
Serangan Salvia dan Verna saling berbenturan, sukses menciptakan ledakan hebat yang mengguncang seluruh Akademi Skymaze. Jika bukan karena ikut campurnya beberapa Blazer tingkat tinggi sebagai petugas keamanan yang bekerja mengendalikan pelindung di arena, maka ada kemungkinan seluruh arena ini sudah hancur berkat jurus dua gadis tersebut.
"Ini sungguh kekuatan calon Blazer kelas satu?"
"Mereka berdua bukan selevel calon Blazer lagi."
"Kekuatan seperti ini harusnya hanya bisa dimiliki oleh Blazer setingkat Expert atau lebih...."
Para penonton hanya bisa termenung memandangi dampak ledakan barusan terhadap lapangan arena yang sampai mengubah sebagian besarnya menjadi ribuan pecahan batu kecil. Mereka tidak akan percaya hal ini disebabkan oleh dua orang calon Blazer kelas satu jika bukan karena melihat dan merasakan dampak kekuatan keduanya sendiri.
Di pinggir arena sendiri terlihat Haikal memandang lapangan arena dengan begitu khawatir. Dia tahu benar seberapa kuatnya Salvia meski teknik pemusatan energi jiwa yang digunakan beberapa saat lalu mengejutkan dirinya, namun jika intuisinya tidak salah kualitas serta kekuatan energi jiwa Verna masih di atas Salvia.
Secara statistik saja Salvia sudah kalah telak dari Verna yang benar-benar terfokus sebagai Blazer tipe Wizard, belum lagi kemampuan Soul Arc Verna yang bukan hanya satu unsur sihir saja seperti Blazer tipe Wizard lainnya, melainkan lima unsur sihir sekaligus.
Sejauh pengamatannya Verna bahkan dapat menggabungkan dua unsur sihir menjadi satu, yang mana bisa memperkuat serangannya. Itu bisa terlihat dari penampilan Elemental Dress milik Verna yang berubah-ubah menyesuaikan sihir yang dikeluarkannya.
Bagi Salvia yang hanya mempunyai satu unsur sihir, Verna merupakan lawan buruk karena bisa beradaptasi dengan unsur sihir lawannya, terutama unsur sihir Salvia adalah salju, unsur sihir bersifat dingin yang mudah meleleh.
Saat kekhawatiran Haikal memuncak, debu serta uap yang menutupi pandangan di luar lapangan arena mulai menipis sedikit demi sedikit, lalu memperlihatkan sesosok bayangan tengah berdiri seorang diri di sana, menimbulkan rasa penasaran besar bagi seluruh penonton.
Beberapa detik berselang, bayangan tersebut akhirnya menampakkan sosoknya yang berupa gadis cantik setinggi sekitar satu setengah meter berambur ungu cerah panjang terurai indah ditiup oleh angin, disertai bulir-bulir keringat tak terhitung jumlahnya mengalir jatuh dari seluruh badannya.
"Pe-pemenangnya... Yang masih berdiri adalah...." Pembawa acara menunjuk gadis di tengah lapangan arena tersebut sambil berseru keras, "Sang ketua tim, Verna Galvoria!"
Pernyataan kemenangan sang pembawa acara disambut meriah oleh sorak-sorai para hadirin pendukung Verna, diikuti oleh terbelalaknya para pendukung Salvia yang menyaksikan idolanya telah kalah dua kali sepanjang turnamen berlangsung.
Haikal sedikit membelalakkan matanya sesaat mendengar pengumuman pemenang dari pembawa acara, dia kemudian menghela nafas panjang dan menggaruk bagian belakang kepalanya, "Padahal aku sempat berharap hasil pertandingan mereka setidaknya seri."
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Haikal dengan cepat memasuki lapangan arena dan menghampiri Salvia yang tergeletak tak berdaya di lantai lapangan arena, sementara di sisi lain Jack juga mendatangi Verna yang kini jatuh berlutut kehabisan tenaga.
"Salvia, sadarlah. Kau tak apa-apa?" Haikal bertanya. Berbeda dari babak sebelumnya, kondisi Salvia saat ini tidak terlihat terlalu parah, bahkan kesadarannya masih bertahan meski kelopak matanya sudah setengah tertutup memandang langit.
Salvia menoleh ke sumber suara tersebut, "Ah, Haikal, ya?" Dia tersenyum tipis sembari berkata demikian sebelum menitikkan sebutir air mata, "Maaf, aku kalah lagi."
Haikal menaikkan sebelah alisnya sejenak melihat air mata yang membasahi pipi Salvia, tidak mengerti mengapa Salvia memasang wajah sesedih itu hanya karena kalah. Dia ingin mengatakan sesuatu mengenai arti di balik ekspresi tersebut, tapi air mata Salvia mengalir semakin deras membuatnya merasa sungkan bertanya.
