Absolute Soul

Absolute Soul
55. Peringatan



Berkat pertarungan singkat antar Haikal dan Heru melawan sosok berjubah, beberapa Blazer setempat segera berdatangan mengingat jumlah pisau yang dikendalikan sosok berjubah tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dilihat setiap hari.


Atap gedung yang menjadi lokasi pertarungan juga mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga Haikal dan Heru ditahan oleh pemilik gedung untuk bertanggung jawab, untungnya Veindal datang di waktu yang tepat dan memikul tanggung jawab kedua pemuda tersebut.


"Maaf, kepala sekolah, kami berlebihan," ujar Haikal merasa tak enak hati membiarkan Veindal menanggung biaya perbaikan gedung seorang diri. Heru juga terlihat sama bersalahnya meski tidak mengatakan sepatah kata pun.


Veindal tersenyum kecil memandang keduanya, lalu mengusap kepala Haikal dan Heru sejenak sebelum melirik pada sosok berjubah yang telah sadar dan sedang diborgol oleh beberapa Blazer di belakang, "Tidak perlu dipikirkan, justru harusnya aku yang berterima kasih kepada kalian karena berhasil melumpuhkan orang ini."


Veindal kemudian menjelaskan bahwa sosok berjubah yang Haikal dan Heru kalahkan adalah salah satu anggota Blackout yang berhasil menyusup ke dalam kota Adele serta mungkin juga salah satu pelaku penyerangan siswa-siswi Akademi Skymaze.


Dia juga berkata bahwa sosok berjubah ini akan ditahan di dalam penjara yang disediakan khusus untuk Blazer serta diinterogasi lebih lanjut mengenai berbagai hal.


"Jadi, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan." Veindal menepuk pundak Haikal dan Heru ketika menyelesaikan perkataannya, membuat keduanya saling berpandangan dan menghela nafas lega.


Saat Haikal dan Heru sudah merasa lebih tenang, sosok berjubah yang sejak tadi diam dan terborgol tiba-tiba tertawa begitu lantang sampai menarik perhatian seluruh orang yang hadir di tempat tersebut, tak terkecuali Veindal.


"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan? Kau yakin dengan ucapanmu itu, tuan Blazer Cardinal?" Sosok berjubah memandang Viendal dengan sebuah senyum lebar nan menyeramkan.


Dahi Veindal mengerut cukup keras mendengar ucapan sosok tersebut, "Apa maksudmu?" Tanpa ragu-ragu Veindal mengerahkan tekanan energi jiwa yang cukup kuat hingga membuat semua Blazer di sana terkena dampaknya, termasuk Haikal dan Heru.


Anehnya meski semua Blazer di tempat itu merasakan dampak dari tekanan energi jiwa Veindal, sosok berjubah tersebut nampak tak terpengaruh sama sekali, justru dia malah tertawa. Hal itu sontak membuat dahi Veindal mengerut lebih dalam.


"Oh, jadi ini tekanan energi jiwa milik seorang Blazer tingkat Cardinal? Boleh juga," ujar sosok berjubah sambil cekikikan tanpa terbebani oleh tekanan yang dihasilkan Veindal, "Sayangnya Blazer seperti kalian tidak bisa menumbangkan kami, Blackout."


Ekspresi Haikal dan Heru seketika berubah ketika mendengar nama 'Blackout', tetapi mereka sudah menduga bahwa sosok berjubah ini memang berasal dari organisasi terlarang tersebut sehingga tidak terlalu mengejutkan.


Sosok berjubah tersebut tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang Veindal sejenak, lalu mengalihkan pandanganya kepada Haikal dan Heru, "Siapkan diri kalian sebaik mungkin agar tidak mati, anak-anak sialan."


Veindal tidak lagi berbaik hati, dia segera mendatangi sosok berjubah dan menyarangkan sebuah pukulan telak pada perutnya, "Tidak perlu kau peringati mereka sudah tahu apa yang mungkin mereka hadapi nanti."


Sosok berjubah langsung kehilangan kesadarannya setelah Veindal menyelesaikan kata-katanya, lalu diangkut ke dalam mobil yang akan menuju penjara khusus Blazer, sementara Haikal dan Heru terlihat sedikit kebingungan.


Veindal menghela nafas melihat reaksi keduanya lalu melangkah menuju sebuah mobil hitam yang tengah menunggu dengan pintu terbuka, "Kalian ingin menjenguk Salvia, bukan? Kalau begitu kita bicarakan saja dalam perjalanan."


Haikal dan Heru saling memandang sejenak kemudian mengangguk setuju, namun sebelum itu Veindal melemparkan sebuah botol kaca berisi suatu cairan tertentu berwarna merah yang segera ditangkap Haikal.


Mata Haikal melebar memandang botol tersebut, "Kepala sekolah, bukankah ini Red Liquid? Kenapa anda memberikannya kepada saya?"


"Kau pikir aku tidak mengetahui kondisi lengan kananmu?" Veindal menaikkan alisnya melirik lengan kanan Haikal yang sekilas terlihat normal tetapi bagi pengamatan Blazer berpengalaman seperti Veindal, kondisi lengan kanan Haikal nampak seperti meledak dalam skala kecil.


Itu tidak mengherankan mengingat menggunakan teknik yang sama ketika menghancurkan Glacial Atlas milik Edward di babak semi final lalu dalam satu serangan, Air Smash : Overload.


