
Biasanya Verna memperlihatkan ekspresi ceria dan suka bercanda ke semua orang, tetapi sekarang tidak ada satupun dari dua bentuk wajah tersebut terlihat pada paras cantiknya. Hanya ada keseriusan serta keinginan untuk memenangkan pertandingan ini.
Salvia dan Verna saling memandang sejenak setelah pernyataan keras Verna sebelumnya, mereka saling mengamati gerakan satu sama lain dengan cermat dan di saat yang sama mengambil tindakan.
"Nilfheim Breeze!" Salvia mengerahkan angin saljunya mengincar Verna dari jauh, namun dengan perubahan Verna sekarang yang mengombinasikan unsur api dan tanah, serangan Salvia bukanlah apa-apa melainkan angin sejuk biasa bagi gadis berambut merah berkobar tersebut.
"Cukup bermain-mainnya!" Verna menghentakkan sebelah kakinya ke lantai dan seketika itu juga memunculkan sebuah dinding tanah berapi yang menghalau angin salju Salvia, dia lalu memijak lantai kuat-kuat sekali lagi dan kali ini Verna menciptakan puluhan duri batu berapi nan runcing mengarah pada Salvia.
Salvia sendiri mengeratkan giginya menyadari salah satu serangan terkuatnya bisa dipatahkan semudah itu oleh Verna, namun dia lantas tidak menyerah begitu saja, "Snow Cloud!"
Salvia mengumpulkan sisa-sisa salju yang ada di sekitar menuju telapak kakinya, membentuk awan salju yang kemudian mengangkatnya terbang ke atas menghindari taring batu berapi yang dikerahkan Verna.
"Kau tidak bisa lari, Salvia!" Sambil berseru demikian, Verna menghentakkan kakinya sekali lagi namun kali ini dia menghancurkan dinding berapi di hadapannya, membentuk ulang bebatuan tersebut menjadi puluhan bola batu berapi kecil kemudian yang kemudian dipukul sekuat tenaga menggunakan pemukul raksasanya, "Magma Cartridge Volley!"
Puluhan bola batu berapi tersebut melesat cepat menuju Salvia, sukses membuat gadis berambut perak tersebut terbelalak, namun Salvia segera menyadarkan diri dan membentuk perisai salju di hadapannya menanggapi serangan berondong Verna.
Sayangnya dikarenakan energi jiwa yang telah terkuras begitu banyak, Salvia tidak mampu menahan semuanya dan terkena beberapa serangan. Dia terhempas dari Snow Cloud dan jatuh ke atas lantai arena.
"Argh!" Salvia mengerang keras merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tidak tahu berasal dari serangan Verna atau bekas cedera melawan Edward yang belum sempurna.
Warna rambut dan mata Salvia perlahan-lahan kembali seperti semula setelah terkena serangan Verna secara telak, sementara penampilan Verna sendiri juga kembali menjadi seperti biasa sebelum jatuh berlutut kehabisan tenaga dan nafas bersama tongkat hitam di tangannya.
"Oh, apakah Verna kehabisan energi jiwa?" Alis pembawa acara sedikit terangkat melihat pemandangan langka ini, padahal sejak dimulainya Turnamen Penyambutan belum pernah sekalipun Verna menitikkan keringat.
Pernyataan pembawa acara tidak meleset. Pemusatan energi jiwa merupakan teknik yang dapat memperkuat kekuatan seorang Blazer secara signifikan, tetapi di saat yang sama tingkat konsumsi energi jiwa juga sebanding dengan besar kekuatan yang diperoleh.
"Yah, sejak tadi Verna memang mengeluarkan banyak teknik tingkat tinggi, itu tidak perlu diherankan," komentar Haikal meneteskan keringat pada dahinya, tak pernah terlintas di benaknya sekali pun pertarungan Salvia dan Verna sampai sedahsyat ini.
Biarpun pertarungannya melawan Edward di babak semi final lalu juga bisa dibilang dahsyat, namun baginya kekacauan lapangan arena saat ini lebih mengerikan dibanding pertandingannya dengan Edward.
Di sisi lain Salvia berusaha bangkit melawan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Kondisi Salvia tidak jauh berbeda dari Verna, mengingat dia menggunakan Awakening dan pemuasatan energi jiwa di saat yang bersamaan, tingkat konsumsi energi jiwanya jelas meroket jauh dari normal meski hanya digunakan sebentar saja.
"Kau sungguh pandai menyembunyikan kekuatanmu, Salvia." Verna berkomentar mengenai kekuatan Salvia yang dia rasa lebih dahsyat dibanding pertarungan-pertarungan sebelumnya sambil mengatur nafas, "Kenapa kau tidak menggunakan kekuatan ini ketika melawan Edward? Apa kau sengaja menahan diri?"
Pertanyaan Verna berhasil menguak rasa penasaran para penonton dan mengundang diskusi. Padahal saat melawan Edward, Salvia hanya menggunakan Awakening dan kekuatannya bisa dikatakan tidak lebih hebat dari yang diperlihatkannya sekarang.
