A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
8. Calon suami Ashma



Ashma menatap langit malam yang temaram dengan penuh kekaguman. Dia melihat salju turun dengan lebatnya, menciptakan pemandangan yang indah. Musim salju yang melimpah seperti ini cukup umum terjadi di negara beruang merah ini.


"Subhanallah." Ashma sungguh sangat kagum oleh kebesaran-Nya.


"Takdir membawaku ketempat ini, ternyata sejauh mana aku berencana, Allah telah memiliki pilihannya." Ucap Ashma, walaupun dia masih merasa cemas dengan berbagai hal yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya tapi Ashma percaya bahwa tuhan tidak akan pernah meninggalkannya sendirian.


Ditengah asiknya menatap langit yang turun salju tiba-tiba ponsel Ashma berdering dan Ashma cukup terkejut melihat nama dokter Halifa yang tertera pada panggilan teleponnya, dengan cepat Ashma mengangkat panggilan dari dokter Halifa. Ashma sempat melirik kearah Adam yang tengah fokus pada handphonenya, dia duduk anteng diatas sofa karena masih menunggu jawaban dari Ashma soal pernikahan setelah satu minggu Ashma mempertimbangkan untuk menjawab tawaran Adam.


"Assalamualaikum, Dokter Halifa..." sapa Ashma dengan penuh kelembutan.


"Waalaikumussalam, Ashma. Maaf mengganggu waktumu. Aku ingin berbicara serius denganmu As." Ashma merasa memiliki pemikiran yang buruk karena mendengar suara dokter Halifa yang bergetar.


"Ada apa, Dokter? Apakah ada masalah?"


Dokter Halifa terdengar menghela napas berat, Ashma semakin menguatkan praduganya. "Ashma tolong jawab dengan jujur," Ucap dokter Halifa dengan suara yang bergetar.


"Apakah kamu...Me-mencintai dokter Gilang?" Ashma sudah menduganya, pasti ada yang tidak beres dengan dokter Halifa. Ashma bingung bagaimana harus menjelaskan pada dokter Halifa. Disisi lain Ashma memang masih menaruh hati pada dokter Gilang, tapi disisi lain dia tidak ingin menyakiti dokter Halifa. Juga kepala Ashma sangat pening karena Adam mengacaukan pikiran Ashma perihal pernikahan.


"Ashma... mengapa kamu diam? Apa benar seperti itu?"


Ashma tidak bisa berkata jujur, karena dia yakin dokter Halifa akan semakin sakit hati bila mendengarnya. "Dokter mengapa mengatakan hal seperti itu?"


"Ashma...tolong jawab saya dengan jujur, iya atau tidak?!" Dokter Halifa menuntut jawaban sedangkan Ashma merasa tertekan dengan pertanyaan itu.


Dengan hati-hati Ashma berusaha menjawabnya. "Tidak dokter, saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap dokter Gilang. Ini adalah jawaban saya, tapi saya juga ingin bertanya kepada dokter, mengapa dokter menanyai saya tentang hal seperti ini?"


"Ashma..." Dokter Halifa terisak pelan. "Dokter Gilang tadi pagi memberitahu perasaannya yang sebenarnya kepadaku bahwa dia tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadaku Ashma...Dia terus terang mengatakan bahwa dia mencintai kamu. Hatiku rasanya hancur sedangkan pernikahan kami tinggal beberapa hari lagi."


Ashma sudah menduganya, lalu apa yang harus dia katakan kepada dokter Halifa. Inilah yang Ashma takutkan. "Dokter Halifa, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan," ujar Ashma dengan suara yang gemetar. "Aku benar-benar tidak mengetahui perasaan Dokter Gilang. Aku minta maaf jika keadaan nya menjadi seperti ini." Ashma lagi-lagi berbohong, padahal Ashma mengetahui dan mendengar sendiri bahwa dokter Gilang menyatakan perasaannya tempo lalu melalui telepon.


"Aku tau itu karena dokter Gilang juga bilang seperti itu, tapi Ashma rasanya hatiku hancur aku benar-benar bingung harus bersikap seperti apa, apa aku harus membatalkan pernikahanku dengan dokter Gilang?" Ashma sangat tidak ingin mendengar hal itu terjadi.


"Tidak dokter, jangan...aku mohon. Gini saja, aku akan berbicara dengan dokter Gilang. Selain itu..." Ashma berbalik lalu memandang Adam yang sama-sama sedang memandang kearah Ashma tidak jauh dari tempatnya, dia menarik alisnya.


"Kalian juga harus tau bahwa aku akan segera menikah, karena itu aku memutuskan resign dan memilih menetap di negeri orang karena aku akan segera menikah dengan lelaki yang aku cintai." Dari sana dokter Halifa terkejut, ternyata ini alasan perawat cantik berdarah Palestina itu resign dari pekerjaannya.


Sedangkan Adam menatapnya tertegun dengan tangan yang bersedekap dada. Ashma tiba-tiba mengatakan akan menikah dengan orang yang dia cintai jadi Adam dapat mengambil kesimpulan bahwa Ashma setuju dengan tawaran menikah yang Adam ajukan padanya.


