pada wajah Leila juga mulai memudar, ia juga menjadi lebih bertenaga.
Selang beberapa saat Haikal menyudahi hal tersebut, "Terima kasih, Haikal." Leila mengacak-acak rambut Haikal membuat Haikal sedikit protes, sementara Seran tersenyum kecil sambil menyantap hidangannya.
Di buku yang pernah Haikal baca tertulis bahwa energi jiwa sebenarnya memiliki kemampuan penyembuhan alami, hanya saja tidak secepat atau sehebat Blazer dengan Soul Arc khusus penyembuhan.
Dengan mengumpulkan sejumlah besar energi jiwa di satu tempat lalu memfokuskan semuanya pada kemampuan penyembuhan, maka energi jiwa dapat menyembuhkan luka fisik ataupun luka dalam. Kemampuan ini juga berguna untuk menambah tenaga dan meningkatkan daya tahan tubuh alami, dapat digunakan untuk meredakan mual atau sejenisnya.
Meskipun bisa dikatakan Haikal memiliki jumlah dan kapasitas energi jiwa yang luar biasa di antara calon Blazer tingkat SMA, jumlah ini tetap tidak bisa membangkitkan Soul Arc-nya. Selain itu dengan jumlah ini dirinya tidak bisa bertarung dalam waktu lama.
"Aku harus berlatih dengan porsi baru nantinya." Dalam hati Haikal menetapkan tekadnya, berusaha berlatih sekeras dan sebanyak mungkin demi mengisi waktu sebelum babak semi final dimulai.
***
Tanpa terasa lima hari telah berlalu sejak berakhirnya babak perempat final Turnamen Penyambutan, berkat hari-hari penantian tersebut semakin banyak penonton yang datang berniat menyaksikan pertandingan perebutan kursi babak final.
Dalam lima hari ini juga berita mengenai Cecil yang merupakan pemilik Jade Phoenix dan Haikal sang 'kuda hitam' terbaik tahun ini yang dapat menggunakan Void Palm tersebar ke seluruh Wulodhasia. Tentu pertandingan dua kelompok ini sangat dinantikan oleh setiap penonton, bahkan di babak semi final ini disorot oleh beberapa stasiun televisi.
"Kelompok siapa yang menurutmu akan maju ke babak final?"
"Yang jelas kelompok Verna, mereka memang merupakan salah satu kandidat pemenang yang diunggulkan banyak orang."
"Benar, tapi babak kali ini empat jenius tersohor di generasi mereka membentuk kelompok masing-masing, sulit ditebak alurnya."
Saat ini memang Verna dan Jack yang paling terkenal dan dijagokan oleh banyak orang, pasalnya kekuatan mereka memang tiada duanya sampai sekarang. Tidak ada yang dapat melukai keduanya sedikitpun sejak turnamen dimulai, bahkan mampu menyarangkan serangan pun sejauh ini tak ada yang berhasil.
Namun empat jenius di generasi mereka, Verna, Edward, Salvia, dan Anna membentuk kelompoknya masing-masing. Dengan empat kelompok yang diketuai jeniusnya masing-masing, alur pertandingan makin tak terlihat jelas.
Di antara kericuhan para penonton, sang pengacara datang dan memberikan ucapan sambutan bagi seluruh penonton yang hadir di tempat ini maupun yang menonton dari rumah, "Baiklah, mari kita buka saja turnamen babak semi final ini!"
Seruan pengacara disambut meriah oleh para penonton, bahkan Guild-Guild besar di ruangan masing-masing merasa tak sabar menyaksikan seperti apa pertandingan antara keempat jenius tersohor di generasi ini.
"Pertandingan pertama akan dimeriahkan oleh kelompok Edward dan kelompok Salvia! Tenang saja, kami memiliki Blazer tipe Support yang dapat menyembuhkan, jadi kuharap kedua kelompok sudah siap bertarung habis-habisan di babak ini!" Selesai berkata begitu sang pengacara memasukan tangannya ke dalam kotak undian hendak menarik undian peserta.
Di luar batas arena terlihat kedua kelompok tengah berdiri berlawanan arah, menunggu undian yang menentukan pertandingan peserta.
"Apa kalian sudah siap?" Salvia menoleh ke arah Haikal dan heru yang saat ini sedang meregangkan tubuh masing-masing.
"Aku sih siap kapan saja." Heru yang pertama menjawab Salvia setelah menyelesaikan peregangannya, sementara Haikal hanya mengangguk pelan berusaha menenangkan rasa gugupnya.
Salvia tersenyum kecil menanggapi respon Heru dan Haikal, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke tempat sang pengacara.
"Oh, pertandingan pertama langsung pertarungan antar ketua kelompok! Edward Ghaetas dan Salvia Volksky, harap memasuki arena!" Seru pengacara bersemangat. Seruan tersebut disambut oleh gelora antisiasme dari seluruh penonton yang hadir, bahkan tanah sampai bisa bergetar dibuat mereka.
Salvia sedikit membeku mendengar namanya dipanggil pertama kali, namun ia segera sadar dan melangkah masuk ke dalam arena. Heru dan Haikal sempat memberi semangat padanya, tapi kelihatannya Salvia tak terlalu mendengarkannya.
Di sisi seberang terlihat sesosok pria berambut putih dengan mata biru cerah dan ekspresi penuh kepercayaan diri dan keangkuhan yang tak sedikit memasuki arena. Itulah Edward Ghaetas, sosok calon Blazer yang paling diantisipasi oleh Salvia, Haikal, dan Heru.
"Wah wah wah, tak kusangka aku dapat langsung menghadapimu, Snow Princess, Salvia Volksky. Hari ini sungguh keberuntunganku." Edward menyunggingkan senyum sinis sembari mengangkat dagunya sedikit, tapi matanya tak lepas dari wajah Salvia.
"Edward, aku takkan sungkan menghadapimu. Majulah dengan seluruh kekuatanmu." Tanpa menunggu lebih banyak waktu Salvia segera mengambil kuda-kuda bertarung.
Edward mendengus pelan sebelum ikut membentuk kuda-kuda yang biasa dia pakai, "Tentu, aku takkan melewatkan kesempatan ini untuk menghabisimu."
Melihat kedua peserta telah siap bertarung, tanpa ingin membuang lebih banyak waktu pengacara segera memberikan aba-aba mulai yang diikuti oleh benturan kedua kekuatan Edward dan Salvia, es murni nan padat dan salju putih tak bernoda.