
Belum sempat pulih dari keterkejutan yang sebelumnya disebabkan oleh Awakening Salvia, para perwakilan Guild besar maupun kecil kembali dikejutkan oleh Edward, kali ini Veindal sampai berdiri di ruangannya menyaksikan hal ini.
"Awakening? Keluarga Ghaetas juga?" Veindal jelas terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Edward, tak menyangka pemuda itu juga mencapai tahap Awakening di usia yang sama dengan Salvia.
Haikal maupun Heru bereaksi yang kurang lebih seperti Veindal, namun entah mengapa Haikal tiba-tiba merasakan kegelisahan. Ia tahu Blazer yang mampu mencapai Awakening memiliki kekuatan yang tak biasa, tetapi perasaan gundah ini tak bisa ia hilangkan.
Setelah berlatih begitu lama dan keras selama ini Haikal telah memahami kualitas energi jiwa dengan amat baik, sehingga ia dapat mengetahui kualitas energi jiwa seseorang hanya dengan sedikit gesekan pada kulitnya, "Kualitas energi jiwa Edward benar-benar mengerikan...."
Sejauh yang Haikal ketahui kualitas energi jiwa dapat berbeda-beda tiap Blazer, hal itu bergantung metode berlatih, bakat alami, ataupun seberapa kuat alasan dan tekad yang tertanam pada Soul Arc mereka.
Perbedaan kualitas energi jiwa ini sulit dinilai jika seseorang tidak memahami karakteristik energi jiwa tiap individu, maka dari itu tidak semua Blazer dapat menilai energi jiwa masing-masing dan lebih mengandalkan sebuah benda bernama kristal pendeteksi kualitas jiwa untuk menilai kualitas energi jiwa.
Menurut Asosiasi Persatuan Blazer kualitas energi jiwa manusia dapat dikategorikan menjadi sepuluh tingkat menurut seberapa jauh seseorang dapat memunrikan energi jiwanya, semakin besar jumlah energi jiwa yang dimurnikan semakin tinggi pula kualitas energi jiwanya.
Dalam kasus ini Edward dapat memurnikan sekitar 10 sampai 20 persen energi jiwanya, yang berarti kualitas energi jiwa Edward mencapai tingkat Ninth-Tier.
Kualitas energi jiwa setingkat Ninth-Tier memang bukanlah sesuatu yang istimewa di antara Blazer, namun untuk ukuran pelajar tingkat SMA kualitas tersebut sulit ditemukan mengingat sulitnya memurnikan energi jiwa.
Sejauh ini terdapat tiga metode memurnikan energi jiwa yang diketahui secara luas. Pertama, mengambil energi jiwa makhluk hidup lain. Kedua, bermeditasi menyatukan sejumlah energi jiwa demi mengikis energi yang tak murni. Ketiga, menggunakan Soul Device yang dapat memurnikan energi jiwa.
Ketika sejumlah energi jiwa telah dimurnikan tubuh akan tetap mengingatnya dan akan terus memproduksi energi jiwa tersebut dalam jumlah tersebut, jadi kualitas energi jiwa takkan menurun meski seseorang menghabiskan seluruh energi jiwanya.
Melalui latihannya Haikal berhasil memurnikan energi jiwanya menggunakan metode kedua, tetapi tidak sebanyak Edward.
"Mengingat Edward merupakan keluarga bangsawan, mungkin dia melakukannya dengan metode kedua dan ketiga sekaligus." Haikal mengelus dagunya mengira-ngira metode yang digunakan Edward, namun melihat sikapnya bukan tidak mungkin Edward juga mempraktekkan metode pertama.
Tiap metode pemurnian energi jiwa memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, contohnya metode pertama yang mengambil energi jiwa makhluk hidup lain. Jika seseorang terlalu banyak menggunakan metode ini maka biasanya orang tersebut dapat bersikap lebih brutal dari biasanya karena sulit mengendalikan energi jiwa yang bukan hasil olahan diri sendiri.
Jika Haikal harus membandingkan kualitas energi jiwa Edward dan Salvia, maka Salvia akan kalah telak tanpa perlawanan.