"Kau akan menikah?" Tanya dokter Halifa sekali lagi memastikan.


"Ya dokter, karena itu aku sangat terkejut mendengar berita ini. Aku mohon dokter Halifa tolong jangan batalkan pernikahan kalian hanya gara-gara aku."


"Tapi dia mencintai kamu Ashma, aku tidak bisa menahan seseorang yang perasaannya untuk orang lain." Ashma sangat frustasi, Ashma tidak ingin merusak pernikahan mereka.


"Dokter, aku akan berbicara dengan dokter Gilang. Kau tenang saja."


Dokter Halifa masih terdiam, mencerna kata-kata Ashma. Dia tahu bahwa keadaan ini sangat sulit bagi Ashma juga. Setelah beberapa saat, dokter Halifa akhirnya berkata dengan suara lemah, "Baiklah, Ashma."


Ashma merasa sedih mendengar penderitaan yang dirasakan oleh dokter Halifa. Dia merasa bersalah karena dirinya menjadi sebab dokter Halifa menderita.


Setelah Ashma mengakhiri obrolannya dengan dokter Halifa, ia segera mencari kontak dokter Gilang akan tetapi sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepalanya. Walaupun ide ini adalah bentuk persetujuan tetapi Ashma akan berusaha untuk menyelamatkan pernikahan yang akan dilaksanakan oleh dokter Gilang dan Halifa beberapa hari lagi.


Adam, lelaki itu sudah beranjak sedari tadi kelantai atas mungkin karena Ashma yang sedikit lama mengobrol dengan dokter Halifa jadi membuat Adam bosan menunggu jawaban darinya.


Ashma beranjak keluar dari kamar untuk menuju kamar Adam dia juga sekarang lebih berhati-hati takut kejadian semalam akan terulang lagi.


"Adam..." Ashma memanggil Adam setelah tidak ada respon saat dia mengetuk pintunya selama beberapa kali. Tidak lama dari itu pintu kamar Adam terbuka dan wajah lelaki itu tampak mengantuk.


"Ada apa?" Adam bertanya dengan suara seraknya.


"Em-itu... Ada yang ingin aku bicarakan." Adam mengernyitkan satu alisnya.


"Saya kira kamu tidak akan memberikan jawabannya sekarang,"


Ashma memilin ujung hijabnya karena merasa ragu juga. Adam menghela napas, dia mengajak Ashma untuk berbicara ditempat yang lebih nyaman.


Sejujurnya Ashma sedikit tidak fokus karena lelaki itu menggunakan kimono tidur, itu sangat membuat ketampanannya sangat sangat berlipat dan Ashma munafik bila tidak mengakuinya, namun Ashma yang sadar cepat memutuskan kontak matanya dengan Adam.


"Astaghfirullah..."


Ashma mengikuti langkah lebar Adam dengan masih sangat berhati-hati.


Setelah sampai lelaki itu segera duduk disofa sedangkan Ashma duduk diseberang nya.


"Jadi bagaimana ?" Adam bertanya pelan, lelaki itu terlihat sangat begitu tenang.


"Adam... aku...a-aku..itu...," Adam tersenyum kecil, Ashma yang terlihat garang kemarin seketika sirna dimata Adam saat melihatnya bicara gagap.


"Biasanya kamu memaki saya dengan lancar tapi mengapa sekarang gagap?" Ashma jadi malu, lelaki itu jangan sampai meledek nya lagi.


"Aku menerima penawaran terkait pernikahan yang kamu ajukan seminggu yang lalu." Akhirnya Ashma mengucapkannya dengan lugas tanpa tergagap-gagap lagi. Adam sudah menduganya.


"Kamu serius?" tanya Adam dengan wajah tak percaya.


Adam mendongak menatap langit-langit mansion nya, dia melakukan itu agar tidak terpesona pada Ashma. Walaupun itu sangat tidak mungkin karena perasaan dan cintanya hanya untuk Lily seorang.


"Jelaskan secara spesifik apa alasan dibalik penerimaan ini karena saya juga berpikir tidak ingin memaksa seseorang?"


Ashma mengakui Adam pandai membaca gelagatnya. "Sepertinya kamu lulusan psikologi ya--pandai membaca gelagat orang."


Adam terkikik geli, mungkin dulu memang Adam ingin memilih jurusan itu saat berkuliah, tapi tidak jadi.


"Tidak harus masuk jurusan psikologi, saya memang terlahir dengan bakat seperti ini." Ucapnya masih terkikik geli.


"Sudah tidak usah bercanda lagi. Jelaskan alasannya apa!" Adam kini nampak serius.


"Aku...aku mau kau membantuku menelpon seseorang dan mengatakan kau adalah calon suamiku. Kita akan menikah dalam waktu dekat ini."


Adam mengangkat sebelah alisnya, lihatlah Ashma sampai memintanya melakukan hal tersebut dan alasannya sangat diluar perkiraannya tapi dia tidak terlalu memperdulikan.


"Baiklah." Adam menyetujuinya.


Ashma mencari kontak seseorang lalu ia menghubungi nya, Ashma sungguh tidak mengira panggilannya akan secepat itu diangkat oleh dokter Gilang.


