
Saat ini Haikal sedang melakukan rutinitas hariannya seperti biasa, namun kali ini porsi latihannya tiga kali lebih banyak. Tetapi ia hampir tak terlihat kelelahan setelah berlari sekitar 15 kilometer tanpa jeda mengelilingi kota Adele.
"Tak kusangka energi dan kekuatan jiwa bisa dilatih dengan cara seperti ini. Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya?" Haikal mengusap keringat di wajahnya seusai berlari.
Selama ini Haikal hanya berpikir bahwa melatih kekuatan fisik dapat mempengaruhi kekuatan jiwanya. Meski tidak keliru, metode ini dinilai sangat kuno dan hasilnya tak seberapa dibanding metode lainnya. Namun berkat buku yang ia pinjam dari perpustakaan akademi kemarin, Haikal menemukan beberapa informasi yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
"Melatih fisik yang telah diperkuat dengan energi jiwa dapat meningkatkan kekuatan jiwa dan kapasitas energi jiwa, sama halnya dengan tubuh fisik. Metode ini terlalu sederhana, tapi anehnya tak banyak yang mengetahuinya," gumam Haikal duduk di sebuah kursi taman yang kebetulan ada di dekatnya.
Menurut buku yang ia baca, metode ini adalah metode kuno yang bahkan sudah ada semenjak ratusan tahun lalu. Awalnya metode ini hanya diperuntukkan untuk menenangkan dan menstabilkan jiwa, namun lama kelamaan berubah menjadi dasar kekuatan ilmu beladiri tingkat tinggi di masa lalu.
Berkat invasi Verg, ilmu ini akhirnya terkubur bersama masa lalu.
Haikal menyandarkan dagunya pada kedua tanganya memikirkan suatu hal, "Apa orang-orang berbakat juga mengetahuinya? Mungkin saja orang seperti Salvia, Anna, maupun Edward berlatih menggunakan metode ini di keluarganya, mengingat mereka keturunan orang-orang berbakat."
"Hm? Ada apa denganku?"
"Gyaaa!" Teriak Haikal terkejut setengah mati.
Sambutan dari suara seorang gadis terdengar Haikal membuatnya terkejut setengah mati. Ia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, "Salvia?!"
"Hai, selamat pagi," sapa Salvia dengan wajah datarnya.
Salvia memang terkenal dengan wajah tanpa ekspresinya, tapi baru kali ini Haikal mendengar ada orang menyapa menggunakan dua kata sapaan dalam satu waktu.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Haikal melihat penampilan gadis berambut perak bermata ungu itu.
Jaket olahraga putih polos dengan garis biru pada lengan, serta celana pendek putih yang dikenakan Salvia membuat Haikal sedikit terpukau. Meskipun ia tidak begitu tertarik dengan hubungan romatis antara pria dan wanita untuk saat ini, mustahil baginya menolak daya tarik Salvia.
"Lari pagi," jawab Salvia singkat.
Haikal tersenyum kecut mendengar jawaban gadis ini, "Maksudku, bukankah kau memiliki kekuatan jiwa yang besar? Mengapa melatih fisik?"
"Kenapa? Apakah itu tidak wajar?" Salvia terlihat kebingungan terhadap pertanyaan Haikal.
"Bukan tidak wajar, aku hanya penasaran."
Blazer mengutamakan kekuatan jiwa daripada kekuatan fisik, itulah pendapat umum mengenai Blazer menurut masyarakat. Tanpa kekuatan dan energi jiwa Blazer, sama saja seperti manusia biasa.
Bagi Blazer pemilik kekuatan jiwa yang besar seperti Salvia, tentu semua orang akan terheran-heran melihat sosok calon Blazer sekuat dirinya malah melatih fisik yang notabenenya tak begitu berguna bagi Blazer.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Haikal terhadap Salvia dan teman lainnya yang berbakat.
"Boleh aku duduk?" Salvia menunjuk tempat kosong di sebelah Haikal yang tentu saja segera diperbolehkan.
"Bagi kebanyakan Blazer, kekuatan fisik murni pastilah tak begitu berarti bagi mereka karena menggunakan kekuatan jiwa yang memiliki kekuatan lebih besar. Tapi, apa itu artinya Blazer dapat bertarung hanya dengan kekuatan jiwa tanpa tubuh fisik mereka?" Salvia menatap Haikal dalam-dalam.
Pemuda tersebut menggeleng cepat, tentu ia sadar bahwa Blazer juga menggunakan tubuh fisik mereka. Tanpa tubuh fisik, Blazer takkan bisa menggunakan kekuatan jiwa mereka untuk bertarung, meskipun itu Wizard yang notabenenya mengerahkan serangan jenis sihir.
