Absolute Soul

Absolute Soul
62. Kekuatan Fisik vs Api Hijau IV



Ledakan berantai yang tercipta oleh puluhan bola api hijau yang berbenturan dengan serpihan lantai hasil pukulan Heru berhasil mengguncang arena, baik secara fisik maupun verbal.


Meski berhasil terhindar dari serangan beruntun, Heru juga mengalami cedera yang tak sedikit berkat angin ledakan yang berjarak tidak lebih dari lima meter itu. Dia terhempas cukup jauh hingga membentur dinding arena dan terlihat mengalami luka bakar di beberapa tempat.


Lukanya memang tidak kecil namun tak sampai membahayakan nyawa, Heru nampak masih dapat bertarung dengan cedera tersebut.


"Lumayan juga dia, sampai bisa menghalau serangan sebanyak itu sekaligus."


"Tapi, daya tahannya bukan hal yang patut diremehkan untuk seorang calon Blazer kelas satu."


"Untuk calon Blazer bukan jenius, mungkin Heru bisa dikategorikan sebagai telur emas lain setara dengan Haikal dan Jack."


Sebagian besar hadirin berdiskusi satu sama lain sambil berdecak kagum memandangi Heru. Selain karena daya tahan fisiknya yang cukup hebat di kalangan calon Blazer, caranya memanfaatkan lingkungan sekitar dalam pertarungan dengan cepat dianggap sebagai salah satu nilai tambah yang langka.


Kebanyakan Blazer sebenarnya tidak terlalu peduli terhadap lingkungan sekitar ketika bertarung melawan Verg atau sesama Blazer karena hampir selalu bertarung di luar kawasan berpenghuni, sehingga tak banyak Blazer yang dapat memanfaatkan lingkungan sekitarnya dalam pertarungan seperti yang Heru lakukan—atau setidaknya itu yang diketahui masyarakat luas.


"Ini lumayan menyakitkan," ujar Heru meringis kesakitan menanggapi luka bakar yang dialaminya. Dia tahu bahwa api Jade Phoenix tidak boleh diremehkan, namun ternyata dia masih terlalu meremehkan kekuatan api hijau giok ini.


Heru bangkit dari posisinya yang semula duduk bersandar pada dinding sambil menahan sakit, kemudian kembali memasang kuda-kuda bertarungnya. Kali ini Heru terlihat lebih berkonsentrasi dari sebelumnya.


Cecil yang melihat itu mengerutkan dahinya sejenak merasa heran dan kagum di saat yang bersamaan. Seharusnya tidak banyak calon Blazer yang mampu menahan daya ledak dari Jade Phoenix meski Cecil belum berlatih lama sekalipun, tetapi kenyataannya Heru berhasil bertahan dari ledakan beruntun api hijau milik Jade Phoenix.


Cecil ikut mengambil kuda-kudanya dan lebih memusatkan perhatiannya terhadap Heru, dia merasa pertandingan akan menjadi lebih intens seiring tingkat konsentrasi Heru bertambah.


Benar saja, suasana tegang dengan cepat tercipta di antara Cecil dan Heru yang saat ini tidak mengambil gerakan sama sekali. Keduanya saling memandang satu sama lain mencari kesempatan terbaik untuk menyerang, namun hingga detik ini baik Heru maupun Cecil masih belum menggerakkan satu jari pun.


"Sungguh konsentrasi yang luar biasa," komentar pembawa acara dapat merasakan ketegangan di antara keduanya, "Satu gerakan terkecil saja rasanya bisa mengubah alur pertandingan."


Suara sang pembawa acara berhasil memecahkan keheningan yang melanda seluruh arena, namun di saat yang sama Cecil dan Heru mengambil sebuah langkah bersamaan.


Cecil mengangkat tangan kirinya ke depan yang kemudian memadatkan seluruh api hijau pada telapak tangan tersebut, lalu dilepaskan sekaligus, "Jade Flame Storm!"


Serangan berupa pemadatan api hijau tersebut melesat cepat menuju Heru yang kini terlihat tidak siap dan hanya menunggu serangan telak di pandangan para hadirin, namun yang terjadi justru sebaliknya.


