
"Kalian semua bodoh! Seharusnya kalian tidak membiarkan istri saya keluar!"
Para pengawal Adam menunduk merasa bersalah karena telah membiarkan isteri tuannya pergi keluar. "Maaf tuan Adam, tapi kami tak bisa menolak karena permintaan ibu Marianee juga."
Adam memijat pangkal hidungnya lalu dia segera bergegas untuk mengejar Ashma dengan mobilnya. Untungnya beberapa hari lalu Adam telah memasangkan kalung yang didalam liontin nya terdapat tanda pelacak sehingga dapat dengan mudah mengetahui keberadaan isterinya. Namun Adam tetap khawatir mengingat musuhnya berada dimana-mana.
Sedangkan Ashma dan bibi Marianee tengah berbincang hangat sambil berjalan kaki yang sudah cukup jauh dari mansion Adam.
Ashma yang kedinginan sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya. "Ini sangat menyenangkan ma, aku merasa bebas," Bibi Marianee tersenyum hangat melihat Ashma yang turut bahagia, namun hati kecil bibi Marianee berkata bahwa Adam pasti akan segera menyusul mereka.
"Aku senang karena bisa diijinkan untuk merasakan bagaimana musim salju, wallahi ini adalah nikmat yang sangat luar biasa." Ucapnya dengan mata berbinar.
"Ashma apakah kau benar-benar tidak kedinginan?" Tanya bibi Marianee yang melihat kulit wajah Ashma yang pucat.
"Sedikit ma, tapi itu tidak menjadi masalah."
Ashma tersenyum hangat sambil matanya mengitari sekitaran, mendapati keramaian ditengah wajah-wajah asing. Namun entah mengapa tiba-tiba suasana hatinya berubah, Ashma menyadari sesuatu.
"Mengapa aku bisa lupa," gumamnya dengan perasaan bersalah, Ashma merutuki perbuatannya itu.
Ashma menyadari bahwa dia telah melakukan dosa besar. Ashma pergi tanpa izin dari Adam, bagaimanapun Ashma telah melangkahkan kakinya tanpa ridho suaminya.
Bibi Marianee melihat perubahan raut wajah Ashma yang mendadak penuh penyesalan.
"Ada apa Ashma? Kau terlihat sangat cemas."
Ashma menoleh cepat pada bibi Marianee. "Ma...Aku telah melangkahkan kakiku tanpa izinnya, kalau begitu Allah akan murka padaku."
Bibi Marianee menghela napasnya, dia merasa lega karena Ashma telah menyadarinya. "Nah, mari kita kembali, Adam pasti mencemaskan mu." Ashma mengangguk pelan, kakinya melangkah pergi untuk kembali pulang ke mansion Adam. Tanpa Ashma sadari seseorang tengah memotret dirinya.
"Rasanya seperti melihat lily kembali." Gumam seorang pria yang sedang memandangi potret yang dikirim oleh suruhannya. Wajahnya tersenyum misterius, obsesi itu mencuat kembali melihat sosok wanita yang sekilas mirip dengan mendiang istrinya.
"Adam, sepertinya kau ingin menebus dosamu kepadaku ya." Desis lelaki itu dengan mata tajamnya.
Ditempat lain Adam yang telah mendapati posisi keberadaan Ashma dan bibi Marianee lantas segera menghentikan mobilnya dengan hati yang campur aduk antara kelegaan karena menemukan istri dan kekhawatiran takut terjadi sesuatu pada Ashma dan bibi Marianee.
Adam keluar dari mobil dan berlari mendekati keduanya. "Ashma! Mama! Apa yang kalian pikirkan, keluar seperti ini tanpa pengawalan?" ucap Adam dengan nada campur aduk antara kekhawatiran dan kemarahan.
Ashma dengan cepat menoleh dan mendapati Adam tengah berlari kearah mereka. Wajah itu menampilkan semburat kecemasan dan kekesalan, Ashma merasa sangat bersalah.
Adam sekarang berdiri tepat dihadapan Ashma yang tengah menundukkan kepalanya. "Kamu ini wanita yang sangat keras kepala!"
Ashma memejamkan matanya saat suara Adam menusuk pendengarannya, auranya terasa sangat menakutkan. Ashma berusaha untuk tetap tenang lalu dia membuka matanya dan mengangkat wajahnya untuk menatap Adam.
"Ma-maafkan aku Adam," cicitnya dengan suara pelan.
