
Serangan pertama kedua gadis di panggung arena berhasil memberikan kesan menggelegar bagi semua penonton yang menyaksikannya, bahkan para wakil Guild di ruangannya masing-masing sekalipun terpukau oleh daya serang Verna maupun Salvia.
"Boleh juga saljumu, Salvia," ucap Verna tersenyum tipis mendapati serangan berhasil ditahan oleh sejumlah salju yang notabenenya lemah terhadap api.
Salvia mengabaikan komentar Verna dan fokus mempersiapkan serangan berikutnya, kali ini dia menciptakan sebuah bola salju raksasa dengan diameter tak kurang dari lima meter. Bola salju tersebut melayang beberapa meter di hadapannya.
Tanpa membuang lebih banyak waktu Salvia melemparkan bola salju raksasa itu menuju Verna dalam kecepatan tinggi terlepas dari ukurannya yang masif.
Verna mengangkat tongkatnya dan mengerahkan jurus yang sama seperti sebelumnya, Red Burst, sayangnya Verna sekalipun tidak bisa membakar ataupun menguapkan bola salju sebesar dan sepadat itu dalam waktu singkat.
"Hanya sekali serang dia bisa mengantisipasi sihir apiku?" Verna mengangkat alisnya menyaksikan perbuatan Salvia sebelum berdecak pelan, lalu memutarkan tongkatnya sejenak dan menghentakkannya ke lantai kuat-kuat, "Memang pantas disebut jenius."
Dalam sekejap muncul sejumlah gundukan tanah beberapa langkah di depan Verna, gundukan tersebut dengan cepat bertambah banyak dan membentuk sebuah dinding besar nan kokoh yang kemudian sukses menahan terjangan bola salju raksasa milik Salvia.
Salvia berdecak kesal menyadari serangannya mampu ditahan, sementara Verna tertawa kecil di balik tembok tanahnya yang kokoh merasa sukses menghalau serangan Salvia yang dia rasa cukup mengancam.
Verna kemudian melompat dan berdiri di atas tembok tanahnya, "Kau mengerti kekuatanku sekarang, Salvia? Aku adalah lawan terburuk bagimu," ujar Verna tersenyum meledek Salvia.
Salvia sendiri merasa cukup kesal namun dia tidak sebodoh itu langsung termakan provokasi Verna di awal pertandingan. Dia kemudian tersenyum kecil membalas Verna, "Yah, aku sudah paham kemampuanmu sejak lama."
Tanpa peringatan Salvia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dada, di saat yang bersamaan pula sejumlah salju bekas bola salju yang dia lemparkan kepada Verna sebelumnya bergerak ke atas, berputar mengelilingi sosok Verna yang berdiri di atas tembok tanah.
"Snow Vortex!" Seru Salvia mempercepat perputaran saljunya mengelilingi Verna, menciptakan sebuah pusaran salju serupa dengan angin puyuh kecil namun kencang.
Para penonton ternganga menyaksikan jurus Salvia. Bukan hanya salju tetapi Salvia juga mampu menggerakkan salju-saljunya dalam kecepatan tinggi hingga menciptakan pusaran angin yang disertai salju.
Verna sendiri sedikit terkejut Salvia memanfaatkan salju yang telah dia gunakan untuk kembali menyerang, namun senyuman di bibirnya tidak luntur sedikit pun. Dia mengambil sikap tertentu dan mengerahkan sejumlah energi jiwa ke dalam tongkatnya.
Di sisi luar Salvia tidak bisa melihat apa yang Verna lakukan, tetapi dirinya terus mempertahankan atau bahkan meningkatkan kecepatan pusaran saljunya demi menekan Verna sekuat tenaga.
Pusaran angin merupakan salah satu bencana alami yang paling sering terjadi dan kerap kali menimbulkan kerugian yang tidak sedikit berkat kekuatan perputarannya di berbagai negara, namun pusaran salju yang Salvia ciptakan tidaklah begitu berbahaya mengingat dia tak bisa memanipulasi angin.
Saat Salvia fokus pada jurusnya, tiba-tiba dia merasakan ada pergerakan aneh dari dalam pusaran yang membuat perputaran Snow Vortex makin melemah setiap detiknya, hingga pada akhirnya terhempas dan tergantikan oleh sebuah tornado lain yang bukan miliknya dari dalam.
