Absolute Soul

Absolute Soul
19. Turnamen Penyambutan Dimulai



Sudah beberapa minggu semenjak Haikal dan Heru datang ke kediaman Salvia untuk berlatih bersama, sejak saat itu juga keduanya hampir datang setiap hari dengan alasan yang sama, terutama Haikal yang sampai saat ini belum bisa memanggil Soul Arc-nya.


"Sulit untuk bersaing jika seperti ini." Haikal menghela nafas berat, tak menyangka usahanya sejauh ini untuk memanggil Soul Arc-nya masih belum membuahkan hasil.


Memang benar berkat latihan dan bimbingan yang ia terima dari Salvia selama ini meningkatkan kekuatannya cukup pesat, namun tanpa Soul Arc maka ia tidak bisa disebut Blazer. Hal ini terus memusingkan kepalanya, bahkan dirinya sempat jatuh sakit beberapa hari karena terlalu khawatir.


"Ada apa, Haikal? Wajahmu terlihat begitu tegang." Heru menepuk pundak Haikal mengira sahabatnya sedang menderita demam panggung dan berniat membantunya.


Hari ini adalah hari di mana Turnamen Penyambutan dimulai. Akademi Skymaze meniadakan kegiatan belajar mengajar dan mengundang berbagai Blazer, Guild, maupun masyarakat biasa untuk hadir di tempat ini hanya demi memeriahkan turnamen ini.


Akademi Skymaze merupakan satu dari lima akademi Blazer paling ternama se-Wulodhasia sekaligus salah satu akademi Blazer terbaik di seluruh dunia, maka dari itu banyak tamu-tamu dari dalam maupun luar negeri datang hanya untuk menonton turnamen ini.


Terdapat pula beberapa ruangan khusus untuk Guild-Guild besar yang datang, contohnya Ambrosia, Night Orchid, dan banyak lainnya, membuat turnamen ini semakin meriah.


"Lost Crescent...." Mengabaikan Heru yang nampak khawatir, pandangan Haikal terpusat pada suatu ruangan berlambangkan bulan sabit hitam di atas jendela kaca.


Lost Crescent sebenarnya bukanlah Guild yang besar dan terkenal di dunia per-Blazeran internasional, hanya saja Haikal tidak bisa melepas kecurigaannya dari Guild ini. Pasalnya Guild inilah yang dulunya tempat ayahnya bekerja.


Ayah Haikal, Raditya Alendra, salah satu Blazer yang cukup kuat jika menilai di antara Blazer standar. Ia orang yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan, namun ketika Raditya menjalankan sebuah misi dari Lost Crescent ia tak pernah pulang.


Beberapa minggu kemudian orang-orang Lost Crescent mendatangi kediaman Haikal dan menyatakan Raditya hilang di tengah misinya dan tidak pernah ditemukan. Berbeda dari ibunya yang langsung meledak tangisnya, Haikal memandang orang Lost Crescent tersebut penuh curiga dikarenakan senyum mereka yang tidak seharusnya dimunculkan.


Pada saat itu tidak ada orang lain selain Haikal yang memperhatikan ekspresi mereka sehingga Haikal menaruh curiga pada Guild Lost Crescent yang membunuh ayahnya, bukan hilang begitu saja.


Di dunia per-Blazeran hanya yang kuat yang berkuasa dan dihormati, bahkan untuk menjadi pemimpin suatu daerah di beberapa negara harus memiliki kemampuan Blazer yang cukup. Kepribadian Raditya yang menjujung tinggi keadilan dan kesetaraan bukanlah hal yang disenangi di masa ini.


Ketika Raditya dinyatakan hilang, pada waktu itu Haikal baru berusia tujuh tahun sementara Seran berusia enam tahun. Memang hal ini terdengar aneh, namun Haikal memang dikenal mempunyai intuisi tajam di antara keluarga dan tetangganya.


"Haikal, apa kau masih memikirkan hal itu?" Mengetahui pandangan Haikal tertuju pada ruangan Lost Crescent, Heru tidak bisa diam saja melihat itu.


"Salah satu tujuanku menjadi Blazer adalah menyelidiki mereka, kau tahu sendiri, bukan?" Nada bicara Haikal terdengar dingin membalas Heru tanpa menoleh kepadanya.


Heru hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Haikal memandangi ruangan Lost Crescent kemudian menepuk pundak sahabatnya itu, "Aku tahu, tapi jangan biarkan dendam dan kebencian mengendalikan dirimu."


Setelah berbicara begitu pada Haikal, Heru kembali mengalihkan perhatiannya ke depan di mana kepala sekolah, Veindal Volksky, sedang berpidato dengan semangatnya sampai lupa waktu.


Selang beberapa menit kemudian barulah Veindal menyudahi pidatonya setelah mendapat teguran dari beberapa guru, "Baiklah, mari kita buka saja Turnamen Penyambutan tahun ini!"