Adam menghardik dirinya didalam hati, mengapa dia tidak tega melihat wajah Ashma yang merasa bersalah itu, Adam merasa semakin lemah dihadapan Ashma dan ia sangat membenci dirinya yang menjadi mudah terbawa suasana oleh wanita dihadapannya.
"Sudahlah, Ashma. Lebih baik kamu cepat masuk kedalam mobil. Tunggu kami, saya ingin berbicara dengan mama sebentar." Ashma mengangguk mengerti atas perintah suaminya, namun ia tidak bisa membiarkan Adam memarahi bibi Marianee.
"Tolong jangan marahi Mama, ini salahku." Ucap Ashma dengan raut wajah yang memelas. Adam yang melihatnya menghela napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya sejenak.
"Saya bilang masuk kedalam mobil!" Ashma sedikit terkejut dengan bentakan kecil Adam. Bibi Marianee yang melihatnya lantas menatap tajam kearah Adam.
"Ashma sayang, turutilah perintah suamimu. Kau jangan khawatir, kami hanya berbicara untuk meluruskan kesalahpahaman," Ucap bibi Marianee dengan lembut menenangkan Ashma. Ashma mengangguk pasrah lalu meninggalkan mereka berdua kedalam mobil.
Adam melihat istrinya yang telah masuk mobil lantas atensinya berpindah pada bibi Marianee.
"Kenapa Mama membiarkan dia berada diluar ma?" Tanya Adam dengan pelan, dia tidak mungkin marah pada bibi Marianee karena beliaulah perempuan yang telah merawatnya sedari kecil.
"Mama tidak tega melihatnya murung karena merasa terkurung di mansion. Adam, kau harus mengerti bagaimana perasaan Ashma sekarang. Wanita itu memang terlihat tegar diluar namun rapuh didalam, mengapa kau sangat mengekangnya?"
"Diluar terlalu berbahaya untuknya,"
"Adam, aku mengerti bahwa kamu khawatir akan keselamatan Ashma, tetapi kau juga harus memahami perasaannya. Sebagai seorang wanita, dia juga memiliki keinginan untuk merasakan kebebasan. Kekhawatiranmu adalah wajar, namun jangan sampai mengekangnya terlalu keras." Bibi Marianee mewanti-wanti putranya untuk memahami perasaan istrinya juga.
Adam menghela napas panjang dengan udara dingin yang keluar dari mulutnya. "Lebih baik kita pulang Ma," Bibi Marianne mengangguk kecil, ia harap Adam memikirkan perkataannya agar tidak terlalu mengekang Ashma.
Adam dan bibi Marianee kembali ke mobil. Ashma menatap nanar Adam yang memperlihatkan raut wajahnya dengan dingin.
Didalam mobil mereka sama sekali tidak ada yang membuka suara. Adam yang fokus menyetir, Ashma dengan pikirannya, dan bibi Marianee yang turut merasakan aura hampa didalam mobil tersebut.
Bibi Marianee yang menyadari lantas bergegas keluar dari mobil membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.
Setelah bibi Marianee keluar dari mobil atmosfir hening diantara mereka berdua mendominasi keadaan yang canggung. Ashma merasakan mulutnya yang kelu karena Adam sedari tadi menatap nya dengan dingin.
Adam menelisik wajah istrinya yang ketakutan, seseram itukah dirinya hingga membuat Ashma yang keras kepala itu tidak bisa mengatakan apapun dengan tatapan takut.
"Saya minta maaf karena membatasi ruang gerakmu." Adam meraih jemari Ashma dengan lembut, Ashma yang terkejut dengan sentuhan itu menatap berani netra biru Adam. Matanya yang penuh rasa bersalah bertemu dengan pandangan dingin suaminya.
"Saya hanya khawatir, Ashma. Kamu terlalu keras kepala dan kadang membuatku khawatir," ujar Adam dengan suara lembut, tetapi tetap terdengar tegas.
Ashma merasa sedikit lega karena akhirnya Adam membuka pembicaraan, meskipun hatinya masih berdebar kencang. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokannya.
"Saya tahu karena saya, ruang gerakmu menjadi terbatasi, tapi saya melakukan ini untuk keselamatanmu," Adam mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, mencoba memilah kata agar Ashma dapat memahami situasinya.
"Lain kali jika kau ingin pergi keluar, saya tidak akan mengekang mu lagi, tapi kamu harus dikawal ketat oleh pengawal," Ucap Adam memberikan izin pada Ashma, dia juga tidak mungkin selalu mengekang wania itu. Ashma yang mendengarnya menghembuskan napas dengan pelan, disisi lain dia senang karena Adam setidaknya memahami keinginannya namun disisi lain Ashma sedikit risih jika harus selalu dikawal.