Haikal menggigit kuku jari tangannya merasa khawatir terhadap pertandingan para pencapai Awakening di usia muda ini, terutama terhadap Salvia yang secara kualitas energi jiwa kalah jauh dibanding Edward.
"Ada apa, Snow Princess? Sudah selesai memberikan perlawanan?" Edward mengangkat dagunya memandang Salvia yang bergemetar ketakutan, "Jika sudah maka aku yang akan menyerang!"
Edward menghentakkan kakinya ke lantai menciptakan es, namun es yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya Edward menciptakan es berwarna biru dan hampir transparan, maka kali ini warna esnya didominasi oleh warna hitam kental dengan sedikit biru tua.
Es biru tua kehitaman itu kemudian berkumpul di satu tempat dan membentuk seekor singa es yang berdiri tepat di sebelah kiri Edward, "Awakening : Winter Lion."
Melihat hal itu Salvia kembali memasang kuda-kudanya bersiap menghadapi serangan sebisa mungkin. Meski terlihat berani dan pantang menyerah, lutut dan mental Salvia masih bergemetar merasakan perbedaan jelas antara dirinya dan Edward.
Edward sekali lagi menghentakkan kakinya, kali ini dalam sekejap lantai batu arena diselimuti oleh lapisan es setebal telapak tangan sekaligus membekukan kaki Salvia, "Frozen Ice Field!"
Salvia sedikit panik namun tidak sampai kehilangan akal sehatnya, ia segera mengumpulkan salju-saljunya yang masih tersisa dan menghancurkan lapisan es yang membekukan kakinya. Seusai kakinya terbebas Salvia mengalihkan perhatiannya kembali pada Edward, namun sosok pemuda itu telah hilang dari tempatnya.
Secara spontan Salvia menengok ke berbagai arah mencari keberadaan Edward tetapi tidak berhasil menemukannya. Beberapa saat mencari dengan hasil nihil, Salvia kemudian menoleh ke atas menyadari ada secuil kecil bayangan di lantai es.
Di atas terlihat Edward sedang menggenggam sebuah sabit es besar berwarna biru gelap mendekati hitam yang siap diayunkan menghujam Salvia, "Kena kau!"
Braakk!!
Dengan menendang lantai Salvia mampu menghindari serangan Edward melangkah ke belakang yang pada akhirnya sabit es itu terbenam di lantai berlapis es, namun hal tersebut ternyata tidak membuat Edward kehilangan momentum.
"Winter Lion : Third Code – Scythe Shape!" Edward menarik sabit es besarnya dan mengubah bentuk sabit tersebut menjadi sebuah tombak panjang dengan bilah kapak, "Akan kuperlihatkan kepadamu secara khusus, Winter Lion : Fourth Code – Halberd Shape!"
Gerakan lincah Edward disertai permainan tombaknya yang tajam membuat Salvia kembali mengambil posisi bertahan. Meski Salvia telah melatih fisik dan berbagai ilmu bela diri dalam pertarungan jarak dekat, permainan tombak Edward terlalu tinggi untuk dihindari sepenuhnya sehingga Salvia tak mempunyai pilihan lain selain bertahan dengan salju-saljunya.
"Ini gawat...." Haikal bisa melihat sehebat apa kemampuan bertombak Edward sampai bisa beberapa memberikan luka kepada Salvia yang merupakan seorang jenius dan juga pekerja keras, "Jika pertarungan seperti itu berlangsung lama maka habislah Salvia."
Dari permainan tombaknya Haikal dapat mengetahui Edward memiliki pengalaman bertarung yang sesungguhnya, terlebih lagi Edward terlihat terbiasa melakukan pertarungan jangka panjang. Sementara Salvia? Dirinya belum pernah merasakan pengalaman tersebut sekalipun.
Memang perbedaan pengalaman ini terlihat sepele di mata masyarakat awam, namun bagi seorang Blazer pengalaman-pengalaman ini dapat menentukan hidup dan mati mereka di pertarungan sesungguhnya.
Inilah yang mendasari perbedaan kekuatan dan gaya bertarung antara Edward dan Salvia.