Beberapa detik seusai hancurnya Snow Vortex milik Salvia, tornado tersebut perlahan-lahan mereda dan akhirnya menghilang, menampakkan sosok Verna yang tersenyum sinis pada Salvia, "Green Whirlwind. Pusaran saljumu bukan tandingan tornado yang sesungguhnya, Salvia."
Salvia menggertakkan giginya kesal serasa dipermainkan oleh Verna. Dibakar oleh rasa kesalnya, Salvia memejamkan mata dan menyatukan kedua tangannya di beberapa jengkal di depan dada, berkonsentrasi terhadap sejumlah saljunya yang kini berputar mengelilingi dirinya.
Secara perlahan namun pasti, salju-salju tersebut berkumpul dan menyatu satu sama lain, menyelubungi tubuh Salvia kemudian mengambil bentuk manusia salju raksasa setinggi lima meter dengan Salvia yang berada di bagian kepala. Kali ini lengkap dengan lengan dan kaki, "Giant Snowman!"
Verna berdecak kagum menyaksikan manusia salju raksasa yang belum pernah Salvia ciptakan secara lengkap ini, dia kemudian tersenyum sejenak dan membentuk belasan tombak angin yang berputar kencang, "Green Spear."
"Ditambah... Red Spark." Belum puas hanya dengan satu jurus, Verna menambahkan percikkan api pada belasan tombak angin yang kini diselimuti kobaran api berwarna merah kekuningan, "Blaze Spear!"
Verna segera melesatkan belasan tombak berapi tersebut menuju manusia salju raksasa milik Salvia. Tombak-tombak itu berhasil menembus kulit luar Giant Snowman Salvia dengan semudah pulpen menembus kertas.
Verna tersenyum penuh kemenangan menyaksikan serangannya mampu menembus manusia salju raksasa Salvia begitu mudah, namun belum genap dua detik senyumnya tiba-tiba luntur digantikan kerutan pada dahinya, "Tombakku tidak bisa menembus lebih dalam?"
Biarpun Amber Spear milik Verna dapat menembus kulit luar manusia salju Salvia dengan mudah, nyatanya Verna tidak bisa memperdalam hujaman tombak-tombaknya. Dia bisa merasakan suatu lapisan keras di balik bagian terluar sosok salju humanoid raksasa tersebut.
"Apa kau lupa saljuku bukan salju biasa, Verna?" Salvia menampakkan diri pada bagian leher Giant Snowman-nya, berhasil membuat dahi Verna sedikit berkedut.
Gadis berambut ungu tersebut tersenyum masam tak bisa menahan rasa kesalnya diejek oleh Salvia, dia lalu mengangkat lengan kirinya ke depan dan melepaskan api pada tombak-tombaknya, lalu menyebarkannya ke berbagai arah mengelilingi Giant Snowman.
Sayangnya sebelum persebaran api meluas, Salvia sudah lebih dulu meringkus belasan tombak api yang tertancap pada manusia saljunya—mungkin lebih tepatnya menelan dan menekan semuanya menggunakan sejumlah besar salju pada Giant Snowman.
Verna mendecakkan lidahnya sejenak menyadari kelalaiannya meremehkan Salvia. Biarpun gadis berambut perak tersebut baru saja pulih dari cedera yang membahayakan nyawa, nyatanya kekuatan Salvia masih lebih dari cukup untuk menandingi salah satu empat jenius angkatan ini.
Verna menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, dia kini memandang Salvia tanpa senyum manis yang biasa bertengger di bibir kecilnya, "Baik, kelihatannya aku memang terlalu meremehkanmu."
Salvia ingin memasang senyuman kemenangan mampu mengatasi semua serangan Verna tanpa usaha berlebih, tetapi tubuhnya tiba-tiba membatu ketika merasakan tekanan energi jiwa luar biasa merembes keluar dari Verna hingga menciptakan sebuah aura ungu tipis di sekujur tubuhnya.
Gadis berambut ungu tersebut memejamkan mata berkonsentrasi terhadap energi jiwanya yang perlahan-lahan bersatu dengan Elemental Staff di tangan kanannya.
Tongkat tersebut memancarkan sinar remang-remang selama beberapa saat sebelum terurai menjadi butiran energi berwarna ungu yang kemudian berkumpul di seluruh tubuhnya, membentuk sebuah gaun merah membara selayaknya api, "Elemental Dress – Red Lion."