
Tepat setelah berakhirnya Turnamen Penyambutan dengan kemenangan Jack dari Kelompok Verna, banyak pertempuran antar Blazer dan Verg di berbagai sudut Adele.
Selain kedatangan Verg di kota yang tiba-tiba menimbulkan kepanikan warga, terdapat juga Blazer asing dalam jumlah besar yang tidak hanya bertarung melawan Verg, Blazer-Blazer asing ini justru melukai dan membunuh banyak Blazer di pihak Adele.
"Apa-apaan ini?!"
"Kalian Blazer, bukan? Bukannya bekerja sama melawan Verg tapi malah membunuh sesama!"
"Pengkhianat? Tidak, mereka pasti Blazer kriminal yang berasal dari organisasi hitam!"
Pertarungan antar Blazer membuat warga semakin bingung terhadap situasinya, padahal terlihat puluhan hingga ratusan Verg berhasil memasuki kota namun yang dilakukan Blazer malah bertarung saling membunuh satu sama lain.
Kekacauan tersebut menyebar hingga hampir ke seluruh penjuru Adele, tentunya berkat sirine peringatan dan guncangan akibat pertarungan para Blazer, masyarakat Adele segera mengevakuasikan diri menuju tempat evakuasi.
Salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling banyak diserang oleh Verg dan Blazer kriminal dari Blackout adalah wilayah sekitar Akademi Skymaze.
Berkat Turnamen Penyambutan yang digelar, hampir seluruh Blazer di setiap penjuru Adele berkumpul di arena demi menyaksikan pertandingan final antara Kelompok Verna dan Kelompok Salvia yang begitu dinantikan, terutama pertarungan terakhir Jack melawan Haikal.
Sayangnya hal tersebut justru dimanfaatkan oleh organisasi hitam seperti Blackout untuk melancarkan serangan pada salah satu kota besar Wulodhasia.
"Heh, festivalnya lumayan heboh juga," ujar seorang pria menyaksikan semua kekacauan tersebut dari salah satu gedung tertinggi yang berdiri di tengah kota. Dia tersenyum lebar menonton gedung-gedung runtuh dan warga kota dibantai satu per satu oleh Verg yang berkeliaran.
Selagi pria tersebut sibuk menikmati cemilan yang dia bawa sembari menyaksikan pemandangan mengerikan yang terjadi pada Adele dari puncak gedung tersebut, sebuah pusaran hitam kecil yang semakin lama semakin membesar tercipta beberapa langkah di belakangnya.
Sesosok berjubah misterius melangkah keluar dari dalam pusaran hitam tersebut seolah-olah itu adalah hal biasa baginya. Dia mendatangi pria yang asyik menikmati pemandangan kejatuhan Adele di pinggir atap gedung.
"Dematora, sudah berapa kali kubilang, jangan main-main terhadap misi kali ini," tegas sosok misterius dengan suara yang disamarkan oleh suara mesin, "Kita tidak boleh gagal dalam misi kali ini, kau tahu."
Dematora berdecak kesal menanggapi perkataan sosok berjubah misterius, "Berisik, Nigel. Aku tahu perintah yang ketua berikan kepadaku."
"Lagipula, mereka tidak akan mati hanya karena lawan level rendah dan Verg sekelas Normal-class ke bawah." Dia membuang bungkus cemilan yang dia santap, lalu bangkit berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Lalu, jika mereka sungguh mati? Kau berani bertanggung jawab?" Suara mesin yang dikeluarkan Nigel mungkin terdengar biasa dan datar, namun Dematora bisa mengetahui terdapat sebuah ancaman di balik kata-kata tersebut.
Dematora mengembangkan sebuah senyuman lebar yang terkesan mengerikan menjawab pertanyaan Nigel, "Jika mereka mati berarti hanya sebatas itulah kemampuan mereka. Blackout tidak butuh orang lemah seperti mereka."
***
"Snow Javelin – Barrage!"
Salvia melemparkan belasan tombak saljunya menuju arah musuh sekaligus, namun dia sudah memperlihatkan jurus ini berkali-kali pada turnamen lalu, jadi serangannya sudah diantisipasi dan dihindari dengan mudah oleh lawannya.
"Heh, kami sudah melihat seranganmu berkali-kali sebelumnya! Kami tidak sebodoh itu menyerang tanpa persiapan!" Salah seorang anggota Blackout segera mendekati Salvia setelah berhasil menghindari serangan.
"Blizzard Bullet Dominion!" Salvia menarik seluruh peluru salju yang telah tersebar ke berbagai arah tersebut menuju para anggota Blackout sebagai titik tengah dan menerjang mereka semua sekaligus.
