
"Sakit...."
"Tolong.... Siapa saja tolong aku...."
"Argh! Kakiku!"
Saat ini pandangan Salvia dipenuhi oleh begitu banyak orang dalam kondisi tidak lebih baik dari Heru, bahkan banyak yang lebih parah daripada rekan sekelompoknya itu. Kebanyakan dari mereka duduk atau berbaring memenuhi lorong gedung kelas satu terbalutkan perban disertai bercak darah.
"Ini...." Alis Salvia terangkat tinggi begitu melihat terdapat banyak korban akibat serangan Verg dan Blackout ini. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa dampak penyerangan organisasi kriminal itu akan sedemikian parahnya.
Saat Salvia masing termenung terhadap lautan manusia yang terluka, Blazer yang menyambut Salvia di pintu sebelumnya menepuk pundaknya menyadarkan Salvia dari lamunannya, "Mari kuantar nona ke tempat Haikal Alendra."
Salvia terperanjat sejenak mendapati kedatangan Blazer tersebut, dia lalu mengikutinya berjalan ke suatu arah dengan enggan beranjak dari tempatnya berdiri.
Selagi melangkah Salvia bisa melihat dan mendengar berbagai macam hal, mulai dari orang terluka, suara tangisan yang terdengar begitu pilu, hingga jasad yang tergeletak tanpa nyawa di pinggir ruangan dengan sehelai kain menutupi tiap sosoknya.
Tidak semua orang yang berada di sini adalah Blazer ataupun calon Blazer, bahkan sebagian besarnya adalah manusia biasa yang diungsikan oleh Blazer petugas keamanan turnamen dari arena sesuai arahan Veindal.
Pikiran Salvia dipenuhi oleh kebingungan dan rasa bersalah, dirinya tak pernah menyangka manusia biasa yang bukan Blazer turut menjadi korban atas penyerangan ini. Perhatiannya hampir tidak teralih dari orang-orang terluka yang dia lewati.
Melihat reaksi Salvia yang nampak syok, Blazer yang mengantarnya mengangkat suara, "Apa ini pertama kalinya anda melihat orang meninggal?"
Salvia menggeleng pelan menjawab Blazer tersebut, "Tidak, tapi ini pertama kalinya aku melihat begitu banyak orang terluka dan meninggal pada waktu dan tempat yang sama."
Blazer itu tersenyum tipis menanggapi jawaban Salvia tidak menyalahkan gadis muda tersebut yang terlihat begitu polos mengingat Salvia masihlah calon Blazer yang sama sekali belum berpengalaman.
"Kau tahu nona, kurang lebih seperti inilah keseharian seorang Blazer di garis depan perbatasan antara wilayah manusia dan Verg di luar sana," celetuk Blazer itu tiba-tiba membuat Salvia segera mengerutkan dahi dan menatap sang Blazer seakan tidak percaya.
Blazer itu tersenyum canggung menanggapi reaksi Salvia yang terlihat begitu terkejut, "Yah, memang tidak dalam jumlah besar seperti ini, tetapi setidaknya terdapat satu atau dua orang yang harus dirawat setelah bertarung di garis depan setiap harinya."
Blazer tersebut menjelaskan lebih jauh bahwa pekerjaan sebagai Blazer bukanlah hal yang mudah, terutama para Blazer yang berjuang mati-matian di wilayah perbatasan demi mempertahankan garis aman umat manusia.
Sebagai calon Blazer tentu Salvia dan murid-murid Akademi Skymaze berada dalam perlindungan yang cukup di dalam kota selayaknya manusia biasa, tetapi bagi Blazer yang bekerja di luar tembok semuanya berbanding terbalik.
Memang tidak seburuk pada masa First Doom atau Second Doom, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa cukup banyak Blazer yang menjadi korban setiap harinya demi mempertahankan wilayah manusia.
Penuturan Blazer itu berhasil membuat ekspresi Salvia berubah begitu buruk, namun semua bisa dikatakan wajar mengingat selama ini kehidupan kota Adele terlihat begitu tenang dan damai, tiba-tiba dihantam oleh fakta sedemikian rupa.
Blazer tersebut tersenyum lembut dan tak mengatakan apapun selama perjalanan, dia bisa mengerti perasaan Salvia dan membiarkan gadis itu memahami situasi ini.
Tidak butuh waktu terlalu lama bagi keduanya mencapai ruangan kelas yang sedikit berbeda dari ruangan lain, di sana cukup banyak tempat kosong dan area di luar ruangan tersebut tak terlalu padat oleh pengungsi dan korban pertempuran.
"Haikal Alendra dan beberapa siswa yang masih bisa dan berniat bertarung berada di dalam sedang berdiskusi." Blazer tersebut membungkuk sejenak pada Salvia sebelum kembali berjalan menuju pintu masuk gedung.
Salvia menelan ludah mengumpulkan keberanian dan mengetuk pintu, "Ini Salvia, bisa aku masuk ke dalam?"
"Salvia? Masuk saja."
Meski baru saja memasuki ruangan, Salvia bisa mengetahui calon Blazer yang mengelilingi meja sedang mendiskusikan sesuatu sesuai pernyataan Blazer yang mengantarnya, lalu mereka yang duduk dan bersandar di dinding tengah memulihkan energi jiwa setelah terpakai untuk mencapai tempat ini.
