A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
54. Mencintai Pencipta-Nya



Adam memperhatikan cincin yang sedang ia pegang, cincin pernikahan yang tidak pernah dikenakan nya selama ini. Adam menautkannya di jari manisnya, dia mengulas senyum tipis saat memandangi tanda pernikahan itu.


“Saat saya memakainya kamu malah kehilangan cincin pernikahan kita Ashma,” ucapnya sendu, Adam segera bersiap untuk kembali kerumah sakit, disana ada bibi Marianne yang tengah menjaganya.


Ini adalah hari ke tujuh setelah kecelakaan itu terjadi namun belum ada tanda-tanda dari Ashma untuk siuman, dia masih betah dalam mimpi panjangnya. Setelah dokter memberitahu bahwa istrinya mengalami koma Adam sangat terpuruk, dia sempat putus asa namun bibi Marianne selalu mendukungnya.


Dia menatap ranjang tidur, disana wangi tubuh Ashma begitu melekat, sekarang dia mersakannya, saat dia sendirian lagi. Ashma sudah berada disampingnya selama ini dan kehilangannya adalah mimpi buruk yang tidak pernah Adam sangka-sangka.


“Apa ini karma untukku? Dulu aku sangat percaya diri sekali tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya tapi sekarang…” Adam menertawakan dirinya sendiri karena semudah itu Allah membolak balikkan hati manusia.


“Tidak! Ini bukan karma tapi anugerah Tuhan yang telah memberikan aku seorang bidadari sebaik dirinya.”


Adam melangkah keluar dari kamarnya, dia segera pergi kerumah sakit untuk menjaga Ashma lagi. Selama satu minggu dia mendapatkan banyak sekali pelajar hidup, jadi begini cara Allah mendidiknya dari takdir.


Dulu dia meniatkan pernikahannya dengan cara yang keliru namun sekarang dia akan berusaha untuk membangun tiang yang sudah hancur setengah itu.


Adam memang seorang mualaf, namun dia sudah lama sekali mengenal islam, dia mengenal Tuhan yang sesungguhnya sudah sejak dia kecil namun kesempatan mengucapkan dua kalimah syahadat itu terjadi karena akan menikah dengan Ashma.


Wanita itu, dia adalah jembatan yang menghubungkan Adam untuk menjadi seorang muslim padahal dulu ia sangat enggan masuk kedalam agama islam.


Ashma adalah anugerah didalam kehidupannya, sekarang dia paham mengapa Allah menjadikannya istrinya, ternyata ini upaya Allah membantu Adam dalam menemukan imannya. Walaupun dia masih penuh kecacatan dalam menjadi seorang muslim Adam akan terus belajar memperkuat tiang keimanannya.


"Sebelum mencintai ciptaannya, cintai dulu siapa yang menciptakannya."


Kalimat itu adalah pegangan bagi Adam, salah satu kalimat pengingat dari seorang teman lamanya, Daniel Amirov yang telah membantu Adam dalam mengucapkan dua kalimah syahadat.


Setelah kembalinya dia kerumah sakit Adam tiba-tiba kedatangan tamu istimewa yang ingin menjenguk istrinya dia adalah Daniel dan Maryam. Maryam berada didalam ruangan Ashma, dia tengah membesuknya sedangkan Daniel berbincang bincang dengan Adam di taman rumah sakit.


“Jadi seperti itu,” ucapnya penuh ketenangan, dia mendengarkan Adam yang menceritakan dirinya yang telah menyakiti hati bidadarinya.


“Ya, dan aku amat begitu bersalah kepada istriku, dia sudah banyak menelan kekecewaan dan rasa sakitnya selama ini karena saya yang tidak pernah mau berdamai dengan masa lalu. Sekarang saya sadar bahwa dia adalah wanita yang dengan tulus telah mencintai saya, dia adalah wanita pilihan Allah untuk menemani saya,”


Daniel tersenyum simpul, “Benar, Allah memang maha baik Adam. Kamu masih diberikan kesempatan lagi oleh-Nya. Terlepas dari apa niat mu dulu menikahi Ashma jika Allah sudah menentukan jalan kalian seperti ini tentu dia memiliki rencana terbaiknya,”


“Namun kau harus ingat satu hal, sebesar  apapun cintamu kepada manusia maka jangan sampai kadarnya melebihi rasa cintamu kepada Allah.” Ucap Daniel melanjutkan, dia juga pernah merasakannya dulu saat keliru mencintai Maryam.


