Absolute Soul

Absolute Soul
20. Seorang Jack Calvin



Pertandingan perdana Turnamen Penyambutan tahun ini telah dimulai oleh pertarungan sengit antar dua kelompok, membuat para penonton menjadi cukup heboh, bahkan beberapa Guild yang datang terlihat sedang berdiskusi menyaksikan pertandingan tersebut. Namun tentu Guild-Guild besar yang mendapat ruangan sendiri tidak terlihat tertarik, mengingat mereka datang untuk melihat bibit-bibit Blazer terbaik dari yang terbaik.


Pertandingan penyisihan adalah pertarungan antar kelompok yang mengharuskan mereka menjaga sebuah bola kristal agar tidak hancur ataupun diambil oleh lawan. Jika bola kristal dapat diambil atau dihancurkan, maka kelompok tersebut akan dinyatakan kalah secara otomatis. Tentu jika anggota mereka tidak dapat bertarung atau menyatakan menyerah, mereka akan kalah.


Batas waktu setiap pertandingan adalah setengah jam, jika dalam waktu tersebut bola kristal kedua kelompok dalam kondisi yang sama atau belum terambil maka pemenangnya akan ditentukan melalui seberapa parah kondisi anggota setiap kelompok.


"Pertarungan yang cukup sengit, tapi kemampuan mereka belum bisa membuat Guild besar tertarik," komentar Heru menyaksikan pertandingan tersebut dari layar, Haikal dan Salvia pun mengangguk setuju.


Memang jika dilihat dari kemampuan dan teknik kedua kelompok itu bisa dikatakan hebat untuk seukuran calon Blazer yang baru masuk kurang lebih satu bulan lalu, hanya saja itu bisa dianggap 'sedikit' bagus di mata para Guild besar.


Lawan setiap pertandingan akan ditentukan secara acak dan akan diberitahu sesaat sebelum pertandingan dimulai, cukup mendadak dan menuai protes pada awalnya. Hal ini dilakukan karena Verg bisa menyerang kapan saja dan di mana saja, maka pihak akademi memberikan situasi seperti ini agar para murid dapat bertindak secepatnya ketika dibutuhkan.


"Bagaimana menurutmu, Haikal?" Tanya Salvia penasaran dengan pendapat Haikal, mengingat mata Haikal-lah yang paling bagus dalam menangkap dan menganalisis gerakan dengan cepat dan tepat di antaranya ketiganya.


Haikal butuh waktu beberapa memikirkan sesuatu lalu mengemukakan pendapatnya, tidak ada yang begitu spesial di antara kedua kelompok yang bertanding sebelumnya. Jika mereka bertarung dengan segenap kemampuan, kedua kelompok itu bukanlah lawan ketiganya.


Salvia dan Heru mengangguk mendengar pendapat Haikal, setidaknya mereka tidak akan begitu kesulitan saat melawan pemenang dari pertandingan tersebut.


Seusai pertandingan itu pengacara segera mengacak kelompok yang akan bertanding selanjutnya, beberapa saat kemudian terpilihlah dua kelompok yang bertarung di pertandingan kedua. Sorakan besar mengiringi terpilihnya sebuah kelompok tersebut.


"Uwah, tak kusangka dia langsung terpilih di pertandingan kedua." Wajah Heru menjadi masam saat melihat kelompok terpilih itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah kelompok kekasihnya, Verna Galvoria.


Di sisi lain Haikal sedikit tertegun melihat anggota kelompok ini. Bukan hanya Verna yang merupakan sahabatnya sejak kecil, tetapi juga Jack Calvin, pemuda mencolok yang baru-baru ini ia kenal melalui hukuman upacara beberapa minggu lalu.


"Haikal, ini akan menjadi pertama kalinya kita melihat kemampuan Verna, ya?" Heru terdengar antusias ingin mengetahui kekuatan kekasihnya yang banyak dibicarakan orang.


"Ya, tapi kurasa yang akan menjadi masalah bukan hanya Verna di kelompoknya," komentar Haikal, ia melihat ada yang aneh pada ekspresi Jack, membuat Salvia dan Heru mengerutkan dahi.


Jack memasang wajah tenang tak terganggu oleh sorak-sorai sedikitpun, bahkan ia tersenyum seakan hal ini adalah hal yang biasa baginya, sementara Verna dan satu gadis lainnya yang merupakan anggota mereka terlihat sedikit gugup.


Segera setelah kedua kelompok berada di posisinya masing-masing, pengacara memberi aba-aba mulai mengawali jalannya pertandingan kedua.


Kelompok lawan berisi tiga orang gadis yang terlihat tidak senang terhadap Verna, lalu mengeluarkan Soul Arc-nya yang sama-sama bertipe Wizard dan menyerang kelompok Verna menggunakan berbagai sihir dari jarak jauh.


Jumlah sihir dari ketiga gadis itu pun bisa dikatakan cukup banyak bagi seukuran siswa SMA, membuat para penonton heboh melihat sihir ketiganya yang cukup besar dan cepat, serta penempatan waktunya sangat tepat.


"Heh, banyak juga." Jack tersenyum tipis menanggapi jumlah sihir yang mendatangi mereka, "Verna, Cecil, biar aku saja yang menghadapi mereka." Tanpa menunggu persetujuan dari Verna maupun gadis bernama Cecil di kelompoknya, Jack mengeluarkan Soul Arc-nya yang merupakan tumpukan kartu.


"Tumpukan kartu? Soul Arc apa itu?"


