Absolute Soul

Absolute Soul
49. Pergerakan Verg



"Gerak-gerik Verg di luar perbatasan?" Haikal dan heru segera mengepung Anna menanyakan banyak hal mengenai perkataan Anna sebelumnya, membuat gadis itu tersenyum canggung mendapati reaksi keduanya yang tak sesuai harapannya.


Anna mendesah pelan merasa dirinya salah berkata, "Sebaiknya kalian tak memberitahukan hal ini pada siapapun, simpan saja untuk diri kalian sendiri." Baik Haikal maupun Heru mengangguk cepat menanggapinya.


Anna kemudian menjelaskan bahwa dirinya mengetahui hal ini secara tak sengaja dari percakapan ayahnya dengan seseorang melalui ponsel. Anna sendiri tidak bisa menangkap dengan jelas isi percakapan tersebut, yang dia ketahui pasti adalah Verg di luar perbatasan menjadi lebih aktif dalam beberapa minggu terakhir.


"Apa informasi dari ayahmu bisa dipercaya?" Tanya Haikal merasa agak ragu terhadap perkataan Anna, pasalnya dia belum pernah mendengar hal ini di berita dunia per-Blazeran manapun.


"Ayahku hanya satu tingkat lebih lemah dari kepala sekolah, Blazer tingkat Lord, salah satu petinggi di Asosiasi Persatuan Blazer cabang Wulodhasia. Kenapa kau meragukannya?" Anna sedikit cemberut merasa kesal Haikal tak percaya padanya.


Haikal tersenyum canggung baru teringat posisi ayah Anna, Jeanbart Kindheart, seorang Blazer ternama di Wuloldhasia. Tidak setiap hari dirinya bisa mendapatkan informasi yang berasal dari Blazer tingkat Lord, bukan?


Haikal merenung sejenak memikirkan kemungkinan adanya serangan Verg di masa depan, mengingat sudah beberapa tahun berlalu semenjak invasi Verg besar-besaran terjadi di Wulodhasia, "Bukan tidak mungkin selama itu Verg menghimpun kekuatan untuk menyerbu umat manusia," gumam Haikal dalam hatinya.


Heru pun memikirkan hal yang kurang lebih sama, informasi dari Blazer tingkat Lord sekaligus petinggi Asosiasi Persatuan Blazer di Wulodhasia bukanlah sesuatu yang sulit diabaikan.


"Anna Kindheart!"


Di saat keduanya mulai larut dalam pikiran masing-masing, nama Anna dipanggil oleh Andre untuk memasuki ruang virtual.


"Baiklah, kurasa sampai di sini saja obrolan berat kita, kuharap kau tak memberitahukan hal ini pada yang lain dan persiapkan diri kalian sebaik mungkin jika waktunya sungguh tiba," ujar Anna sebelum memasuki ruang virtual dan menghadapi beberapa Verg kelas Insect sekaligus.


Haikal dan Heru saling memandang satu sama lain, "Heru, kalau informasi dari Anna ini benar maka kau harus ikut berlatih bersamaku sesuai menu latihanku mulai sekarang." Haikal khawatir jika saat Verg menginvasi dan Heru terbunuh atau terluka parah karena perkembangannya tidak optimal, itu adalah salahnya karena menyembunyikan cara berlatihnya selama ini.


"Bukankah latihanmu itu terlalu berat bahkan bagiku yang setiap hari rutin berlatih? Aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya dua hari berturut-turut, apalagi setiap hari." Heru kebingungan tidak mengerti apa yang membuat Haikal tahan menjalani latihan sekeras itu.


Haikal tersenyum kecil sebelum mulai menjelaskan tentang rahasia di balik latihan tersebut, tentang pengendalian efesiensi energi jiwa melalui pernafasan, sifat energi jiwa yang dapat digunakan sebagai pengganti stamina fisik, sampai efek samping yang mungkin bisa terjadi.


Mendengar semua itu emosi Heru tersulut, "Kau sialan! Beraninya kau menyembunyikan fakta sebesar itu selama ini!" Heru langsung menghajar Haikal begitu sahabatnya itu selesai menjelaskan.


"Bukan menyembunyikan, aku tidak tahu apa efek samping berlatih dengan cara seperti itu! Jika aku terkena efek sampingnya, maka aku takkan memberitahumu!" Tak terima Heru menyerangnya, Haikal pun membalas serangannya dengan tenaga yang lumayan.


"Itu tidak ada bedanya dengan menyembunyikan! Mampus kau ****** badak!"


"Upil neptunus berengsek! Dengarkan orang berbicara!"


Pada akhirnya mereka saling bertarung dan menjadi pusat perhatian seisi kelas, "Apa yang mereka lakukan?" Bahkan Andre yang berada di ruang kaca menepuk dahi sebelum turun dan melerai keduanya.


***


Sesudah perkelahian kecil mereka, Haikal dan Heru ditendang keluar dari Virtual Training Room oleh Andre. Mereka akan diberi hukuman setelah pelatihan kelas 1-A di ruang virtual selesai sepenuhnya.


Saat ini keduanya berada di ruang ganti mengenakan kembali seragam biasa akademi Skymaze, namun berbeda dari sebelumnya terlihat percikkan listrik tak kasat mata di antara Haikal dan Heru sekarang, sebelum pada akhirnya mereka menghela nafas bersamaan.


"Maaf, aku terlalu emosi tadi." Tanpa membalikkan badan Heru menyatakan permintaan maafnya. Dia merasa dirinya salah karena terbawa emosi setelah mengetahui Haikal menyembunyikan caranya berlatih sampai bisa sekuat ini.


