A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
28. Ashma merajuk



Galaunya tak kunjung usai sebab memikirkan setiap perkataan istrinya tadi siang, membuat Adam merenung didalam ruang kerjanya.


Adam tidak mungkin membiarkan nanti kelak anak mereka hidup tanpa merasakan keharmonisan keluarga akibat perpisahan kedua orangtuanya yang pasti membuatnya bertanya-tanya.


Tapi Adam juga tidak bisa dengan mudah menerima Ashma didalam hatinya sebab kekasihnya sudah kembali dalam pelukan Adam.


Selain itu Adam juga merasa tidak percaya diri sebab Ashma itu layak bidadari surga berhati besar dibandingkan dengan dirinya yang banyak sekali kurangnya, Adam pikir tidaklah layak dia akan terus menjadi pendamping hidup Ashma. Ashma berhak mendapatkan kebahagiaan diluar sana, mendapatkan lelaki yang lebih baik lagi dalam memperlakukannya.


"Tapi mengapa hatiku tidak rela jika nanti anaku sendiri memanggil ayah lain?" batin Adam tidak karuan.


Lily di apartemen Adam tengah membaringkan dirinya karena tiba-tiba kepalanya sakit mengingat beberapa kepingin memori yang masih samar-samar didalam kepalanya.


"Aku sudah beberapa kali berusaha tetapi kenapa belum juga bisa ingat, siapa lelaki itu dan mengapa aku seperti memiliki kenangan bersamanya?" Lily bertanya-tanya pada dirinya karena ingatan samar-samar itu kadang-kadang selalu muncul.


"Dia jelas bukan Adam!" ucapnya yakin.


Lily segera menghubungi Adam, ingin bertanya barang kali dia tahu.


"Iya sayang?" sahut Adam diseberang sana.


"Aku ingin bertanya boleh Adam?" katanya sedikit ragu.


"Tentu saja!"


"Aku sering mengingat samar-samar ada seorang lelaki asing didalam ingatanku, apakah itu kau tapi aku rasa bukan," jelas Lily seketika membuat Adam menghentikan aktivitas membuka dokumen-dokumennya, dadanya bergemuruh kesal karena maksud lelaki yang disebut Lily pasti Edward.


"Itu aku!" jawab Adam cepat tidak ingin membuat Lily mengingat-ingat lelaki itu.


"Mungkin iya, tapi kenapa rasanya dia orang yang berbeda?" tanya Lily dengan ragu, membuat Adam mengeratkan rahangnya.


"Aku bilang itu aku!" nada suara Adam nampak meninggi membuka Lily semakin bertanya-tanya, namun setelahnya dia tidak lagi bertanya mungkin suasana hati Adam sedang tidak baik.


"Lebih baik kamu istirahat dengan baik. Jangan memaksakan diri, aku akan ke apartemen malam ini."


Setelah itu mereka mengakhiri panggilan telepon masing-masing. Adam yang semakin mumet karena persoalan Ashma dan sekarang ditambahkan dengan ingatan Lily.


"Arghhhh..." Adam melempar berkas yang bertumpuk kesembarang arah dengan kesal.


Dilain tempat Ashma tengah duduk dibangku taman, merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Air matanya bergulir berjatuhan, merasakan sesak di dalam dadanya.


Setelah berbicara dengan Adam tadi siang dikamar, Ashma malah merasa lelaki itu tidak memiliki keinginan untuk memperjuangkan pernikahan mereka. Tatapannya begitu dingin seolah ucapan Ashma hanya angin lalu, bolehkah Ashma selalu berharap akan ada kebahagiaan kelak yang akan mewarnai hidupnya, bolehkah? Pertanyaan itu selalu berputar di kepala Ashma setiap kali merasa lelah oleh keadaan.


Ashma mengelus perutnya dengan lembut, calon bayinya dapat menenangkan hati ibunya yang tengah gundah gulana ini, macam obat pereda nyeri.


"Sayang nya Umma, sehat-sehat didalam perut Umma ya. Maafkan Umma mu ini yang selalu bersedih," gumam Ashma berbicara pada calon bayinya.


