A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
5. Pesona Ashma



Ashma merasa terpesona melihat kemegahan mansion Adam yang terlihat seperti sebuah istana. Dia tidak pernah menduga bahwa Adam begitu kaya. Namun, meskipun begitu, Ashma tetap merasa tidak nyaman. Pikirannya hanya tertuju pada keinginannya untuk pulang dan bertemu neneknya di Palestina. Dia merasa terjebak di negara asing dengan seorang pria yang tidak dikenalnya.


Adam memerintahkan asistennya untuk mengantarkan Ashma kedalam mansion sedangkan Adam harus bergegas pergi lagi untuk membereskan masalah yang sangat krusial.


"Pergilah kedalam dan istirahat, jika butuh bantuan panggil saja bibi Marianee dia ibuku,"


"Lalu kau akan pergi lagi?" Adam mengangguk. Ashma tidak habis pikir, lelaki itu sepertinya memiliki banyak stamina padahal mereka baru saja sampai dari perjalanan panjang. Hal ini semakin menambah misteri di balik sosok Adam.


Saat Adam pergi dengan cepat bersama dua pengawalnya, Ashma merasa khawatir. Ashma tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya Adam dan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan, mulai dari Adam sebagai penjahat, mafia, atau bahkan lebih buruk lagi. Ketidakpastian ini membuat kepala Ashma rasanya ingin meledak hanya dengan memikirkannya.


Ashma merasa terjebak dalam lingkaran ketidakpastian dan kecemasan. Dia berharap dapat menemukan jawaban segera dan menyelesaikan masalahnya, sehingga dia bisa kembali ke Palestina dan bertemu dengan neneknya.


Seorang wanita paruh baya mendatangi Ashma, wanita itu nampak sejuk dilihat, Ashma tersenyum tipis.


"Selamat siang Nona. Perkenalkan saya Marianee, nah silahkan masuk." Beliau memperkenalkan diri dengan sangat ramah Ashma tersenyum kecil, jadi dia yang dimaksud oleh Adam sebagai ibunya.


"Selamat siang bibi Marianee, ah tidak usah memanggil ku dengan sebutan Nona. Kau ibunya Adam, aku merasa tidak sopan." Jelas Ashma, ia merasa tidak enak.


"Saya Ashma em-itu teman Adam." Ucapnya melanjutkannya, Ashma sedikit ragu mengatakan bahwa Adam adalah temannya.


Bibi Marianne tersenyum hangat. "Demi tuhan kau sangat cantik juga mirip seseorang," Ashma terkekeh kecil, ia merasa malu karena bibi Marianne memujinya.


"Terimakasih bi. Bibi Anne sangat lucu aku jadi teringat nenekku."


"Kau sangat merindukannya ya?" Bibi Anne sepertinya peka dengan Ashma yang sedang merindukan neneknya.


"Sangat."


"Semoga kamu bisa segera melepas rindu dengan nenekmu ya gadis cantik." Ashma mengaminkan.


"Baiklah sekarang aku akan mengantarmu untuk istirahat."


Ashma mengangguk, mengikuti bibi Marianee menuju kamar yang telah disiapkan untuknya. Kamar itu terasa nyaman dan hangat, membuatnya merasa di rumah. Bibi Marianee dengan cekatan mengatur tempat tidur.


"Sekarang, kamu bisa beristirahat sejenak, Ashma. Jika ada yang kamu butuhkan, jangan sungkan untuk memanggilku," kata bibi Marianee sambil tersenyum.


"Terima kasih, bibi. Aku akan beristirahat sebentar," ujar Ashma sambil menghela nafas lega. Setelah berbicara singkat dengan bibi Marianee, rasa canggungnya sedikit hilang.


Ashma duduk di tepi tempat tidur, memandangi jendela yang memberikan pemandangan indah ke taman belakang. Ia teringat kembali pada neneknya, sosok yang selalu memberikan kasih sayang dan pelajaran berharga dalam hidupnya. Neneknya adalah orang yang sangat ia rindukan sejak kepergian Ayah dan Ibunya.


Dalam keheningan kamar, Ashma merenung tentang kebersamaan yang mereka habiskan bersama. Kenangan-kenangan manis dan pelajaran berharga dari neneknya membuat Ashma merasa sedikit lebih baik. Ia berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya lagi.


...•••...


Suara tembakan begitu nyaring terdengar didalam sebuah gedung tua yang tidak berpenghuni, Adam mengejar dua orang pria yang melarikan diri. Dia berusaha mengejar mereka dengan cepat melalui lorong-lorong yang gelap dan berdebu. Kegelapan menyelimuti setiap sudut gedung itu. Hanya cahaya samar-samar dari sinar bulan yang masuk melalui jendela-jendela pecah yang terlihat.


Dengan langkah tegap dan tangan yang mantap, Adam terus mengejar dua pria yang berlari di depannya. Meskipun kegelapan melingkupi gedung itu, Adam terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia adalah seorang yang terlatih dalam menghadapi tantangan dan tidak mudah terpengaruh oleh ketakutan.


Dengan setiap langkah yang diambilnya, debu pun terbang ke udara, menciptakan jejak kabut yang terangkat dari lantai yang kotor. Adam terus bergerak maju, dengan pandangannya tetap fokus pada targetnya. Suara langkah kaki mereka mengisi keheningan gelap di gedung itu.


Di tengah ketegangan yang menggantung di udara, Adam berusaha mempertahankan ketenangannya. Pikirannya fokus pada strategi pengejaran dan bagaimana ia bisa mendekati targetnya dengan cepat. Pada saat yang sama, ia berharap bahwa cahaya samar dari sinar bulan akan membantunya melacak gerakan mereka.


