Absolute Soul

Absolute Soul
32. Salju dan Es



Benturan hebat antara es Edward dan salju Salvia yang telah berlangsung beberapa menit menyebabkan menurunnya suhu di sekitar arena, penonton di sekitar pun menggigil berkat adu serangan ini.


Sejauh ini keduanya belum ada yang menyarangkan serangan telak, baik Edward maupun Salvia masih bertarung dengan sihir sambil menjaga jarak aman. Biarpun hanya bertarung dari jarak jauh, sihir yang dilepaskan keduanya tak mengurangi ketegangan para penonton.


"Heh, jadi ini rasanya salju dari Snow Princess? Kupikir akan lebih hebat lagi." Edward melepaskan sepasang tombak es dari kedua tangannya, kemudian memecahnya di tengah udara menjadi serpihan-serpihan es kecil menghujani Salvia.


Menyadari Edward melayangkan serangan beruntun dalam skala luas, Salvia mengerahkan salju mengelilingi dirinya membentuk kubah bulat yang dapat menahan serangan tersebut. Benar saja, serangan Edward dapat ditahan meski berasal dari segala arah.


Salju memanglah bukan benda padat seperti es, tetapi dengan memberinya tekanan pada satu titik salju bisa jadi senjata yang lebih mematikan dari es sekalipun. Itulah yang Salvia lakukan, menekankan salju pada satu titik dan membuatnya padat.


"Bersembunyi karena takut terkena serangan? Lucu sekali." Kali ini Edward membentuk sebuah tombak es raksasa sepanjang lima meter di atasnya, "Sepadat apapun salju, takkan bisa mengalahkan benda padat sungguhan," gumam Edward melemparkan tombak es tersebut.


"Kau kelihatannya terlalu meremehkanku, Edward." Sadar atas ancaman tombak es raksasa Edward, Salvia memanipulasi saljunya menangkap dan meredam daya dorong tombak es tersebut sebelum mencapai dirinya.


Di saat yang sama sebagian besar penonton terkejut melihatnya, tak terkecuali Edward yang melemparkannya. Dia sendiri tahu seberapa kuat dirinya melempar, namun sulit dipercaya Salvia dapat menghentikannya hanya dengan salju semata.


"Akan kubalas kau dengan ini." Salvia menghancurkan tombak es tersebut hingga berkeping-keping dan mencampurnya ke dalam salju, lalu menciptakan puluhan tombak salju dilengkapi serpihan es pada mata tombaknya yang langsung dilesatkan, "Iced Snow Javelin!"


"Memanfaatkan esku, ya?" Edward menjejakkan kakinya ke lantai dan menciptakan dinding es tebal di depannya, membuat tombak salju bermata es milik Salvia hancur ketika menabraknya," Tak berguna."


"Aku belum selesai." Salvia menyatukan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata berusaha berkonsentrasi mencipakan sejumlah besar salju, membuat para penonton terpana dengan kuantitas energi jiwanya yang dapat membuat salju sebanyak itu hanya dengan energi jiwa.


Salvia membuka matanya dan mengerahkan seluruh salju tersebut sekaligus menciptakan beberapa gulung ombak salju raksasa seperti tsunami, "Snow Tidal!"


"Hei, dengan menciptakan dan mengendalikan salju sebanyak itu, bukankah Salvia setara dengan Blazer tingkat Advance?!"


"Belum puas dengan jumlahnya, dia bahkan bisa mengendalikan semuanya sekaligus?"


"Angkatan ini benar-benar dipenuhi jenius!"


Sementara sebagian penonton berkomentar sambil berdecak kagum menyaksikan penampilan Salvia, Edward yang menjadi lawan gadis berambut putih keperakan tersebut mengerutkan dahinya.


"Selevel Advance? Kalau hanya segitu...." Menanggapi serangan besar Salvia, Edward dengan cepat menciptakan segumpal es besar di belakangnya dan membentuknya menjadi sesosok humanoid raksasa setinggi tiga meter, lengkap dengan kepala dan dua tangan tanpa kaki, "Kau tak bisa mengalahkanku."


Sosok raksasa es di belakang Edward mengibaskan satu tangannya menghalau gulungan ombak salju Salvia menghancurkan seluruh serangan tersebut dalam satu kali hempasan, mengejutkan banyak pihak.


