
"Oh, pertandingan baru saja dimulai namun Cecil sudah mengerahkan Jade Flame Cloak-nya! Sekuat itukah Heru Hartanto baginya?!" Seru pembawa acara mengomentari perubahan khas milik Cecil yang sudah tidak terlalu asing bagi matanya.
Di saat yang sama seluruh hadirin bersorak menyerukan nama Cecil, merasa dalam wujud ini Cecil mampu mengalahkan siapa saja—meski sejauh ini memang Cecil hampir selalu menang ketika menggunakan Jade Flame Cloak.
Sorakan pendukung Cecil menguasai arena, membuat suara pendukung Heru kalah keras. Tetapi bagi Heru, suara dukungan seperti itu tidak akan mempengaruhinya.
Saat nama Cecil menggema ke seluruh arena, Heru menghentakkan sebelah kakinya ke depan dan mengambil posisi tertentu, "Maju, Cecil! Akan kuhadapi semua seranganmu!"
"Sesuai keinginanmu!" Cecil tidak lagi menunda lebih lama, kali ini dia merentangkan kedua tangannya ke dua sisi berlawanan dan menciptakan puluhan hingga ratusan bola api hijau seukuran bola tenis, "Jade Fireball – Barrage!"
Dia kemudian melesatkan puluhan hingga ratusan bola api hijau tersebut ke arah Heru dengan kecepatan tinggi, membuat sebagian besar yang menonton terkesima.
Sebulan lalu Cecil hanyalah seorang siswi beruntung yang mendapatkan Jade Phoenix sebagai Soul Arc, namun sekarang Cecil seolah telah menguasai Soul Arc-nya dan mengerahkan sejumlah besar energi jiwa yang tidak pernah dia perlihatkan sebelumnya.
Heru sendiri di sisi lain ikut mengangkat alisnya merasa terkejut memandangi jumlah bola api yang dikerahkan Cecil, "Ini sih sudah lebih dari yang bisa kuhadapi," batin Heru sambil menelan ludahnya merasa menyesal telah berkata sesuatu yang angkuh tadi.
Heru memejamkan matanya sejenak berkonsentrasi pada energi jiwa di kakinya, lalu melompat sekuat tenaga ketika energi jiwa telah terkumpul di telapak kakinya hingga menyentuh ketinggian 20-an meter dari permukaan tanah, menghindari puluhan hingga ratusan bola api hijau tersebut dalam sekejap.
"He-Heru melompat! Tinggi sekali!" Seru sang pembawa acara yang sedikit tercengang menyaksikan tingginya lompatan Heru.
Cecil sedikit terkejut mengetahui Heru mampu melompat setinggi itu, tetapi dia dapat segera bereaksi, "Kejar dia, Jade Fireball!" Cecil menunjuk Heru yang tengah berada di udara dan tanpa membuang bola api lebih banyak, sisa bola api hijau miliknya segera berubah arah menuju Heru.
"Ini akan merepotkan," gumam Heru tersenyum kecut menanggapi banyaknya bola api yang mengejar dirinya, "Tapi, bukan sesuatu yang mustahil!"
Heru memutar badannya di udara berusaha sedikit membenarkan posisi tubuh di udara, lalu ketika puluhan bola api milik Cecil mendekat, Heru mengibaskan kedua tangannya ke arah yang berlawanan melenyapkan beberapa bola api terdekat dengan tekanan angin.
Sayangnya Heru hanya berhasil melenyapkan beberapa saja, masih terdapat puluhan bola api yang melesat menuju arahnya, "Ini belum selesai!"
Heru menarik nafas dalam-dalam dan mengambil posisi seperti petinju, kemudian memukul bola-bola api yang mendekati dirinya satu per satu di atas udara dalam kecepatan yang sulit ditangkap oleh mata awam.
"Meninju puluhan bola api di atas udara...." Mata Cecil terbelalak hebat menyaksikan aksi Heru yang menurutnya tidak masuk akal, namun dia tidak kagum dan berhenti begitu saja. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sekali lagi, "Aku tidak boleh kalah sekarang."
Selagi Heru sibuk meninju puluhan bola api hijau satu per satu di udara, Cecil berkonsentrasi terhadap api di sebelah kanan dan kirinya yang perlahan-lahan membentuk sepasang tombak besar.
Butuh waktu hingga kurang lebih setengah detik bagi Heru melenyapkan seluruh bola api hijau milik Cecil dengan cara meninjunya satu per satu, kini dia dapat mendarat di lantai arena dengan sempurna.