Dia mengenal sebagian dari mereka, sementara sisanya hanya bisa diingat wajahnya oleh Salvia.
Terlihat juga Cecil yang ikut menyandar pojok ruangan dengan mata terpejam. Mungkin dia sedang memulihkan cedera yang didapatnya dari pertandingannya melawan Heru lalu atau mungkin mengumpulkan energi jiwa.
Saat Salvia masih berusaha mencerna situasi para murid yang menyadari keberadaannya mendekati Salvia memastikan keadaan gadis tersebut. Salvia merupakan salah satu calon Blazer nomor satu di generasi mereka sehingga tidak sedikit yang berusaha mencari perhatian darinya.
"Salvia, kau tidak apa-apa?" Ketika dikerumuni oleh sekelompok murid yang berniat mencari muka, Jack datang dan membubarkan barisan tersebut memberi ruang Salvia agar dapat bergerak lebih leluasa dan mencari tempat untuk beristirahat.
Sedang terjadi pertempuran antara Blazer Akademi melawan Blackout serta Verg di luar sana, tidak perlu terlalu pintar agar dapat menebak Salvia sempat mengalami pertarungan dalam perjalanannya kemari. Itu bisa dilihat dari beberapa kotoran dan lecet di pakaian serta kulit putihnya.
Meski dikatakan salah satu empat jenius terbaik di generasinya, Salvia masihlah seorang calon Blazer yang belum berpengalaman sementara sebagian anggota Blackout sudah mengalami cukup banyak pertempuran mengingat betapa giatnya organisasi ini berbuat ulah.
"Aku tidak apa-apa, tapi daripada itu apa Verna ada di sini? Aku dan Heru baru saja tiba, dia terluka parah karena bertarung melawan beberapa anggota Blackout seorang diri saat aku dan Haikal menemukannya."
"Bertarung seorang diri melawan beberapa anggota Blackout?" Jack mengangkat alisnya merasa ragu Heru yang bukan jenius setara dengan Salvia dan ketiga orang lainnya sungguh melakukan hal itu, tetapi melihat kapasitasnya yang mampu mengalahkan Cecil, bukan mustahil Heru mengalahkan beberapa anggota Blackout seorang diri.
Salvia juga menambahkan saat ini keadaan Heru tidak begitu kritis namun kekurangan darah, "Jack, kau bisa menyembuhkannya dengan kartu hatimu, kan?"
"Ya, tapi sepertinya ada seorang lain yang lebih bisa diandalkan daripadaku mengenai penyembuhan," ujar Jack sebelum menoleh ke belakang berniat mencari seseorang, tetapi hanya menemukan sekelompok siswa-siswi lain, "Ke mana Verna?"
"Dia sudah berlari keluar ruangan begitu mendengar kondisi Heru." Seorang siswa menunjuk pintu sambil tersenyum canggung.
Jack tidak bisa berkata apa-apa menanggapi betapa cepatnya reaksi Verna jika itu berkaitan dengan Heru, sementara Salvia yang sempat melihat Verna berlari menuju pintu keluar sedikit terkejut. Dia tidak pernah melihat ekspresi Verna yang terlihat begitu panik dan khawatir sebelumnya.
Jack bisa melihat raut wajah terkejut milik Salvia dan memahami kebingungannya, dia tersenyum sejenak sebelum menjelaskan, "Meski tidak begitu terlihat dekat seperti pasangan pada umumnya, hubungan keduanya bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan."
"Salah satu dari mereka terluka tanpa alasan jelas, maka satu lagi tidak akan menahan diri untuk mencari dan menghancurkan penyebabnya." Jack kemudian melirik kepada para calon Blazer lelaki di dalam ruangan dengan senyuman genit, "Jika kalian mengincar Verna, maka kusarankan menyerah saja."
Tubuh mereka merinding sesaat begitu mendengar peringatan Jack, tak menyangka hubungan sang gadis jenius dan si orang biasa-biasa saja bisa seserius itu, padahal jika dilihat sejauh ini Verna sangatlah mendominasi Heru sehingga mereka mengira Verna hanya mempermainkan pemuda berambut kemerahan tersebut.
"Omong-omong tentang Verna dan Heru, bisa kau menceritakan masa lalu Haikal padaku, Jack?"
Pertanyaan Salvia yang tiba-tiba mengundang berbagai reaksi dari para calon Blazer yang mendengarnya, sementara Jack sendiri mengerutkan dahi merasa ketidakpekaan Salvia terhadap situasi sekelilingnya itu memang bukan rumor semata.
Jack terdiam sejenak berpikir bagaimana dirinya harus menjawab pertanyaan Salvia karena dia bukanlah orang yang tepat untuk menjelaskan hal itu.
Ketika dia sedang berpikir terlintas sebuah ide di benaknya lalu menunjuk ke arah pintu keluar—atau mungkin lebih tepatnya menunjuk seseorang yang diam-diam berniat meninggalkan ruangan, membuat semua perhatian tertuju pada sosok tersebut.
"Bagaimana kalau kau tanya saja pada orangnya langsung?"
Sosok yang ditunjuk Jack dan menjadi perhatian seluruh ruangan itu membatu sesaat sebelum menoleh dan melambaikan tangannya dengan senyuman masam di bibirnya, "Hai, kau baik-baik saja, Salvia?"