Seketika, sebuah tembakan lagi terdengar dari kejauhan, memberikan kepastian bahwa Adam semakin dekat dengan mereka. Ia semakin mengencangkan langkahnya, semakin mendekati mangsanya. Kehadirannya yang menyeramkan dan tidak memperlihatkan raut wajah ketakutan memancarkan aura yang mengintimidasi.


Akhirnya, Adam melihat kedua pria itu berhenti di ujung lorong. Mereka terjebak, seperti tikus yang masuk ke dalam perangkap. Adam dengan tenang mendekati mereka, menangkap nafas mereka yang berdebar dengan tatapan tajam.


"Pertunjukan kalian berakhir di sini," desis Adam dengan suara rendah, menunjukkan bahwa ia adalah predator yang tak kenal belas kasihan.


Adam merasa lega setelah berhasil mendapatkan flashdish tersebut. Dengan hati yang penuh semangat, Adam melangkah pergi dari tempat kejadian.


Namun, meskipun ia merasa senang dengan pencapaian ini, ada sedikit ketidaknyamanan yang menghantuinya. Tindakan kekerasan yang ia lakukan terhadap kedua pria itu menunjukkan sisi gelapnya yang mengerikan. Adam menyadari bahwa dia telah mengambil nyawa mereka tanpa belas kasihan.


Tetapi Adam tidak bisa berpikir jernih kala teringat rekannya lebih tepatnya teman seperjuangan Adam yang dibunuh dengan begitu keji.


Adam segera bergegas untuk kembali ke mansion. Dia melangkah cepat menuju mobilnya dan dengan cepat memasuki kendaraan tersebut.


Saat dia tiba di mansion, Adam melihat cahaya terang dari jendela-jendela yang menandakan bahwa banyak orang masih terjaga di dalamnya. Dia membuka pintu masuk dengan hati-hati dan masuk ke dalam mansion. Suasana yang tenang dan mewah di dalam mansion itu berbeda dengan kegelisahan yang dia rasakan.


Adam perlahan-lahan menaiki anak tangga satu persatu. Badannya terasa pegal-pegal dan ia ingin segera berendam air hangat. Saat Adam akan menaiki anak tangga terakhir tiba-tiba Ashma yang keluar dari kamar terhenyak melihat keadaan Adam yang berantakan. Kemeja lelaki itu berdarah-darah sontak Ashma segera menghampiri Adam.


"Apa yang terjadi Adam? Kenapa kemeja mu berdarah-darah?" Tanya Ashma dengan khawatir.


Adam menghela napas kasar, dia baru ingat bahwa ada seorang perempuan yang sangat cerewet berada didalam mansion nya sekarang.


"Saya sepertinya tidak harus menjawab."


Ashma lelah mendengar jawaban Adam yang selalu membuatnya kesal, padahal apa susahnya tinggal dijawab.


"Oh-ya aku lupa kau kan orang yang terlibat dengan orang-orang jahat pastinya setiap hari kau pulang dengan keadaan yang seperti ini."


"Sudahlah perempuan berisik-"


"Enak aja perempuan berisik, aku punya nama ya tuan ingat namaku Ashma."


"Terserah."


Ashma rasanya ingin membogem wajah sombong Adam namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Ulurkan tangan kirimu," Walaupun Ashma kesal setengah mati tetapi dia tidak bisa melihat ada seseorang yang terluka didepan matanya.


Adam menatap Ashma dengan ekspresi acuh tak acuh, tetapi ia mengulurkan tangannya dengan malas. Ashma mengambil perban steril dari tas medis yang tersedia didalam kamarnya dan dengan lembut membungkus luka berdarah di tangan Adam.


"Aku hanya mencoba membantu," ucap Ashma dengan suara lembut. "Aku tahu kita tidak selalu setuju satu sama lain, tapi aku tidak ingin melihatmu terluka."


Adam hanya mengangguk tetapi ia baru menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh Ashma. "Maksudmu, tidak ingin melihatku terluka?"


Ashma baru sadar karena ia salah berbicara. "Maksudku sebagai seorang perawat aku harus memiliki inisiatif jika ada seseorang yang terluka didepan mataku." Adam tidak menjawab lagi.


Ashma merasakan getaran keheningan di sekeliling mereka, tetapi dia memutuskan untuk tidak menghiraukannya.


Adam yang merasa terkesima dengan wanita itu tanpa sadar mengusap pipi Ashma, sontak Ashma menjauh darinya.


"Kau- Apa yang kau lakukan?" tanya Ashma begitu terkejut dengan perbuatan Adam.


Adam menyadarinya dan sangat bodoh. Dia berusaha menjelaskan dengan gerakannya yang tiba-tiba mengusap pipi wanita itu. "Maaf, saya hanya teringat kekasih saya yang sedikit mirip denganmu,"


"Saya tidak bermaksud seperti itu." Lanjut Adam setelah itu ia bergegas pergi menuju kamarnya meninggalkan Ashma dengan kebingungan dan rasa was-was.


Didalam kamar Adam merutuki perbuatannya tadi pada Ashma. Tetapi Adam tidak bisa berbohong, Ashma memang sangat cantik wanita itu memiliki pesona berbeda yang tidak dimiliki wanita lain bahkan oleh mendiang kekasihnya sekalipun.


"Bodoh. Kau seharusnya tidak melakukan hal memalukan seperti itu!" Adam memukul tembok, tangannya terluka dan dia tidak peduli. Hanya saja dia tertarik dengan Ashma karena wajah wanita itu sekilas mirip orang dimasa lalunya.


#TBC