Bersama seruan tersebut terlihat beberapa kembang api bermekaran di atas arena. Dengan itu Turnamen Penyambutan tahun ini telah dibuka dengan meriah.


Babak penyisihan menerapkan sistem poin bagi setiap kelompok agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Setiap kelompok akan bertarung melawan kelompok lain lima kali sampai menyisakan delapan kelompok teratas menggunakan total poin kemenangan.


Delapan kelompok tersebut akan meneruskan pertandingan di perempat final, mencari kelompok siapa yang paling kuat di antara angkatan terbaru akademi Skymaze.


"Haikal...." Begitu mereka memasuki ruang tunggu mereka, Salvia langsung memanggil Haikal yang tengah melangkah menuju tempat duduk yang tersedia, membuat pemuda itu menoleh ke arahnya, "Ada apa, Salvia?"


Salvia memasang wajah tanpa ekspresinya seperti biasa, "Ini untukmu." Salvia kemudian mengeluarkan sebuah tongkat besi kecil sepanjang 20 Sentimeter dan memberikannya pada Haikal.


Mata Haikal melotot hebat ketika melihat tongkat besi pemberian Salvia tersebut, mata Heru pun tidak kalah lebarnya dengan Haikal menyaksikan itu.


Sekilas tongkat besi itu hanyalah tongkat besi biasa, namun setelah diteliti lebih lanjut maka semua orang akan tahu bahwa tongkat besi tersebut adalah sebuah Soul Device yang sangat mahal bagi kalangan masyarakat awam seperti Haikal maupun Heru. Satu alat ini paling sedikit bernilai 100.000 Bold, jumlah yang fantastis bagi keduanya.


"Mengapa alat semahal ini kau berikan kepadaku?" Haikal terheran-heran menatap tongkat besi itu dan wajah Salvia beberapa kali, tidak mengerti alasan Salvia memberikan Soul Device kepadanya.


"Kau belum bisa memanggil Soul Arc-mu, kan?" Salvia kemudian menjelaskan bahwa Haikal hanya akan menjadi incaran para peserta lain mengingat selain statistik, kemampuan setiap Soul Arc sangat mempengaruhi alur pertarungan.


Biarpun Haikal sudah menguasai beberapa gerakan beladiri dan mempunyai fisik yang sangat kuat nan tangguh, bukan berarti dirinya bisa bertarung seimbang melawan Blazer tanpa Soul Arc.


Di angkatan mereka hanya Haikal seorang yang belum bisa memanggil Soul Arc dan semua murid seangkatannya mengetahui hal ini, tentu sebagai calon Blazer tanpa Soul Arc Haikal akan diincar habis-habisan oleh mereka semua karena sudah menjadi pengetahuan umum Blazer tanpa Soul Arc bukanlah Blazer sesungguhnya.


"Tapi, bukankah alat ini begitu mahal? Aku tidak bisa menerimanya begitu saja." Haikal berniat mengembalikan Soul Device tersebut pada Salvia, namun gadis itu menolaknya mentah-mentah.


"Jika kau tidak bisa menerimanya, maka anggaplah itu barang pinjaman. Gunakanlah dengan baik dan sebisa mungkin jangan merusaknya," ujar Salvia tersenyum tipis, membuat Haikal maupun Heru tertegun sesaat.


Mereka sudah tahu Salvia sangatlah cantik, namun senyumannya membuat paras gadis ini menjadi lebih cantik lagi. Meski Haikal telah melihat Salvia tersenyum beberapa kali, dirinya tak pernah terbiasa dengan ini.


Haikal yang tidak bisa menolak Salvia lebih jauh akhirnya mengalah dan menerima tongkat besi itu, lalu mencoba mengalirkan sejumlah energi jiwa untuk mengaktifkannya. Saat itu juga salah satu ujung tongkat tersebut mengeluarkan sinar laser berwarna hijau cerah dan membentuk sebilah pedang tipis sepanjang 60 Sentimeter.


Haikal dan Heru terpana melihat pedang laser yang dikeluarkan tongkat besi tersebut. Meskipun dirinya sudah mengira alat ini adalah sejenis pedang, Haikal tetap tak percaya saat ini ia sedang memegang alat seharga ratusan ribu Bold di tangannya.


"Bagaimana? Cocok untukmu, bukan?" Salvia tersenyum puas melihat Haikal dapat mengaktifkannya tanpa masalah.


Haikal hanya mengangguk sedikit masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari Soul Device ini. Butuh beberapa waktu baginya untuk tersadar kembali dari kekagumannya dan menonaktifkan Soul Device berjenis pedang tersebut, lalu berdeham sedikit, "Terima kasih, Salvia. Aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


Salvia hanya mengangguk pelan mendengarnya, kemudian mengalihkan perhatiannya pada sebuah layar besar di salah satu dinding ruangan tersebut diikuti kedua orang lainnya, "Pertandingan pertama Turnamen Penyambutan telah dimulai."