Absolute Soul

Absolute Soul
27. Aura Merah



"Pe-pemenangnya Verna Galvoria...." Sang pengacara butuh beberapa waktu untuk tersadar dari ketertegunannya menyaksikan kekuatan Verna yang kurang masuk akal untuk calon Blazer tingkat SMA.


Nama Gadriel cukup dikenal masyarakat luas karena ia juga merupakan salah satu jenius yang berasal dari keluarga bangsawan ternama di Wulodhasia, tidak sedikit yang menjagokan dirinya sebagai pemenang Turnamen Penyambutan tahun ini.


Namun siapa sangka individu yang diunggulkan sebagai pemenang Turnamen Tahun ini kalah hanya dengan satu serangan? Tidak, tak ada satupun dari penonton yang menduga hal ini terjadi, meski lawannya adalah Verna yang merupakan calon Blazer tipe Wizard paling jenius di angkatan ini.


Setelah memastikan kemenangannya Verna melepas Elemental Dress-nya lalu melangkah keluar dari batas arena, sementara staf medis segera mendatangi Gadriel yang bersandar di dinding pembatas tribun tanpa kesadaran.


"Verna, bukankah itu terlalu berlebihan?" Jack menyambutnya dengan senyuman kering tak menyangka Verna melepaskan kekuatan yang begitu besar hanya di pertandingan antar murid akademi.


"Aku sedikit kesal dengan mereka, meski aku tahu lawan Cecil bersungguh-sungguh karena mengakui kemampuan Cecil." Verna menghela nafas merasa kecewa terhadap dirinya termakan oleh emosi sesaat padahal dirinya sudah seringkali diperingatkan oleh kedua orangtuanya.


Dikarenakan Gadriel yang kehilangan kesadaran dan mengalami luka yang tidak sedikit, Gadriel dihilangkan dari daftar undian peserta di pertandingan ini. Dengan ini tidak perlu diragukan lagi kelompok mana yang akan menang.


Setelah suasana ricuh berkat penampilan Verna yang begitu menghebohkan mereda, sang pengacara menarik undian yang tentu saja di pihak lawan telah ditentukan siapa yang akan bertanding, sementara di pihak Verna sekali lagi gadis berambut ungu tersebut dipanggil menjadi peserta.


"Lagi? Bahkan setelah bertarung beberapa menit lalu?" Verna menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas pelan, tak menyangka dirinya langsung dipanggil kembali untuk bertanding.


Sementara Verna berniat berjalan memasuki area pertandingan, pengacara berseru di dalam ruangannya, "Ehm, karena alasan tertentu kelompok Gadriel menyerah. Pemenang perempat final pertama adalah kelompok Verna."


"Tidak heran anggota terakhir mereka menyerah mengingat kekuatan Verna begitu dahsyat untuk ukuran calon Blazer tingkat SMA."


"Walaupun caranya pengecut tetapi bisa dimaklumi karena seluruh anggota kelompok Verna adalah monster."


"Benar sekali, terutama Verna dan Jack yang kekuatannya setingkat dengan Blazer tingkat Intermidate atau Advance, bahkan bukan tidak mungkin setingkat dengan Blazer tingkat Expert jika mereka masih belum mengerahkan kekuatan penuh mereka."


Tidak sedikit yang menjelekkan anggota kelompok Gadriel yang tersisa, tetapi hampir seluruh penonton memaklumi tindakannya karena sulit mencari tandingan Verna di tingkatan ini.


Di sisi lain Verna menghela nafas lega mengetahui dirinya tak perlu langsung bertanding lagi. Berkat menggunakan Elemental Dress-nya di pertandingan melawan Gadriel sebelumnya energi jiwanya terkuras cukup banyak, meski kekuatannya menjadi berkali-kali lipat dari normalnya.


Di tengah diskusi panas para penonton yang sedang mengira-ngira kekuatan Verna yang sesungguhnya, pengacara mengumumkan hasil undian pertandingan berikutnya, "Pertandingan selanjutnya akan dimeriahkan oleh kelompok Bernard dan kelompok Salvia!"


Mendengar pengumuman pertandingan selanjutnya para penonton mengubah topik diskusi, yaitu kekuatan kelompok Salvia sejak awal dimulainya turnamen selalu melampaui ekspetasi mereka, terutama dua anggota selain Salvia.


Salvia yang merupakan ketua mereka sekaligus salah satu individu yang diunggulkan sebagai pemenang turnamen hampir tidak bergerak sama sekali sejak turnamen dimulai, mirip dengan Verna. Satu-satunya yang ia lakukan sejauh ini hanya melindungi bola kristal menggunakan kubah salju yang diciptakan di sekitarnya, selain itu Haikal dan Heru yang mengerjakan sisanya.


Awalnya kedua pemuda itu memang diremehkan karena nama mereka hampir tidak pernah terdengar sebelumnya, terutama Haikal yang dikabarkan belum membangkitkan Soul Arc-nya. Namun seiring berlalunya pertandingan keduanya menjadi diperhitungkan oleh sebagian besar penonton, bahkan beberapa Guild besar membicarakan mereka.


Heru sekilas terlihat seperti calon Blazer yang biasa ditemui di akademi tingkat SMA manapun, tetapi setelah memperlihatkan kemampuannya dalam pertandingan namanya terangkat dan banyak dibicarakan di kota Adele.