Berkat kekuatan fisik dan aksi-reaksi terhadap puluhan bola api, tubuh Heru tidak langsung jatuh melainkan terdorong ke atas sedikit demi sedikit dan memperlambat jatuhnya sehingga ketika bola apinya habis, Heru bisa langsung mendarat dengan aman.
Heru mengusap keringat di dahinya sesaat setelah melakukan pendaratan, "Itu melelahkan sekali. Aku tak ingin mencobanya untuk kedua kalinya," ujar Heru merasa tenaganya tidak lagi mendukungnya melakukan hal yang sama lain kali.
Dahi Heru sontak mengerut hebat, "Aku benar-benar tidak boleh istirahat!" keluh Heru dalam hati sebelum mengambil ancang-ancang dan menendang kedua tombak api hijau kembar tersebut sekaligus ke sisi lain arena, menyebabkan seluruh arena berguncang hebat.
Guncangan tersebut menyadarkan para penonton untuk kembali bernafas. Saking sengit dan cepatnya pertarungan Cecil melawan Heru, sebagian penonton bahkan sampai lupa bernafas dan keberadaan penonton lain di sekitarnya.
"Menendang api yang telah dipadatkan sampai sedemikian rupa...."
"Salvia dan Haikal sudah cukup gila, kali ini teman sekelompok mereka, Heru, juga ikut gila?"
"Babak final ini memang tidak bisa dilewatkan!"
Tendangan terakhir Heru yang berhasil menepis tombak kembar milik Cecil menyebabkan sebagian besar penonton tercengang, pasalnya tidak mudah menemukan Blazer tipe Warrior dengan kekuatan murni mampu menghalau sebuah serangan elemen, apalagi dalam kasus ini dua serangan sekaligus.
Meski Cecil sendiri baru kurang lebih sebulan membiasakan diri dengan Soul Arc barunya, kekuatan fisik Heru memang tidak bisa dianggap remeh. Sekali saja terkena langsung maka tubuh Cecil bisa remuk seketika.
"Baru kali ini seranganku bisa dimentalkan dengan kekuatan murni," ujar Cecil merasa takjub terhadap kekuatan fisik Heru yang mungkin sudah bisa disejajarkan dengan Blazer tipe Warrior resmi manapun, "Kukira hanya Haikal yang mungkin mampu melakukannya."
Heru tersenyum kecil menanggapi ucapan Cecil dan melirik Jack serta Verna di luar arena sejenak, "Kalian terlalu meremehkanku."
Cecil tersenyum kering, "Kurasa memang benar, kami terlalu terpaku pada Haikal dan Verna." Dia membungkukkan badannya sejenak sebelum kembali mengangkat suaranya, "Maafkan kami."
Heru mengangkat alisnya sedikit merasa kebingungan, "Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah apa-apa."
"Aku meminta maaf karena telah meremehkanmu." Cecil menegakkan punggungnya lalu mengambil kembali kuda-kuda bertarung, "Dan sekarang aku akan mengerahkan kekuatan penuhku."
Sorot mata Cecil kini berbeda dari sebelumnya, kali ini dia terlihat lebih hidup dan bersemangat. Mungkin karena sebulan ini dia berlatih bersama Jack dan Verna, mengembangkan motivasinya agar mampu bersaing lebih baik nantinya.
Benar saja, meski baru berlatih kurang lebih sebulan, nyatanya Cecil mampu merepotkan Heru yang notabenenya cukup lihai dan lebih berpengalaman dalam pertarungan.
Sorot mata yang sama juga memperingati Heru bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya jika Cecil mengerahkan kekuatan penuhnya, tetapi di saat yang sama Heru juga ingin bertarung melawan Cecil dengan seluruh kekuatannya.
Heru menelan ludah sejenak sebelum memperkuat kuda-kuda dan mempertajam konsentrasinya, "Baik, aku akan menerima semuanya. Majulah dengan segenap tenagamu, Cecil Vermillion."
Cecil tidak menanggapi perkataan Heru, dia memejamkan mata dan berkonsentrasi terhadap seluruh energi jiwa yang tersisa di dalam tubuhnya, kemudian meledakkan semuanya keluar dalam satu waktu.
Dalam seketika tubuh Cecil menciptakan api hijau menyala, mengubah jubah Jade Flame Cloak menjadi gaun hijau giok cantik nan indah yang berkibar-kibar, menyelimuti setiap Sentimeter tubuh Cecil, "Jade Empress Robe."