
"Baik, pelajaran hari ini cukup sekian. Kita akan melanjutkannya besok," ucap Andre mengemasi buku bawaannya begitu suara bel pulang berdering keras. Dia pun melangkah keluar dari kelas setelah memberikan imbauan agar segera pulang terhadap anak didiknya.
Mengingat belakangan ini terdapat siswa-siswi Akademi Skymaze yang menjadi sasaran orang tak bertanggung jawab, dia tidak ingin satu pun anak didiknya menjadi salah satu korban tersebut.
Sebelum melalui pintu kelas, langkah Andre terhenti dan menoleh ke tempat Haikal dan Heru duduk, "Ah, Haikal, Heru, menurut kabar dari kepala sekolah Salvia sudah sadar dan boleh dikunjungi. Mungkin kalian ingin menjenguknya kapan hari."
Haikal mengangkat alisnya mendengar kabar tersebut, begitu pula Heru yang bereaksi kurang lebih sama seperti Haikal. Mereka saling memandang sejenak dan mengangguk bersamaan memutuskan untuk segera menjenguk Salvia.
Di pintu kelas, Andre tersenyum memandang Haikal dan Heru memperhatikan reaksi keduanya, "Kau punya rekan yang baik, ya, Salvia," gumam Andre dalam hati sebelum melanjutkan langkahnya diikuti oleh murid-murid kelas 1-A yang berniat pulang.
Haikal dan Heru sendiri juga tidak berencana tinggal di sekolah terlalu lama, mereka ingin langsung pergi ke rumah sakit demi menjenguk Salvia. Jika gadis itu telah pulih dan mendapatkan kembali kesadarannya, tidak perlu banyak alasan untuk menjenguknya.
Mereka segera mengemas barang-barang yang mereka miliki dan berangkat menuju rumah sakit, namun belum beberapa langkah keduanya keluar dari kelas, belasan pasang mata tiba-tiba muncul memandangi mereka dengan tajam seperti singa menemukan mangsa.
"Haikal! Itu Haikal!"
"Haikal Alendra! Aku minta tanda tanganmu!"
"Oh, abang Haikal! Aku padamu!"
Seluruh bulu kuduk Haikal sontak bergidik melihat sekelompok murid berlari menuju arahnya dari belakang, terutama saat matanya menangkap sesosok makhluk asing berwujud manusia yang tidak jelas gendernya.
"Heru, kita lari!" Tidak ingin dekati oleh makhluk asing yang tak jelas jenis kelaminnya—dilihat secara fisik—Haikal segera berlari dengan kecepatan penuh menuju tangga berniat kabur sejauh mungkin dari kejaran yang mungkin adalah bagian dari Klub Penggemar Haikal.
Heru tertawa keras melihat Haikal berlari disertai wajah panik yang cukup jarang terlihat, "Kau saja yang lari, aku kan tidak ada sangkut pautnya denganmu soal ini."
Setelah mengatakan itu Heru baru menyudahi tawanya yang keras melihat reaksi Haikal, tetapi semua bekas tawa tersebut langsung hilang dalam sekejap ketika telinganya menangkap sebuah seruan bersuara berat memanggil namanya.
Heru menoleh ke belakang dan mendapati sekelompok murid lelaki bertubuh raksasa berlari di belakang kelompok Klub Penggemar Haikal sambil berseru, "Abang Heru! Tunggu kami!"
Mata Heru spontan melotot sejenak sebelum ikut berlari secepat mungkin menyusul Haikal, "Kenapa hanya aku yang dikejar oleh sekawanan homo bertubuh kekar?!"
***
Setelah berhasil kabur dari kejaran Klub Penggemar Haikal dan sekelompok murid berbadan kekar, Haikal dan Heru sama-sama menghela nafas berat di suatu gang kecil yang berada di celah antar bangunan.
"Haikal, ini semua salahmu," gerutu Heru tanpa banyak basa-basi.
"Hah? Apa maksudmu salahku?" Haikal mengalihkan pandangannya kepada Heru merasa tak senang dengan ucapan sahabatnya barusan.
Heru membalas pandangan Haikal yang nampak dingin, "Kalau kau tidak bertambah kuat hingga seperti ini, kau tidak akan punya klub penggemar pribadimu sendiri dan aku tak mungkin dikejar oleh sekawanan homo seperti itu!"
"Masa bodo dengan kawanan homo yang kau sebutkan, itu masalahmu sendiri!" Seru Haikal balik tak berniat mengalah.