Salvia tersenyum kecut menanggapi ucapan Verna, dia mengangkat bahu sambil berkata, "Tidak sepertimu yang menggunakan sifat sihir api yang berlawanan untuk melawan saljuku, sifat sihirku dan sihir Edward sama-sama dingin. Aku hanya akan membuang energi jiwa sia-sia jika begitu."
"Ah, benar juga," kata Verna spontan baru menyadari hal tersebut. Di saat yang sama juga mengakhiri sesi diskusi para hadirin yang memperdebatkan apakah Salvia sengaja menahan diri atau tidak dalam pertarungannya melawan Edward lalu.
Biarpun dapat diketahui kekuatan Salvia meningkat drastis setelah menggunakan pemusatan energi jiwa disertai Awakening, tetap saja jika melawan sesama Blazer pemilik Soul Arc bersifat dingin mengingat pemusatan energi jiwa Salvia fokus pada peningkatan sifat dingin dan pembekuan sihirnya.
Seusai keheningan di antara mereka berlangsung cukup lama, Verna menegakkan punggung dan menyeka peluh pada dahinya sebelum berkata, "Kita sudah sama-sama habis, bukan? Aku hanya bisa mengerahkan satu serangan lagi."
"Benarkah? Kebetulan sekali aku juga demikian," balas Salvia menanggapi perkataan Verna juga ikut menyudahi mengatur nafas. Lagipula biarpun dirinya mampu memulihkan sebagian energi jiwa, itu hanya cukup untuk satu atau paling banyak dua serangan lagi. Dirinya bisa dipastikan kalah jika pertarungan berlangsung lebih lama dari ini.
Verna tersenyum kecil menatap Salvia, "Bagaimana jika kita akhiri ini dengan saling mengerahkan serangan terakhir sebagai penutup?"
Sebelah alis Salvia terangkat sedikit, tertarik terhadap ide Verna, "Oh, kau yakin? Kita mungkin tidak akan tahu siapa yang menang."
"Tidak masalah, ini akhir yang bagus untuk pertandingan kita." Verna melirik sejenak kepada Jack yang berada di pinggir arena terlihat mencemaskan dirinya sebelum menyunggingkan sebuah senyuman kecil dan kembali melihat Salvia, "Lalu, aksi pembuka bagi pertarungan terakhir sekaligus utama di babak ini."
"Kau juga berpikiran sama, kan?" Pertanyaan Verna berhasil membuat Salvia tersentak, sontak dia memandang Haikal yang berada di pinggir arena, memperhatikan dirinya dari jauh dengan ekspresi khawatir.
Dia tersenyum sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada Verna, "Boleh juga, akan kuikuti keinginanmu."
Kedua gadis tersebut saling melemparkan senyum dan anggukan pelan, lalu mengerahkan seluruh energi jiwa mereka yang tersisa untuk mengerahkan serangan terakhir mereka pada pertandingan ini.
"Haah!" Tekanan energi jiwa Verna meningkat drastis, tongkat sihir hitamnya—Elemental Staff—terurai menjadi bulir-bulir energi ungu yang terserap ke dalam tubuh Verna dan mengubah penampilannya sekali lagi.
Kali ini penampilan Verna sedikit berbeda, gaunnya tetap berwarna merah dan berkibar seperti api, namun warnanya sedikit lebih kuning disertai sepasang sayap merah kekuningan tercipta di punggungnya tanpa sepasang sarung tangan di kedua lengannya, "Elemental Dress – Red Falcon!"
Seakan tidak ingin kalah, Salvia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya untuk mengaktifkan Awakening sekali lagi diikuti oleh pemusatan energi jiwa, "Awakening : Snow Valkyrie!"
Salvia dan Verna menyelesaikan perubahan mereka hampir di saat yang sama, keduanya lalu mengambil kuda-kuda dan mempersiapkan jurus masing-masing.
Salvia menciptakan dan mengumpulkan semua salju yang tersisa ke satu tempat, mulai membentuk sebuah tombak salju raksasa hingga mencapai sepuluh meter panjangnya, melayang di beberapa sentimeter di atas kepalanya.
Sementara itu di sisi lain, Verna berkonsentrasi memusatkan seluruh energi jiwanya pada sihir api dan angin yang kini berkumpul membentuk sebuah bola besar berwarna hijau kemerahan di antara kedua telapak tangannya.
Verna melirik Salvia yang siap melesatkan jurusnya kapan saja, dia mengangguk pelan kepada Salvia menandakan dirinya juga sudah siap.
"Terima ini!" Salvia berseru keras sembari melemparkan tombak salju raksasa miliknya, "Spear of Niflheim!"
Merasa tak ingin kalah Verna juga melepaskan jurus di tangannya menuju Salvia, sebuah pusaran api yang berputar kencang, "Blaze Tornado!"
Dua jurus tersebut melesat dalam kecepatan tinggi hingga akhirnya berbenturan di tengah lapangan arena, mengakibatkan sebuah ledakan besar dahsyat yang menggetarkan seisi arena.
Blaaar!!