"Assalamualaikum Ashma..." Suara dokter Gilang terdengar sangat antusias dan jujur saja Ashma merasakan hal demikian saat mendengar suara dokter Gilang tapi mengingat dokter Halifa membuat dia teringat pada tujuannya lagi.


"Waalaikumsalam... dokter bolehkah saya berbicara sebentar dengan dokter?"


Adam memerhatikan Ashma, wanita itu mengapa terlihat mempesona dengan bajunya yang besar melebihi tubuhnya, juga penutup kepala yang menutupi seluruh bagian rambut. Adam menyesal telah berlaku buruk kepada Ashma malam itu bahkan dia tidak sengaja telah melihat rambut indah Ashma yang wanita itu selalu menjaganya dengan hijab.


Kembali kepada Ashma, dia melanjutkan pembicaraannya dengan dokter Gilang ditelepon. "Tentu saja Ashma... saya telah menunggu-nunggu waktu ini." Ujar dokter Gilang dari sebrang sana.


Ashma langsung saja berterus terang, dia ingin dokter Gilang mengerti. "Dok...Saya hanya ingin menegaskan kepada dokter, bahwa saya tidak memiliki perasaan apapun kepada dokter. Tolong digaris bawahi dok."


"Dan pertanyaan saya...mengapa dokter menyakiti perasaan dokter Halifa?"


Dokter Gilang tampak terdiam sejenak, kemudian dia menjawab dengan serius, "Karena saya tidak mencintainya Ashma, saya tidak bisa membohongi perasaan saya yang malah akan semakin menyakitinya jika tidak terus terang."


"Saya mengerti akan hal itu. Tapi dokter bukan hanya menyakiti perasaan dokter Halifa, dokter juga akan menyakiti seluruh keluarga kedua belah pihak." Ashma berusaha memberi pengertian pada dokter Gilang.


"Lalu bagaimana dengan perasaan saya Ash?" Ada keheningan sejenak di tengah telepon.


"Dok, perbaiki semuanya. Satu hal yang harus dokter Gilang tahu, saya... akan segera menikah dengan lelaki yang saya cintai." Dokter Gilang terkejut, hatinya mencelos sakit. Adam menggeleng kecil.


"Kau berbohong kan Ashma" Tanya dokter Gilang memastikan.


"Akan aku buktikan."


Ashma memberi kode kepada Adam untuk mendekat kearahnya.


"Tolong yakinkan seseorang yang ada di telepon ini jika kita akan segera menikah." Ashma berbisik-bisik. Adam mengerti lalu dia mengambil handphone dari tangan Ashma dan mendekatkan ke telinganya.


"Hallo..." dokter Gilang terdiam saat suara Ashma berganti dengan suara berat seorang lelaki.


"Kamu siapa?" Tanya dokter Gilang dari balik telepon.


"Ashma future husband," Ucapnya dalam bahasa inggris namun setelahnya melanjutkan dalam bahasa Indonesia, Adam sangat fasih.


"Ashma memberitahu saya agar anda melupakannya."


Dokter Gilang mengeratkan rahangnya. "Kenapa saya tidak yakin Ashma mencintaimu."


Adam tersenyum sinis. "Saya tidak membutuhkan kepercayaan anda." dokter Gilang sangat tidak suka nada bicara Adam yang terdengar arogan.


"Saya tidak menyangka Ashma akan menikah dengan pria arogan seperti anda," ucap dokter Gilang sarkasme.


Adam lagi-lagi tidak memperdulikan ucapan dokter Gilang. "Dan saya juga tidak peduli penilaian anda. Saya hanya ingin anda berhenti menghubungi calon istri saya, ini adalah peringatan pertama dan terakhir bagi anda."


Adam langsung menekan tombol merah, dia mematikan sambungan telepon dengan lelaki yang menyukai calon istrinya itu.


"Adam mengapa langsung dimatikan?" Ashma sedikit tidak suka saat Adam tiba-tiba mematikan sambungan telponnya.


Adam menatap Ashma dengan dingin. "Semuanya sudah jelas, jadi untuk apa berlama-lama berbicara dengan lelaki yang menyukaimu itu." Adam bergegas pergi setelah mengembalikan handphone Ashma, raut lelaki itu entah mengapa seperti kesal.


Ashma juga setelahnya tidak berniat untuk menghubungi lagi dokter Gilang, tetapi dokter Gilang terus menelponnya. Ashma tidak berkeinginan untuk mengangkatnya lagi karena dia rasa sudah cukup menjelaskan kepada dokter Gilang. Ashma juga berharap dokter Gilang dapat paham dan kembali memperbaiki hubungannya dengan dokter Halifa.


Ashma juga masih tidak menyangka akan menerima tawaran menikah dari Adam, walaupun begitu dia sudah memikirkannya dengan baik dan meminta petunjuk pada Allah dalam sepertiga malamnya, dan dia menerima pinangan Adam sebagai jawaban di sepertiga malamnya.


Entah apa yang membuat hatinya begitu yakin tapi Ashma lebih yakin pada takdir Allah.


#TBC


...(Visual Adam)...