"Terima kasih telah memahami ku. Aku juga ingin meminta maaf kepadamu karena aku sudah keluar tanpa seizin darimu." Ashma bersuara, dia mengungkapkan rasa bersalahnya.
Adam tertegun mendengar penuturan Ashma, ternyata wajah bersalahnya sedari tadi karena perihal izin, Adam tersenyum simpul tanpa Ashma tau, wanita itu walaupun terkadang keras kepala namun dia masih memiliki sisi lembut yang sangat menarik dimata Adam.
"Badanmu sangat dingin, napasmu juga terasa panas. Sepertinya akibat perubahan cuaca. Mari kita masuk kedalam mansion, saya tidak ingin kamu sakit." Adam yang sedari tadi memegang telapak tangan Ashma merasakan suhu tubuh istrinya yang dingin juga nafasnya yang panas, lantas dia segera mengajaknya untuk masuk kedalam.
Ashma mengangguk pelan lalu dia dan Adam keluar dari mobil dan segera masuk kedalam mansion.
Adam dan Ashma kembali ke dalam mansion dengan suasana yang lebih tenang setelah mereka berdua berbicara. Setibanya didalam mereka segera melepaskan mantel dan merasa lebih nyaman dengan udara hangat di dalam mansion.
Bibi Marianne yang telah lebih dulu masuk melihat keduanya dengan senyuman lega. Dia tahu bahwa percakapan tadi adalah langkah awal yang baik bagi hubungan mereka.
Adam dan Ashma duduk di ruang keluarga, dan Adam membawa secangkir teh hangat untuk istrinya. Mereka duduk berdampingan di sofa, dan suasana menjadi lebih nyaman dengan kehadiran satu sama lain.
"Minumlah, tubuhmu akan merasa hangat dengan teh ini," Adam menyodorkan teh yang masih mengepul panas untuk Ashma.
"Hati-hati, teh nya panas." Lanjut Adam memberitahu. Ashma tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih kepada Adam.
Ashma meniup teh yang mengepul lalu ia menyeruput teh buatan Adam pelan-pelan.
Ashma teringat sesuatu dia langsung menaruh hati-hati gelas teh-nya lalu melihat Adam yang juga sedang menatapnya.
"Apakah sedari tadi dia memperhatikan ku?" Batin Ashma.
"Adam bolehkah aku meminta nomor isteri sahabat mu, Daniel?"
Adam mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Saya tidak memilikinya tapi saya akan meminta pada Daniel."
Ashma tersenyum senang, dia tidak sabar ingin bertukar pesan dengan isteri Daniel.
"Jika sudah dibalas, akan saya kirim padamu." Adam meletakan ponselnya diatas meja, "Sepertinya Daniel sedang menunggu persalinan istrinya." Adam melanjutkan, Ashma yang mendengar kabar itu turut senang.
"Betapa lucunya bayi mereka itu pastinya," Gumam Ashma yang terdengar jelas oleh Adam, manik mata Ashma yang berbinar itu membuat Adam terdiam memikirkan sesuatu.
Adam bangkit dari duduknya lalu meraih ponsel yang tergeletak diatas meja. "Esok, mari kita menjenguk mereka."
Ashma mendongak menatap tubuh yang menjulang tinggi dan gagah itu. "Aku tidak sabar untuk esok." Ashma bersorak gembira, Adam tersenyum tipis tanpa Ashma tau.
"Mari kita pergi ke kamar." Ashma yang masih tersenyum senang tiba-tiba raut wajahnya menjadi bingung. Pikiran negatifnya mulai bermunculan saat Adam mengajaknya ke kamar.
"Apakah kita akan melakukan itu?" Tanya Ashma begitu polos. Adam yang mendengarnya terkekeh pelan, pemikiran Ashma sangat ambigu.
"Tentu." Adam menjahili Ashma. Sedangkan wajah istrinya itu langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Tentu tidak." Adam melanjutkan, seketika itu membuat Ashma malu sekaligus kecewa.
Adam mendapati perubahan wajah itu yang nampak kecewa, dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya karena Adam sudah berjanji untuk tidak menyentuh Ashma dan tetap menjaga hatinya untuk Lily.
"Itu tidak lucu Adam!"
Ashma berlalu pergi meninggalkan Adam dengan perasaan kecewa sedangkan Adam berjalan mengikuti langkah Ashma dari belakang.
#TBC