"Kau ini sahabatku atau bukan? Aku dikejar oleh orang homo dan kau membiarkanku begitu saja?" Heru semakin erat menarik kerah pakaian Haikal.
Haikal sendiri tidak mau kalah dan membalas dengan hal yang sama, "Kau tak berhak mengatakan itu setelah meninggalkanku diserang 'banjir bandang' murid tadi pagi."
Sebelah alis Heru terangkat menanggapi perkataan Haikal, "Itu masih lebih baik dibanding sekelompok orang homo."
"Kau ngajak berantem, hah?!"
"Kau yang mengatakannya!"
Haikal dan Heru saling melepaskan kerah pakaian masing-masing dan mengambil sekian langkah mundur menciptakan jarak di antara mereka kemudian mengepalkan tangan bersiap meluncurkan tinjuan, namun sebelum itu terjadi terdengar suara tepuk tangan yang berasal dari atas mereka.
Perhatian keduanya segera teralih menuju asal suara tersebut dan mendapati sesosok berjubah hitam tengah berdiri di pinggir atap gedung sambil bertepuk tangan, "Luar biasa! Dua mangsaku pergi ke tempat yang sepi lalu bertengkar satu sama lain, ini sangat memudahkanku!"
Dahi Haikal mengerut menanggapi perkataan sosok berjubah itu dan menyiapkan kuda-kuda bertarung tangan kosong, begitu pula Heru yang dengan sigap mengeluarkan Soul Arc-nya.
Baik Haikal maupun Heru tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menebak siapa dan tujuan sesosok berjubah ini. Mereka telah bersiaga sejak keluar dari lingkungan akademi sehingga ketika mengalami kejutan sejenis ini keduanya dapat segera bereaksi.
"Oh, kalian berniat melawanku?" Sosok berjubah itu berhenti bertepuk tangan dan memusatkan perhatiannya pada Haikal dan Heru sambil tertawa selama beberapa saat sebelum memicingkan mata, "Kalian terlalu percaya diri, anak-anak bodoh."
Haikal tidak mengidahkan perkataan sosok tersebut, dia mengalirkan sejumlah energi jiwa pada kakinya dan menendang tanah, melesat cepat menuju langit kemudian melancarkan tendangan yang mengarah pada sosok berjubah itu.
Sosok berjubah mengambil satu langkah besar ke belakang menghindari tendangan Haikal, hasilnya serangan Haikal hanya berhasil mengoyak udara. Haikal mendecakkan lidahnya pelan.
Saat tubuh Haikal masih mengambang di udara sosok tersebut melemparkan sebuah pisau yang melesat menuju dada Haikal, namun sesaat sebelum pisau itu mengenai sasarannya, bilah logam tersebut menghantam sesuatu yang menyebabkan suara dentingan antar logam.
Dapat terlihat penyebab suara dentingan itu adalah lengan Heru yang kini dilapisi oleh Soul Arc-nya yang berbentuk sarung tangan logam. Dia mengulurkan lengan kirinya beberapa sentimeter tepat di depan dada Haikal melindungi sahabatnya itu dari sebuah serangan mematikan.
"Maaf, aku sedikit lengah," ujar Haikal sesudah mendarat dengan aman di atap gedung tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok berjubah.
Heru tersenyum kecil menanggapi Haikal dan menatap sosok berjubah lebih tajam, "Jangan menggunakan gerakan terlalu lebar, dia bisa melihat dan menyerang titik lemah kita seketika."
Haikal mengangguk pelan menyetujui saran Heru, dia sendiri sudah menyadarinya meski tidak diberitahu. Jika bukan karena situasi serius mengancam nyawa mereka, maka Haikal dan Heru sudah kembali berdebat mengenai hal ini.
Di sisi lain sosok berjubah terkikik cukup lama memandangi dua pemuda di depannya, "Heh, jadi begini kemampuan finalis turnamen tahun ini. Lumayan juga."
Setelah berkata demikian, sosok itu mengeluarkan belasan hingga puluhan pisau dari lengan jubahnya. Pisau-pisau tersebut tidak langsung jatuh ke lantai melainkan melayang di sekitar sosoh berjubah tersebut seakan-akan melawan gravitasi.
Dia terkikik dengan suara tawa dan senyum yang aneh, namun kemampuannya tidak bisa dianggap remeh. Sosok berjubah memandangi Haikal dan Heru dengan tajam sebelum berkata, "Nah, beri aku dan pisau-pisauku perlawanan yang menarik."