Teknik ini menekankan pada manipulasi tekanan udara di sekitar yang sama seperti Air Smash biasa, namun dalam versi 'Overload' Haikal menggunakan energi jiwa melebihi batas yang bisa ditampung tubuhnya sehingga menimbulkan pukulan dahsyat.


Dalam kasus ini beberapa otot lengannya putus disertai rasa nyeri yang tidak sedikit.


Haikal menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut tak menyangka Veindal bisa mengetahui keadaan lengannya, dia lalu meminum cairan berwarna merah pemberian Veindal yang disebut Red Liquid tersebut sampai habis tanpa ragu.


Cedera serta rasa sakit yang diderita Haikal pada lengan kanannya secara perlahan menghilang, tetapi tidak sampai sembuh total. Rasa nyeri cederanya masih bisa dirasakan namun setidaknya jauh berkurang dari sebelumnya.


Haikal memandang lengan kanannya dengan takjub, "Heh, jadi seperti ini kemampuan Red Liquid. Sungguh luar biasa."


Heru yang hanya melihatnya saja sampai tercengang melihat khasiat Red Liquid yang memang tidak diragukan lagi merupakan ramuan penyembuh khusus yang diproduksi menggunakan energi jiwa.


"Yah, itu hanya Low-Red Liquid. Sebaiknya kau periksa saja di rumah sakit nanti," ujar Veindal mengangguk pelan menanggapi reaksi Haikal dan Heru sebelum mengajak keduanya memasuki mobil berniat menuju rumah sakit.


***


Saat mobil yang digunakan Veindal, Haikal, serta Heru sudah cukup jauh dari lokasi kejadian, tiba-tiba di atas langit muncul sebuah pusaran kecil sebesar piring yang perlahan-lahan membesar hingga mencapai seukuran pintu rumah sederhana.


Bagian tengah pusaran tersebut berwarna hitam pekat yang menegaskan seakan-akan cahaya sekalipun tidak bisa menembusnya, namun dua sosok misterius tiba-tiba keluar dari pusaran itu. Keduanya melangkahkan kaki mereka di udara seolah memiliki pijakan tak terlihat pada telapak kaki mereka.


Pusaran itu segera menghilang ketika kedua sosok tersebut telah sepenuhnya menampakkan diri.


"Oh, tak kusangka Shear sungguh dikalahkan." Salah satu sosok tersebut berceletuk ketika melihat sosok berjubah yang dikalahkan Haikal dan Heru duduk tanpa kesadaran di salah satu mobil aparat keamanan di bawah, "Siapa yang mengalahkannya?"


"Kalau tak salah nama mereka adalah Heru Hartanto dan Haikal Alendra, dua siswa kelas satu Akademi Skymaze," jawab sosok lainnya dengan suara berat namun terdengar tersamarkan menjadi seperti suara mesin.


Sosok penanya mengangkat alisnya sejenak memandang mobil tunggangan Veindal, Haikal, serta Heru yang tengah bergerak ke suatu arah. Sebuah senyum mengembang begitu lebar di bibirnya hingga terlihat menyeramkan, "Heh, kelihatannya operasi nanti akan menyenangkan."


Sosok penjawab cukup terganggu dengan senyum rekannya itu sampai mengangkat suara, "Dematora, fokuslah terhadap pekerjaanmu sekarang. Kau akan dimarahi oleh ketua nanti jika gagal."


"Oh, benar juga. Hampir saja aku lupa." Dematora menepuk dua tangannya di depan dada baru teringat hal yang harus dirinya lakukan. Dia lalu mengangkat lengan kanannya ke atas hingga sejajar kepalanya dan terbentuklah sebuah pusaran angin kencang yang segera mengambil bentuk lembing sepanjang dua meter, "Mereka sungguh menarik hingga aku hampir lupa pekerjaanku saat ini."


Selepas berkata demikian, Dematora mengayunkan tangannya dan seketika itu juga lembing pusaran angin tersebut melesat cepat menuju lokasi kejadian dan menyebabkan angin ****** beliung yang mengacaukan lingkungan sekitarnya dalam sekejap.


Sosok selain Dematora menghela nafas melihat pemandangan penuh kekacauan di bawahnya, "Apa kau tidak bisa menahan diri? Shear bisa juga mati karena seranganmu."


"Kalau begitu cepat selamatkan dia. Itu sudah menjadi tugasmu, Nigel," tukas Dematora santai tak memikirkan nasib Shear yang kemungkinan terbunuh berkat lembing pusaran angin yang dilemparnya.


Nigel menggeram kesal namun tidak bisa membalas perkataan Dematora. Pada akhirnya Nigel berdecak sejenak ketika sebuah pusaran hitam muncul tepat di hadapannya, lalu dia memasuki pusaran tersebut dan menghilang tanpa jejak.


Dematora tersenyum penuh kemenangan memandangi nasib Blazer maupun orang dewasa yang menjadi korban jurusnya tepat di bawahnya, "Tenang saja, seluruh penduduk kota ini juga akan menyusul kalian dalam beberapa hari lagi."


Kabar mengenai serangan Blazer kriminal di Adele tersiar begitu cepat hingga seluruh pelosok Wulodhasia mengetahui bahwa sebentar lagi terdapat kejadian tertentu yang mengguncang dunia per-Blazeran dalam waktu dekat.