
Ketukan pintu terdengar dari luar ruang kerjanya, setelah mendapatkan izin dari Adam untuk membuka pintu Jhon segera meraih handle dan menarik nya.
Dia mendapati nona Ashma yang tengah membawa camilan diatas nampan, wanita itu membuat Jhon terkesima.
Ashma tersenyum kepadanya sebelum matanya menangkap sosok yang tengah menatapnya dengan tajam, Adam menampilkan raut tidak bersahabat lagi.
"Dia kenapa sih? tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba seperti itu!" Batinnya kesal, Ashma tidak suka melihat tatapan dingin itu.
"Aku membawakan kopi dan juga camilan untuk kalian," Ashma memberitahu maksud kedatangannya. Adam memutar bola matanya dengan malas.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk membawa camilan itu kemari!" Seru Adam dengan sarkastik, tentu saja Ashma mengerutkan keningnya kebingungan.
"Memang tidak ada yang menyuruhku, ini atas dasar keinginan dan cara menghormati seseorang!" sahut Ashma begitu kesal.
Jhon hanya menonton pertengkaran mereka dengan perasaan dongkol, dia kesal pada Adam yang malah berbicara sensi pada istrinya seperti itu.
"Jhon kemarilah dan hiraukan dia!" itu seperti perintah yang tidak ingin Jhon kerjakan.
"Tapi tuan Adam nona Ashma-" Adam memotong pembicaraan seenaknya.
"Kau ini sedang bekerja denganku Jhon, bisakah kau fokus!" Katanya acuh tak acuh, itu menjadi menjengkelkan untuk Jhon karena harus membiarkan Ashma berdiri begitu saja dengan nampan yang ia pegang.
"Aku tidak peduli, Jika kamu tidak mau tidak apa-apa. Ini spesial untuk Jhon, dia juga tamuku!" sahutnya tajam. Ashma tidak ingin kalah, dia mengatakannya dengan penuh percaya diri dan membuat Adam mendidih kesal.
Adam mengeram marah saat mendengar kata pujaan untuk Jhon yang spesial, itu adalah omong kosong belaka.
"Maaf tuan dan nona, saya tidak ingin mengundang keributan kepada kalian. Jadi maafkan saya bila kehadiran saya malah memperkeruh situasi," katanya sedikit malu melihat pertengkaran yang sangat menyebalkan itu, dia tidak suka saat Adam merengut dengan nada kesal pada Ashma.
Adam meredam emosinya dia harus bisa mengontrol mengingat Ashma rentan lemah dengan kandungannya, walaupun ada rasa marah yang membakar jiwanya dia tetap tidak ingin berulah.
"Letakan diatas meja dan pergilah!" katanya seperti nada suara yang mengusir, Ashma tidak terlalu peduli dia segera meletakkan nampannya diatas meja.
"Selamat bekerja suamiku!" Kata Ashma dengan lembut, itu terdengar seperti tidak berguna tetapi dia tetap ingin menjaga hubungan yang baik dengan suaminya.
Suasana hati Adam yang semrawut tiba-tiba berubah perlahan dengan lunaknya perasaan yang tenang, walaupun dia kesal pada faktanya bahwa Ashma telah memuji Jhon dia tetep harus berpikir dengan kepala dingin agar tidak menyakiti perasaan wanita itu lagi.
Senyuman manis yang dilayangkan pada Adam untuk terakhir kalinya sebelum tubuh wanita itu menghilang diambang pintu menjadi hadiah paling indah sekaligus penuh problematik.
Pada kenyataannya pertengkaran kecil itu normal terjadi diantara pasangan.
Jhon tentu saja tidak menyukai ending yang seperti apa yang dia lihat, dia kira Ashma akan memberikannya sedikit rasa marah dan kesalnya pada Adam, namun nona nya itu justru malah melunakan diri setelah menghadang badai besar karena sikap acuh tak acuh nya Adam.
"Itu sangat menjengkelkan!" Batin Jhon yang tidak habis pikir dengan jalan pikir nona nya, tetapi itulah yang menjadi daya tarik bagi seorang Jhon untuk tidak menolak rasa kagumnya pada Ashma.
Setelah kepergian Ashma yang mengacau di ruang kerjanya, Adam segera menatap Jhon yang masih melihat kearah pintu.
"Kau menyukai milikku?" itu adalah pertanyaan paling kejam namun Jhon sangat menyukainya.
Jhon segera menoleh pada Adam, "maaf tuan?"
"Apa kau menyukai milikku?" tanyanya lagi menegaskan, raut wajahnya begitu dingin.
Jhon kembali duduk ditempatnya, "maaf tuan Adam, tapi saya tidak seperti itu!" Sahutnya dengan tenang.
Adam mengamati pengakuan tegas Jhon dengan mata menyipit, dia mencari pembenaran atas jawabannya.
Adam menghela nafas panjang sambil meregangkan lehernya yang pegal. Dia kembali menoleh pada Jhon, "kalau begitu kau akan memegang kepercayaan saya bukan?"
Jhon mendapatkan delikan matanya yang begitu tajam, tapi dia begitu kesal saat lelaki itu dalam keadaan emosional yang stabil.
"Tentu saja tuan, saya akan memegang kepercayaan anda!"
Adam memegang perkataan itu, dia tahu seberapa percayanya pada seseorang dia tetap harus waspada.
Adam berniat untuk menanyai hal lain, dia sangat membutuhkan jawaban langsung dari Jhon.
"Lalu bagaimana dengan Mama dan Lily disana?"
"Nyonya Marianne dalam keadaan baik dan senang mendengar tuan membawa nona Ashma kerumah ini. Nona Lily, dia juga sudah cukup jinak namun beberapa hal dia sedikit uring-uringan karena saya selalu mengawalnya kemanapun dia ingin pergi."