"Hanya seperti ini si jenius yang digadang-gadang jenius terbaik di antara keempat jenius di generasi ini? Menggelikan." Edward menghentikan serangannya setelah memastikan tubuh Salvia mendapat belasan luka sayatan.
Salvia hanya bisa menggeram kesal sambil mengatur nafas dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya mendengar provokasi Edward.
Salvia sadar sejak awal dirinya mengemban tanggung jawab sebagai anak semata wayang Veindal Volksky, satu-satunya pewaris nama bangsawan Volksky generasi selanjutnya, Salvia wajib menjaga kehormatan dan nama besar keluarga Volksky dengan cara menjadi pemenang Turnamen Penyambutan tahun ini.
Sayangnya Salvia tidak beruntung karena di angkatannya terdapat Edward serta tiga orang jenius lainnya yang kurang lebih sama sepertinya, terlebih lagi mungkin masih terdapat banyak 'telur emas' tersembunyi di antara mereka.
Dengan mengemban tanggung jawab atas nama besar keluarga Volksky, Salvia merasa tidak boleh kalah dari 'telur-telur emas' ini bagaimanapun caranya.
Namun saat ini dirinya benar-benar terdesak, energi jiwanya pun sudah hampir terkuras sepenuhnya. Jangankan memenangkan pertarungan, berdiri dan mengatur nafas saja Salvia merasa kesulitan. Belum lagi rasa sakit berkat luka di seluruh tubuhnya membuat konsentrasi Salvia terpecah.
Mengabaikan provokasi Edward barusan, Salvia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan berkonsentrasi menciptakan sejumlah besar salju merah muda menggunakan seluruh energi jiwa yang tersisa dalam tubuhnya.
Salju-salju merah muda itu berputar mengintari Salvia sebagai pusatnya, lalu meluas ke seluruh penjuru arena dan dalam sekejap berubah menjadi badai salju berwarna merah muda, "Magenta Blizzard!"
Salvia segera memperkecil badai salju tersebut dan diarahkan kepada Edward seorang, sehingga Edward terkurung di dalam pusaran badai salju merah muda itu dan tubuhnya mulai dilapisi es merah muda secara perlahan.
"Kau pikir ini akan mempan?" Dilihat dari situasinya kondisi Edward memang tidak memungkinkannya mengucapkan kata-kata penuh kesombongan, tapi kalimatnya memang tidak hanya berisi kesombongan dan omong kosong belaka.
Sambil tersenyum penuh kemenangan Edward mengayunkan tombak berkapaknya memusnahkan badai salju tersebut dengan mudahnya, membuat seisi arena terbelalak hebat, tak terkecuali Salvia.
"Giliranku." Edward menghantamkan tombak berkapaknya ke lantai memunculkan sebongkah es raksasa dari bawah menghantam tubuh kecil Salvia hingga terhempas ke udara. Belum cukup sampai di sana Edward melompat dan mengayunkan tombaknya menghempaskan Salvia keluar batas arena.
Seisi arena tertegun menyaksikan kekuatan Edward yang begitu tinggi di usianya, sampai-sampai pengacara ikut terdiam selama beberapa saat, "Pe-pemenangnya... Edward Ghaetas."
---
Author
Hai, saya author dari cerita ini ingin meminta sedikit bantuan dari para pembaca yg sudah membaca sampai di sini dengan ikhlas.
Ada seseorang/sekelompok yg iseng memberikan boom rate bintang satu pada cerita ini dan menghinanya, padahal tidak membaca sama sekali. Jika Anda memeriksa kolom komentar, anda akan mengetahui apa yg saya maksud (jika tidak dihapus oleh pihak MT atau pengomentar).
Ya, kalian bisa menebaknya bantuan yg ingin saya minta adalah boom rate bintang lima atau berapapun sesuai yg kalian nilai dari cerita ini bagi yg belum memberikan rate sampai angka rate sebelum "diserang" kembali (kalau tidak salah 4.7).
Tidak ada hadiah atau imbalan apapun yg bisa saya tawarkan, saya hanya meminta bantuan bagi yg ikhlas membantu tanpa paksaan.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah bersedia mampir di cerita kecil ini dan terima kasih bagi yg bersedia membantu saya.