
Seluruh perhatian para Blazer yang berada di arena tersebut kini berpusat pada sang pembawa acara begitu Jack menunjuknya, sementara pembawa acara itu sendiri mengerutkan dahinya tidak mengerti perkataan Jack.
"Topeng? Topeng apa?" Pembawa acara memasang senyum kecut tidak memahami maksud Jack mengenai topeng.
Jack menyipitkan matanya serta meningkatkan tekanan energi jiwanya lebih tinggi lagi menanggapi balasan pembawa acara, "Jangan berlagak bodoh."
Kata-kata Jack memang tidak terdengar keras, namun semua orang bisa mendengar serta dapat merasakan energi jiwa mengalir dalam setiap kata-katanya. Aura berat dan mengintimidasi yang menyelubungi tubuh Jack juga bukannya menipis dan menghilang, justru semakin kuat dan pekat.
Hal ini membuat Blazer yang berada di arena mengerutkan dahi tidak mengerti dan merasa bingung terhadap perkataan Jack, tetapi di saat yang sama mereka juga menilai Jack orang yang bisa memahami situasi. Jack tidak akan berbuat demikian tanpa alasan kuat.
Pada akhirnya mereka memilih diam terlebih dahulu sembari melihat situasi, mengingat tidak ada penjelasan ataupun petunjuk yang diperlihatkan oleh Jack. Namun dilihat dari arah pembicaraannya, Jack mencurigai bahwa pembawa acara melakukan sesuatu yang tak diinginkan.
"Jack, apa maksudmu berbuat demikian?"
Berkat kemampuan pemulihan kartu hati yang diberikan Jack, sebagian besar cedera Haikal berhasil disembuhkan dalam sekejap. Memang tidak sepenuhnya tetapi Haikal dapat berdiri dengan mudah walau tenaganya tidak ikut pulih.
"Kau lihat saja dari sana." Jack tidak mengalihkan pandangan dari pembawa acara ketika menjawab Haikal, dia lalu menarik selembar kartu berlambangkan semanggi dari tumpukan Forbidden Magic Card dan menyerap kemampuannya, "Semua akan terbongkar secepatnya."
Jack tidak mengulur waktu lebih lama lagi, dia menciptakan beberapa tombak sihir yang melayang di sekitarnya dan mengarahkan tombak-tombak tersebut menuju pembawa acara.
Hal itu membuat Blazer di arena mengangkat alis bersamaan, sementara di ruangan khusus guru, para pengajar sudah berdiri dan hendak mengambil tindakan menghentikan Jack, namun Veindal bangkit dan melarang mereka.
"Kepala Sekolah, apa maksud anda melarang kami menghentikannya?!"
"Jack memang calon Blazer luar biasa, tapi pertandingan sudah usai! Targetnya kali ini bukanlah peserta turnamen!"
"Benar, jika tidak dihentikan sekarang Jack bukan lagi Blazer akademi, melainkan Blazer kriminal!"
Veindal memahami maksud perkataan bawahannya, namun pria paruh baya itu tidak menjawab dan hanya mengerahkan tekanan energi jiwa yang membahana, menekan tubuh mereka semua secara paksa seakan gravitasi di tempat mereka bertambah beberapa kali lipat.
"Aku setuju jika ini situasi biasa, tapi kalian salah paham tentang itu," ujar Veindal dengan wibawa sebagai Kepala Sekolah Akademi Skymaze sekaligus Blazer tingkat Cardinal, membuat para pengajar tidak berani melawan.
Veindal mengalihkan perhatian ke arena dan mengibaskan tangannya sebelum berseru, "Sebagai Kepala Sekolah, aku, Veindal Volksky memerintahkan Blazer penjaga untuk melepaskan penghalang arena sekarang juga!"
Pengumuman dari Veindal mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Mereka tidak percaya Veindal memberikan perintah berbahaya seperti itu, tetapi tidak berani menyuarakan ketidaksetujuan mereka secara terang-terangan.
"Ke-Kepala Sekolah, anda serius berbuat demikian?!" Pembawa acara yang sejak tadi diam tiba-tiba berpendapat melalui mikrofon komentator, tak bisa mempercayai Veindal bahkan berniat melepaskan penghalang yang membatasi arena dan tribun agar serangan dari lapangan tidak melukai penonton.
Veindal nyatanya tidak menghiraukan pembawa acara, dia sekali lagi berseru keras pada Blazer penjaga untuk menghilangkan penghalang, "Apa yang kalian lakukan? Cepat hilangkan penghalangnya!"
Seruan Veindal barusan membuat para Blazer penjaga sedikit bergidik. Meski tidak setuju, mereka tidak bisa menolak dan akhirnya melepaskan penghalang tersebut sesuai perintah Veindal.
Pembawa acara terlihat sedikit panik melihat penghalang arenanya secara perlahan menghilang, pandangannya lalu teralih menuju Jack yang kini memasang senyum lebar di lapangan arena.
"Magic Javelin!" Jack tidak membuang kesempatan yang diberikan Veindal, dia lalu melemparkan semua tombaknya menuju pembawa acara dalam kecepatan tinggi, bahkan lebih cepat dibanding sihir yang digunakannya melawan Haikal.
Blaarr!!
Ledakan cukup besar tercipta akibat serangan tombak Jack, hampir seluruh Blazer yang ada di sana memaki Jack yang dirasa sudah gila sampai sungguh menyerang pembawa acara dengan kekuatan sebesar itu.