Tidak jauh dari taman seseorang tengah memperhatikan Ashma dengan tatapan lembut. Memandangi miris Nona nya yang bersedih karena suaminya yang egois itu.


Jhonny sedari tadi berdiri beberapa meter dari taman tempat Ashma tengah berdiam diri. Jhon merasa kasihan pada Ashma, istri tuannya itu sebab Nona nya seakan hanya dijadikan pengganti saja, dan disaat pemeran utama dalam hati Adam telah kembali, lantas dia melupakan istrinya yang tengah mengandung sendirian.


Sejujurnya saat pertama kali Jhon bertemu dengan Ashma dia memiliki ketertarikan pada istri tuannya itu, walaupun awalnya dia juga sempat sedikit terkejut lantaran wajahnya yang sekilas mirip Lily namun mereka tetap tidaklah sama. Jika boleh jujur Ashma memiliki paras yang lebih rupawan dari Lily, dan Jhon sangat menyayangkan jika Adam sampai tidak melihat betapa sempurnanya istrinya itu.


Seseorang berdehem sedang, membuat lamunan Jhon buyar. Segera dia tengok kesamping kanan dan betapa terkejutnya mendapati Adam berada disampingnya, Jhon berharap semoga lelaki itu baru sampai berdiri didekatnya.


Sebisa mungkin Jhon bersikap tenang supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Adam segera menanyai Jhon yang tengah berada didekat taman seperti orang yang tengah mengintip-intip sesuatu.


"Sedang apa kau disini?"


Jhon berusaha menjawabnya dengan jujur, lagian pula Adam pasti melihat istrinya sedang berada di taman.


"Kebetulan saya sedang mengecek area Mansion lalu melihat ada Nona Ashma tengah duduk disana," telunjuknya mengarah pada Ashma yang tengah duduk di taman, Adam turut mengikuti arah tangan Jhon.


"Kalau begitu saya permisi," ujarnya dengan suara tegas.


Adam kembali melihat istrinya di taman sana, mengambil langkah untuk menemui Ashma.


Jujur saja Adam tidak suka melihat tatapan Jhon tadi saat memandangi Ashma, tatapan itu seperti seorang perebut yang menginginkan miliknya.


"Aku bosan Mas," sahut Ashma tidak terlalu berminat berbicara dengan Adam saat ini.


Adam meraih jemari Ashma dengan lembut, menaruhnya diatas paha Adam. "Rencananya saya mau melunaskan hutang padamu untuk menjenguk istri Daniel beserta bayinya besok," ucap Adam, dia masih memiliki hutang janji pada Ashma yang sempat tertunda karena tempo lalu Adam demam.


"Tapi saya mau minta izin sama kamu, malam ini saya ada urusan diluar jadi tidak apa-apa kamu tidur sendiri lagi?" ucapnya melanjutkan sambil meminta izin pada Ashma.


Ashma menatap lurus ke depan tanpa berminat melihat Adam, "biasanya juga sendiri, pergilah. Gausah buat janji untuk besok kalau nanti ujung-ujungnya sibuk!" Nada suara Ashma nampak merajuk, Adam segera menyadarinya.


"Kamu marah sama saya?" tanya Adam memastikan. Ashma tidak berniat menjawab juga sekedar meng-iyakan, dia hanya ingin diam tanpa menjawab Adam.


"Beneran marah ya, sampai gak mau jawab saya," ucapnya tidak suka melihat Ashma mendiaminya seperti ini. Adam meraih dagu Ashma untuk melihat wajahnya, wanita itu tidak serta merta melihat mata Adam.


"Tatap mata saya Ashma!" suara Adam terdengar lebih tegas dan menginterupsi membuat Ashma segera mengikuti keinginannya untuk menatap kedua bola mata itu dengan penuh rasa sesak.


"Saya minta maaf kalau selama ini tidak selalu ada di sampingmu," ucapnya merasa bersalah, Ashma tetap tidak membuka suara membuat Adam gemas.


