Absolute Soul

Absolute Soul
59. Kekuatan Fisik vs Api Hijau



Pernyataan Haikal mengejutkan seluruh hadirin yang mendengarnya, bahkan termasuk sang pembawa acara mengangkat alisnya tinggi merasa heran, "Haikal, bukankah Salvia masih berada dalam masa pemulihan?"


"Benar, tapi seharusnya masa pemulihannya berakhir tepat pada hari ini," jelas Haikal membujuk si pembawa acara agar tidak mengeluarkan kertas bernama Salvia dari daftar undian, "Salvia merupakan salah satu peserta unggulan, bukan? Kita tunggu saja dan dia akan datang."


Haikal mengakhiri perkataannya dengan senyum penuh keyakinan membuat beberapa hadirin di sekitar yang tadinya hendak protes, kini terlihat tertarik ingin menyaksikan kembali penampilan sang Snow Princess.


Meskipun cedera yang dialami Salvia termasuk mematikan, dengan kemajuan teknologi masa kini disertai kekuatan Soul Arc milik beberapa dokter, Salvia harusnya mampu bertarung setelah dirawat selama sebulan.


Pernyataan Haikal tidak berakhir dengan baik. Nyatanya banyak penonton yang tidak setuju membiarkan Salvia kembali bertanding setelah mengalami cedera yang tak sederhana itu, terutama dalam waktu yang begitu singkat ini.


Pembawa acara juga nampak bimbang terhadap pernyataan Haikal merasa tidak bisa memilih, pada akhirnya dia menoleh ke arah ruangan Veindal dan para guru lainnya, "Keputusan terakhir ada di tangan Kepala Sekolah."


Semua pandangan spontan teralih pada ruangan yang ditempati Veindal dan lainnya, membuat pria paruh baya tersebut tertawa kecil sebelum berdiri dan melantangkan suaranya, "Selama dia merasa mampu, mengapa tidak?"


Persetujuan Veindal menuai penolakan dari berbagai pihak karena merasa keberpihakan Veindal terhadap kelompok putrinya, namun semua itu segera disangkal, "Aku tidak akan melarang siapapun yang merasa mampu mengikuti turnamen ini selama mengetahui batasannya sendiri."


Veindal menjelaskan bahwa turnamen ini digelar bukan hanya untuk mencari tahu siapa yang terkuat di antara para siswa-siswi baru, tetapi juga untuk mengetahui batasan tertinggi yang mampu dicapai oleh mereka. Sebuah ajang uji kompetensi sederhana.


"Selama itu tidak membahayakan nyawa mereka, maka aku mendukung segala tindakan anak-anak ini," jelas Veindal mengakhiri persetujuannya sendiri terhadap dicabut atau tidaknya nama Salvia dari daftar undian.


Pembawa acara menghela nafas sejenak menanggapi kata-kata Veindal, "Seperti yang dikatakan oleh Kepala Sekolah, nama Salvia tidak akan dihilangkan dari daftar undian."


"Selama Salvia dapat hadir sebelum gilirannya tampil, maka dia tidak akan didiskualifikasi," kata sang pembawa acara menjelaskan.


Haikal dan Heru saling menepukan sebelah tangannya merasa menang atas keberhasilannya mengulurkan sedikit waktu untuk Salvia yang saat ini seharusnya sedang menyelesaikan proses rehabilitasinya di rumah sakit.


"Yah, kita tidak tahu kapan giliran Salvia tampil, tapi akan langsung saja kumulai undiannya!" Pembawa acara berseru sejenak sebelum menenggelamkan lengan kanannya di dalam kotak undian selama beberapa saat, kemudian menarik secarik kertas dari dalamnya dan memperlihatkan nama yang tertulis di sana.


"Pertandingan pertama adalah peserta Cecil Vermillion melawan...." Seruan sang pembawa acara terhenti sejenak demi menarik selembar kertas nama lain yang berbunyi, "Heru Hartanto!"


Nama Cecil dan Heru segera dielu-elukan oleh para penonton, meminta mereka segera naik ke atas arena dan mulai bertarung.


"Cecil! Cecil! Cecil!"


"Heru! Heru! Heru!"


Para penonton yang hadir terbagi menjadi dua kubu pendukung, yaitu sisi satu yang mendukung Kelompok Verna dan sisi lainnya yang mendukung Kelompok Salvia.


Biasanya arena tidak akan terbagi menjadi dua kubu pendukung saja, namun hari ini adalah babak final. Hanya hari ini di antara seluruh turnamen yang terdapat dua kelompok saja sehingga kubu pendukung tiap kelompok pun juga ikut menyusut.


Tanpa membuang lebih banyak waktu, Heru melangkah masuk ke dalam arena pertarungan dengan langkah mantap, sementara di sisi lain terlihat Cecil juga ikut memasuki arena meski tidak sepercaya diri Heru.