Jack tersenyum sinis menanggapi reaksi Haikal, "Kau masih belum mengerti juga?"
Haikal mengangkat sebelah alisnya tidak memahami maksud Jack, namun belum sempat dia bertanya Haikal merasakan tekanan energi jiwa bergejolak dari tempat pembawa acara. Pandangannya kemudian teralih menuju tempat tersebut.
Selang beberapa detik, terlihat sosok pembawa acara yang nampak baik-baik saja meski terkena serangan Jack secara telak. Terlihat semacam dinding pelindung sedikit kasat mata mengelilingi tubuhnya.
"Bocah gila sialan, tak pernah kusangka kaulah yang membongkar penyamaranku." Pembawa acara tersebut berdecak kesal, namun ada yang aneh pada penampilannya. Dapat dilihat sosok pembawa acara saat ini terlihat seperti hologram rusak.
Penampilan hologram rusak itu hanya berlangsung beberapa saat saja, pembawa acara itu kemudian meraih jam tangan yang dia kenakan dan membuangnya begitu saja, "Cih, benda sial ini tidak bisa digunakan lagi."
Kini sosok asli pembawa acara yang selama ini mengamati dan mengomentari seluruh pertandingan final hari ini terungkap, dia berwujud seorang pria berusia sekitar 20 hingga 30 tahun dengan sedikit janggut pada dagunya. Sosok yang jauh berbeda dari pembawa acara yang biasanya.
"Yah, kalau sudah ketahuan mau bagaimana lagi." Pria itu mendesah pelan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sejenak, lalu memandang Jack dan Haikal yang berada di tengah lapangan arena dengan senyuman kecil nan dingin, "Akan kutemani kalian bermain."
Ketika pria tersebut ingin menendang lantai menghampiri Jack dan Haikal di lapangan arena, sekelbat kilat berwarna kebiruan menyambarnya dari arah ruang para pengajar, "Seperti aku akan membiarkanmu begitu saja!"
Benar, orang yang melayangkan kilat biru barusan adalah Veindal Volksky, Kepala Sekolah Akademi Skymaze.
"Kepala Sekolah!" Haikal berseru melihat kedatangan Veindal yang kini berdiri di hadapannya, sementara Jack tidak terlihat terkejut.
"Kalian berdua sudah bertarung cukup baik, sekarang giliran Blazer resmi yang mengurusnya." Veindal tidak mengalihkan perhatiannya dari sosok asli pembawa acara selagi berbicara demikian. Dia lalu menunjuk ke salah satu sisi pinggir arena, "Bawa mereka pergi dari sini dan bersembunyilah di tempat aman."
Haikal secara refleks menoleh ke tempat yang ditunjuk Veindal, di sana terlihat Salvia dan Verna yang tengah mengeluarkan Soul Arc masing-masing memandang ke arah arena. Dapat diketahui pula terdapat jejak pertarungan di lingkungan sekitar mereka.
Haikal masih tidak mengerti mengapa Veindal memintanya membawa Salvia dan Verna pergi dan bersembunyi, ketika dia hendak bertanya Veindal sudah lebih dulu berbicara.
"Dengarkan aku, Haikal. Kemungkinan besar saat ini di seluruh Adele sedang mengalami situasi yang kurang lebih sama," jelas Veindal melirik Haikal, "Kalian para finalis turnamen mungkin adalah tujuan mereka."
"Kami?" Haikal mengangkat alisnya lebih tinggi masih tidak mengerti situasinya, namun belum sempat dia bertanya lebih jauh lagi terdengar suara ledakan dahsyat dari arah luar wilayah akademi yang mengguncang tanah begitu hebatnya.
"Sudah dimulai." Veindal bergumam kecil merasakan guncangan hebat tersebut, dia berdecak mendapati ketakutannya sungguh terjadi, "Ini sungguh mengerikan."
Sesudah bergumam demikian, Veindal mengalihkan pandangannya kepada Jack dan Haikal yang ada di belakangnya, "Aku titipkan putriku padamu, Haikal."
"Kepala Sekolah, apa ma—" Belum sempat Haikal berbiacara lebih jauh, Jack sudah menarik lengan Haikal melesat cepat menuju lokasi Salvia dan Verna berada.
Veindal tersenyum kecil melihat sosok putri semata wayangnya yang terlihat terkejut dan tidak mengerti situasinya, namun dia segera mengalihkan perhatiannya kepada sosok yang tadinya pembawa acara yang kini nampak tidak terluka meski terserang oleh petirnya.
"Apa kau sudah berpamitan dengan putrimu, tua bangka?" Pria itu tersenyum sinis memandang rendah Veindal dari atas.
Veindal tertawa sejenak menanggapi perkataan pria tersebut, "Berpamitan? Aku hanya pergi bekerja sebentar seperti biasa sebelum kembali dan memanjakannya lagi."
Seusai berkata demikian Veindal mengerahkan tekanan energi jiwa yang luar biasa mengerikan, saking mengerikannya tekanan energi jiwa yang dikerahkan Jack serta Haikal di pertandingan sebelumnya tidak ada apa-apanya.
"Heh, dasar orang yang tak tahu batas." Pria di balik sosok pembawa acara tersenyum sinis sebelum mengerahkan tekanan energi jiwa yang hampir menyamai Veindal, "Kau akan mati hari ini, Guru Veindal."