Dengan serangan tak terduga itu sebagian besar lawan Salvia tumbang seketika, sementara sisanya masih bertahan karena berada di luar jangkauan jurus Salvia.
"Ini kekuatan seorang calon Blazer? Ketua pasti bercanda." Salah satu Blazer Blackout terbelalak melihat serangan Salvia yang jauh di luar dugaannya, padahal sepengetahuannya calon Blazer bahkan lebih lemah dibanding Blazer tingkat Newbie.
Sedangkan Salvia? Gadis yang menjadi target mereka? Dia bahkan bisa mengalahkan beberapa Blazer Intermidate dalam sekali serang. Jika bukan karena Salvia yang menahan diri agar tidak ingin membunuh lawan, mungkin mereka sudah tidak lagi bernafas sambil mengigil kedinginan di lantai.
Tebakan Jack mengenai tujuan penyerangan Blackout pada Adele nyatanya tidak meleset, mereka sungguh mengincar dan menangkap Salvia serta finalis Turnamen Penyambutan untuk direkrut dan menambah kekuatan mereka.
Bakat setinggi Salvia dan Verna sangatlah sulit dicari bandingannya pada generasi ini sehingga tidak heran keduanya diincar oleh banyak orang, bahkan organisasi hitam seperti Blackout sekalipun.
Jack, Cecil, serta Haikal sendiri memang tidak terlalu berbakat berdasarkan penilaian awal, tetapi seiring berjalannya waktu ketiganya mulai diperhatikan, terutama Jack dan Haikal yang terus mengejutkan banyak pihak seiring pertarungan mereka.
Heru memang tidak bisa dibilang berbakat seperti Salvia ataupun Verna, namun sebagai salah satu finalis serta orang yang mampu mengalahkan Jade Phoenix, Heru tak bisa dilewatkan. Jika dibiarkan pemuda itu bisa saja bertambah kuat dan menjadi salah satu Blazer hebat yang dapat merepotkan Blackout di masa depan.
Untuk itu sebelum mereka berkembang dan bertambah kuat ke depannya, Blackout memutuskan untuk menculik mereka dan menjadikan Haikal dan lainnya sebagai anggota Blackout.
"Tapi jika begini anggota awam seperti kami tidak mungkin bisa menangkap mereka," batin salah satu anggota Blackout setelah melihat kekuatan Salvia yang mampu menumbangkan dua Blazer tingkat Intermidate sekaligus.
Tidak ada Blazer setingkat mereka yang tak runtuh kepercayaan dirinya ketika melihat kekuatan seorang calon Blazer sekuat Salvia.
Walaupun memang jurus yang Salvia kerahkan barusan mampu mengalahkan beberapa Blazer tingkat Intermidate sekaligus dalam satu serangan, itu bukanlah teknik yang bisa dipakai sembarangan.
Menyebarkan sejumlah besar salju menjadi ratusan partikel, lalu mengumpulkannya menjadi satu pada banyak titik sekaligus dalam ruang lingkup luas yang jumlahnya mencapai puluhan itu tidaklah mudah. Salvia membutuhkan energi jiwa dalam jumlah besar untuk mengerahkan Blizzard Bullet Dominion.
"Dan sekarang energi jiwaku hanya tersisa sedikit." Salvia bisa mengira-ngira jumlah energi jiwanya yang tersisa setelah serangan besar barusan, dia hanya mampu mengerahkan beberapa serangan berkekuatan sedang sebelum seluruh energi jiwanya benar-benar terkuras habis.
Salvia mengalihkan pandangannya pada Haikal yang masih tertidur di atas kumpulan salju Snow Cloud-nya, "Andaikan aku mempunyai energi jiwa sebanyak Haikal, mungkin aku bisa mengerahkan lebih banyak Blizzard Bullet Dominion dan mengalahkan mereka sekaligus."
Beberapa saat berlalu sesudah Salvia memikirkan hal tersebut sambil memandang wajah tidur Haikal, tanpa sadar dirinya terlena oleh ekspresi Haikal yang belum pernah dia lihat. Wajahnya langsung memerah begitu tersadar.
"Apa yang kulakukan di tengah pertarungan begini?!" Salvia menggelengkan kepalanya kencang mengusir pikiran tak berguna, lalu kembali fokus pada pertarungan yang tengah dihadapinya.
"Lengah di tengah pertarungan begini, kita benar-benar diremehkan!"
"Tapi, ini kesempatan!"
Anggota Blackout yang tersisa tidak melewatkan kesempatan emas ini, mereka langsung menerjang ke depan mendekati Salvia dalam kecepatan tinggi. Salvia yang lengah itu tidak bisa menanggapi serangan mereka semua dalam satu waktu.
Zraat!