Hingga saat ini Cecil masih cukup gugup berdiri di atas panggung saja, tetapi setidaknya gadis tersebut telah mengatasinya lebih baik dibanding sebelumnya.


Heru menyunggingkan sebuah senyum kecil melihat ekspresi Cecil yang sedikit berbeda dari terakhir kali dirinya lihat, "Heh, nampaknya kau sudah tidak segugup yang dulu, Cecil."


"Aku tidak bisa jatuh di tempat yang sama terus-menerus," ucap Cecil lantang sebelum mengambil kuda-kuda tertentu dan mengeluarkan Soul Arc-nya yang kini berbentuk burung besar berbulu hijau bertengger di bahu kanannya, "Tidak perlu sungkan dan serang aku dengan kekuatan penuhmu, Heru."


Berbeda dari pertandingan terakhirnya, kali ini dapat terlihat kobaran api penuh keyakinan dan kepercayaan diri dalam pandangannya, membuat Heru tersenyum antusias dan ikut mengambil kuda-kuda seusai mengerahkan Soul Arc berbentuk sarung tangan besi kembar miliknya, Twin Kong.


"Tentu, aku tidak akan segan meski kau seorang gadis," balas Heru tak berniat mengalah.


Melihat kedua peserta telah siap bertarung, sang pembawa acara mengangkat tangannya tinggi dan berseru, "Pertandingan pertama babak final, Cecil Vermillion melawan Heru Hartanto! Dimulai!"


Sesaat setelah tanda pertandingan dimulai, Cecil mengangkat tangan kanan dan mengarahkan burung besar berbulu hijau di pundaknya ke depan, "Phoenix Flame!" Burung tersebut menyalak dan memuntahkan sejumlah api hijau menuju arah Heru.


Heru bisa melihat dengan jelas arah serangan api tersebut, kemudian menarik lengan kanannya ke belakang sedalam mungkin dan mendorongnya ke depan sekuat tenaga sesaat sebelum api hijau milik Cecil mengenai badannya.


Di saat yang bersamaan api hijau Cecil terkoyak oleh pukulan Heru, seakan-akan tinju pemuda tersebut mampu menciptakan angin topan kecil, "Air Smash," gumam Heru sambil tersenyum kecil.


Mata Cecil terbelalak sejenak mengetahui apinya berhasil dihancurkan oleh seonggok pukulan saja, "Bukankah itu teknik Haikal?"


Benar, teknik barusan adalah Air Smash milik Haikal. Heru berhasil menirunya selama latihan beberapa hari belakangan, namun karena waktunya begitu terbatas dia belum mampu menguasai pengendalian tekanan angin di sekitar lengan sesempurna Haikal.


Berbeda dari Haikal yang bahkan mampu menghancurkan beberapa benda padat tertentu, Air Smash yang Heru gunakan hanya dapat berefek hingga jarak 30 Sentimeter dari kepalan tangannya paling jauh.


Bukan hanya Cecil yang terkejut oleh jurus yang dilancarkan Heru, sebagian besar penonton baik di arena maupun di rumah juga tidak kalah terkejutnya.


Belum pernah ada peserta yang mampu melepaskan pukulan jarak jauh selain Haikal sejauh Turnamen Penyambutan tahun ini digelar, jikapun ada maka itu pastilah karena kemampuan khusus Soul Arc mereka. Kebanyakan adalah Blazer tipe Wizard yang mampu melakukan ini.


Namun, apa jadinya jika terdapat dua Blazer tipe Warrior mampu melakukan ini? Bahkan sebelum resmi menjadi Blazer? Perhatian tentu segera berdatangan pada mereka berdua.


"Aku dan Haikal adalah sahabat dekat, tidak perlu terlalu terkejut jika aku menguasai satu atau dua tekniknya," jelas Heru menanggapi reaksi Cecil yang nampaknya begitu terkejut melihat kemampuan Haikal pada Heru.


Cecil tersenyum kecil menanggapi ucapan Heru, "Aku hanya terkejut sejenak." Kali ini Cecil menyatukan kedua tangannya di depan dada, "Aku akan langsung serius, Heru."


"Tidak masalah, itulah yang kuharapkan dari kalian para jenius." Senyum Heru makin melebar mengetahui Cecil akan segera serius menanggapi pertandingan ini. Sebuah kehormatan bagi siswa tidak jenius sepertinya mendapatkan lawan jenius yang serius terhadapnya.


Tidak butuh waktu lama bagi Cecil kali ini mengerahkan seluruh kekuatannya. Kini dapat terlihat sebuah jubah api berwarna hijau berkibar indah menyelimuti tubuh Cecil, "Jade Flame Cloak!"