Adam menatap sekilas sahabatnya itu, “Terimakasih sudah menyadarkan saya,”


Daniel menggeleng kecil, “tidak, saya berbicara seperti ini karena izin dari Allah. Dulu saya juga orang yang sangat awam dan selalu menyepelkan kasih sayang tuhan tapi sekarang saya sangat bersyukur dengan segala petunjuk dan karunia-Nya yang telah menyadarkan saya betapa besarnya cinta Allah kepada kita.”


Adam turut tersenyum mendengar penuturan Daniel, dia benar-benar Bahagia bisa  diberikan izin dipertemukan dengan Daniel, Allah memang maha baik.


Adam kembali dari ingatannya tadi bersama Daniel, sekarang dia tengah memandangi wajah damai istrinya yang masih tertidur pulas, entah kapan mata kekasihnya akan kembali terbuka dan Adam akan terus bersabar menunggunya.


"Masih betah ya sayang dengan tidurmu?" Gumam Adam meraih tangan istrinya yang terpasang selang infus.


"Tidak apa, saya akan terus menunggumu." dia tersenyum kecil lalu mengecup keningnya.


Sekalipun mendapati kenyataan pahit nanti kalau Ashma sudah membuang cintanya Adam tetap akan berusaha.


Mulutnya mulai bergerak mengeluarkan irama syahdu, Adam bershalawat kecil didepan perut Ashma, dia ingin memberikan cinta kepada anaknya yang belum lahir.


"Masyaallah..."


Itu adalah tanda dari kebesaran Allah. Adam kembali menitihkan air mata, dia sangat bahagia.


...•••...


"Daxter, mengapa kau bergerak semaumu?" Tanya Edward memecah keheningan diantara mereka.


Daxter mendengus sebal karena istirahatnya harus terganggu. "Kau ini berisik sekali Ed!"


Edward berdecak kesal, "jawab saja pertanyaan saya!"


Daxter bangkit dari duduk santainya dia menatap Edward dengan sinis lalu tatapannya tertuju pada gelas yang berisikan wine, dia meneguknya hingga tandas.


"Saya mendapatkan kesempatan emas untuk menghancurkan nya, saat menabrak istrinya yang tengah mengandung saya begitu kesenangan." Edward tersenyum picik, dia bahagia sekali saat membayangkan betapa memelasnya wajah Adam melihat istrinya menderita.


Edward merinding sendiri mendengar nya, Daxter memang sudah seperti psikopat.


"Tapi kau hampir membunuh wanita itu dan bayinya bedebah!" Hardik Edward kesal.


Daxter melemparkan gelas ditangannya sehingga menimbulkan bunyi dentingan dan pecahan kaca, itu hampir mengenai Edward.


"Jadi istrinya masih hidup ya," raut wajahnya berubah marah.


"Sial! Seharusnya saya menyeret tubuh wanita itu!" Desis Daxter membuat Edward semakin merinding, dia tahu bagaimana kejamnya Daxter lelaki itu tidak memiliki hati sedikitpun dia seperti manusia yang sudah dirasuki oleh setan.


Edward tahu dirinya juga tidak sesuci itu karena dia juga pernah melenyapkan seseorang hanya saja dia tidak sekejam Daxter dalam menyiksa dan membunuh korbannya. Selain Mafia dia juga seorang pembunuh berdarah dingin.


Edward terpaksa bekerja sama dengannya karena dia masih ingin mendapatkan chip yang sudah dirampas lagi oleh Adam.


"Sial." Desis Edward membatin.


"Ed, bukankah kita harus membuat Adam menderita jadi mengapa kau terlihat kesal dan tidak suka?" Daxter menatap Edward dengan penuh curiga.


Edward terkikik geli mendengarnya.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu Daxter? Hah, sial kau ini membuat darah saya mendidih!" Tandas Edward tidak suka.


"Saya hanya tidak suka kau bertindak sendiri Daxter, kau tau saya merasa dikhianati olehmu!" Ucapnya dengan begitu geram, Daxter tertawa kencang.


"Ya benar, kau memang harus bersiap jika saya mengkhianati kerja sama kita!" Daxter berhenti tertawa lalu menatap Edward dengan senyuman sinis nya, itu membuat Edward kesal setengah mati.


Dia harus berhati-hati dengan Daxter, lelaki itu bisa saja mengkhianati kerjasama mereka.


"Huh brengsek!" Desis Edward sebelum keluar dari Mansion Daxter


#TBC