Adam menghela nafas lega walau bagaimanapun Jhon tetaplah pengawal kepercayaannya, itu meninggalkan sedikit rasa was-was.
"Saya akan pulang malam ini ke Mansion untuk memastikan sesuatu. Jhon, jaga Ashma selama saya pergi. Saya memberikan kepercayaan kepada anda."
"Tentu saja tuan, saya akan menjaga kepercayaan anda."
...•••...
Setelah pergi dari ruang kerja Adam, Ashma berniat pergi kerumah Gelya. Dia ingin menemui gadis kecil itu dan bermain dengannya. Namun saat menuju rumahnya dia malah mendapati Gelya tengah bermain sendiri didekat pohon pinus, dia segera mendatangi gadis kecil itu.
Gelya dari jauh melihat Ashma yang tengah berjalan kearahnya, Gelya langsung menerbitkan senyuman manis yang dia miliki.
"Aunty cantik!" Teriak Gelya, gadis itu begitu riang karena kedatangan Ashma.
Ashma berdiri tepat dihadapannya lalu mengikuti Gelya untuk menyamai tinggi tubuhnya.
"Ah mengapa bisa kau sangat menggemaskan Gelya?!" Ashma mencubit pelan pipinya dengan gemas.
"Aunty cantik datang lagi, apa kau ingin bermain denganku?"
Ashma menarik senyuman terbaiknya, "tentu saja sayang!"
Gelya berteriak kegirangan seperti mendapatkan mainan kegemarannya. "Aku mendapatkan teman!" itu adalah pengakuan kecil dari Gelya. Ashma melihat tatapan kesiapan dari matanya, itu adalah hal yang menyakitkan untuk dilihat karena Ashma pernah merasakannya.
"Aunty cantik, kemana paman tampan yang kemarin?" Gelya menanyakan keberadaan Adam itu membuat Ashma terkikik geli.
"Paman tampan sedang bekerja sayang." Katanya sambil mencolek hidung kecilnya yang mancung.
Gelya manggut-manggut kecil, dia memikirkan sesuatu. "Aunty cantik ayok kita petik buah persik, tempatnya tidak jauh dari sini," Gelya mengajaknya untuk memetik buah, Ashma segera mengangguk dan mengikuti langkah kecilnya yang riang.
"Lihat disana Aunty!" tunjuk Gelya pada burung-burung yang hinggap di pepohonan.
"Mereka adalah teman-teman ku!" Gagasan yang semangat itu membuat Ashma tersenyum kecil.
"Benarkah? Kalau begitu burung-burung itu juga adalah teman aunty."
Mereka berdua tertawa gembira sambil terus berjalan kecil menuju pohon buah persik yang diberitahu si kecil Gelya.
"Nah sudah sampai!"
Ashma tertegun mendapati pohon persik dengan buah yang begitu lebat, itu sudah masuk waktu panen dan hasrat ingin memetiknya menggebu-gebu.
Ashma dapat meraih beberapa buah dengan tangannya karena pohonnya tidak terlalu tinggi, dia memetik buah yang sudah berwarna kuning kemerahan, itu sangat menggiurkan matanya.
"Nah untukmu!" Ashma memberikan buah persik yang sudah dipetiknya untuk Gelya tetapi tidak disangka-sangka gadis kecil itu sudah memetiknya dengan banyak dan hampir memenuhi keranjang yang terbuat dari rotan.
Gelya tersenyum lebar, "aku mengambil keranjang ini dari balik pohon. Nah aunty ini hadiah dariku untuk Aunty," Ashma terharu mendapatinya, dia begitu bersyukur dapat bertemu dengan Gelya. Gadis kecil yang ajaib.
"Terimakasih sayang."
Mereka berbicara banyak dan tertawa sepanjang waktu, membuat mereka tampak begitu dekat padahal baru saja kemarin bertemu dan berkenalan, apalagi Ashma mengingat saat Gelya dengan malu-malu bersembunyi dibalik tubuh neneknya.
Itu adalah hari yang menyenangkan untuk mereka, dibawah pohon persik.
...•••...
"Edward Rodriguez," gumamnya saat suara kecil Lily menyebut nama lelaki yang mengaku sebagai suaminya.
Ya dia memang suaminya, walaupun Lily masih belum mengingat. Dia memiliki keyakinan yang kuat apalagi dengan data dan fakta yang akurat.
Itu semua sudah dia dapatkan, saat matanya tidak henti-hentinya melihat potret mereka didalam photobook yang diberikan oleh Edward malam tadi.
Semua tentang kebersamaan mereka dari potret pernikahan sampai dia hampir memiliki seorang anak, Edward memberitahu namun pada saat itu kandungan Lily yang lemah membuat mereka kehilangan calon anak mereka. Itu adalah kebenaran yang sangat menyakitkan.
Edward meromantisasi kebersamaan mereka malam tadi, dia selalu menatapnya dengan penuh kelembutan, dan mencurahkan kerinduannya yang telah membuncah pada Lily.
Mereka mendekatkan diri dalam temaram yang disinari bulan remang-remang, mereka memadu kasih dengan ciuman penuh kerinduan ditemani intusi romantisme yang menggelora.
Itu menjadi penutup pertemuan mereka tadi malam, dan Lily selalu terbayang sampai wajahnya selalu bersemu saat mengingat momen itu.
"Haishh, kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya lagi?"
Lily segera mengirim surel pada Edward, pesan itu penuh kata-kata rindu. Lily sangat blak-blakan dan begitu tidak sabar ingin bertemu lagi dengan suaminya yang tampan.
#TBC