A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
55. Istrinya siuman



Adam mengeratkan rahangnya mendengar penuturan Jhon, dia benar-benar tak kuasa menahan marah pada pelaku yang sudah menabrak istrinya.


"Daxter, kau!"


Adam memejamkan matanya sambil menghela nafas berat.


"Saya yang selama ini mencoba menjaganya tapi saya sendiri yang mengakibatkan dia sekarang kecelakaan, suami macam apa diriku ini?!" Adam menghardik dirinya sendiri karena telah lalai menjaga Ashma.


"Lalu bagaimana dengan kasus kejahatannya di Melbourne?" Raut wajah Adam berubah menjadi dingin, kali ini dia tidak akan membiarkan Daxter terlalu lama merasakan udara bebas.


Jhon memberikan bukti berupa foto, surat  dan bukti rekaman dari beberapa orang yang bekerjasama dengannya saat Jhon berhasil menangkap mereka.


"Kami sudah mendapatkan buktinya tuan Adam, pencurian berlian di Melbourne adalah ulah Daxter, tak hanya itu kasus penyelundupan senjata tajam bulan lalu di Fransisco juga pelakunya adalah Daxter. Hanya saja kita harus mencari bukti lain yang lebih menguatkan supaya bisa membuktikan bahwa dia benar-benar pelakunya. Daxter memiliki kekuatan dibelakangnya bahkan dia dengan mudah dapat menyuap orang-orang di kantor hukum." Ucap Jhon, dia begitu geram mengingat Daxter memiliki kekuatan dibelakangnya.


Adam mendesis kesal, "ya itu benar, cecunguk-cecunguk di belakangnya harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum menangkap induknya!"


Adam meraih figura yang terdapat potret pernikahannya dengan Ashma. "Daxter harus dihukum berat!" Ucapnya dengan rahang yang mengeras.


Jhon menatap tuannya itu dengan senyuman tipis, dia tidak tahu apakah Adam benar-benar sudah berubah atau belum terhadap perasaannya pada Nonanya, tetapi melihat kondisinya saat istrinya kecelakaan yang membuat dia amat sangat terpuruk, itu sudah menjelaskan bahwa Adam benar-benar sudah menyesali perbuatannya. Jhon hanya berharap semoga Adam bisa menjaga perasaan Ashma dan mencintai nya dengan tulus tanpa bayang-bayang masalah lalu.


“Terima kasih atas kerja kerasmu Jhon,” ucapnya memberikan ucapan terimakasih kepada Jhon karena telah banyak membantunya.


Jhon mengangguk kecil, “sama-sama tuan. Ini memang kewajiban saya.”


Adam termangu sebentar lalu menatap Jhon lagi, “Jhon. Mengenai Lily dan Edward saya memiliki kekhawatiran. Buka apa tapi Edward itu seorang mafia, saya hanya takut nanti Lily dalam bahaya. Lily belum mengetahui seperti apa Edward itu sebenarnya, jadi saya ingin kamu mengawasinya. Gerald, cih…pria itu malah tidak mengerjakan tugasnya dengan baik untuk mengawasi Lily tapi…tak apa berkat dia juga saya jadi sadar mengenai perasaan saya pada Ashma.”


Adam tidak harus menyalahi siapapun, jika jalan nya harus seperti ini tak apa. Setelah mengikhlaskan masa lalunya dengan tabah Adam merasa lega, seperti batu besar yang menghimpit dadanya selama ini hempas begitu saja dan membuat dirinya dapat bernapas dengan lega.


“Saya memahami kekhawatiran anda tuan Adam, sebagai seorang kakak kau pasti ingin melindungi adikmu. Maka dari itu saya akan menjaga kepercayaan anda, dan tolong fokuslah pada kesembuhan nona Ashma.”


Jhon berkata demikian, dia hanya ingin mengingatkan Adam bahwa sekarang prioritas utamanya adalah istrinya. Adam tentu mengangguk mantap, dia pasti menjadikan Ashma sebagai prioritasnya.


“Kalau begitu saya permisi tuan, saya akan memberikan informasi terkait kasus penabrakan nona Ashma dan  juga mengenai Daxter.” Ucapnya sebelum pergi dari ruang kerja Adam.


Adam meraih jacket di kursinya, dia harus segera pergi kerumah sakit untuk bertemu dengan Ashma. Sebelum pergi untuk bertemu Ashma, Adam selalu berdoa dan berharap dia segera bangun dari tidur panjangnya, dia selalu menginginkan hal itu terjadi walaupun entah kapan tetapi Adam selalu berharap dan yakin bahwa istrinya akan segera siuman.


Saat Adam tengah mengemudi, dia melihat toko bunga pada pagi itu yang baru saja buka, Adam segera turun untuk membeli sebuket bunga mawar putih kesukaan Ashma. Saat dirumah masa kecilnya, Ashma sangat gemar merawat bunga-bunga apalagi disana banyak mawar putih dan Adam mengetahuinya bahwa mawar putih adalah bunga kegemaran Ashma.


“Nyonya, saya ingin sebuket mawar putih, tolong bungkuskan.” Ucap Adam kepada Wanita paruh baya penjual bunga.


Penjual bunga itu mengangguk penuh semangat, dia sangat senang karena baru saja membuka toko dan bunga nya sudah ada yang membeli.


“Baik tuan.”


Setelah selesai dibungkus bunga itu segera diberikan kepada Adam, Adam membayarnya dengan jumlah uang yang banyak membuat si penjual bunga itu keheranan.