"Semudah itu menghalau serangan selevel Blazer tingkat Advance...?"


"Lawan Salvia kali ini terlalu kuat dan kurang cocok dengan kemampuannya."


"Kemungkinan besar Edward akan memenangkan pertarungan ini."


Tak ada satupun penonton yang berkedip menyaksikan hal itu, baik penonton biasa, murid akademi, Guild kecil maupun Guild besar. Mereka semua setuju Edward mempunyai kekuatan yang jauh melebihi bayangan mereka selama ini.


Di luar batas arena sendiri, Heru terbelalak hebat melihat serangan Salvia yang pernah hampir menewaskan dirinya pada saat latihan dapat semudah itu ditangani oleh pemuda bangsawan keluarga Ghaetas itu, sementara Haikal tetap diam dan tenang menganalisis setiap serangan Edward ataupun Salvia.


"Salvia...." Haikal bergumam secara spontan tak menyangka Edward mampu menghancurkan salah satu serangan terkuat Salvia, padahal dirinya sendiri tidak yakin dapat mengatasinya. Biarpun Haikal terlihat tenang dalam hatinya ia sangat khawatir terhadap keadaan Salvia.


Haikal mengetahui untuk menciptakan dan mengerahkan serangan salju sebanyak dan sebesar itu butuh jumlah energi jiwa yang tak sedikit, bahkan untuk Salvia yang memiliki jumlah energi jiwa besar di antara calon Blazer tingkatan mereka. Haikal mengira-ngira Salvia menghabiskan setengah atau lebih dari total energi jiwanya dalam serangan ini.


"Serangan barusan menguras energi jiwamu, ya? Kesempatan ini takkan kulewatkan!" Dengan sigap Edward menciptakan lebih banyak es dan membungkus tubuhnya sendiri dengan semua es itu, kemudian bersatu ke dalam manusia es raksasanya yang telah berwujud sempurna lengkap dengan kaki, "Ice Titan!"


Tinggi manusia es buatan Edward kali ini kira-kira mencapai lima meter dari lantai arena, membuat seluruh isi arena memandangnya takjub, begitupula Salvia yang menjadi lawannya. Sulit melepaskan kekaguman dari raksasa es sebesar ini di kelas satu tingkat SMA.


"Kelihatannya bukan hanya aku yang memiliki jumlah energi jiwa besar di angkatan ini," gumam Salvia pelan memperingati dirinya sendiri, kemudian ia menciptakan lebih banyak salju dari sebelumnya dan ikut menciptakan sosok raksasa dari elemennya sendiri, "Giant Snowman!"


"Mata dibalas mata, ini yang kusuka!" Tanpa menunggu Salvia menstabilkan manusia salju raksasanya, Edward melayangkan pukulan kuat menggunakan lengan raksasa esnya pada tempat Salvia berada.


Salvia sendiri tahu Edward bukanlah orang yang akan menunggu lawan hingga siap, jadi ia sudah mengantisipasi hal ini dan menciptakan satu lengan salju raksasa yang menghantam lengan raksasa es Edward secara vertikal dari bawah, membuat Edward mendecakkan lidahnya.


Babak semi final berbeda dari babak perempat final, di babak ini diberlakukan sistem gugur yang berarti jika ada peserta kalah maka ia akan langsung dihilangkan dari daftar undian. Jumlah pertarungan maksimal tiap pertandingan tetap lima jika kedua dapat bertahan, namun bisa juga hanya tiga jika salah satu kelompok mengalami kekalahan telak.


Menurut sistem pertandingan babak ini jika Edward atau Salvia kalah, maka salah satunya takkan bisa bertarung lagi. Jikapun pemenangnya mendapatkan jatah bertanding lagi kondisinya tidaklah prima, sehingga sistem ini sempat menuai protes ketika diumumkan karena tidak adil menurut beberapa penonton.


Untuk menangani hal ini Veindal Volksky sang kepala sekolah turun tangan menjelaskan bahwa Blazer tidak selalu bertarung satu lawan satu melawan Verg, bahkan ada kalanya satu Blazer dikepung belasan hingga puluhan Verg. Blazer tersebut pun tidak selalu berada dalam kondisi prima dalam setiap pertarungannya, jadi sebelum hal itu benar-benar terjadi Veindal ingin para peserta mengalami dan mengatasi hal tersebut.