Heru bisa melihat serangan Cecil dengan jelas, bahkan jauh lebih lambat dibandingkan orang normal. Dalam sekejap Heru mampu bereaksi terhadap serangan Cecil, memijak lantai arena sekuat tenaga melesat menuju tempat Cecil berdiri sambil menghindari Jade Flame Storm dengan jarak setipis kertas.


Dalam beberapa saat saja Heru telah tiba tepat di bawah dagu Cecil berkat kecepatan kakinya.


Belum sempat Cecil bereaksi, Heru sudah menarik lengan kanannya ke belakang dan mendorongnya sekuat tenaga, menenggelamkan tinjunya ke dalam ulu hati Cecil tanpa belas kasihan, "Kong Strike!"


"Argh!" Cecil yang tak mampu bereaksi hanya bisa pasrah dan menerima pukulan telak dari Heru. Alhasil dirinya terhempas jauh ke belakang hingga menghantam dinding arena, bahkan menciptakan retakan tak kecil pada dinding tersebut.


Mata para penonton, pembawa acara, perwakilan Guild besar maupun kecil, hingga guru-guru terbuka lebar menyaksikan sebuah pukulan sederhana mampu mementalkan salah satu pemilik Soul Arc terlangka, Jade Phoenix begitu jauhnya.


Veindal sampai berdiri di ruangannya berkat serangan telak Heru yang baru saja disaksikannya sambil tersenyum kering, "Anak ini sungguh calon Blazer?"


Dia ingat benar sebulan lalu, tepatnya pada pertandingan sebelumnya kekuatan Heru tidaklah sebesar sekarang. Veindal mengetahui ini karena cukup sering memperhatikan latihan Heru dan Haikal ketika berlatih bersama Salvia di kediamannya.


"Bagaimana anak itu bisa berkembang secepat ini?" Saat pertanyaan tersebut terlintas di benak Veindal, sesosok pemuda tiba-tiba muncul di ingatannya. Veindal lalu mengalihkan pandangannya kepada Haikal yang tengah menonton pertandingan dari pinggir arena.


Haikal sendiri juga ikut membelalakkan matanya ketika Heru menyarangkan sebuah pukulan telak pada ulu hati Cecil, sesaat kemudian ekspresinya berubah menjadi sedikit terganggu.


"Orang ini benar-benar tidak tahu kapan harus menahan diri," gumam Haikal sambil memegang perutnya secara spontan seakan dapat merasakan sakit yang diderita oleh Cecil saat ini.


Jika Haikal yang seorang calon Blazer tipe Warrior dan telah melatih tubuhnya hingga sedemikian rupa saja dapat tumbang dalam satu pukulan, bagaimana nasib Cecil yang merupakan calon Blazer tipe Wizard? Calon Blazer yang notabenenya lemah terhadap serangan fisik?


Seluruh arena seketika menjadi hening menyaksikan pukulan mematikan dari Heru. Pandangan mereka semua kini tertuju pada sosok gadis berambut hijau bergaya bob sebahu yang saat ini tengah tergeletak lemas di lantai arena.


Mungkin kekuatan Kong Strike yang diperlihatkan Heru memang tidak sekuat pukulan terakhir Haikal yang mampu menghancurkan Atlas Glacial milik Edward yang telah diperkuat menggunakan Awakening, tetapi tetap saja kekuatan fisik Heru terlalu mengerikan bagi kalangan calon Blazer kelas satu.


"A-apa ini akhir dari Cecil Vermillion?" Tanya pembawa acara spontan menelan ludah menaruh simpati terhadap Cecil, begitu pula para pendukung Cecil yang kini terdiam seribu kata.


Tidak ada jawaban maupun reaksi dari Cecil, menyebabkan sang pembawa acara menyerukan pemenang pertandingan pertama babak final, "Ini akhir dari Cecil Vermillion! Pemenang pertandingan pertama adalah Kelompok Salvia yang diwakilkan oleh Heru Hartanto!"


Seruan pembawa acara mengembalikan kesadaran para hadirin yang masih terdiam berkat serangan terakhir Heru.


Sebagian dari mereka bersorak dan memberi selamat atas kemenangan pertama Kelompok Salvia, namun sebagian lagi merasa sedih bercampur kecewa karena Cecil dikalahkan hanya dengan satu pukulan—terutama pendukung Cecil.