“Tuan ini terlalu banyak,” katanya sambil mengembalikan sisa uang yang jumlahnya melebihi harga bunga yang Adam beli. Adam tersenyum tipis, “tidak Nyonya, lebihnya untukmu karena kau sudah giat mencari rezeki di pagi hari ini.”


Penjual itu terharu atas kebaikan Adam, "terimakasih tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan anda.” Katanya menyeka air matanya yang hampir keluar.


Adam tersenyum kecil, “Aminn, sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi.”


Saat masuk kedalam rumah sakit Adam disambut oleh resepsionis, Adam sudah terbiasa dengan sapaan orang-orang disana itu menjadi suatu kebiasaan selama satu bulan ini, ya satu bulan dan Ashma belum kunjung siuman dari koma nya. Kehamilannya juga sudah memasuki bulan ke-enam dan itu membuat Adam semakin kepikiran karena ibu dari anaknya belum juga kunjung terbangun.


Setelah sampai Adam segera meletakan bunga mawar putih itu diatas nakas. Dia menghela napasnya, Adam ingin sekali melihat mata itu terbuka, dan mereka saling berpandangan melempar tatapan rindu yang sudah lama membuncah didalam dirinya.


Adam menarik kursi untuk duduk disamping Ashma, lagi-lagi dia tidak bisa membendung air matanya saat melihat istrinya yang masih terbaring lemah tanpa ada tanda-tanda pergerakan sama sekali darinya.


“Saya masih menunggu kamu untuk bangun Ashma.” Ucapannya melayang di udara dan tersapu begitu saja.


Seseorang menarik handle pintu, disana ada suster yang masuk kedalam untuk mengecek keadaan Ashma dan juga ingin membersihkan tubuhnya.


“Pagi Sir,” sapa suster tersebut Adam menyapa balik.


“Saya akan memeriksa keadaan pasien,” katanya sambil meletakan alat-alat diatas nakas.


Adam memperhatikan aktivitas suster tersebut yang tengah memeriksa keadaan Ashma.


“Apa ada perkembangan darinya sus?” tanya Adam berharap lebih. Suster itu menghela napas kecil lalu dia menggeleng pelan, itu membuat Adam menunduk kecil sedikit kecewa karena selalu mendapati hasil yang sama dari pemeriksaannya.


“Sir, kau harus tetap optimis. Saya yakin istri anda ini tidak gampang menyerah buktinya saja istri dan bayi kalian tetap bertahan.”


Adam mengangguk kecil, dia harus lebih bersabar lagi dan tawakal dengan ujiannya saat ini. Adam tidak pernah putus untuk mendoakan istrinya siang malam bahkan sekarang dia jadi rajin mengerjakan sholat tahajud. Adam mendapatkan kekuatan hati yang sangat luar biasa, lalu Adam mulai belajar untuk ridho dengan takdirnya walaupun terkadang sulit dan penuh godaan tapi demi Tuhan dia berusaha.


“Suster letakan saja handuk untuk membersihkan tubuh istri saya diatas baskom, seperti biasa saya yang akan membersihkannya.”


Suster itu mengangguk lalu pamit setelah selesai memeriksa rutin keadaan Ashma. “Kalau begitu saya permisi.”


Adam meraih handuk basah untuk mengelap tubuh Ashma, dengan telaten dia membersihkan penuh kelembutan. Tanpa Adam sadari jari manis Ashma bergerak kecil, tubuhnya merespon.


Setelah selesai membersihkan tubuh istrinya Adam meletakan Kembali handuk tersebut kedalam baskom yang terletak diatas nakas.


Dia mencari-cari sesuatu didalam tas kecil yang dia bawa, Adam mengeluarkan mushaf kecil, dia langsung membukanya pada halaman yang telah dia tandai, surah Maryam.


Surah Maryam adalah surah yang sangat Ashma gemari, dia bisa membacanya berulang kali diwaktu senggang, Adam kerap kali mendengar lantunan suaranya yang indah saat ia membacanya.


Adam mulai membacanya dengan suara yang pelan, walaupun tidak seindah lantunan suara istrinya Adam membacanya dengan penuh penghayatan sampai rasa-rasanya ia ingin menitihkan air matanya. Adam tak kuasa menahan sesak di dadanya kala mengingat kebersamaannya dengan Ashma selama lima bulan terakhir ini.


Lantunan ayat suci Alquran itu masuk kedalam indera pendengaran Ashma dibawah alam sadarnya, itu terasa memanggil untuk mengikuti suara tersebut. Ashma mengikutinya dia terus mengikutinya dan pada saat itu juga matanya terbuka dengan sangat perlahan, menatap Cahaya yang masih remang-remang.


Pertama kali yang ia lihat adalah siluet seseorang yang tengah fokus membaca sesuatu, terlihat masih samar-samar dan semakin lama semakin jelas.


Adam beralih menatap kearahnya yang kini sedang menatapnya, saat itu pula senyum Adam merekah seperti Cahaya matahari yang terbit di ufuk timur.


“Ashma.” Adam memanggil nya dengan penuh haru, dia mendekatinya lalu mencium kening Ashma begitu lama, Adam menatap manik matanya sekilas lalu membisikan ucapan syukur dengan penuh halus di telinganya. Istrinya hanya bergeming dengan tatapan kosong.


“Terimakasih sudah mau kembali Ashma, sayangku.”


#TBC