Lagipula, musuh umat manusia bukanlah Verg semata, tetapi dengan sesama manusia pun bukan mustahil saling bertarung hingga ke tahap saling membunuh. Sistem semi final ini juga disiapkan untuk hal ini jika di masa depan mereka berurusan dengan kelompok-kelompok seperti itu.


Edward yang merasa kesal serangannya diantisipasi kembali melayangkan pukulan dengan raksasa esnya, tetapi kali ini raksasa salju Salvia telah stabil sehingga gadis berambut putih keperakan itu dapat menahan serangan Edward dengan sempurna.


Tidak terima serangannya berhasil dihentikan dua kali, Edward kemudian mengerahkan pukulan raksasa es beruntun yang memaksa Salvia terus bertahan.


Berbeda dari es yang sejatinya benda padat, salju tidak sepenuhnya padat sehingga untuk mempertahankan tekanan dan kepadatannya membutuhkan energi jiwa yang tak sedikit, terutama dalam jumlah besar seperti Giant Snowman untuk bertahan dari serangan bertubi-tubi Edward. Energi jiwa Salvia berkurang banyak berkat itu.


"Sial... andaikan aku punya lebih banyak energi jiwa...." Salvia dapat merasakan energi jiwanya berkurang seiring pukulan demi pukulan yang dilayangkan Edward.


Di sisi lain Edward dapat menyadari pertahanan manusia salju raksasa Salvia mulai kendur setiap kali dirinya memukul. Sebuah senyum tercipta di bibir Edward saat mengetahuinya, "Apa? Hanya segini kekuatan Snow Princess? Seseorang yang dianggap jenius terbaik di generasi ini?"


Salvia sedikit bereaksi terhadap provikasi Edward, namun ia mengetahui jelas maksud dari kata-kata tersebut sehingga Salvia lebih memilih untuk berkonsentrasi pada pertahanannya. Namun biarpun Salvia terus berkonsentrasi, pukulan Edward semakin kuat membuat saljunya mulai berhamburan.


Menyadari energi jiwanya tidak tersisa banyak Salvia menoleh ke tempat Haikal dan Heru berdiri, di sana ia dapat melihat sepasang sahabat tersebut memperhatikannya dengan khawatir.


Salvia teringat betapa kerasnya latihan mereka selama sebulan terakhir, terutama latihan Haikal dan Heru. Mengingat keduanya bukanlah jenius seperti Salvia, latihan Haikal dan Heru dapat dikatakan lebih keras darinya, terutama Haikal yang belakangan diketahui menjalani latihan rahasia setiap hari.


Saat Salvia menatap mata Haikal, ia teringat Haikal yang sejak dulu telah berlatih keras demi menjadi seorang Blazer, padahal Haikal tak memiliki bakat menjadi Blazer, "Jika aku harus kalah, maka setidaknya aku harus mengurangi tenaga Edward." Senyum Salvia mengembang.


Bersamaan dengan senyumnya yang merekah, sorot mata Salvia berubah menjadi tajam seperti bukan Salvia yang biasanya. Tubuhnya juga mengeluarkan energi jiwa dalam jumlah besar yang mengejutkan sebagian besar penonton. Hanya saja energi jiwa itu bukan energi jiwa yang biasa dikerahkannya, kualitas energi jiwa ini jauh berbeda dari biasanya.


Di saat yang sama ledakan energi terjadi pada tubuh Salvia membuat gelombang kejut yang cukup kuat di udara, bahkan Edward sampai berhenti menyerang berkat gelombang kejut tersebut.


"Ini...." Dahi Edward mengerut hebat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sementara hampir semua perwakilan Guild kecil maupun besar berdiri dengan mata terbelalak hebat tak kalah terkejutnya dengan guru-guru akademi Skymaze yang menyaksikan.


Ketika sebagian orang terkejut dan sebagian lagi kebingungan tak tahu apa yang terjadi, di ruangannya Veindal tersenyum tipis menyaksikan putrinya melepaskan kekuatan seluar biasa ini, "Benar, tunjukkan kemampuanmu, putriku."


Bersama dengan terlepasnya energi jiwa yang luar biasa, rambut dan iris mata Salvia perlahan-lahan berubah warna dari semula putih keperakan dan ungu cerah menjadi merah muda secara keseluruhan, begitupula warna saljunya yang membuat semua orang terkejut sekaligus kebingungan.