"Apa dia akan melemparkan kartu itu pada sihir-sihir tersebut? Bukankah dia bodoh?"


"Dia terlalu percaya diri sampai ingin menghadapi mereka sendirian."


Sebagian penonton tertawa geli bahkan beberapa mengejeknya begitu menyaksikan bentuk Soul Arc Jack, namun Jack sendiri tidak menggubris mereka dan mengambil satu kartu teratas dari tumpukan kartu Soul Arc tersebut.


"Hehehe, aku beruntung." Jack hanya tersenyum kecil sebelum kartu yang diambilnya menghilang menjadi butiran-butiran energi hijau yang terserap ke dalam tubuhnya.


Blaaarr!!


Sebuah ledakan besar tercipta berkat sejumlah sihir tersebut menghantam Jack sekaligus membuat sebagian besar penonton tertawa, terutama ketiga gadis tersebut yang tertawa sinis merasa Jack hanya 'tong kosong nyaring bunyinya'.


"Kenapa kalian tertawa? Bukankah seharusnya aku yang tertawa?" Suara tersebut terdengar lantang dari kepulan debu bekas ledakan barusan, membuat ketiga gadis dan para penonton yang tertawa terdiam seribu bahasa.


Dari kepulan debu bekas ledakan tersebut nampaklah sosok Jack yang tak terluka sedikitpun, bahkan masih berdiri tegak tanpa bergeser dari tempatnya.


"Bagaimana bisa?!" Salah satu gadis yang menyerang Jack tidak bisa mempercayai matanya, mengira seharusnya Jack terluka parah atau setidaknya keluar dari arena. Namun apa yang ia lihat sekarang? Jack berdiri tegak tanpa terluka sedikitpun.


Para penonton yang tadinya tertawa mengejek Jack sekarang tidak bisa berkata apa-apa lagi selain melongo hebat tak bisa mempercayai mata mereka.


"Apa yang terjadi? Serangan mereka meleset?" Salvia sedikit membelalakkan matanya merasa Jack yang berdiri di sana seharusnya adalah hal yang mustahil, bahkan dirinya pun merasa tidak mungkin bisa berdiri setegak itu tanpa bergeming sedikitpun.


"Tidak Salvia, semua serangan mereka mengenai Jack dengan telak." Haikal berkomentar di tempat duduknya menjawab pertanyaan Salvia, namun ia tak mengerti mengapa Jack masih bisa berdiri dengan tegaknya setelah menerima semua serangan sihir tersebut.


Meskipun sulit dipercaya, Salvia dan Heru hanya bisa terbengong menyaksikan layar di depan mereka sekaligus mendengar pernyataan Haikal yang kurang masuk akal di telinga mereka.


Ketiga gadis yang sebelumnya menyerang Jack kemudian melancarkan serangan lagi, kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya, "Coba hindari ini jika kau bisa!"


Puluhan sihir melesat cepat dari ketiganya mengarah pada Jack, tapi pemuda tampan berambut pirang itu sama sekali tak gentar menghadapinya, malah bibirnya melebarnya senyum yang seharusnya tidak bisa dibuat dalam keadaan ini.


"Tidak perlu menghindar, akan kuterima semua serangan kalian." Setelah mengatakan itu Jack melipat kedua tangannya di depan dada menunggu serangan sihir mencapainya.


Sekali lagi ledakan besar tercipta, tetapi tidak seperti sebelumnya kali ini terlihat beberapa ledakan kecil menyusul setelahnya.


Ketiga gadis itu tersenyum lebar merasa yakin Jack telah dikalahkan, namun beberapa saat kemudian senyum ketiganya luntur saat menyaksikan Jack masih berdiri tegak, tidak bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri.


"Apa? Hanya seginikah kekuatan kalian bertiga?" Jack menaikkan alisnya nampak sedikit terkejut, setelah itu ia menghela nafas kecewa sebelum mengambil satu kartu lagi di hadapannya, "Baiklah, aku akan mengakhiri ini dengan cepat."


Sama seperti sebelumnya, kartu yang diambilnya langsung berubah menjadi butiran energi hijau yang segera meresap ke dalam tubuhnya. Setelah semuanya meresap sempurna, Jack kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas.


Di atas tangannya terbentuklah sebuah bola hijau berdiameter lima meter dengan cepat, membuat semua penonton terbelalak hebat, bahkan para Guild besar yang berada di ruangan mereka terpana menyaksikan itu.


"Menghindar atau bertahan, manapun yang kalian pilih kalian tetap akan kalah!" Tanpa membuang lebih banyak waktu lagi, Jack segera melemparkan bola hijau tersebut ke arah ketiga gadis lawannya.


Ketiga gadis itu langsung panik hendak berpikir harus memilih menghindar atau bertahan. Jika mereka menghindar maka bola kristal di belakang mereka akan hancur terkena bola tersebut, namun jika mereka memilih bertahan mereka tidak yakin bisa bertahan dari serangan ini


Saat ketiganya baru saja ingin memilih, bola hijau yang dilempar Jack sudah berada di depan mata mereka.


Blaaarr!!


Ledakan besar tercipta sekali lagi, tetapi kali ini pencipta ledakan itu adalah Jack yang merupakan satu-satunya lelaki di arena tersebut. Satu ledakan itu melemparkan ketiga gadis itu keluar arena sekaligus menghancurkan bola kristal lawannya.


Beberapa saat setelah ledakan besar dari Jack membawa kesunyian di seluruh arena sebelum pengacara menyatakan pemenangnya dengan tergagap, "Pe-pemenangnya kelompok Verna Galvoria...."