Begitu suasana canggung di sekitar mereda, Heru dan Haikal membalikkan badan mereka secara bersamaan dan saling menatap sebelum tersenyum yang kemudian diikuti suara tawa satu sama lain.


"Bagus, memang sudah seharusnya sahabat itu mengalami pertengkaran kecil. Jika tidak maka persahabatan itu akan hambar rasanya," ujar seorang pria paruh baya yang memasuki ruang ganti pria secara tiba-tiba, membuat Haikal dan Heru sedikit terkejut, "Kepala sekolah?!"


Ya, sosok tersebut adalah Veindal Volksky, kepala sekolah Akademi Skymaze ini, sosok terkuat sekaligus paling disegani di seluruh akademi Skymaze.


Haikal dan Heru buru-buru memakai seragam sekolah mereka mengetahui kedatangan Veindal yang mendadak ini sebelum menyapa balik, "Kenapa kepala sekolah kemari? Apa pertengkaran kami memang sebegitu kerasnya sampai-sampai kepala sekolah datang dan menghukum kami secara pribadi?" Heru mengutarakan pikirannya lebih dulu dibanding Haikal, sedikit mengejutkan sahabatnya itu.


"Ahahaha, pendapat yang menarik!" Veindal tertawa keras mendengar pernyataan Heru selama beberapa saat, "Boleh saja jika kalian memang ingin dihukum olehku, tapi bukan itu maksud kedatanganku kemari."


Veindal kemudian memberitahu hal yang kurang lebih sama seperti yang Anna sampaikan beberapa waktu lalu, hanya saja penjelasan Veindal lebih mendetail dan lengkap.


"Kebanyakan adalah Verg kelas Normal dan Beast?" Mata Haikal melebar mengetahui rata-rata Verg yang melakukan pergerakan di luar perbatasan ternyata adalah kelas Normal sampai Beast, bahkan ada beberapa kelas Chimera serta Goliath. Heru sendiri sampai tak bisa berkata apa-apa saking syoknya.


Berbeda dari keals Insect, Normal ataupun Beast yang termasuk Verg kelas bawah, Verg berkelas Chimera dan Goliath dikategorikan sebagai Verg kelas menengah yang hanya bisa dilawan oleh Blazer setingkat Master ke atas.


Verg kelas Chimera umumnya memiliki besar minimal lima meter ke atas dan kekuatannya setara dengan Blazer tingkat Master, sementara Verg sekelas Goliath biasanya mempunyai ukuran paling kecil sekitar 30 meter dan memerlukan seorang Blazer tingkat Lord agar dapat mengimbanginya.


"Apa yang akan terjadi pada Wulodhasia jika mereka sungguh menyerang?" Haikal mengucurkan keringat dingin membayangkan jika saja para Verg tersebut menyerang Wulodhasia, benak Heru pun tidak jauh berbeda dari Haikal.


Veindal bisa melihat kekhawatiran Haikal dan Heru, "Aku memberitahukan informasi ini bukan untuk menakut-nakuti kalian, tapi memperingati kalian agar tidak lengah sedikitpun," jelas Veindal menepuk pundak mereka, "Kalian ingat Tragedi Arastel, bukan?"


Haikal dan Heru mengangguk pelan masih mengingat tragedi mengerikan yang terjadi pada sekitar sepuluh tahun silam.


Tragedi Arastel, sebuah tragedi yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu di wilayah Borneo Barat, tepatnya pada kota terbesar pada provinsi tersebut, Arastel.


Dijelaskan dalam beberapa buku atau media bersejarah, Tragedi Arastel merupakan salah satu tragedi paling besar dan mengerikan pasca perang melawan Verg pada First Doom dan Second Doom.


Bagaimana tidak? Sebuah kota besar seperti Arastel yang notabenenya merupakan jantung ketiga kerajaan Wulodhasia hancur dalam semalam. Kabarnya hal ini disebabkan oleh kedatangan Verg secara tiba-tiba dan berhasil menembus lapisan pelindung kota.


Serangan mendadak tersebut membumihanguskan Arastel dan beberapa kota di sekitarnya, mengubah sebagian besar wilayah Borneo Barat menjadi wilayah tandus, bahkan beberapa kota kecil di pinggiran Borneo Tengah juga terkena imbasnya.


"Aku memberitahukan informasi ini agar kalian berlatih lebih giat dan sigap jika para Verg di luar perbatasan ini sungguh berusaha menginvasi kita," jelas Veindal berusaha menenangkan keduanya.


Mereka mengangguk cepat dan berterima kasih pada Veindal sebelum pria paruh baya berambut putih itu pergi dari ruang ganti.


"Heru, sepulang sekolah ini mampirlah ke rumahku, kita akan langsung memulai latihan," pinta Haikal memandang Heru, sementara sahabat di sebelahnya itu mengangguk pelan menyetujui permintaan Haikal.


Mereka berdua sadar meski kekuatan serta pengalaman mereka mungkin belum bisa dikatakan setara dengan Blazer tingkat Newbie atau Intermidate sekalipun, setidaknya mereka harus bisa melindungi diri sendiri agar tidak begitu membebani Blazer lain.


Sejak hari itu baik Haikal maupun Heru menjalani latihan yang lebih keras dari sebelumnya menggunakan metode pelatihan Haikal, mereka juga berencana akan mengajak Salvia ikut berlatih bersama jika gadis tersebut sembuh dan mampu berlatih kembali.