"Ini memang bukan teknik yang bisa dipakai setiap hari," ujar Heru tersenyum masam berusaha mengendalikan nafasnya yang liar serta menahan rasa sakit pada kakinya sesaat setelah namanya diumumkan sebagai pemenang.


Heru sendiri tidak bisa santai setelah mengerahkan seluruh kekuatannya dalam satu serangan tersebut, nafasnya kini menjadi tak beraturan berkat Kong Strike dan tendangan yang mampu melesatkan dirinya ke daerah jangkauan lawan dalam sekejap.


Energi jiwa yang digunakan untuk mengerahkan Kong Strike tidak berjumlah kecil. Belum lagi memusatkan energi jiwa pada satu titik di telapak kaki sebelumnya yang serupa dengan penggunaan Air Stomp, saat ini sebelah kakinya tengah dilanda kesakitan luar biasa.


Beberapa saat kemudian setelah nama Heru diumumkan sebagai pemenang, petugas medis segera mendatangi keduanya dan memeriksa kondisi mereka—diikuti oleh Jack dan Verna yang nampaknya mengkhawatirkan keadaan Cecil.


"Pak, Cecil tidak apa-apa, kan? Luka ini tidak membahayakan nyawanya, kan?" Tanya Verna beruntun hendak mendekati Cecil lebih dekat namun ditahan oleh Jack dan seorang petugas medis lainnya.


Salah seorang petugas medis yang memeriksa Cecil segera menjelaskan kondisi Cecil kepada Verna dan Jack bahwa keadaan Cecil tidak akan membahayakan nyawanya. Cecil hanya menderita patah pada beberapa tulang rusuk, serta mungkin beberapa organ dalam mengalami kerusakan kecil.


Di masa lalu mungkin cedera separah ini bisa dikategorikan ke dalam luka yang membahayakan nyawa, namun berkat perkembangan teknologi masa kini serta keberadaan Soul Arc khusus medis, cedera Cecil dapat sembuh dalam beberapa hari.


"Belum lagi sifat penyembuhan alami pemilik Jade Phoenix yang luar biasa, jadi saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tambah petugas medis mengakhiri penjelasannya. Hal ini membuat Verna dan Jack menghela nafas lega bersamaan.


Pandangan Verna kemudian teralih pada Heru yang saat ini tengah diperiksa oleh seorang petugas medis. Dia menunjuk Heru dan berseru, "Hei, otak udang! Apa kau tidak bisa menahan diri sedikit saja kepada seorang gadis?!"


Heru hanya bisa tersenyum kecut menanggapi seruan Verna, tidak berani membalas kata-kata gadis tersebut meskipun dia tidak melakukan kesalahan apapun.


Petugas medis yang memeriksa Heru menjabarkan bahwa dirinya mengalami retak pada tulang betis dan kering sebelah kirinya, serta beberapa otot kaki dan lengannya putus karena mengerahkan energi jiwa hingga melebihi kapasitas yang dapat ditampung oleh tubuhnya.


"Kau terlalu gegabah, dasar idiot," komentar Haikal begitu mendengar kondisi Heru.


"Aku tak ingin mendengar itu darimu, tukang nekat," balas Heru tak terima kata-kata Haikal yang notabenenya telah mengalami luka yang lebih parah darinya.


Keduanya saling berpandangan sejenak sebelum tertawa lega.


Haikal mengulurkan tinjunya pada Heru yang kini berbaring di atas tandu medis, "Selanjutnya serahkan padaku."


Heru tersenyum sejenak sebelum mendorong tinjunya menyentuh tinju Haikal, "Tentu saja, estafetnya kini berada di tanganmu."


"Hei, jangan asal menyerahkan begitu dong," ujar sesosok siluet yang berasal dari pintu arena sebelah timur.


Sosok tersebut berupa seorang gadis rupawan berambut putih keperakan mengkilap, bermata ungu cerah seindah batu safir, dilengkapi kulit seputih susu, berjalan dengan anggunnya mendekati Haikal dan Heru.


Keduanya sempat terkejut memandangi sosok gadis tersebut sejenak, lalu senyum Haikal dan Heru mengembang di saat yang sama, "Kau sungguh datang tepat waktu, Salvia."