Berbeda dari Heru yang cukup normal sebagai calon Blazer, nama Haikal cukup sering didengar karena ia merupakan satu-satunya murid kelas satu yang belum bisa memanggil Soul Arc-nya sehingga dirinya diremehkan banyak pihak, tapi itu hanya di awal saja.


Sekarang semua orang tahu nama Haikal berkat kemampuan bertarungnya yang begitu mengagumkan terlepas dari ketidakmampuannya membangkitkan Soul Arc. Haikal disebut-sebut sebagai 'kuda hitam' terbaik dalam Turnamen Penyambutan tahun ini.


Dua pertandingan sebelumnya memang terbilang singkat, tetapi menyaksikan kemauan kuat untuk menang dari Cecil dan kekuatan mutlak Verna yang bahkan menghempaskan salah satu peserta unggulan, Gadriel dalam satu serangan, Heru tidak bisa menahan semangat bertarungnya.


Berbeda dari Heru yang masih memiliki rasa gugup selama pertandingan sebelum ini, Haikal sudah mulai terbiasa dengan para penonton dan sorak-sorai mereka. Tidak ada tawa mengejek atau menghina dirinya, bisa dibilang itu salah satu alasan Haikal berhasil mengatasi rasa gugupnya.


"Pertandingan pertama akan dimeriahkan oleh.... Oh, tanganku memang penuh kemujuran! Peserta Bernard Grayhole dan Haikal Alendra, silahkan naik ke atas arena!" Seru sang pengacara merasa bersemangat dan beruntung bisa menyaksikan penampilan sang 'kuda hitam' secepat ini.


Seruan si pengacara disambut antusias oleh sebagian besar penonton, mereka jelas mengetahui kekuatan Haikal yang merupakan satu-satunya peserta yang bisa sampai ke titik ini tanpa menggunakan Soul Arc ataupun Soul Device, murni hanya menggunakan energi jiwa dan fisiknya saja.


"Kau dipanggil tuh, pergi dan kembalilah dengan cepat." Heru mendorong punggung Haikal sembari mendengus kesal. Dirinya berharap akan tampil pertama untuk melampiaskan semangatnya, tapi sepertinya ia harus menunggu Haikal memenangkan pertandingan.


Haikal sendiri hanya tertawa kering mengerti maksud Heru, lalu mengalihkan pandangannya pada Salvia. Gadis berambut putih keperakan itu mengangkat jempol kanannya memandang wajah Haikal, "Berjuanglah, Haikal. Kau pasti bisa."


"Dia mendapat dukungan langsung dari Snow Princess?!"


"Bocah sialan!"


"Hei Bernard, hajar dia dengan segenap tenagamu!"


Sebagian besar penonton tiba-tiba menjadi heboh mendengar dukungan Salvia pada Haikal, terutama para pelajar akademi, baik itu gadis maupun pria, meski lebih banyak pria. Bukan rahasia umum bahwa Salvia adalah salah satu idola para murid akademi Skymaze, bahkan tak sedikit pula orang luar yang mengaguminya karena kekuatan dan parasnya yang begitu cantik.


Haikal yang mendengar itu semua kebingungan harus bereaksi seperti apa, awalnya mereka mendukung dirinya lalu setelah mendapat dukungan sederhana dari Salvia tiba-tiba mereka berpindah menjadi memusuhinya—tidak, mungkin lebih tepatnya berniat menjatuhkannya.


Salvia yang tak peka terhadap kondisi lingkungannya hanya bisa kebingungan tidak mengerti mengapa para penonton menjadi lebih heboh dari sebelumnya, sementara Heru menggelengkan kepala sambil memijat keningnya pelan.


Mengabaikan semua kehebohan yang tengah terjadi berkat Salvia, Haikal melangkah memasuki batas arena.


Di sana sudah berdiri seorang pemuda berambut hitam kecokelatan dengan tangan terlipat, mata merahnya menatap tajam Haikal. Dia adalah Bernard Grayhole, ketua kelompok Bernard yang dikabarkan memiliki Soul Arc tipe Warrior.


"Haikal Alendra, jangan harap kau bisa menang dariku dalam pertarungan jarak dekat seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya." Bernard kemudian mengeluarkan Soul Arc-nya yang berwujud sebuah tongkat sepanjang satu setengah meter berwarna merah kehijauan.


Bernard tidak bermaksud meremehkan Haikal, hanya saja menurut pengamatannya sejauh ini Haikal tak memiliki kesempatan untuk menang melawannya karena gaya bertarungnya terlalu sederhana, yaitu sekedar memukul dan menendang. Tidak ada pola rumit atau strategi yang cukup mengancam lawan.


Haikal mengangguk pelan mendengar pernyataan Bernard, "Kalau begitu aku tidak akan seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya."


Setelah mengatakan itu Haikal mengalirkan sejumlah besar energi jiwa ke seluruh tubuhnya, kali ini tekanan energi jiwanya cukup kuat hingga merembes keluar menciptakan sebuah aura tipis berwarna merah samar.


Sebagian besar penonton mengetahui Haikal mengeluarkan jumlah energi jiwa yang tak biasa untuk calon Blazer setingkat SMA, tetapi hanya sedikit yang dapat melihat aura di sekitar tubuhnya itu.


Melihat kedua peserta telah siap bertarung, sang pengacara memberikan tanda dimulainya pertandingan, membuat Bernard dan Haikal langsung mendekati satu sama lain. Bernard dengan tongkatnya dan Haikal dengan kepalan tangannya.