Salvia mengalihkan pandangannya lurus ke depan, "Haikal, kau tahu alasan mengapa kita perlu mengalirkan energi jiwa setiap kali kita menggunakan Soul Arc ataupun kekuatan jiwa kita?"
"Lalu, kenapa kau masih bertanya hal itu padaku? Bukankah jawabannya sudah kau ketahui?" Salvia menutup matanya.
"Bukankah bagi orang sepertimu jumlah energi jiwa tak menjadi masalah?" Haikal sedikit kesal, pertanyaan awalnya belum terjawab.
Seketika itu juga Salvia menatap Haikal dengan wajah sedikit terkejut, "Kau menanyakan alasanku melatih fisik?"
"Tidakkah kau menyimak pertanyaanku?" Sebaliknya, ekspresi Haikal menjadi datar melihat reaksi Salvia yang tak paham maksud pertanyaannya.
Gadis berambut perak itu meminta maaf sebelum menjawab rasa penasaran Haikal, "Ayahku mengatakan bahwa ketika bertarung melawan Verg dalam durasi lama, kebanyakan Blazer takkan bisa bertahan lebih dari satu jam karena menggunakan sebagian besar energi jiwanya pada tubuh fisik agar bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Berkat itu para Blazer sering terpukul mundur ketika melawan Verg yang memiliki ketahanan tinggi."
"Pada masa pelatihannya, para Blazer tersebut hampir tak melatih fisik mereka. Jadi, tanpa energi jiwa mereka tidak lebih dari manusia lemah. Maka dari itu ayah menyuruhku melatih fisik sejak dini." Salvia mengakhiri penjelasannya dengan helaan nafas.
Mata Haikal melebar begitu mendengar alasan Salvia melatih fisiknya ternyata sangat sederhana. Ia tak pernah mengetahui fakta bahwa para Blazer memiliki masalah dalam pertarungan jangka panjang, tapi sering diberitakan kalau biasanya Blazer memang bertarung tak lebih dari satu jam. Hanya Blazer tertentu yang dapat bertarung dalam durasi lama.
"Itu artinya dengan perpaduan metode kontrol energi jiwa yang kubaca kemarin dan kekuatan fisikku yang telah kutempa selama ini, efensiensi penggunaan energi jiwaku bisa dikatakan di atas rata-rata Blazer?" Ujar Haikal dalam hati.
Tangannya bergetar hebat mengetahui fakta tersebut.
Memang benar dirinya tak begitu berbakat sebagai seorang Blazer, namun latihan keras yang ia tekuni semenjak sekolah dasar ternyata menghasilkan buah di sisi yang tak terlihat. Entah apakah ini keberuntungan yang kebetulan atau sudah ditakdirkan, jelas Haikal merasa gembira kerja kerasnya selama ini tidaklah sia-sia.
"Ngomong-ngomong Haikal, kudengar kamu salah satu dari beberapa orang yang belum menemukan Soul Arc di kelas kita, apakah itu benar?" Tanya Salvia mengalihkan pandangannya kepada Haikal.
"Ya, itu benar. Kenapa?" Haikal sedikit terheran, mengapa seorang calon Blazer jenius seperti Salvia memperhatikan dirinya?
"Boleh kutahu berapa lama kau tenggelam?"
"Hmm.... Aku tak terlalu yakin, tapi terakhir aku mencoba kemarin aku bisa bertahan sekitar sepuluh menitan," jawab Haikal yang masih ragu.
"Sepuluh... menit?" Mata Salvia melebar sedikit mendengar balasan Haikal.
Gadis itu terdiam sebentar sebelum melanjutkan bertanya, "Haikal, energi jiwamu tidak habis selama itu?" Rasa penasaran Salvia semakin membesar.
"Aku menghabiskan lebih dari 90 persen. Kenapa memangnya?" Haikal ikut terheran melihat Salvia nampak sangat penasaran terhadap dirinya.
Salvia mengalihkan pandangannya menatap ke bawah merenungkan sesuatu. Hal itu membuat Haikal semakin penasaran dengan alasan Salvia bertanya tentang dirinya, "Salvia?"
Panggilannya tak diacuhkan membuat Haikal tersenyum masam. Sepertinya Salvia sudah tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.
Selang beberapa waktu sesudahnya, gadis berambut keperakan ini bangkit berdiri menatap Haikal, "Haikal, maukah kau bertarung denganku sekarang?"
Pertanyaan itu membuat pemuda berambut hitam legam tersebut termenung selama beberapa detik sampai akhirnya merespon, "Apa?"
---
Pembaca di mana-mana ternyata pelit like ya '-'