"Apa yang harus saya lakukan biar istri saya ini mau membuka suara dan tidak marah lagi sama suaminya?"


Ashma menghela napas berat, dia melepas tangan Adam yang menggenggam nya. "Tidak usah terlalu manis seperti itu padaku Mas, nanti bagaimana kalau aku tambah jatuh cinta padamu, merepotkan. Lagian setelah satu tahun atau anak ini lahir kita tetap akan berpisah kan?!" jelas Ashma, senyuman miris mewarnai wajah Ashma diakhir kalimatnya.


Adam tidak suka mendengar Ashma mengatakan hal seperti itu, apalagi membahas-bahas perpisahan mereka setelah Ashma melahirkan.


"Apakah kamu tidak memikirkan nasib anak kita nanti?" tanya Adam ragu-ragu karena dari pertanyaan nya saja dia sadar seperti tidak ingin melepas Ashma nanti.


"Aku kan sudah bilang padamu Mas, kita akan andil dalam merawatnya!" ucapnya menegaskan kembali, tetapi bukan itu alasan yang ingin Adam dengar dari mulut Ashma. Namun Adam urung bertanya lagi sebab Ashma sekarang dalam Mood yang sedang tidak baik.


"Yasudah, kalau begitu mari kita masuk kedalam ini juga sudah semakin dekat petang, tidak baik ibu hamil berada diluar seperti ini," ucapnya perhatian pada Ashma sedang pula Ashma tetap tidak mau beranjak, membuat Adam memutuskan untuk meraih tubuh itu kedalam gendongannya.


Ashma sontak membulatkan kedua matanya mendapati Adam yang tiba-tiba menggendongnya.


"Apa yang kamu lakukan Mas, turunkan aku!"


Adam sengaja tidak mengindahkan perkataan Ashma, dia segera mengambil langkah untuk masuk kedalam Mansion.


Ashma yang sempat berontak menjadi diam sebab merasa nyaman berada dalam gendongan Adam.


Setelah sampai dikamar mereka, Adam segera meletakkan tubuh Ashma dengan hati-hati diatas ranjang tidur.


Saat Adam mau menjauhkan diri sedikit untuk duduk tiba-tiba dadanya tertahan oleh liontin yang terpasang dileher istrinya.


Adam berusaha melepaskannya tetapi malah semakin tersangkut membuat Ashma yang melihatnya gemas sendiri lalu mengambil inisiatif untuk membantu melepaskan liontin nya yang menyangkut di baju suaminya.


Sekarang mereka sangat dekat, Adam yang menyadari betapa intensnya kedekatan mereka ini segera meraih pinggang Ashma.


"Adam kau, apa yang kau lakukan?" pergerakan tiba-tiba dari suaminya membuat Ashma terkejut.


"Kenapa? bukannya pasangan memang seperti ini?" goda Adam sambil terus mendekatkan wajahnya. Ashma merasakan deru napas suaminya yang hangat menerpa wajahnya.


Tanpa sadar liontin nya lepas sendiri tetapi tidak dengan tatapan menerkam Adam, Ashma kelimpungan mendapati bibir lelaki itu sudah menempel di bibirnya.


Awalnya lembut namun tiba-tiba cumbuan itu berganti menuntut lebih, tetapi sebelum merujuk pada hal-hal yang lain Ashma segera menghentikan Adam.


"Jangan sekarang Mas, sudah mendekati waktu Maghrib nanti kelimpungan harus mandi besar," ucap Ashma mengingat waktu yang sudah mendekati maghrib, bukan apa hanya saja nanti keteteran dengan waktu sholat.


Adam segera sadar lalu melepaskan tangannya di pinggang Ashma, "hm, baiklah." Gumam Adam sedikit kecewa namun perkataan Ashma benar juga, dari pada kebablasan diwaktu yang nanggung lebih baik menunggu waktu panjang saja nanti.


"Saya selalu tidak tahan untuk menerkam wanita ini." Gumamnya membatin sembari melirik sekilas wajah memerah istrinya.


#TBC