Salvia bisa melihat perbedaan raut wajah Haikal seusai dia meminta maaf, dia lalu menyadari matanya tengah mengeluarkan air mata begitu derasnya dan segera menyembunyikan paras cantiknya menggunakan lengan yang bisa dia gerakkan dengan bebas.
"Maaf, aku minta maaf.... Maaf, aku tidak bisa menang...." Tanpa disadari tangisan Salvia semakin menjadi-jadi seiring gerakan bibirnya yang kini bergetar melantunkan kata 'maaf' berkali-kali, "Maaf, Haikal... Maaf, Heru.... Maaf, ayah.... Maafkan aku yang lemah ini...."
Haikal ingin menghentikan Salvia, tetapi kalimat terakhir dari Salvia membuat niatnya terhenti, "Maaf, ibu...." Selepas kalimat tersebut terucap dari bibirnya, Salvia tidak mengeluarkan suara apapun selain isak tangis.
Haikal sedikit terkejut mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut mungil Salvia. Hanya dari sepatah kalimat itu Haikal bisa tahu bahwa selama ini Salvia bukan berjuang demi dirinya semata, melainkan berjuang untuk seseorang yang berharga baginya.
Di saat inilah Haikal baru menyadari bahwa Salvia tidak jauh berbeda dari dirinya. Haikal kehilangan ayahnya saat masih kecil dan salah satu tujuannya berusaha menjadi seorang Blazer adalah untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian ayahnya, sementara Salvia berjuang demi ibunya yang kemungkinan besar telah meninggal.
Haikal berani mengambil kesimpulan demikian karena selama berlatih bersama di kediaman Volksky, dirinya tidak pernah sekali pun melihat sosok wanita yang dipanggil ibu ataupun istri oleh Salvia dan Veindal.
Dia memang tidak tahu masa lalu Salvia yang membuat gadis tersebut dapat mencapai tingkatan ini, namun Haikal sedikit banyak memahami perasaan Salvia. Dadanya sedikit nyeri ketika air mata Salvia yang masih terus mengalir.
Pada akhirnya Haikal menarik nafas dalam-dalam mengukuhkan tekadnya, dia lalu menarik lengan Salvia yang menutupi wajahnya dan memandang mata berwarna ungu cerah tersebut dengan sorot mata mantap, "Jangan meminta maaf, Salvia. Kau sudah berusaha semampumu. Itu lebih dari cukup."
Air mata Salvia berhenti mengalir sejenak menanggapi perkataan Haikal dan langsung menutup wajahnya kembali, "Tidak, ini belum cukup. Aku sudah kalah, dua kali bahkan."
"Lalu, kenapa memangnya jika kau kalah?" Haikal meninggikan nada suaranya terdengar tegas, mengejutkan Salvia sampai air matanya yang mengalir kembali tiba-tiba terhenti, "Kau tahu pepatah 'apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat'?"
Salvia tertegun mendengar perkataan Haikal, pandangan berkaca-kacanya kini tertuju pada mata pemuda tersebut sambil mengangguk pelan seperti anak kecil. Ekspresi Haikal melunak melihat reaksi Salvia.
"Ya, aku mengerti," ujar Salvia pelan sambil mengangguk pelan. Terlihat seutas senyuman manis terbentuk di bibirnya, membuat Haikal terpukau untuk sesaat.
"Ekhem!"
Belum sempat Haikal mendapatkan kesadarannya kembali, dia dikejutkan oleh suara dehaman keras yang berasal dari belakangnya. Spontan Haikal menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati Veindal tengah berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Seketika itu juga Haikal menarik tangannya dari kepala Salvia dan segera berbalik memberi hormat pada Veindal dengan keringat dingin mengucuri dahinya, membuat pria paruh baya tersebut mengangkat sebelah alisnya, "Apa yang kau lakukan?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa, Kepala Sekolah." Haikal langsung melepaskan refleks hormatnya sambil tertawa masam.
Veindal tidak terlalu mempedulikan Haikal, dia segera mendekati Salvia bersama para petugas medis di belakangnya, "Bagaimana keadaanmu, Salvia?"
"Aku tidak apa-apa, ayah," jawab Salvia dengan senyum keringnya, "Hanya cedera ringan dan kelelahan saja."
Veindal melirik salah seorang petugas medis yang memeriksa kondisi Salvia, petugas tersebut mengangguk pelan membenarkan perkataan Salvia. Pria paruh baya itu menghela nafas lega mengetahui putri semata wayangnya tersebut tidak mengalami cedera serius seperti pertandingan sebelumnya.
Veindal kemudian mengarahkan petugas medis untuk membawa baik Salvia maupun Verna ke ruang kesehatan, namun Salvia menolak, "Ayah, jika bisa aku ingin menonton pertandingan Haikal dari dekat."
Sebelah alis Veindal terangkat tinggi mendengar keinginan putri satu-satunya itu, "Memang benar kau tak terluka parah, tapi bukan berarti cederamu bisa diabaikan begitu saja, apalagi kau baru saja pulih dari bekas pertarunganmu dengan Edward." Wajahnya nampak begitu khawatir terhadap kondisi Salvia saat ini.
"Kumohon ayah," kata Salvia tegas, "Aku ingin menyaksikan pertandingan Haikal langsung melalui mataku sendiri."
Salvia berkata demikian bukan tanpa alasan. Dia pernah dikalahkan Edward dalam pertandingan babak lalu dan mengalami cedera parah, namun setelah itu Salvia mendengar bahwa Haikal marah besar dan berakhir menantang Edward sekaligus mengalahkannya.
Sejauh ini Salvia memang sudah sering melihat gaya bertarung Haikal, tetapi tak pernah terlintas di benaknya bahwa Haikal sungguh mampu mengalahkan Edward yang bahkan tidak bisa dia kalahkan.
Itulah sebabnya Salvia ingin memastikan sekuat apa kekuatan Haikal yang sesungguhnya dengan mata kepalanya sendiri kali ini.
"Aku juga, Kepala Sekolah." Belum sempat Veindal menanggapi perkataan Salvia, Verna juga meminta hal yang sama. Verna menjelaskan dirinya tidak mengalami luka berarti dan hanya kelelahan, "Biarkan kami berdua menyaksikan pertandingan ini dari pinggir arena."
Veindal memasang raut wajah kusut mendengar permintaan kedua gadis ini, padahal kondisi keduanya terlihat mengkhawatirkan namun masih bisa menunda perawatan. Dia menghela nafas sejenak sebelum menanggapi permintaan mereka.
"Baiklah, tapi petugas medis harus berada di samping kalian untuk merawat cedera." Veindal mengingatkan meskipun keduanya tidak terluka terlalu parah, tetap saja butuh perawatan medis agar tak meninggalkan bekas luka, mengingat baik Verna maupun Salvia adalah perempuan.
"Biarpun kalian berdua adalah calon Blazer, tetap saja bekas luka bukanlah hal yang enak dilihat, terutama kalian masihlah gadis muda," ujar Veindal tersenyum dan memandang dua gadis tersebut dengan genit, "Kalian tidak ingin terlihat buruk di hadapan orang yang kalian sukai, bukan?"
Seketika Verna dan Salvia tersadar akan hal itu, wajah mereka memerah seketika itu juga, terutama Salvia yang kini menutup wajah saking malunya. Veindal, Jack, serta para petugas medis di sana tertawa kecil melihat reaksi keduanya.
Di sisi lain Haikal yang mendengar semua itu mengerutkan dahinya sedikit bingung. Dia tahu Verna sudah memiliki Heru sebagai kekasih hati, tapi Salvia? Dilihat dari sikapnya selama ini seharusnya Salvia tak mempunyai seseorang seperti itu—menurut pengetahuannya sejauh ini.
"Yah, Salvia memang terkenal atas kemampuan dan parasnya, tidak sedikit yang jatuh hati padanya. Kurasa tidak perlu heran dia mempunyai seseorang seperti itu," ujar Haikal dalam hati mengangkat bahu tak ingin terlalu ikut campur terhadap kehidupan pribadi Salvia.
Seusai percakapan kecil tersebut Veindal mengarahkan beberapa petugas medis menemani Verna dan Salvia di pinggir arena menyaksikan pertarungan terakhir Turnamen Penyambutan dari dekat. Dia lalu menoleh ke arah dua pemuda yang kini berdiri saling berhadapan, "Pertandingan akan ditunda sementara sampai arena diperbaiki. Lebih baik kalian bersiap lebih dulu."
"Itu tidak diperlukan, Kepala Sekolah." Jack menolak tawaran Veindal dan ingin segera memulai pertandingan, dia memandang Haikal di depannya sambil tersenyum, "Lagipula arena ini tetap akan hancur nantinya."
Haikal tersenyum lebar menanggapi perkataan Jack, "Kau mengerti juga rupanya, Jack."
"Tentu saja, aku bukan orang bodoh yang meremehkanmu setelah mengalahkan Edward," ujar Jack membalas senyuman Haikal tanpa rasa takut.
Veindal ingin berkata beberapa kalimat lagi, tetapi dia paham apapun yang dirinya katakan tidak akan bisa menghentikan keinginan kedua pemuda ini. Pada akhirnya Veindal membatalkan para pekerja untuk memperbaiki arena dan memberikan panggung untuk Jack dan Haikal.
Pembawa acara sedikit kebingungan tidak mengerti apa yang terjadi di bawah sana, tetapi Veindal memberikan tanda agar memulai pertandingan sesegera mungkin.
"Baiklah, pertandingan terakhir Turnamen Penyambutan ke-25 yang paling ditunggu, Jack Calvin dari kelompok Verna melawan Haikal Alendra dari kelompok Salvia...." Pembawa acara mengangkat tangan tinggi-tinggi sebelum menjatuhkannya dan berseru keras, "Dimulai!"